Bab 1 Home

Asha

Ini kali kedua aku melihat wajahnya. Wajah tanpa ekspresi dengan tatapan yang sulit dibaca. Tajam, tapi jika diamati perlahan-lahan lembut dan seolah-olah berbicara. Pertama kali aku melihatnya di kereta api commuterline tujuan Bogor saat jam pulang kerja. Waktu yang tepat merasakan ‘ketidakmanusiawi’ kereta api. Kalimat itu yang pernah diucapkan Mia, teman satu kosanku jika bercerita mengenai kereta di jam pulang kerja. Padat dan kita seperti ikan asin saling berdesakan. Meskipun dilengkapi kipas dan air conditioner (AC) tetap saja merasakan suasana panas bercampur segala bau manusia. Untuk itu, terkadang aku tidak terlalu memikirkan harus berada di gerbong khusus wanita atau bukan, sebab suasana di stasiun pun saling berburu saat kereta berhenti. Aku memilih memasuki gerbang tepat dimana aku berdiri.

    Senja itu, aku yang tak kebagian tempat duduk lagi memilih berdiri tepat di posisi ujung tempat duduk dan di dekat pintu keluar masuk. Postur tubuh yang mungil sekitar 150 cm membuatku memilih mengenggam besi penyangga daripada pegangan di atas yang akan membuat tanganku terasa sangat pegal. Aku mengangkat kepala, pandanganku terhenti. Sosok lelaki yang terlelap begitu nyenyak tanpa mempedulikan suasana yang makin sumpek. Dari wajahnya aku rasa usianya tak jauh beda dariku. sekitar dua puluh tiga atau mungkin dua puluh lima. Di dua telinganya terselip earphone. Wajahnya bersih bebas dari minyak. Sejenak ada perasaan minder bila dibandingkan dengan wajah berminyak milikku saat ini. Sekilas ia sama seperti lazimnya cowok sub-urban. Metrokseksual. Rapi dengan kemeja hitam polos yang dilipat hingga siku. Dua tangannya terlipat hingga dada.

Perjalanan dari stasiun Cikini –tempat aku menaiki kereta– sampai stasiun Tebet aku tak berhenti memperhatikan wajahnya yang tampan. Aku tidak bisa munafik, pemandangan di depanku bisa melupakan rasa lelah serta mengabaikan suasana ‘neraka’ di dalam commuterline. Saat laju commuterline memasuki Stasiun Cawang, aku baru mengalih pandangan ke pintu. Berharap banyak penumpang yang turun seiring rasa gerah yang mulai meningkat. Sayangnya, harapan itu mustahil bisa terjadi, sama bohongnya mengharapkan jadi teman lelaki tampan –dihadapanku.

      Penumpang justru lebih banyak yang masuk. Alhasil kereta yang sudah penuh makin sesak. Badanku sedikit terdorong, sehingga mau tak mau menyentuh kakinya. Ia tak peduli dengan sentuhan itu. Matanya tetap terpejam. Aku makin merapat badanku ke tiang penyangga. Mengenggam erat tiang penyangga agar tidak terdorong—otomatis mengeserkan tubuhku dari hadapannya.

                Mataku kembali berkeliar menatap kemana saja –yang tentu saja tak semenarik pemandangan di depanku, sampai pandanganku menangkap sosok pria tua yang berdiri di sisi pintu masuk tampak benar-benar kelelahan. Matanya memerah menahan gantuk. Dahinya berkeringat.

            Aku melirik ke ‘lelaki tampan’, ia tetap terlelap. Aku menendang telapak kakinya. Tak ada reaksi. Tendangan makin keras. Aku was-was jika yang muncul adalah kemarahannya. Ia membuka mata. Tajam dan –entahlah sulit bagiku untuk mengartikan tatapan tersebut. Ia mengedip dengan gerakan lambat. Mengangkat sedikit alisnya. Tangannya masih terlipat di atas dada.

            Jantungku berdetak. Bukan karena ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul tapi lebih kepada perasaan takut. Aku menarik napas. Mengarahkan pandangan ke bapak tua yang bersandar dengan penuh kelelahan.

“ Mas, pinjam tempat duduknya ke bapak itu dong,” pelan kalimat itu keluar dari mulutku.

Ia tak mengubris kalimatku. Cuma membalas dengan tatapan mata tajamnya. Aku mengigit bibir membalas tatapannya penuh harap. Kasihan si bapak yang matanya sangat merah itu karena menahan ngantuk.

“Saya melihat mas tidur cukup lama, saya rasa sudah cukup. Gantian dengan si bapak itu,”

Ia tetap menatap dengan tatapan tajamnya kemudian dalam hitungan detik saja matanya kembali tertidur. Tanpa mengubris tatapan orang-orang yang ikut memandangnya. Aku menarik napas. Memandang si bapak tua yang tersenyum kepadaku. Beruntung pria yang duduk di sebelah ‘pemandang menarik nan tak manusiawi’ berbaik hati untuk memberi tempat duduknya kepada bapak tua itu. Aku menarik napas lega.

Setelah dua Minggu berlalu, untuk kedua kalinya aku melihat ‘pria tampan’ itu. Sayangnya bukan wajah tampannya yang membuatku ingat. Tapi cara dia menatap. Aku tak mungkin lupa. Tatapannya tersirat amarah yang ditahan. Badannya bergerak ke arahku. Dekat. Sangat dekat. aku mundur. sayangnya tertahan dengan pagar besi bercat kuning yang berada di stasiun UI.

“ Maaf,” lirih kata itu keluar dari mulutku.

Beberapa menit yang lalu aku tidak sengaja menabrak badannya dari belakang yang menyebabkan ponselnya terjatuh. Saat ia mengambilnya, ada tangan usil nan lincah –yang hanya dilakukan oleh profesi bernama jambret– tiba-tiba memungut ponsel tersebut. Aku terkesima. Ia menoleh ke arahku. Melangkah mundur. Ia mendekati tubuhku.

“Lo teman dia kan. Komplotan jambret,”

Aku mendesah. Mengeleng. “Sorry, mas salah paham,”

“Berhenti memanggil gue dengan sebutan mas,” kalimatnya pelan namun nadanya ditekan. Matanya tak lepas memandang mataku.

“ Maaf. Ponsel lo di jambret gara gue. Gue akan mengantinya,” biar bagaimana pun kesalahan berawal dariku yang tak sengaja menabraknya. Aku tak yakin dengan kalimat yang keluar dari mulutku. Mengantikannya?! Menganti ponsel yang sekilas harganya mencapai dua kali lipat gajiku sebagai copywriter di sebuah portal media online.

Suasana stasiun perlahan mulai sepi. Commuterline terakhir sudah lewat beberapa menit yang lalu. Tak tampak petugas pemeriksaan karcis. Hanya tersisa beberapa orang lalu lalang di ujung sana.

“ Mengantikannya?!” ia mengukir senyum samar di ujung bibirnya hanya beberapa detik saja. “ Lo kata mudah untuk mengantikannya. Ini bukan mempersoal barang yang bentuknya sama, tapi kenangan yang tersimpan di ponsel itu,”

Aku menahan napas. Tangannya terlentang di sisiku mengenggam besi. Kepalanya agak miring menutupi wajahku. Pandangan kami beradu. Hanya berjarak beberapa centimeter wajahku dengan wajahnya. Aku memejamkan mata. Jantungku berdetak kencang.

“ Aku tahu rasanya kehilangan,” lirih kalimat itu keluar. Dadaku sesak. Ada bayangan perih menyelusup di pikiranku. Ayah.

            Aku membuka mata. Membalas tatapannya yang masih menatapku. Mengigit ujung bibirku. “ Atau kamu yang komplotan dengan jambret tadi untuk memeras orang seperti saya dengan tuduhan seperti ini?”

Entah darimana aku mendapatkan ide mengeluarkan kalimat tersebut. Cerita Mia tentang dunia copet di kereta api sudah kenyang aku dengar menbuatku berpikir kalau pemilik wajah tampan ini adalah copet.

Ia mengeluarkan napas dengan bibir bawahnya terbuka sedikit. Matanya mengedip dengan gerakan lambat. Melepaskan gengaman tangan kirinya dari besi. Melipat dua tangannya ke dada. Mengangkat kepala. Tatapannya tak lepas memandangku. “ Oh, sekarang ceritanya membalikan fakta. Pintar banget lo nuduh gue,”

“ Lo pikir gue punya tampang copet?” lanjutnya.

Aku diam. Tukang copet hati orang mungkin iya.

Ia menghela napas. Melangkah mundur satu langkah. Aku mengigit bibir bawahku. Ada rasa tiba-tiba tak mengenakan berasal dari perut dan mulai menjalar ke ulu hati. Oh tidak.

“ Lo emang harus mengantikannya,”

Aku mengangguk. Rasa perih bercampur sakit menguasai bagian perutku. Aku makin mengigit bibir. Berusaha menahannya. Badanku agak membungkuk.

“ Bibir lo akan berdarah jika di gigir seperti itu,” matanya mengarah ke bibirku.

“ Mari kita selesaikan di warung makan, di luar sana ada warung yang buka dua puluh empat jam. Aku butuh air hangat untuk maagh yang tiba-tiba ini,”

Ia mengeryit dahi. Aku tak peduli tatapan bola matanya yang mengamatiku. Aku tetap melangkah cepat. Petugas kereta api benar-benar tak ada. Aku tak tahu jam berapa sekarang, yang aku sadari malam semakin larut.

****

Alan                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                     

            Mimpi apa gue tadi saat tertidur di commuterline tiba-tiba ponsel iphone 5S terjatuh begitu saja dan dalam hitungan detik sudah berpindah ke tangan usil milik copet. Gue nggak tahu harus berbuat apa. Berteriak percuma, tubuhnya begitu gesit dan langsung hilang dari pandangan begitu saja. Ingin rasanya gue meneriaki penuh amarah pada gadis yang menabrak gue dari belakang saat sedang menelpon. Sayangnya, rasa lelah bercampur malas membuat gue tidak punya kekuasaan untuk itu. Ia memberi solusi yang bagi gue bukan solusi. Mengajak gue ke warkop yang masih buka dengan alasan ia ingin menikmati secangkir Milo hangat untuk pertolongan pertama pada sakit maagh yang tiba-tiba ia rasakan. Gue tidak terlalu peduli soal apa yangt ia rasakan, tapi yang sangat menyesakan saat tersadar berapa banyak koleksi photo penuh kenangan yang terdapat di ponsel tersebut.

            “ Hubungi saya di nomor ini atau hampiri saya di alamat ini. Ada alamat kantor dan kosan saya,”

Wow ini cewek gampang banget mengeluarkan kalimat. Apa. Hubungi dia. Hello, berapa banyak orang yang jujur dengan kalimatnya di jaman sekarang. Gue menyeruput kopi hitam saat tangannya meletakan kertas di depan gue. gue menuangkan sedikit kopi itu ke kertas. Ia terperanjat.

 “Bagaimana bisa gue yakin dengan omongan lo, orang yang mungkin komplotan dengan jambret tadi,”

 Gue nggak berpikir saat mengeluar kata itu. Ia menatap gue tajam kemudian menarik napas.

“ Kenapa sih susah banget untuk mempercayai orang?”

Gue tak menjawab. Bukan waktunya untuk menjawab dan memperdebatkan sesuatu yang makin membuat otak gue panas. Cewek dengan ikatan rambut berantakan itu langsung mengeluarkan ponselnya. Blackberry Curve gemini 8520yang sisinya sudah mulai mengelupas. Ia kemudian asyik memainkan keypad ponselnya. Gue langsung merebut ponsel dari tangannya.

“ Heh,”

“ Lo bisa ambil ponsel lo kalau udah bisa mengantikan ponsel gue,” gue memasuki ponselnya ke dalam saku celana.

Wajahnya tampak tidak setuju. “Tapi bagaimana kalau teman-teman saya menghubungi ke situ?”

“ Gue yang akan jelasin kemana mereka harus menghubungi lo,” gue langsung mengambil kertas – yang tentu saja sudah ternodai oleh kopi — tadi ia berikan. Mengangkat kertas itu ke wajahnya dan menyimpan kertas itu ke saku celana.

Ia tampak pasrah. Gue tersenyum tipis. Beranjak dari tempat duduk dan berlalu begitu saja. Gue terlalu lelah menjalankan hari ini.

“ Hei, “

Ia berteriak. Gue membalas dengan lambaian tangan. Tetap berjalan santai menuju jalan raya.

*****

Asha.

            Bodoh. Kalimat itu yang pantas aku tujukan untuk diri sendiri saat tersadar apa yang barusan terjadi. Aku menatap langit-langit kamar. Kejadian tadi membuatku tak bisa melelapkan mata meskipun badan terasa sangat lelah. Seperti menonton sebuah film, kejadian tersebut sepeti tergambar di langit-langit kamarku.

            Berapa banyak orang yang akan bingung saat menghubungiku. Apalagi saat ia merebut ponselku, aku sedang membalas sms Rara, bosku tentang design terbaru untuk produk makanan. Bagaimana kalau seandainya ia usil atau jahil mengotak-atik ponselku. Arghtt

Alan

Sial. Mata gue tidak bisa tertidur. Pikiran gue benar-benar kacau. Dada gue sesak menahan perasaan marah, kesal atau apalah namanya yang membuat mood gue kacau. Apalagi saat itu gue sedang berusaha menghubungi Rara, satu-satunya menjadi alasan kenapa langkah gue kembali ke tanah air.

Hampir setahun ini gue lost contact dengan Rara, sejak cewek cantik berpostur ideal itu lulus dan memutuskan untuk kembali ke tanah air. Rara berjanji akan menghubungi gue. Awal-awal ia menepati janjinya. Skype, facebook. yahoo Mesengger, email, bahkan via twitter. Sayangnya, dua minggu berlalu, entah sebab apa nomor telpon Rara tidak bisa dihubungi. Menghubungi via account miliknya di dunia maya diabaikan begitu saja. Rara tak lagi aktif di facebook maupun sejenisnya.

Gue baru saja mendapatkan nomor Rara dari Rey,–teman SMA gue dan Rara—tadi siang saat gue bertemu dengannya di Kota.  Ada banyak cerita yang mengalir dari mulut Rey tentang Rara. Rara yang makin cantik dan makin sibuk meniti karir.

Apakabar Ra?

 Sayangnya kalimat itu tak bisa teralisasikan hari ini. Sial.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s