Menelusuri Jejak Yang Terabaikan Melalui Rumah Tua

Saya tidak mengenal Tan Malaka sebaik para pencinta sejarah, tidak semengerti para peneliti yang menelusuri jejak-jejak sejarah beliau. Dan, sebuah nama yang tidak saya temui dalam buku sejarah semasa sekolah dulu. Tapi, saya tahu bahwa Tan Malaka adalah  konseptor lahirnya Republik Negeri ini.

Ketidaktahuan dan keinginan untuk lebih mengenal sosok Tan Malaka menjadi alasan yang membawa saya berani menempuh perjalanan hampir empat jam dari kota Padang ke daerah yang belum pernah saya jelajahi sebelumnya, tepatnya ke Nagari Pandam Gadang, Payakumbuh. Untuk mencapai lokasi ini, dari kota Padang kita bisa menggunakan travel tujuan suliki dan berhenti di simpang tugu suliki. Kemudian dilanjutkan dengan ojek tinggal bilang ‘’Rumah Tan Malaka.”

****

Image

Suatu hari di Minggu Siang (27/01), Rumah masa kecil Tan Malaka, Pandam Gadang, Sumatra Barat.

Minggu Siang (27/01), Langkah kaki saya tiba-tiba terhenti tepat di belakang sebuah rumah gadang tua yang terlihat rapuh dan tak terurus. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang terlihat lusuh.  Saya menatap ragu dengan segala tanya menghiasi benak saya.

Benar ini rumah Tan Malaka?

Sejujurnya bagi saya tak ada yang menarik dari rumah gadang tua ini kecuali unsur Tan Malaka yang akhirnya membawa langkah kaki saya ke tempat ini. Rumah tua yang merupakan tempat dimana Tan Malaka menghabiskan masa kecil. Dan sejak 21 Februari 2008 bangunan tua ini diresmikan menjadi museum Tan Malaka oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata.

Kembali saya melangkahkan kaki, menuju depan rumah gadang tersebut. Pemandangan masih menyisa kalau bangunan ini tak ubahnya bangunan tua yang terabaikan. Perlahan kaki saya melangkah menaiki anak tangga.

Ada rasa takut ketika kaki memasuki rumah ini. Bukan karena sunyi yang menyelimuti tempat ini, tapi lebih kepada suara berderik dari sela-sela lantai kayu saat kaki melangkah. Bayangan adegan kaki Ringgo yang terjebak diantara papan yang rapuh dalam film tanah surga menghantui saya.

Saya menarik napas. Melepaskan sepatu dan hati-hati menelusuri tiap sudut ruangan berdebu. Mata saya terpaku pada koleksi buku mengenai Tan Malaka yang di tempatkan dalam bangunan kaca. Selain koleksi buku mengenai pemikiran Tan Malaka, beberapa foto Tan Malaka terpajang termasuk saat bersama Ir.Soekarno. Tak banyak foto Tan Malaka yang terpajang. Saya memperkirakan tak lebih dari lima belas foto.

Image

Di belakang koleksi buku, terpajang ranji Tan Malaka. Ranji adalah silsilah keluarga.

Kaki saya melangkah ke samping ruangan. Sebuah foto besar Tan Malaka dan di sudutnya terdapat tempat tidur. Saya kembali melangkah. Mengamati tiap sudut ruangan. Ada sebuah meja yang menarik perhatian saya di pintu masuk –yang terlewatkan begitu saja ketika saya memasuki ruangan ini–.

Dua buah buku tamu. Saya menelusuri tiap lembar kertas yang terdapat dari buku tamu tersebut. Sudah berapa banyak orang yang datang dari berbagai profesi, latar pendidikan yang berbeda, daerah yang berbeda bahkan dari Negara luar. Satu kesimpulan yang sama, mereka berharap rumah ini dijaga dan di rawat. Sayangnya, hasil dari bincang-bincang saya dengan tukang ojek yang mengantar saya ke tempat ini kendala dana dan perhatian dari pemerintah menjadi faktor tempat ini tak terawat.

Seperti sosok Tan Malaka yang terabaikan begitu saja, bangunan tua yang di bangun tahun 1936 beratapan seng dan sebagian dinding dengan anyaman bambu dan dipadu oleh kayu bernasib sama dengan dirinya. Tak ubahnya tampak seperti orang tua yang diabaikan oleh anaknya seorang diri.

Image

Kembali belajar dari sosok Tan Malaka, bapak yang terabaikan.

**** Padang, 28 Januari 2013. Sudut restoran cepat saji di kawasan Ahmad Yani.

Iklan

2 comments

  1. Yeiyy.. Jurnalis kita menulis…
    Tadinya aku gak tahu siapa itu Tan Malaka dan terlalu cuek sama siapa aja orang-orang yang bersejarah. Tapi serentetan kalimat yang ka eka tulis dengan gaya jurnalis ala ka eka bikin aku terus baca sampe akhir. Pendek dan gak ngebosenin. 🙂

  2. Hah?! thank tutut, hahahah, do’ain yah aku benar-benar berprofesi sebagai jurnalis. Aku baru baca Madilog-nya tapi kagak ngerti-ngerti.Satu yang aku ngerti, dia cerdas banget. * Ayooo, coba cari tahu tentang dia. heheh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s