Hei Jakarta! ( I’m back)

Hei Jakarta !

Saya memejamkan mata sesaat. Menatap langit Jakarta yang mendung. Melangkah ragu menyelusuri garbarata menuju pintu kedatangan.

“ Hei Jakarta, saya kembali,”

Entah apa kata itu tercekat di kerongkongan saya. Saya terdiam penuh keraguan. Menatap pemandangan di luar jendela kaca. Pesawat. Tiba-tiba airmata saya jatuh. Ada sesuatu yang menarik saya untuk membalikkan badan dan berlari.

Allah.

****

Saya benci ketika berada dalam keraguan. Ketika ketidakpastian menghiasi hari-hari saya. Ketika saya ‘blank’ pada apa yang seharus saya lakukan. Sayangnya, saya sedang menghadapi situasi seperti ini.

Mama atau biasa saya panggil ama adalah (mungkin) jawaban dari langkah keraguan ini. Dua minggu berada di rumah, bukan saja keraguan yang saya dapat tapi ‘kegelisahan’. Saran ama adalah saran yang terbaik menurut saya, sayangnya saya belum berminat untuk menjalaninya.

Buka toko dan mengajar di sini –tempat orangtua saya tinggal.

Saya terdiam. Saya bisa saja melewati ‘gambaran’ kehidupan yang ditawarkan ama dan ini sangat nyaman. Sayangnya, saya takut tidak menikmati kenyamanan tersebut. Saya mencintai perjalanan dan masih berkeinginan menjadi wartawan.

Lepas dari ama, saya beranjak ke kota yang saya cintai, kota Padang. Padang membuat saya betah dengan kegiatan tanpa ‘makna’. Menikmati dan berteriak labil pada drama Korea ( Oh…* Tolong abaikan.) . Profesi pengangguran benar-benar saya nikmati, tidur larut malam, bangun siang dan menghabiskan hari dengan kegiatan menonton.

Saya benci pada kegiatan yang tak membuat saya ‘berarti’ sementara hari terus berganti.

****

Saya kembali, Jakarta!

Saya menguatkan hati untuk melangkah. Teringat pada percakapan saya dengan teman ayah saya ketika saya menjelaskan jawaban atas pertanyaannya, : Why must Jakarta?

Kenapa harus Jakarta? saya mengeja pertanyaannya dalam hati.

Menurut saya tak bisa di ingkari Fenomena Jakartasentris. Apa-apa Jakarta. Pintu mimpi Jakarta. Pemerintahan, Industri, dan hiburan serta segala hal yang tergambar di Media. Sinetron Jakarta, film Jakarta, musik Jakarta, dan lain sebagainya.

Saya butuh Jakarta untuk pengalaman mengamalkan materi kuliah selama empat tahun ini agar tak terbuang sia-sia. Saya butuh ilmu dari ‘Jakarta’ untuk bisa saya berikan kelak ke daerah. Saya butuh Jakarta, untuk membuat saya lebih percaya diri melangkah.

Saya masih butuh BELAJAR ditengah krisis diri.

****

Saya terduduk menunggu Damri di tengah kebingungan. Kemana dan siapa yang akan saya tuju. Saya terdiam. Menyadari situasi saya bukan lagi menyandang profesi ‘Mahasiswa’ rantau yang punya kamar kos.

Saya orang kebingungan dan kehilangan sebagian diri saya. Saya memejamkan mata. Berharap ada kekuatan hati untuk kembali melangkah dan memenuhi kalimat-kalimat ‘bualan’ yang pernah saya keluarkan.

Hei Jakarta!

 

Ijinkan saya beraktifitas di tengah kemelutmu, bukan untuk selama-lamanya. Tapi, lebih pada pengalaman yang membuat saya terlahir sebagai manusia cerdas.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s