Bulan: Februari 2013

Sampah

Beberapa hari yang lalu, saya menyimak ‘kicau’an seseorang mengenai acara televisi yang mengatakan sampah. ( Saya lupa intinya apa, dan bahkan saya juga lupa nama akun yang saya stalking itu. *tepok jidat)

Saya atau mungkin kamu –yang sedang membaca tulisan ini– menonton televisi sama artinya menikmati makanan di meja makan saat sedang berada di rumah. Saya terobsesi dengan televisi sejak jaman dunia dalam berita di TVRI dan acara Joko lagi ‘Hits’nya. Sayangnya, di tempat saya, listrik waktu itu cuma hidup dari jam enam sore sampai jam enam pagi. Seingat saya, jam segitu adalah rangkaian sinetron, layar emas perak dan di potong jam tidur. Sesekali saya menikmati program variety show atau apa namanya ketika saya melakukan liburan ke daerah kota. Bagaimana pun saat itu, televisi cukup menghibur daripada sekarang (Menurut saya lho).

Saya mungkin termasuk orang yang begitu sok kritis ‘mengkritisi’ program televisi padahal diam-diam saya menikmatinya. Bahkan, saat proyek karya ilmiah jaman sekolah saya mengambil mengenai sinetron. Beberapa tahun yang lalu, saya membuat aksi ‘teaterikal’ dalam rangka HARI TANPA TV.

Saya memang terkesan munafik, bukan terkesan tapi memang masuk kategori ‘munafik’. Saya seolah-olah ‘benci’ dengan program televisi, padahal diam-diam saya punya tergantungan pada benda segi empat tersebut. Tapi, saya akui apa yang dikatai oleh ‘kicau’an yang mengatakan bahwa program televisi adalah sampah 87 persen mungkin ada benarnya.

Berapa banyak sih yang masih terpaku di depan televisi dan benar-benar menikmatnya sebagai hiburan? Seringkali televisi di biarkan ‘mengoceh’ sendiri tanpa ada yang menikmati.

Dan, mirisnya acara yang katanya ‘sampah’ itu, lebih banyak yang nikmati kalangan menengah ke bawah (maaf), kelas terbanyak dari populasi Indonesia (mungkin).

šŸ˜¦

*