Bulan: April 2013

Should I Give Up?

Air mata saya hampir saja jatuh ketika membayar makanan dengan uang receh. Mencari sisa-sisa rupiah yang menyelip di tas ransel saya. Tersadar apa yang terjadi. Beberapa kali saya menarik napas. Menghela. Tersenyum. Melangkah mengenggam kresek hitam erat. Bukan karena uang yang saya miliki tidak sebanyak dulu yang tiba-tiba menipis yang membuat saya sedih. Juga bukan karena sisa uang koin saya yang tiba-tiba berkurang. Atau bukan karena saya tak bisa lagi sesuka hati menikmati daging ayam. Tapi entah kenapa, hati saya sesak menyadari betapa malunya saya.

Malu. haruskah saya malu? Tuhan, ajarkan saya menikmati ini semua dengan perasaan gembira.

Saya tersenyum. Disisi lain hati saya menangis. Tidak. Bayangan wajah ‘ama’ berkelebat di benak saya.¬† Should i call mom? saya menimbang-nimbang dalam hati saat berjalan menuju kosan. Hati saya menjerit. Tidak!!!!

Saya belum kalah. Meskipun tak bisa sesuka hati lagi menikmati liburan, menikmati makanan lezat, berjalan menyusuri rak-rak toko buku, dan menyaksikan film-film di layar lebar. Lebih tepatnya tak ada lagi istilah ngehedon.

Tapi, saya kalah dengan tatapan iba orang-orang yang berada di sekitar saya. Saya malu dengan pikiran yang akan terbangun dari abang-abang pecel lele saat menerima uang koin saya. Saya benci di kasihan, seakan-akan saya terlihat lemah. Saya masih bermain dalam keego-an yang sombong.

Sepenuhnya, saya kalah dengan kesombongan diri ini yang akhirnya berpikir untuk menyerah.

Hati saya kembali menjerit. Ini mungkin akan jadi cerita keren dalam hidup saya, ketika saya harus berjuang melewati ketidak pastian langkah. Tak ada kata menyerah hanya untuk beberapa hari terkadang harus menelan ludah menahan rasa lapar.

Hidup tak akan berakhir meskipun kamu tak ada rupiah yang kamu miliki, tapi hidup akan berakhir jika kamu memutuskan untuk menyerah, eka.

*Fatmawati, detik-detik menanti saldo rekening berubah ūüôā

‘Berhenti’ Sejenak di Pulau Klagian

* Tulisan ini merupakan tulisan lama yang saya ambil dari blog terdahulu*
Saya tidak terlalu tahu kapan pastinya jarum jam berada di posisi mana saat langkah kaki ini menginjak pelabuhan Bakauheni, Lampung. Teriakan para calo yang berusaha menghentikan langkah cukup mengerikan, sampai-sampai saya memeluk erat tas ransel saya. Dan, ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengeluarkan ponsel sekedar melihat jam berapa pagi ini. (*maklumi saja, sejak ‘bersahabat’ dengan ponsel saya sepertinya ‘putus’ hubungan dengan jam tangan).
 Image
¬† ¬† ¬† Akhirnya, tiba dimana¬†weekend¬†lalu, menjadi sangat ‘berarti’ bagi saya. Ini liburan yang bukan sekedar liburan. Ada dimana kita harus ‘menghentikan’ langkah sejenak untuk sekedar beristirahat ketika melakukan perjalanan ini. Yup, liburan kali ini bagi saya berarti sebagai ‘menghentikan’ langkah sejenak. Tidak bermaksud melupakan skripsi dan rangkaian mimpi yang harus segera ‘dikerjakan’, tapi saya butuh ‘sejenak’ untuk mengabaikan keberadaan mereka sekedar memberi waktu untuk hati dan pikiran ini.
Dan, saya tidak pernah berpikir untuk menginjak sebuah pulau yang tidak berpenghuni ( kecuali penjaga pulau ) , menghabiskan malam minggu nan penuh galau bagi para jomblo ini diantara gelap gulita tanpa lampu kecuali mengandalkan taburan bintang di atas sana. Ini seperti mimpi, berbaring di atas matras, mengikuti irama deburan ombak yang jaraknya tak sampai satu meter dari ujung kaki. Ada rasa menyenangkan yang tak terlukiskan lewat kata-kata kecuali rasa buncah.
Pulau Klagian. kembali saya mengingat perjalanan menuju pulau yang namanya saja baru saya tahu pas seminggu sebelum kaki ini berlabuh di sini.Terminal Kalideres, Bus Arimbi dan Supir nan unik sepanjang perjalanan bertausyiah, jejeran warung-warung menuju loket kapal, Ruang AC dan perempuan (‘agak’ ‘?’) yang ajib-ajib tak jelas, musik dengan suara yang bikin perut dan hati menjerit tak karuan, adzhan subuh, calo-calo mengerikan, tertidur di travel, pantai Klara, ‘dipaksa’ cepat keluar¬† dari dalam kamar mandi dengan orang nggak jelas, Perjalanan kurang lebih dengan 30 menit dengan perahu, hempasan air laut ke muka, dan…
Akhirnya. Pulau Klagian. Pasirnya seperti terigu dan bersih. sayangnya ada beberapa sampah plastik yang saya temui. Di sini kita bisa menyewa Kano dan bermain sepuasnya. Snorkeling bisa di coba. Tapi hati-hati kondisi laut ini, langsung menjorok seperti Palung. Dari yang dangkal tiba-tiba langsung menyusup dalam.
Saya tidak bisa berenang, tapi bukan berarti tidak berani¬†snorkeling. Hanya saja, kali ini saya lebih memilih untuk menikmati pantai saja… dan deburan suara ombak serta ombak nan tenang yang menyapu hingga pergelangan kaki. Berlari sejenak… sembari melempar pandang ke hamparan air laut.
Menjelang senja, saat tenda sudah berdiri. Saya memilih untuk duduk di atas pasir nan halus itu menatap arah sunset. Sayangnya, sepertinya sunset kali ini tertutup oleh sebagian awan. Tapi, percayalah itu tidak menutupi keindah langit di atas sana.

 Image

Saya tidak pernah berpikir sebelumnya, untuk menghabiskan malam-malam saya di sebuah pulau yang cuma di huni oleh kurang lebih 15 orang. (6 orang dari rombongan saya, lebihnya keluarga penjaga pulau). Tidak ada ketakutan malam itu selain rasa nyaman dan menyenangkan.
Allah, terima kasih atas kesempatan ini.
Saya tersenyum. memejamkan mata, kembali ‘berpikir’ langkah apa yang harus saya pilih untuk kembali melanjutkan perjalanan ini. Tentang mimpi-mimpi yang menanti untuk segera ditemui saya temui.
Image
Sekilas cerita tentang Klagian 

Cerita ini saya dapat dari seorang bapak yang ‘mengkaim’ dirinya sebagai pencetus orang pertama yang ‘merintis’ pulau ini sebagai tempat wisata. mungkin bisa diartikan sebagai ‘penjaga’ pulau ini. Dia bilang, dulu pulau ini berpenghuni, sayangnya,

karena penghuninya di butakan oleh ‘rupiah’ yang akhirnya memilih pulang kampung jadi pulau ini tak lagi ada kehidupan bermasyarakatnya di tempat ini.
 
Untuk menuju Pulau Klagian dari Jakarta. 
 Merak- Bakauheni : Rp. 11.500,-
*memilih ruang AC pas di kapal harganya berbeda-beda. Untuk lesehan : Rp. 8000,- , dan jejeran bangku biasa Rp. 7000,-
Bakauheni – Pasar Cimeng ( Naek Travel: bilang aja, Gudang Garam, mau ke Pantai Klara gituh) : Rp. 35.000,- * hati-hati dengan calo travel.
Pantai Klara- P. Klagian : 10.000/orang * bisa nyewa perkapal 100.000,-
 Kano : 15.000,-/sepuasnya.
Jangan lupa bayar retribusi pulau yah.
* (20-22 April 2012)
Thanks Frau Farizah atas ajakannya… ūüôā
Pulau Klagian juga biasanya digunakan sebagai tempat latihan militer lho…
* EFEK KANGEN LIBURAN*

Tentang (mu) : Terlahirlah tulisan ini

*Bukan bermaksud untuk membuat kesenjangan dalam pertemanan yang selama ini terjalin antara saya dan orang-orang sekitar–yang menganggap saya teman– , ketika memulai tulisan ini. Menulis tentangnya adalah rangkaian rencana saya ketika bercerita mengenai pertemanan.*

Jika selama ini saya hanya mempercayai kisah indah tentang persahabatan dan cinta sekedar terangkai melalui kisah fiksi, entah itu melalui imajinasi seseorang, atau sekedar di cerita drama, film, bahkan novel. Tapi, bersamanya menyadari bahwa dia adalah orang yang membuat saya selalu ingin menemuinya.

Bersamanya, saya melewati tawa. Saya tidak bisa mendeskripsikan kepribadiannya seperti apa, kecuali tawa dan kekocakan yang ia hadirkan selama saya berada di sisinya. Dia adalah teman yang mengabaikan bau keringat saya ketika saya tidur di sisinya —ketika¬†saya malas mandi–

Dia orang yang bilang : It’s okey ka’, meskipun banyak rangkaian kerepotan yang saya hadirkan dalam hidupnya. Dia adalah orang yang tak bisa saya jabarkan dalam kata-kata dan membentuknya menjadi sebuah kisah, karena begitu banyak luapan emosi yang tidak bisa saya jelaskan.

Saya benar-benar kehilangan kata-kata jika menceritakan tentangnya. Dia tak hanya sekedar definisi baik, tapi dia adalah seseorang yang membuatmu benar-benar bahagia memilikinya.

Bahwa teman adalah anugerah Tuhan yang terindah, maka dia benar-benar ‘hadiah terindah’ yang Allah berikan kepada saya dalam hidup ini. Dan, saya tidak tahu apa yang terjadi ketika suatu hari nanti langkahnya tiba-tiba lenyap seiring kesibukan dan kesuksesan yang mungkin di antara kami akan meraihnya.

Dan, itu akan menjadi mimpi buruk yang tak ingin saya hadapi. Ketika suatu hari dia membaca tulisan ini, saya berharap ia tak membahasnya, tetap menjaga emosi pertemanan yang selama ini terjalin dalam diam yang ‘berbicara’. Karena, itu membuat saya merasa lebih nyaman.

* Untuknya yang mau ‘membagi’ ibunya kepada saya. Rahma. ūüôā