Should I Give Up?

Air mata saya hampir saja jatuh ketika membayar makanan dengan uang receh. Mencari sisa-sisa rupiah yang menyelip di tas ransel saya. Tersadar apa yang terjadi. Beberapa kali saya menarik napas. Menghela. Tersenyum. Melangkah mengenggam kresek hitam erat. Bukan karena uang yang saya miliki tidak sebanyak dulu yang tiba-tiba menipis yang membuat saya sedih. Juga bukan karena sisa uang koin saya yang tiba-tiba berkurang. Atau bukan karena saya tak bisa lagi sesuka hati menikmati daging ayam. Tapi entah kenapa, hati saya sesak menyadari betapa malunya saya.

Malu. haruskah saya malu? Tuhan, ajarkan saya menikmati ini semua dengan perasaan gembira.

Saya tersenyum. Disisi lain hati saya menangis. Tidak. Bayangan wajah ‘ama’ berkelebat di benak saya.  Should i call mom? saya menimbang-nimbang dalam hati saat berjalan menuju kosan. Hati saya menjerit. Tidak!!!!

Saya belum kalah. Meskipun tak bisa sesuka hati lagi menikmati liburan, menikmati makanan lezat, berjalan menyusuri rak-rak toko buku, dan menyaksikan film-film di layar lebar. Lebih tepatnya tak ada lagi istilah ngehedon.

Tapi, saya kalah dengan tatapan iba orang-orang yang berada di sekitar saya. Saya malu dengan pikiran yang akan terbangun dari abang-abang pecel lele saat menerima uang koin saya. Saya benci di kasihan, seakan-akan saya terlihat lemah. Saya masih bermain dalam keego-an yang sombong.

Sepenuhnya, saya kalah dengan kesombongan diri ini yang akhirnya berpikir untuk menyerah.

Hati saya kembali menjerit. Ini mungkin akan jadi cerita keren dalam hidup saya, ketika saya harus berjuang melewati ketidak pastian langkah. Tak ada kata menyerah hanya untuk beberapa hari terkadang harus menelan ludah menahan rasa lapar.

Hidup tak akan berakhir meskipun kamu tak ada rupiah yang kamu miliki, tapi hidup akan berakhir jika kamu memutuskan untuk menyerah, eka.

*Fatmawati, detik-detik menanti saldo rekening berubah 🙂