‘Berhenti’ Sejenak di Pulau Klagian

* Tulisan ini merupakan tulisan lama yang saya ambil dari blog terdahulu*
Saya tidak terlalu tahu kapan pastinya jarum jam berada di posisi mana saat langkah kaki ini menginjak pelabuhan Bakauheni, Lampung. Teriakan para calo yang berusaha menghentikan langkah cukup mengerikan, sampai-sampai saya memeluk erat tas ransel saya. Dan, ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengeluarkan ponsel sekedar melihat jam berapa pagi ini. (*maklumi saja, sejak ‘bersahabat’ dengan ponsel saya sepertinya ‘putus’ hubungan dengan jam tangan).
 Image
      Akhirnya, tiba dimana weekend lalu, menjadi sangat ‘berarti’ bagi saya. Ini liburan yang bukan sekedar liburan. Ada dimana kita harus ‘menghentikan’ langkah sejenak untuk sekedar beristirahat ketika melakukan perjalanan ini. Yup, liburan kali ini bagi saya berarti sebagai ‘menghentikan’ langkah sejenak. Tidak bermaksud melupakan skripsi dan rangkaian mimpi yang harus segera ‘dikerjakan’, tapi saya butuh ‘sejenak’ untuk mengabaikan keberadaan mereka sekedar memberi waktu untuk hati dan pikiran ini.
Dan, saya tidak pernah berpikir untuk menginjak sebuah pulau yang tidak berpenghuni ( kecuali penjaga pulau ) , menghabiskan malam minggu nan penuh galau bagi para jomblo ini diantara gelap gulita tanpa lampu kecuali mengandalkan taburan bintang di atas sana. Ini seperti mimpi, berbaring di atas matras, mengikuti irama deburan ombak yang jaraknya tak sampai satu meter dari ujung kaki. Ada rasa menyenangkan yang tak terlukiskan lewat kata-kata kecuali rasa buncah.
Pulau Klagian. kembali saya mengingat perjalanan menuju pulau yang namanya saja baru saya tahu pas seminggu sebelum kaki ini berlabuh di sini.Terminal Kalideres, Bus Arimbi dan Supir nan unik sepanjang perjalanan bertausyiah, jejeran warung-warung menuju loket kapal, Ruang AC dan perempuan (‘agak’ ‘?’) yang ajib-ajib tak jelas, musik dengan suara yang bikin perut dan hati menjerit tak karuan, adzhan subuh, calo-calo mengerikan, tertidur di travel, pantai Klara, ‘dipaksa’ cepat keluar  dari dalam kamar mandi dengan orang nggak jelas, Perjalanan kurang lebih dengan 30 menit dengan perahu, hempasan air laut ke muka, dan…
Akhirnya. Pulau Klagian. Pasirnya seperti terigu dan bersih. sayangnya ada beberapa sampah plastik yang saya temui. Di sini kita bisa menyewa Kano dan bermain sepuasnya. Snorkeling bisa di coba. Tapi hati-hati kondisi laut ini, langsung menjorok seperti Palung. Dari yang dangkal tiba-tiba langsung menyusup dalam.
Saya tidak bisa berenang, tapi bukan berarti tidak berani snorkeling. Hanya saja, kali ini saya lebih memilih untuk menikmati pantai saja… dan deburan suara ombak serta ombak nan tenang yang menyapu hingga pergelangan kaki. Berlari sejenak… sembari melempar pandang ke hamparan air laut.
Menjelang senja, saat tenda sudah berdiri. Saya memilih untuk duduk di atas pasir nan halus itu menatap arah sunset. Sayangnya, sepertinya sunset kali ini tertutup oleh sebagian awan. Tapi, percayalah itu tidak menutupi keindah langit di atas sana.

 Image

Saya tidak pernah berpikir sebelumnya, untuk menghabiskan malam-malam saya di sebuah pulau yang cuma di huni oleh kurang lebih 15 orang. (6 orang dari rombongan saya, lebihnya keluarga penjaga pulau). Tidak ada ketakutan malam itu selain rasa nyaman dan menyenangkan.
Allah, terima kasih atas kesempatan ini.
Saya tersenyum. memejamkan mata, kembali ‘berpikir’ langkah apa yang harus saya pilih untuk kembali melanjutkan perjalanan ini. Tentang mimpi-mimpi yang menanti untuk segera ditemui saya temui.
Image
Sekilas cerita tentang Klagian 

Cerita ini saya dapat dari seorang bapak yang ‘mengkaim’ dirinya sebagai pencetus orang pertama yang ‘merintis’ pulau ini sebagai tempat wisata. mungkin bisa diartikan sebagai ‘penjaga’ pulau ini. Dia bilang, dulu pulau ini berpenghuni, sayangnya,

karena penghuninya di butakan oleh ‘rupiah’ yang akhirnya memilih pulang kampung jadi pulau ini tak lagi ada kehidupan bermasyarakatnya di tempat ini.
 
Untuk menuju Pulau Klagian dari Jakarta. 
 Merak- Bakauheni : Rp. 11.500,-
*memilih ruang AC pas di kapal harganya berbeda-beda. Untuk lesehan : Rp. 8000,- , dan jejeran bangku biasa Rp. 7000,-
Bakauheni – Pasar Cimeng ( Naek Travel: bilang aja, Gudang Garam, mau ke Pantai Klara gituh) : Rp. 35.000,- * hati-hati dengan calo travel.
Pantai Klara- P. Klagian : 10.000/orang * bisa nyewa perkapal 100.000,-
 Kano : 15.000,-/sepuasnya.
Jangan lupa bayar retribusi pulau yah.
* (20-22 April 2012)
Thanks Frau Farizah atas ajakannya… 🙂
Pulau Klagian juga biasanya digunakan sebagai tempat latihan militer lho…
* EFEK KANGEN LIBURAN*
Iklan