Apa Yang Membuatmu Mau Menjadi Indonesia?

Suatu malam, sepulang dari acara Tempo Institute ‘’Menjadi Indonesia’’ di Galeri Nasional, Jakarta, saya langsung mengupdate personal message di BBM dengan kalimat  :

“Apa yang membuatmu mau menjadi Indonesia? Jika Media Massa saja lupa akan nilai berita?”

Kalimat itu saya kutip dari pembacaan puisi yang dibawakan di acara tersebut. Inti tulisan ini sebenarnya bukan membahas dari acara tersebut, nah disinilah awal permulaannya. Ketika tiba-tiba salah satu teman saya masuk ke chatroom dan menanggapi status saya dengan kalimatnya:

“Apa yang membuatmu mau menjadi Indonesia? Jika sudah banyak pemuda pemudi yang lebih mengilai budaya k-pop ketimbang budaya Indonesia yang beragam, dari sabang sampai merauke?”

Saya tersenyum membaca komentarnya. Saya tahu ini ditujukan kepada saya, yang memang terperangkap dalam virus hallyu. Tapi, komentarnya cukup membuat hati saya sedikit ‘panas’ dan ingin membalas dengan ‘argumen’ yang tentu saja memancing perdebatan. Tapi, saya terlalu lelah melakukannya, selelah hati ini menjawab pertanyaan tentang ‘nasionalisme’.

Saya ingin mempertanyakan kepada teman saya, apakah dia punya bukti bahwa Kami—saya–, yang mengilai K-Pop melupakan budaya Indonesia? Bagi saya realitis saja, bagaimana dengan musik Indonesia saat ini? Saya lelah jika harus berdebat hal-hal yang simpel seperti ini sebenarnya. Saya akan menjawab dengan pernyataan yang sederhana saja :

Saya terperangkap dengan virus Hallyu bukan berarti lidah ‘rendang’ saya beralih pada ‘ Kimchi’

Saya terperangkap dengan virus Hallyu bukan berarti saya lupa bahwa kita punya keberagaman budaya yang begitu indah termasuk keberagaman alat musik tradisionalnya.

Menyukai K-POP bukan berarti melupakan Indonesia. Justru Hiburan Korea menyadari kita banyak hal (next: saya akan menulisnya dengan bahasan tersendiri). Pertanyaan saya kembali pada :

“Bagaimana dengan musik Indonesia?”

Kita punya beragam alat musik tradisional yang diakui dimata dunia yang sayangnya terabaikan. Jika pemerintah sadar, bahwa ‘musik’ bisa mengangkat nama Indonesia di mata internasional. Kita bisa membuat ‘gelombang’ tersendiri seperti Jepang dengan Harajukunya, Korea dengan Hallyu nya dan dunia barat dengan western-nya.

Jika pelaku industri musik tak sekedar memikirkan bisnis semata, tapi juga kualitas dengan memberi sesuatu yang baru pada dunia hiburan seperti kolaborasi antara musik tradisional dengan modern. Bisa dibayangkan, bukan?

Kembali ke Hallyu. Tak bisa dimungkiri, musik ditawarkan Korea Selatan dengan boyband/girlbandnya sederhana, namun riang dan ceria. Mereka bisa ‘membaca’ peluang dengan memanfaatkan media untuk terus menyebarkan virus Hallyu. Tak sekedar musik, dalam segi drama pun mereka menawarkan ‘dongeng’ tapi dikemas dalam bentuk yang sangat ‘dekat’ dengan kehidupan. Juga Variety show-nya, tak bisa dijabarkan lagi. Menghibur, bukan?

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Sejujurnya, saya lupa bagaimana menikmati televisi dan kapan terakhir benar-benar menikmati program televisi tanah air. Kita dengan drama sinetron yang tak pernah usai, dengan variety show sangat jelas settingannya, dan infotainment yang juga tak lepas dari settinganya. Hallyu menjawab segala kejenuhan kami dengan hiburan yang disajikan televisi tanah air.

Apa yang membuatmu mau menjadi Indonesia?

Kami—saya–, yang gemar menghabiskan waktu berjam-jam mendowload program variety Korea sejujurnya lelah menonton acara lawakan televisi yang menjurus pada kekerasan verbal, terutama mengacu pada fisik. Lalu, apa yang bisa dibanggakan dari semua itu???

Soal Selera

Saya lelah berhadapan dengan mereka yang selalu ‘memandang’ penuh ejek pada kami yang berteriak bahkan mengeluarkan air mata ketika para bintang dari Korea Selatan itu menyinggahi negeri ini. Tak sedikit rupiah yang dikeluarkan demi memuaskan batin. Dan, tidak sedikit perjuangan yang ‘memalukan’ demi melihat mereka secara dekat.

Bagaimana mungkin salah satu teman dari teman saya, yang terperangkap virus K-POP terpikir memberikan blankon ke Idol? Bukankah Blankon bagian dari budaya Indonesia? Apakah ia melupakan budayanya sendiri?

Ini soal selera. Tak lebih. Bukan soal siapa ‘melupakan’ siapa… saya, k-poper hanya sedang berkelana yang tetap kembali ke rumah, yaitu Indonesia.

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s