Assalamualaikum, Abak Hatta!

* Abak sebutan untuk ayah/kakek

“Assalamualaikum, abak!” bisik hati saya melangkah memasuki sebuah kamar yang bertulisan ‘kamar bujang’ yang berada disisi beranda rumah kayu yang terletak di Jl Soekarno-Hatta No.37, Kecamatan Guguh Panjang, Bukittinggi.

image(3)
Jendela kamar bujang

Sekilas tak ada yang menarik dari rumah berlantai dua tersebut kalau tak saja ada unsur sang proklamator. Yup, rumah yang tampak sederhana ini merupakan rumah asli tempat dimana Mohammad Hatta atau dikenal dengan Bung Hatta, Wakil Presiden pertama negeri ini,dilahirkan dan menghabiskan masa kecilnya.

Ada rasa buncah yang tak bisa saya jelaskan dengan kata-kata. Mata saya mengitari tiap sudut ruangan yang terdiri dari dipan, kursi yang menghadap ke jendela, dan lemari yang berisi buku. Seperti lazimnya sebuah kamar, di dindingnya terpajang beberapa foto. Hati saya bergetar menatap foto-foto bung hatta. mencoba masuk ke dalam dimensi foto tersebut. Membayangkan kehidupan Beliau di masa itu. Kamar ini terawat dengan rapi, seolah-olah ada yang menempatinya.
Lepas dari “Kamar Bujang” kaki saya melangkah ke dalam rumah. Terdapat ruangan lepas dengan dua bagian kelompok kursi, satu untuk kursi tamu dan satu untuk kursi keluarga. Di sisinya terdapat rak yang juga dipenuhi buku dan beberapa penghargaan dari instansi/perorangan yang ditujukan kepada bung Hatta, seperti plakat. di ruangan utama ini juga terdapat kamar tidur. Lagi-lagi ada banyak pajangan foto yang menceritakan kehidupan beliau.

Sejenak saya terkenang pada kalimat Bung Hatta — tentu saja saya dapatkan dari buku-buku yang menceritakan tentang beliau. “Jika orang lain mempersempit dunia kita, kita sendiri bisa membangun dunia dalam pikiran kita.”
Kalimat itu lahir ketika Bung Hatta diasingkan di daerah-daerah pelosok ibu pertiwi. Selama pengasingan ia membawa banyak buku. Tak heran, selama menelusuri rumah kelahiran bapak ekonomi Indonesia ini, ada banyak koleksi buku beliau yang kita temui di dalam lemari.
Saya pun terpaku di depan foto beliau yang berukur besar yang terdapat di sisi pintu menuju halaman belakang. Menatap seolah-olah melakukan percakapan dengan beliau. Membagi kegelisahan tentang negeri yang pernah ia perjuangkan ini.

Tak ingin larut dalam kegelisahan hati, saya berjalan keluar menuju halaman belakang. Ada hal yang unik saya temui di depan pintu belakang rumah tersebut. Yaitu sandal tangkelek — sandal terbuat dari kayu, tak menyia-yia kesempatan saya pun mengenakannya. Kembali menelusuri rumah yang tampak sederhana tapi sangat menarik.

image(5)
Sandal tangkelek yang disediakan untuk menelusuri halaman belakang. Konon, keluarga bung Hatta kerap menggunakan sandal kayu tersebut.

Yup, terlepas dari unsur bapak ekonomi Indonesia, rumah ini sungguh asri, dengan taman yang tertata asri dan bersih. Arsitekturnya pun terbilang unik, dengan memisahkan antara bangunan ruangan makan dan dapur. Dapurnya pun membawa kita pada kehidupan di era tersebut.
Di sini juga terdapat sebuah kamar yang tertata rapi. Di kamar tersebut terdapat sepeda yang dulu kerap digunakan oleh Bung Hatta.di halaman belakang ini juga dapat kita jumpai kandang kuda dan peralatan bendi.
Sejenak saya lupa pada kegelisahan hati, keindahan dan keasrian ditambah arsitektur yang terkesan sederhana membuat saya berpikir untuk memiliki rumah yang sama dengan halaman belakang yang seperti ini. Membayangkan betapa bahagianya bercengkerama di halaman belakang bersama keluarga.

image(7)
Bagian halaman belakang rumah Bung Hatta

Menelusuri jejak kehidupan bung Hatta di rumah kayu ini tak sekedar mengingatkan kita pada sosok yang sederhana, cerdas, bijaksana dan sopan seorang Bung Hatta tapi juga membuat kita betah berlama-lama untuk sekedar melepaskan penat. Yup, rumah kelahiran bung hatta jauh dari kesan museum yang identik dengan kuno, kumuh dan tak terawat serta membosankan.
Terawatnya rumah ini dengan baik yang tak lepas dari peran dinas pariwisata setempat. Rumah ini pun sudah mengalami renovasi pada 1995 namun masih mempertahankan kesamaaan arsitekturnya.

image(9)

How To Get There :

– Jika dari kota Padang, sangat mudah. Ada banyak pilihan mobil travel menuju kota Bukittinggi, seperti ANS yang biasa mangkal di simpang Labor, atau Tranex di simpang kampus Bung Hatta. Menempuh perjalanan kurang lebih dua jam, kita bisa meminta Pak Sopir untuk berhenti di daerah jambu air. Di sini perjalanan akan dilanjutkan dengan angkot merah bernomor 14. Berhentilah di pasar Banto, setelah itu tinggal jalan kaki.
– Jika kita dari luar Kota Padang, hal yang terpenting menuju Bukittinggi dan ikutan alur diatas. 🙂
– Bingung masalah transportasi? kita bisa menyewa mobil yang memungkinkan tak sekedar menyinggahi Rumah masa kecil Bung Hatta, tapi juga daerah Bukittinggi lainnya. Tak bisa dimungkiri, Bukittinggi kaya akan wisatanya baik itu, wisata sejarah, alam maupun kuliner dan belanja. Salah satu jasa rental mobil di daerah Padang, Andalas Education Tour and Travel, Jl. Adinegoro no.28, Padang Tlp : 0751-4851277 , Web : http://www.aet.co.id

The Other Place :

1. Ngarai Sianok

2. Lubang Jepang

3. Taman Marga Satwa

4. BentengFort De Kock

5. Jam Gadang

6. Jenjang seribu

7. Great Wall Bukittinggi

Komunitas Minang Landscaper : Berbagi Ilmu, Mengukir Keindahan Lewat Landscape

Sumatera Barat, Warta Komunitas – Sumatra Barat salah satu daerah yang tak diragukan lagi keindahan alamnya. Hal ini pun tak disia-siakan oleh komunitas pencinta fotografi lanscape, Minang Landscaper untuk mengeskplor keindahan alam daerah yang terkenal dengan masakan rendang ini.
“Apa yang kita tidak ada? Semua ada. Gunung, sungai, laut, air terjun bahkan pesawahan, dan sebagainya. Kenapa tidak kita angkat dalam suatu media mengenai keindahan Sumbar yang bisa dinikmati,”ungkap Jeriadi Pratama, salah satu pendiri Minang Landscaper saat ditemui di studio A.d.a, Balai Baru, Padang, Rabu (17/09).
Seperti yang diketahui foto landscape identik dengan hamparan pemandangan yang indah. Tak sekedar itu, foto landscape juga memiliki kemampuan dalam menterjemahkan nilai estetika dari sebuah pemandangan. Istilah landscaper mengacu pada pencinta foto landscape.
Minang Lanscaper sendiri merupakan komunitas yang lahir dari komunitas yang pernah ada yaitu Padang Landscaper yang sudah vakum. Atas obrolan tiga pemuda, Daniel Saputra, Rio Masriel dan Jeriadi Pratama untuk kembali membentuk komunitas pecinta Landscape maka lahirlah komunitas ini.
“Cakupannya minang ataupun diluar Sumbar tapi masih minang,” jelas Jeriadi. Ia pun memaparkan tujuan awal dari komunitas ini adalah merupakan wadah bagi teman-teman khususnya Sumatra Barat untuk saling belajar tentang landscape.
Kegiatan rutin komunitas yang baru berdiri 19 Juli lalu ini adalah hunting foto.“Biasanya kalau hunting sih pas lihat cuaca bagus dan spot-spot Sumatra barat yang sudah dibicarakan kemana,”ujar Daniel , ketua Minang Landscaper.
Biasanya sehabis mereka hunting foto, jika waktunya memungkinan hasil-hasil foto akan dibedah. Disinilah biasanya terjadi saling berbagi ilmu mengenai landscape baik itu mengenai trik maupun tips untuk mendapatkan hasil foto landscape yang bagus. Selain itu, dengan memanfaatkan sosial media facebook, hasil foto yang didapat juga di share dan di diskusikan lewat media tersebut.
Diakui mereka, facebook memudahkan untuk mensosialisasi mengenai komunitas yang memiliki anggota aktif sekitar 23 orang ini. Daniel pun juga menimpali lewat sosialisasi facebook mereka sudah mempunyai jaringan di Lombok, Bali, Bandung. Bahkan, baru-baru ini mereka kedatangan tamu dari China dan Korea Selatan untuk menikmati salah satu keindahan pantai di Padang. “Kami ajak ke nirwana dan taplau –tepi laut,” ucap Daniel. Rencananya, dalam waktu dekat ini Minang Landscaper akan mengadakan workshop November mendatang. Selain itu, mereka pun berencana mengadakan pameran pada ulang tahun pertama dengan bekerjasama dinas pariwisata sumatra barat tahun depan.
Tekait mengenai keangotaan, diakui keduanya tak perlu memiliki kamera canggih. Hal yang utama adalah memiliki kemauan untuk belajar dan berbaur dengan anggota lainnya. Selain itu, juga ada biaya Rp. 50.000,- untuk IDcard dan sticker tanda keanggotaan. Info lebih lanjut bisa berkunjung ke facebook dengan nama:Minang Landscaper. (Eka Hei)

*** The first time writing after 9 month never write again. This articel can see disini

And i wanna thank to my oldfriend , Huda for information about the community, Daniel and Jery from Minang Landscape and spesial to my cousin Filtra.

Writing is like cooking

Bagi saya menulis adalah rekreaksi jiwa ketika saya lelah. Meluapkan segala pikiran, memintal kata menjadi rangkaian kisah fiksi hanya sekedar melepaskan perasaan. Entah galau, entah sedih — dan kerapkali jatuh cinta serta patah hati menjadi inspirasi menghasilkkan karya fiksi yang bagus.

Namun, peristiwa pagi itu membawa saya pada kesimpulan menulis itu sama seperti memasak. Yup, pagi itu saya kebingungan ketika berada di Pasar. Saat itu, yang terbersit dipikiran saya adalah ingin memasak. Memasak apa, saya tidak tahu. Cuma ingin memasak.

Peristiwa itu pun mengingatkan saya pada awal saya menjadi mahasiswa magang di sebuah tabloid ibukota. Ketika itu saya berada diantara puluhan artis yang sedang melakukan aksi sosial donor darah. Saya ditugaskan untuk mewawancara beberapa artis. Saat itu, saya kebingungan dan menyakinkan diri, saya sedang liputan. Cuma ingin menulis berita.

Balik lagi ke ‘cuma ingin memasak’. Pagi itu pun saya memutuskan membeli Tempe, tahu, tomat, cabai, bawang merah dan putih serta garam. Sejujurnya, saya sudah lama tak bersentuhan dengan memasak. Dan ingin memasak apa saya masih bingung. Singkat kata, saya memasak tempe dan tahu goreng yang dibumbui oleh tepung instan. Kemudian memasak sambal. Dengan mengunakan insting, saya menangkarkan berapa banyak garam yang saya masuki ke masakan, berapa siung bawang merah dan putih yang harus saya giling serta berapa buah tomat yang harus saya gunakan yang kemudian disatukan dengan cabai giling kasar. Mengunakan api sedang, saya memanaskan minyak dan menumiskan bawang terlebih dahulu. Lagi-lagi saya mengunakan insting yang sudah lama tak digunakan selama saya vakum memasak. sedikit grogi –takut hangus, saya memasuki cabai seraya mengaduk pelan dan beberapa menit kemudian baru saya memasuki tomat.

Tahu sambal goreng
Tahu sambal goreng

Dan, saya tak yakin apakah sambal saya terasa lezat atau tidak. Tapi untuk orang yang kembali memulai memasak setelah hampir lima tahun tak memasak, sambal saya masih bisa diterima oleh lidah.

Saya pun teringat pada keputusan saya ketika memulai kembali magang di sebuah majalah setelah hampir dua semester tidak menulis berita. Saat itu, saya langsung dikasih tujuh press realese yang harus saya ‘ramu’ menjadi berita singkat. Sejenak saya terdiam di depan layar PC. Akhirnya, saya pun menulis apa yang terlintas dalam pikiran saya. Sama seperti memasak sambal, tulisan saya bisa diterima oleh redaktur untuk diedit — yang seminggu kemudian diceramahi tentang menulis baik itu seperti apa.

****

Bagi saya menulis sama seperti memasak. Jika tidak dilatih ia akan terkubur begitu saja. Maka tak heran jika beberapa penulis terkenal pernah berkata, “menulislah dan terus melatih diri untuk menulis.”

Chef yang baik pun, karena sering melatih dirinya ia jadi tahu kapan harus mengangkat makanan dari wajan dan kapan mengunakan api sedang maupun kecil. Instingnya pun sudah terlatih begitu saja.

Beberapa orang pun pernah meminta saya untuk mengajarkan mereka menulis. Saya pun cuma bilang, “tulis apa yang ada dipikiranmu. Udah tulis saja dulu, jangan mikiran bagusnya.

Sejujurnya, itulah yang saya lakukan pada diri saya sendiri. Honestly, lebih dari 90% ilmu yang saya raih ketika duduk dibangku kuliah terlupakan begitu saja ketika saya memasuki dunia kerja. Saya menulis apa yang saya pikirkan. Tentang tekniknya pun saya belajar seiring waktu dari kesalahan yang saya buat –ocehan sang redaktur. Bagaimana penempatan kata ‘di’ dan imbuhan lainnya yang kerap terabaikan. saat itu rasa tanggung jawab menuntut saya untuk menulis 4 sampai 6 tulisan setiap minggunya.

Ada masa kita menghadapi kepanikan, seperti tak menemui narasumber yang diinginkan ataupun tak menemukan bahan yang tepat untuk menulis. Bagi mereka yang terbiasa menulis setiap hari dan bergelut dengan dunia ini tahu langkah apa yang tepat diambil. Seperti halnya mama saya, yang terbiasa memasak untuk keluarga setiap harinya, ketika mendapatkan masakannya keasinan, dia mengantisipasikan dengan menambah bahan lagi agar tidak terasa asin.

MENULIS = BAKAT

Saya salah satu orang yang tak terlalu percaya dengan bakat yang mendominasikan ‘proses’. Maka ketika teman saya pernah mengeluh, ” Gue nggak bakat lagi nulis nih!”

Saya cuma tersenyum tipis. Bukan karena nggak bakat, tapi karena nggak dilatih saja. Chef yang baik adalah yang selalu mengasah instingnya. Jeli melihat dan mengingat rasa masakannya seperti apa yang ingin ia wujudkan agar  diterima oleh masyarakat luas. Gigih mencoba untuk bisa menghasilkan sesuatu yang baru dalam masakannya. Tulisan yang baik pun terlahir dari mereka yang selalu mengasah kejelian panca indra mereka dengan baik, misalnya melihat dari berbagai hal.

Bagi saya menulis bukanlah sesuatu bakat yang lahir sejak kita bayi. Sama seperti memasak, ia juga perlu dipelajari dan dipahami serta dilatih setiap hari untuk tahu tulisan semacam apa yang ingin kita hasilkan. Saya pun belajar mengenai penggunaan huruf besar dan kapital pun ketika sudah tengelam dalam dunia tulis menulis. Sama seperti halnya apakah MSG baik digunakan atau tidak dalam masakan. Atau copy and paste dan edit dengan menggunakan bahasa sendiri — agar tidak jelas copasnya– tepat atau tidak. *Iya dulu saya bagian dari ini.

Selain itu, semua juga kembali pada kita. Apakah kita tetap mempertahankan rasa masakan yang biasa, meskipun tiap hari memasak tanpa mencoba sesuatu bahan yang baru. Menulis pun juga begitu.

Terkadang, bahan sederhana pun bisa dijadikan masakan lezat. Pun begitu, sesuatu yang sederhana pun terkadang bisa menjadi luar biasa ditangan penulis. Contoh, Laskar pelangi. Belitong yang dikisahkan oleh Andrea Hirata, juga dialami oleh daerah lainnya di Indonesia.

Terus Berlatih!

Ada dimana masakan tak sesuai dengan selera — tak seperti biasanya. Ketika tekanan datang, ketika menyadari ada bahan-bahan yang kurang sementara waktu tak lagi cukup. Kadang seorang penulis pun juga mengalami yang sama, ketika harus dihadapi dengan situasi yang memecahkan konsentrasi mereka. Entah masalah pacar, masalah keluarga, dan tangisan anak yang mengemaskan. Bagi saya, situasi ini wajar bagi penulis. Namun, tidak menjadi wajar ketika berulang-ulang kali melakukannya.

Pada akhirnya, mereka yang terbiasa ‘berlatih’ kemungkinan akan mudah menghadapi situasi seperti ini.

 Seiring waktu yang berjalan sepanjang kita terus membiasakan diri menulis akan menyadari kita banyak hal. Sebuah pembelajaran yang menyenangkan dari proses rutinitas latihan yang kerap kita lakukan.

” Ka, ajarkan abang menulis.”

Lagi.

Permintaan itu muncul di suatu sore. Disela-sela ‘kevakuman’ saya dari menulis.

* Padang, 15 September , 17 : 37 di sebuah restoran cepat saji kawasan Ahmad Yani.