Writing is like cooking

Bagi saya menulis adalah rekreaksi jiwa ketika saya lelah. Meluapkan segala pikiran, memintal kata menjadi rangkaian kisah fiksi hanya sekedar melepaskan perasaan. Entah galau, entah sedih — dan kerapkali jatuh cinta serta patah hati menjadi inspirasi menghasilkkan karya fiksi yang bagus.

Namun, peristiwa pagi itu membawa saya pada kesimpulan menulis itu sama seperti memasak. Yup, pagi itu saya kebingungan ketika berada di Pasar. Saat itu, yang terbersit dipikiran saya adalah ingin memasak. Memasak apa, saya tidak tahu. Cuma ingin memasak.

Peristiwa itu pun mengingatkan saya pada awal saya menjadi mahasiswa magang di sebuah tabloid ibukota. Ketika itu saya berada diantara puluhan artis yang sedang melakukan aksi sosial donor darah. Saya ditugaskan untuk mewawancara beberapa artis. Saat itu, saya kebingungan dan menyakinkan diri, saya sedang liputan. Cuma ingin menulis berita.

Balik lagi ke ‘cuma ingin memasak’. Pagi itu pun saya memutuskan membeli Tempe, tahu, tomat, cabai, bawang merah dan putih serta garam. Sejujurnya, saya sudah lama tak bersentuhan dengan memasak. Dan ingin memasak apa saya masih bingung. Singkat kata, saya memasak tempe dan tahu goreng yang dibumbui oleh tepung instan. Kemudian memasak sambal. Dengan mengunakan insting, saya menangkarkan berapa banyak garam yang saya masuki ke masakan, berapa siung bawang merah dan putih yang harus saya giling serta berapa buah tomat yang harus saya gunakan yang kemudian disatukan dengan cabai giling kasar. Mengunakan api sedang, saya memanaskan minyak dan menumiskan bawang terlebih dahulu. Lagi-lagi saya mengunakan insting yang sudah lama tak digunakan selama saya vakum memasak. sedikit grogi –takut hangus, saya memasuki cabai seraya mengaduk pelan dan beberapa menit kemudian baru saya memasuki tomat.

Tahu sambal goreng
Tahu sambal goreng

Dan, saya tak yakin apakah sambal saya terasa lezat atau tidak. Tapi untuk orang yang kembali memulai memasak setelah hampir lima tahun tak memasak, sambal saya masih bisa diterima oleh lidah.

Saya pun teringat pada keputusan saya ketika memulai kembali magang di sebuah majalah setelah hampir dua semester tidak menulis berita. Saat itu, saya langsung dikasih tujuh press realese yang harus saya ‘ramu’ menjadi berita singkat. Sejenak saya terdiam di depan layar PC. Akhirnya, saya pun menulis apa yang terlintas dalam pikiran saya. Sama seperti memasak sambal, tulisan saya bisa diterima oleh redaktur untuk diedit — yang seminggu kemudian diceramahi tentang menulis baik itu seperti apa.

****

Bagi saya menulis sama seperti memasak. Jika tidak dilatih ia akan terkubur begitu saja. Maka tak heran jika beberapa penulis terkenal pernah berkata, “menulislah dan terus melatih diri untuk menulis.”

Chef yang baik pun, karena sering melatih dirinya ia jadi tahu kapan harus mengangkat makanan dari wajan dan kapan mengunakan api sedang maupun kecil. Instingnya pun sudah terlatih begitu saja.

Beberapa orang pun pernah meminta saya untuk mengajarkan mereka menulis. Saya pun cuma bilang, “tulis apa yang ada dipikiranmu. Udah tulis saja dulu, jangan mikiran bagusnya.

Sejujurnya, itulah yang saya lakukan pada diri saya sendiri. Honestly, lebih dari 90% ilmu yang saya raih ketika duduk dibangku kuliah terlupakan begitu saja ketika saya memasuki dunia kerja. Saya menulis apa yang saya pikirkan. Tentang tekniknya pun saya belajar seiring waktu dari kesalahan yang saya buat –ocehan sang redaktur. Bagaimana penempatan kata ‘di’ dan imbuhan lainnya yang kerap terabaikan. saat itu rasa tanggung jawab menuntut saya untuk menulis 4 sampai 6 tulisan setiap minggunya.

Ada masa kita menghadapi kepanikan, seperti tak menemui narasumber yang diinginkan ataupun tak menemukan bahan yang tepat untuk menulis. Bagi mereka yang terbiasa menulis setiap hari dan bergelut dengan dunia ini tahu langkah apa yang tepat diambil. Seperti halnya mama saya, yang terbiasa memasak untuk keluarga setiap harinya, ketika mendapatkan masakannya keasinan, dia mengantisipasikan dengan menambah bahan lagi agar tidak terasa asin.

MENULIS = BAKAT

Saya salah satu orang yang tak terlalu percaya dengan bakat yang mendominasikan ‘proses’. Maka ketika teman saya pernah mengeluh, ” Gue nggak bakat lagi nulis nih!”

Saya cuma tersenyum tipis. Bukan karena nggak bakat, tapi karena nggak dilatih saja. Chef yang baik adalah yang selalu mengasah instingnya. Jeli melihat dan mengingat rasa masakannya seperti apa yang ingin ia wujudkan agar  diterima oleh masyarakat luas. Gigih mencoba untuk bisa menghasilkan sesuatu yang baru dalam masakannya. Tulisan yang baik pun terlahir dari mereka yang selalu mengasah kejelian panca indra mereka dengan baik, misalnya melihat dari berbagai hal.

Bagi saya menulis bukanlah sesuatu bakat yang lahir sejak kita bayi. Sama seperti memasak, ia juga perlu dipelajari dan dipahami serta dilatih setiap hari untuk tahu tulisan semacam apa yang ingin kita hasilkan. Saya pun belajar mengenai penggunaan huruf besar dan kapital pun ketika sudah tengelam dalam dunia tulis menulis. Sama seperti halnya apakah MSG baik digunakan atau tidak dalam masakan. Atau copy and paste dan edit dengan menggunakan bahasa sendiri — agar tidak jelas copasnya– tepat atau tidak. *Iya dulu saya bagian dari ini.

Selain itu, semua juga kembali pada kita. Apakah kita tetap mempertahankan rasa masakan yang biasa, meskipun tiap hari memasak tanpa mencoba sesuatu bahan yang baru. Menulis pun juga begitu.

Terkadang, bahan sederhana pun bisa dijadikan masakan lezat. Pun begitu, sesuatu yang sederhana pun terkadang bisa menjadi luar biasa ditangan penulis. Contoh, Laskar pelangi. Belitong yang dikisahkan oleh Andrea Hirata, juga dialami oleh daerah lainnya di Indonesia.

Terus Berlatih!

Ada dimana masakan tak sesuai dengan selera — tak seperti biasanya. Ketika tekanan datang, ketika menyadari ada bahan-bahan yang kurang sementara waktu tak lagi cukup. Kadang seorang penulis pun juga mengalami yang sama, ketika harus dihadapi dengan situasi yang memecahkan konsentrasi mereka. Entah masalah pacar, masalah keluarga, dan tangisan anak yang mengemaskan. Bagi saya, situasi ini wajar bagi penulis. Namun, tidak menjadi wajar ketika berulang-ulang kali melakukannya.

Pada akhirnya, mereka yang terbiasa ‘berlatih’ kemungkinan akan mudah menghadapi situasi seperti ini.

 Seiring waktu yang berjalan sepanjang kita terus membiasakan diri menulis akan menyadari kita banyak hal. Sebuah pembelajaran yang menyenangkan dari proses rutinitas latihan yang kerap kita lakukan.

” Ka, ajarkan abang menulis.”

Lagi.

Permintaan itu muncul di suatu sore. Disela-sela ‘kevakuman’ saya dari menulis.

* Padang, 15 September , 17 : 37 di sebuah restoran cepat saji kawasan Ahmad Yani.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s