Bulan: Oktober 2014

Dibalik keribetan pesta pernikahan adat

” Aku tak ingin menggunakan adat. Ribet…”

Cetus seorang teman ketika obrolan tentang pernikahan akhir-akhir ini menjadi menarik diusia saya sekarang — catat : terpaksa menarik. Bagi saya, adat tak lepas dari salah satu keanekaragaman budaya yang dimiliki negeri ini. Kekayaan yang tak ternilai dengan ‘keribetan’ yang terlihat.

“Aku pengin konsep pernikahan garden, pesta kebun,” cerita seorang teman lain mengambarkan konsep pernikahan impiannya.

Obrolan peernikahan yang pernah saya lakukan dengan teman-teman saya tiba-tiba bersliweran dipikiran begitu saja. Siang itu, dengan musik khas ‘baralek’ mengalun saat kaki saya menyusuri ruangan utama museum Adityawarman, yang terletak di pusat kota Padang, Sumatra Barat.

Museum Adityawarman

Halaman depan Museum Adityawarman

Ada banyak pakaian adat dari berbagai daerah di Sumatra Barat terpajang yang dilengkapi dengan manekin. Ternyata meskipun sama-sama menyatu dalam kata ‘Minangkabau’, tak melulu memiliki satu macam pakaian adat. Pariaman dengan suntingnya, agam dengan hiasan khas tanduk kerbaunya dan lain sebagainya. Termasuk perhiasan yang digunakan.

Saya menatap takjub membaca beberapa informasi mengenai pakaian adat minang kabau. Pikiran saya mengkhayal ke dimensi lalu, rasanya menyenangkan terjebak pada pesta pernikahan yang tak sekedar milik mempelai. Saling berbagi senyum dalam rangkaian adar yang terkesan ‘ribet’ untuk jaman sekarang.

Salah satu pakaian adat Minangkabau

Salah satu pakaian adat Minangkabau

Yah, seperti yang pernah diucapkan oleh abang saya, pesta pernikahan di adat minangkabau, seperti pesta milik satu kampung.

‘Makanan’ melahirkan senyum 

Lepas dari pakaian adat dan ragam perhiasan, kaki saya melangkah ke sisi kiri bangunan museum adityawarman. tiba-tiba perut saya lapar melihat replika makanan yang tersaji.  Biasanya, makanan tersebut disajikan ketika pesta pernikahan. Saya ingat, waktu kecil betapa gembiranya saya ketika diajak pergi baralek, atau senangnya jika anggota keluarga ada yang baralek. Tak lain alasannya adalah makanannya.

Ternyata, makanan pesta khas Pariaman, Agam, Bukittinggi, Solok dan lain sebagainya berbeda, meskipun ada beberapa item yang sama. Satu hal yang khas adalah tentu saja Rendang. rasanya ini adalah menu wajib yang disajikan.

“Rendang baralek beda rasonyo dengan rendang di rumah makan,” ungkap seorang teman. Ya, apa yang saya rasakan selama dua puluhan tahun sebagai orang minangkabau, entah kenapa rendang yang dihadirkan lebih lezat dilidah ketimbang rendang yang saya jumpai sehari-hari.

Tapi, yang menarik adalah dessert yang dihadirkan dalam pesta pernikahan. Seperti nasi kuning, kalamai, atau istilah pariaman juadah. *saya tidak tahu apa istilah makanan tersebut, saya rasa menjurus pada dessert.

'dessert' khas minangkabau yang biasanya ada di pesta pernikahan.

‘dessert’ khas Minangkabau yang biasanya ada di pesta pernikahan.

Senyum tak saja hadir ketika melihat makanan yang tersaji atau menyantap makanan tersebut. Tapi, proses menyajikannya. Saya terkenang pada pesta pernikahan salah satu kerabat. Ada puluhan ibu-ibu yang terlibat di halaman belakang, memasak ragam masakan sembari bercerita dengan penuh tawa. Saling menolong, mewujudkan pesta pernikahan yang sukses. Disinilah nilai gotong royong khas Indonesia terlihat. Inilah Indonesia!

Ibu-ibu sibuk memasak, remaja putri sibuk menolong mempelai perempuan, dan anak-anak sibuk bermain di halaman depan serta bapak-bapak yang sibuk nge-rabab (musik khas minang) menyatu dalam kegiatan ‘baralek’.

Filosofi dibalik keribetan pesta ala adat

Bagi sebagian orang yang melangsungkan pernikahan pesta ala adat termasuk adat minangkabau cukup melelahkan. Tapi, bagi saya inilah saatnya kita memelihara nilai kebudayaan indonesia sebagai identitas sebuah bangsa.

Terlepas dari filosofi yang terkandung dari setiap rangkaian pesta pernikahan menggunakan adat, jika boleh berfilosofi sendiri, menurut saya kerepotan yang dihadirkan adalah gambaran kehidupan selepas pesta yang harus dihadapi.

Kerepotan yang menyenangkan jika boleh menyebut. Kerepotan mengurus suami/istri, kerepotan mengurus anak, kerepotan berbaur dengan masyarakat. Dan, ragam masalah yang harus dihadapi. Ya, setidaknya kerepotan yang dihadirkan bisa sebagai acuan dalam pembentukan karakter diri.

” Jadi, apakah kau akan melangsungkan pernikahan dengan menggunakan adat minangkabau?”

Lagi. Saya terdiam. entahlah….

Ahmad Yani, disebuah restoran cepat saji, Padang.

Iklan