Rokok dan Kegelisahan Hati ini

Langkah telapak kaki tanpa alas itu berhenti. Bocah berusia empat tahun –pemilik langkah itu—diam sejenak. Ia celingak-celinguk memperhatikan orang-orang disekelilingnya. Tampak sekerumun bapak-bapak di teras rumah makan tak jauh dari tempat ia berdiri sedang bercerita dengan pemandangan asap yang sesekali mengempul.

Dengan gerakan cepat, bocah itu membungkukan badan dan memungut suatu benda. Ia meletakan benda itu ke mulutnya. Hanya hitungan detik benda itu bertahan di bibirnya sebelum ia melempar benda itu ke bawah.  mengembalikan ke tempat asal. Takut ada yang melihat kelakuannya.

“ manis,” ia sempat membatin dalam hati. Benda bewarna coklat muda, seperti air sungai yang keruh itu pun ia tinggalin dengan langkah cepat. Benda yang tak lain adalah sisa putung rokok yang berserakan di tanah, jalan yang kerap ia lalui ketika ingin bermain ke rumah temannya.

****

            Di suatu sore, langkah kaki yang cepat mengejar waktu sholat Ashar terhenti. Mata saya tak sengaja menangkap pemandangan yang membuat hati saya berdesir. Terpaku ketika tiga bocah mengambil posisi paling sudut di teras sebuah warung di pinggir jalan. Satu bocah meletakan bungkus rokok setelah mengeluarkan satu batang rokok dan meletakannya di bibir. Tiga bocah yang saya tafsir usianya tak jauh beda dengan sepupu saya yang masih mengenakan seragam putih merah.

            Saya menghela napas. Kembali melangkah dengan perasaan emosional yang sulit saya pahami. Kembali mengingat tujuan langkah kaki untuk segera melaksanakan tujuan saya ke mesjid.

          Tiga bocah asyik menonton dari layar ponselnya. Seusai sholat, saya memutuskan untuk menghampiri warung tersebut. Bukan untuk menegur tiga bocah yang sekarang asyik menikmati tontonan sejenis WWF (yang saya sebenarnya saya tidak tahu apa nama tontonan tersebut) lewat ponsel yang diletakan diatas meja. Lebih untuk sekedar menikmati minuman dingin. Mendinginkan hati. Mengabaikan sesuatu yang sepertinya bukan urusan saya. Saya menutup mata sejenak.

                  Keesok paginya, saat saya memasuki sebuah angkot. Seiringan dengan itu, dua bocah berseragam olahraga juga memasuki angkot dengan mengambil posisi di depan sopir. Baru saja angkot mulai beranjak pergi, dua bocah itu mengeluarkan sebatang rokok. Salah satu dari mereka sibuk menghidupkan korek api. Setelah ujung rokok tersebut terbakar, satu bocah yang rokoknya belum terbakar pun menyerahkan rokoknya. Meminta rokoknya untuk dibakar. Pemandangan yang biasa saya lihat cuma terjadi pada orang dewasa. Dengan santai mereka merokok, tanpa peduli seorang ibu yang duduk dibelakang. Dan juga wanita yang ngedumel kesal (tentu saja wanita itu saya).

Dua bocah yang saling berbagi 'api' untuk menyalakan rokok

Dua bocah yang saling berbagi ‘api’ untuk menyalakan rokok

“Pagi udah sarapan racun,” cleoteh saya kesal sambil menutup hidung dengan jilbab saya. Hati saya berperang, antara ingin menegur atau mengabaikan. Kedua mata saya tetap awas memandang dua bocah dengan tatapan amarah. Hingga akhirnya, ketika hendak turun saya menyerah pada amarah.

“Dek, kalau ngerokok jan di angkot. Kasihan orang balakang kanai asoik e.” ( kalau ngerokok jangan di angkot. kasihan orang belakang kena asapnya).

  Tangan saya mencolek kasar ke salah satu daerah mereka. keduanya menoleh dengan tatapan melongo. “ Dan, klo ngerokok jan juo pakai seragam sekolah (ngerokok jangan pakai seragam),” ujar saya lagi sebelum keluar dari angkot. Mereka masih menanggapi dengan tatapan melongo yang sulit saya tafsirkan.

****

            Negeri saya negeri yang cukup bebas, setidaknya dalam hal rokok. Meskipun baru-baru ini ada beberapa kota mulai memberlakukan tentang larangan merokok di depan umum, tapi sayangnya kurang efektif dengan masih ditemukan perokok aktif ditempat yang dilarang tersebut. Apakabar dengan pemberlakuan kotak rokok harus ada gambar ‘seram’?

Ehm…

“Ada gambar yang lain nggak? Yang gendong anak,” ujar seorang pembeli ketika mendapatkan sebungkus rokok dengan gambar paru-paru yang mengerikan. Sikap perokok aktif ini yang kerap saya temui ketika awal-awal rokok dengan gambar seram baru keluar di pasaran.

Sekarang?

Entahlah…. mereka sepertinya tak lagi peduli dengan gambar.

         Saya terdiam sejenak. Menelusuri tiap sudut kehidupan rokok di negeri ini lewat ‘keterbatasan’ pandangan ini. Tentu saya tidak bisa menelusuri dari sabang sampai merauke. Pikiran saya menerawang pada masa kecil yang saya habiskan di lingkungan terminal dekat rumah saya. Saat itu, dalam pikiran saya rokok adalah konsumsi hanya diperuntukan untuk pria dewasa. Sayangnya, masa kecil saya kerap terjebak diantara pria dewasa tersebut. Mengamati bapak-bapak yang asyik ngumpul dan bercerita disela-sela kesibukan saya yang sedang terlibat permainan sepak tekong*

            Di rumah saya dan mungkin ribuan anak lainnya di negeri ini kerap melihat ayahnya merokok tanpa dosa di rumah. Dalam perjalanan pun, menemukan perokok aktif adalah hal yang lumrah. Entah itu di warung makan, di tepi jalan, dan di dalam bus.

           Saya mungkin satu dari ribuan anak yang penasaran dan memiliki keinginantahuan soal rasa rokok yang kerap dinikmati orang dewasa. Ketika kecil, diam-diam saya memunguti putung rokok yang sudah berjatuhan di tanah atau ketika menemukan diasbak rokok dan menyicip ujungnya. Manis. Dan, rasa keingintahuan itu pun juga terobati dengan keberadaan permen berbentuk rokok saat itu. Saya kadang berlagak meniru gaya bapak-bapak merokok ketika mengkonsumsi permen rokok tersebut meskipun tak ada asap dan api lazimnya rokok benaran.

” Keep Calm And Woles Tanpa Rokok”

              Saya terdiam sejenak. Terkadang, tanpa perasaan terbebani mereka menyuruh kami—yg masih belia, untuk membelikan rokok di warung. Tanpa dosa, ketika mengendong kami—yang masih balita, tangan mereka masih tergenggam rokok. Bahkan sejak mata terbuka melihat dunia ini, sudah dihadapkan pemandangan orang-orang menikmati rokok menjadi sesuatu yang lumrah.

****

            Saya sempat terjebak pada pemikiran bahwa merokok adalah memiliki sisi keren secara emosional yang sulit dijelaskan. Meskipun bukan perokok aktif, saya senang melihat cara teman saya mengisap rokok. Melepaskan gumpalan asap putih ke udara dan menguap begitu saja. Bahkan dalam tokoh fiksi saya, saya kerap membawa cerita gambaran tentang rokok sebagai teman dalam kegalauan yang memberi rasa damai.

           Terdengar Ironis mungkin. Hei, bukankah penyair Chairil Anwar tampak keren dengan tangan yang memegang rokok dan asap yang mengepul?

            Tapi, itu jauh sebelum saya menyadari banyak hal tentang rokok. Saat dada saya mulai sesak dengan asap rokok. Dan lebih menyesakan lagi adalah melihat orang terdekat kena paru-paru akibat terjebak pada lingkungan perokok aktif. Tak mengenakan ketika kau harus terlibat dengan obat berbulan-bulan dan kehilangan nafsu makan. Dada yang sesak serta perut yang mual setiap kali menelan obat.

            Lebih menyakitkan adalah ketika beraktivitas tak lagi bisa semaksimal mungkin akibat tubuh cepat lelah. Wajar jika Philip Morris, orang besar dalam industri rokok tidak mengonsumsi rokok.

            Miris adalah ketika target pasar rokok lebih banyak pada orang-orang kelas menengah ke bawah. Bahkan, rokok sangat akrab di lingkungan suku anak dalam. Saya kerap mendapatkan cerita dari pedagang rokok tentang kegemaran sebagian orang kubu merokok rokok murah yang bahkan belum terdaftar secara resmi dengan kandungan nikotin tinggi. “ Orang kubu –sebutan suku anak dalam—sukanya rokok itu *menyebutkan nama merk rokok*.”

Jadi saya mewajarkan ketika beberapa bulan lalu  sempat membaca berita di surat kabar tentang penyakit ‘Pheunomia’ dan TB Paru yang melanda beberapa suku anak dalam.

****

               Kembali ke dua kisah bocah yang tertangkap oleh mata saya sedang menikmati sebatang rokok. Apa yang salah dari mereka yang sangat dini sudah berteman dengan rokok? Saya berusaha menyadari ke egoisan diri saya. Mempertegaskan ini bukan urusan saya. Tapi saya tak bisa menutup mata. Saya butuh udara segar. Bagaimana bisa sedini ini mereka sudah belajar ‘menyakitkan’ diri dan secara tak sengaja menyakitkan orang lain yang ingin menghirup udara segar.qibo

            Lagi. Bagi saya disinilah pendidikan ‘rumah’ berperan. Ketika mereka membuka mata, alangkah baiknya mereka tak melihat ayah mereka merokok di depan mata mereka sendiri. Bagaimana pun sepengetahuan saya anak adalah peniru ulung dari apa yang dilakukan orang dewasa. Ketika bercerita alangkah baiknya memberi pengetahuan bahwa merokok sama saja seperti mengkonsumsi kotoran yang tak perlu mereka lakukan. Ketika seorang ibu melepaskan anaknya ke sekolah, mata dan hatinya tetaplah ‘awas’.

Entahlah.

*sepak tekong : sebuah permainan tradisional yang memanfaatkan kaleng bekas susu kemudian di susun. Dimainkan beberapa anak, salah satu anak akan menjaga kaleng itu agar tidak di tendang dengan teman lainnya yang bersembunyi. Anak yang menjaga kaleng itu, juga diwajibkan menemukan teman-temannya yang bersembunyi.

Bagi teman-teman yang berminat dengan kaos Qiboo edisi ‘tanpa rokok’ bisa contact saya di email : ekaherlina622(at)hotmail(dot)com 🙂 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s