Bulan: September 2015

Menikmati ketenangan sore di Aonang Beach, Krabi

Klo ke krabi, hanya ada satu pantai yang gue suka, tapi lupa namanya. Kalau untuk kotanya nggak ada apa-apa sama sekali. Dia hanya punya tiger temple which I love so much.

Cerita Echa –seorang teman yang memiliki pengalaman travelling lebih dari saya — suatu malam di bulan Juni ketika saya bertanya soal pengalaman dia menjelajahi Thailand. Dari obrolan via chat message facebook, saya menangkap saran Echa untuk ke Phuket dan menikmati Phi-phi Island dan menskip rencana saya ke Krabi.

Sayangnya, H-1 sebelum keberangkatan, saya memutuskan untuk tetap ke Krabi dan menskip perjalanan ke Phuket. Alasannya, pertama saya melakukan perjalanan sendiri dan tak terbayang bagaimana rasanya terjebak diantara keramaian seorang diri. Kedua, saya tidak menyukai keramaian.

Lepas menikmati ragam patung lilin tokoh berpengaruh di kancah internasional dari berbagai bidang, saya melanjutkan perjalanan ke Monumen Victory. Seorang teman bilang di tempat inilah terdapat bus yang membawa saya ke Southern bus terminal, tempat dimana saya bisa menaiki bus ke Krabi.

Saya hampir putus asa menemukan bus yang menuju keterminal BTS Monumen Victory. Seorang yang saya kira bule ternyata orang Thailand –efek rambut di cat pirang, cuma menjawab : “I don’t know.” dan tidak terlalu paham bahasa Inggris saya. Saya pun memilih duduk lama di halte dan memperhatikan lalu lalang kendaraan. Hati saya ragu untuk bertanya pada segerombolan tukang ojek yang mangkal — pengalaman dengan tukang ojek Jakarta ūüė¶

Tapi, justru dari tukang ojek itu saya dapat titik terang, mereka menyarankan saya berjalan ke depan rumah sakit. Sesampai di tempat yang dimaksud, pikiran saya langsung melayang ke daerah Racho, kampung rambutan. Ada beberapa bus kota yang mangkal dan silih berganti. Dan seorang remaja Thailand yang tak sengaja mendengar pertanyaan saya ke seorang ibuk-ibuk pun berinisiatif menuntun saya ke pos — sejenis polisi dari dinas perhubungan mungkin. Dan, bertanya bus nomor berapa yang harus saya gunakan ke Southern Terminal.

Dan, lagi ketika di bus kota saya memilih duduk di sebelah seorang remaja Thailand. Saya pun membuka obrolan dan meminta tolong kepadanya dimana saya harus turun. Bersyukur, tujuannya saya lebih dulu dari tujuannya sendiri.

here we go!

****

Part 4

03 September 2015

Saya membuka mata, menatap jalanan dari kaca jendela bus tingkat. Laju bus mulai memasuki kota Krabi. Bus ini sangat nyaman dan kondekturnya seorang cewek yang berpenampilan ala pramugari. Pramugari bus itu pun menawarkan saya secangkir kopi setelah memberi tisu basah kepada saya. Sebelumnya, sore dan tadi malam ia membekali saya dua kali snack yang beris roti dan minuman susu serta air mineral.

Bus memasuki terminal krabi sekitar pukul 07.00 a.m. Seorang cewek langsung menghampiri dan menanyakan tujuan saya. Ia pun menuntun saya ke sebuah ruangan dan menawarkan untuk menaiki taksi. Dengan bahasa Inggris yang masih sulit saya terjemahkan tapi sulit untuk mengerti saya pun mendengar dengan seksama. Kemudian, saya mengeleng kepala dan meminta maaf ketika ia menunjukkan angka untuk naik taksi ke Aonang sungguh diluar budget saya.

Saya pun berjalan keluar, dan menelusuri jalanan terminal hingga ke pos security Disanalah saya bertanya, bagaimana ke Aonang? Ia pun menyarankan saya untuk naik Tuk-tuk — angkutan umum sana — yang sedang mangkal. Saya pun bertanya berapa ongkos ke sana.

Dan, di atas tuk-tuk — berbeda dengan tuk-tuk bangkok, saya melaju ke Aonang Beach. Menempuh jarak yang kurang lebih satu jam.

****

         Ada yang bilang, perjalanan yang berkesan, bukan kemana tujuan kita tapi dengan siapa kita melakukan perjalanan. Tapi bagi saya yang kerap terjebak perjalanan solo, berkesan itu menikmati proses perjalanan itu sendiri.

Setelah puas menikmati tidur siang, sore hari saya menelusuri pinggiran pantai Aonang sambil mencari agen tour untuk ke pulau. Dan, saya jatuh cinta dengan pantai ini. Tidak terlalu ramai, dan tidak terlalu sepi. Pantainya tidak terlalu beda dengan Pantai Purus, Padang. Tapi, kebersihannyalah yang membuat saya jatuh hati.

Dan, bahagia itu sederhana. Menyaksikan kebahagiaan dari keluarga India ini

Dan, bahagia itu sederhana. Menyaksikan kebahagiaan dari keluarga India ini

Sebenarnya saya ingin menanti sunset, sayangnya langit tidak bersahabat kali ini. Saya pun bergegas berjalan menuju mesjid yang hampir dua kilo meter dari pantai Aonang untuk menunai sholat Maghrib. Lepas maghrib, sembari menunggu isya, saya pun memutuskan untuk menikmati makanan favorit saya, ” Tomyam”.

mesjid

Tangga menuju lantai atas, tempat sholat di surau yang terdapat di Aonang

Aonang di malam hari sungguh damai dengan ketenangannya meskipun beberapa cafe dijadikan pub dadakan. Mereka bernyanyi dengan tenang, dan saya pun berjalan dengan gembira menelusuri jalanan Aonang.

StreetFood Aonang Beach yang mengiurkan

StreetFood Aonang Beach yang mengiurkan

Tepat pukul 09.30 P.M, saya memilih untuk kembali ke hostel. Liem, turis asal China sekaligus teman satu kamar saya, masih asyik tertidur pulas. Seharian ini ia tidak keluar dari hostel.

” Have you eaten dinner, Liem?”

Ia berpikir sejenak. Saya pun menanyakan ulang dengan kalimat perlahan. Dan, ia pun membuat gerakan yang mengingatkan saya pada sosok Pegi di sinetron Gerhana.

” Ehm….” ujar Liem. Ia mengeluarkan kata yang sulit saya pahami.

Dan, giliran saya bingung. Saya pun memilih untuk tidur. Menutup tirai.

Pengeluaran :

BTS Siam – Monumen Victori : 35 Bath

Bus kota ke Southern          : 15 Bath

Makan di Southern               : 50 Bath

Bus Bangkok-Thailand          : 565 Bath

Krabi ke Aonang                   : 60 Bath

Hostel Ideal Best                  : 350 bath

Makan siang                         : 60 Bath

Dinner Tomyam                     : 90 Bath

Air mineral dan Jajan            : 30 Bath

 

Iklan

Sawaddeka, Khun….

Part 3

02 September 2015

Ngapain ke Bangkok, sama saja kayak Jakarta.

Juwita atau biasa saya panggil Juju –seorang teman yang kerap melakukan perjalanan kerja ke Bangkok — benar soal Bangkok hampir sama dengan Jakarta. Setidaknya, Mall buka sekitar pukul 09.30 wib. Saya tiba di kawasan SIAM ketika Mall Paragon masih tutup dan beberapa orang menunggu di depan Mall. Mata saya melepas pandang ke sekitarnya. Mengamati pola masyarakat urban Thailand.

Jika kamu mencintai Jakarta dengan ragam pusat perbelanjaannya alias Mall, kawasan SIAM adalah tempat yang wajib untuk dikunjungi. Berikut beberapa tempat yang bisa kamu kunjungi:

  1. Siam Paragon, mungkin ini sama dengan Plaza Indonesia nya Jakarta. Sebab di tempat ini banyak brand kelas internasional yang membuka gerai. Selain itu tentu keberadaan Imax studio. Dan, paling penting adalah terdapat aquarium indoor terbesar di Asia Tenggara tak lain Siam Ocean World. O, ya di sini juga ada Kidzania lho
  2. Siam Center, kalau di Jakarta, saya mengibaratkannya seperti Grand Indonesia. Sebab, barang yang di jual meskipun mewah namun terlihat santai khas anak muda.
  3. Siam Square, di bagian belakang Mall ini terdapat Hard Rock Cafe. Mungkin seperti EX Plaza atau FX kali ya.
  4. Siam Discovery Centre, di Mall inilah, museum patung lilin atau Madame Tussaud berada. Tepatnya di lantai 6.
  5. MBK , Salah satu Mall terpopuler dibahas traveller blogger dan sepertinya menjadi tempat favorit para wisatawan tanah air untuk mencari oleh-oleh. Sebab, di tempat ini beberapa kali saya bersua tak sengaja dengan orang Indonesia.
  6. Bangkok art and culture center, saya tidak tahu bagaimana membahas bangunan ini. Hanya saja, tiba-tiba saya berkhayal bahwa Jakarta punya tempat serupa.
foto eka

Suatu pagi di Siam Center

Sebenarnya masih banyak tempat lain yang bisa di kunjungi di kawasan Siam dengan berjalan kaki, salah satunya Jim Thompson’s House, sebuah museum yang terdiri dari 6 bangunan khas perumahan tradisional Thailand. Tujuan awal saya ke kawasan Siam ingin ke Siam ocean World, melihat kehidupan laut di sana. Namun, ketika membeli tiket saya ditawarkan tiket terusan ke Madam Tusaaud. Saya pun mengiya, mengingatkan ucapan seorang teman, rasanya museum patung lilin itu adalah area wajib untuk dikunjungi ketika menginjak Bangkok.

Bangkok Sea life ocean world

Saya selalu iri dengan mereka yang memiliki keberanian untuk melakukan Diving dan menikmati keindahan alam bawah laut. Dan, saya selalu gigit jari setiap kali menonton liputan tentang mereka yang sedang menikmati alam bawah laut. Pengalaman melakukan snorkeling di Karimun Jawa beberapa tahun lalu meninggalkan jejak berarti dalam ingatan saya. Menyenangkan, meskipun ada ketakutan ketika melepas pandangan ke dasar laut.

Siam Ocean World adalah tempat dimana saya bisa melampiaskan rasa keinginan saya melihat ragam kehidupan dasar laut tanpa harus menyelam ke dasar laut. Ada berbagai ragam aquarium dengan jenis tertentu ketika baru memasuki daerah ini. Menelusuri aquarium dan memperhatikan biota laut sungguh menyenangkan.

Suasana alam seperti di hutan dengan gemericik air mulai terasa ketika kaki saya terus melangkah menelusuri setiap lorong di Siam ocean world. Jika beruntung, ada beberapa show yang bisa dilihat — dan saya melihat Feeding show di area penguin dan anjing laut.

Anjing laut di Siam Ocean World

Anjing laut di Siam Ocean World

Semakin berjalan ke dalam, saya menemui terowongan seperti Sea World Ancol. O, ya saya sempat terpaku di depan aquarium raksasa, ketika beristirahat sejenak. Bukan karena takjub dengan ragam ikan di depan mata saya, tapi teringat harga tiket untuk masuk di sini jika di kalkulasi dengan rupiah… *abaikan.

Salah satu terowongan di Siam Ocean World

Salah satu terowongan di Siam Ocean World

Maddam Tusaaud

Sebenarnya ada rasa menyesal saya ketika mengiyakan tawaran mbak-mbak penjual tiket siam ocean world untuk membeli paket combo Ocean world dan museum patung lilin. Setelah sadar, berapa rupiah yang telah dikeluarkan untuk menikmati ini membuat saya menarik napas.

Saya mengistirahatkan diri sejenak di salah satu restoran cepat saji siam centre. Karena was-was dengan kehalalannya, saya memilih menikmati ice cream saja sambil mencharger baterai ponsel — lagian sisa kentang goreng tadi malam masih ada. O, ya bagi muslim di sini ada mushola lho. Saya bersyukur bertemu dengan security mall yang baik hati, ia bersedia mengantarkan saya ke area mushola ketika saya bertanya :” where is surau or praying muslim room?”

Ia memanggil temannya untuk mengantikan tugasnya, kemudian mengantarkan saya ke mushola yang agak tersudut dan terletak di lantai bawah. Sepanjang perjalanan ia berusaha membangun obrolan dengan saya, dan membuat saya sedikit terharu ketika ia berucap :“Indonesia is good country,” ia pun bercerita tentang Bali yang pernah ia dengar meskipun belum pernah kesana.

“Orang Indonesia baik dan ramah.” ucapnya lagi. Dengan kemampuan bahasa inggris terbatas, saya pun bilang bahwa Indonesia tak sekedar Bali. Di Indonesia ada Sumatra Barat yang tak kalah indah alamnya.

Lepas dari mengistirahatkan diri di Siam Centre, saya melanjutkan perjalanan ke Siam Discovery centre, tempat dimana patung lilin berada. Yup, area wajib untuk memamerkan diri berpoto dengan tokoh idola. Secara jujur, bukan masalah harga tiket yang mahal, saya tak terlalu suka berada di tempat ini. Hanya sekedar seperti pameran beberapa tokoh besar di area ini. Tak lebih. Dan, bagi mereka yang hobi berfoto tempat ini sepertinya wajib untuk dikunjungi.

Awal masuk kita disambut dengan transportasi khas thailand. kekurangan dari tempat ini tak ada alunan musik tradisional yang mengiringi tiap langkah ketika menelusuri satu demi satu tokoh berpengaruhi dari berbagai bidang. O, ya kita cukup berbangga lho, ada patung Alm bapak Soekarno.

Sebagai salah satu pengemar K-pop, tentu saya tak lupa menyapa pangeran Thailand, Nikhun. Saya tak menyukai Nikhun seperti rasa suka saya terhadap Yonghwa CNBLUE, atau jatuh hati seperti saya melihat G-Dragon. Saya mengagumi Nikhun tak lebih kepintarannya menguasai bahasa, dan tentu sikapnya di Reality Show We Got Married yang terkesan ‘lelaki banget’. Maka, di tempat ini, menatap wajah Nikhun saya mengucapkan salam resmi .

Sawaddeka, Khun…

Sawaddeka, oppa

Sawaddeka, oppa

Dan, perjalanan masih belum usai.

Pengeluaran :

tiket Ocean World dan Maddam Tussaud : 1450 Bath

Ice cream di Mcd                                      : 15 Bath

Selamat pagi, Bangkok

Part 2

Bangkok, 02 September 2015

¬†A Journey of a thousand miles must begin with a single step ‚ÄďLao Tzu

            Perlahan saya membuka mata seiring dengan suara pengumunan bahwa sebentar lagi pesawat akan landing. Ada perasaan senang setiap kali pesawat hendak mendarat, tapi juga perasaan takut dengan efek getaran setiapkali pesawat menyentuh landasan. Saya kembali memejamkan mata, harap-harap cemas dengan jeda yang rasa cukup lama. Menanti kejutan dari landing . Sepuluh menit berlalu, belum ada tanda-tanda roda pesawat akan menyentuh landasan. Saya kembali membuka mata seraya menarik napas. Seorang bule wanita yang duduk di dekat jendela sedang mengabadikan sunrise di luar sana. Saya pun tak menyiakan kesempatan ini, sebuah lukisan Tuhan nan indah.

¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† ‚Äú It‚Äôs nice‚Ķ‚ÄĚ ucap bule tersebut. Saya pun mengangguk. Lewat kamera ponsel saya mengabadikan sunrise pagi ini. Setelah itu kembali menyandarkan punggung, bersiap untuk kembali memejamkan mata. Seorang pramugari menghampiri kami ‚Äď saya dan bule tersebut. Menyerahkan kartu imigrasi yang harus di isi.

Sunrise di langit Bangkok

Sunrise di langit Bangkok (02/09/2015)

            Satu langkah berlalu, dan perjalanan yang sesungguhnya menyambut saya.

Bismillah….

****

Waktu menunjukkan pukul 09.35 A.M, ketika saya berjalan keluar bandara. Tak ada perbedaan waktu antara Bangkok dan Jakarta. Saya sempat bertanya dimana saya bisa mendapatkan bus A1 kepada petugas di Bandara, bus yang akan membawa saya ke daerah Mochit, salah satu stasiun BTS atau Bangkok Skytrain. Tujuan saya adalah kawasan Siam

Sampai di Mochit, saya pun mengikut arah lalu orang yang ramai berjalan, dengan asumsi saya saat itu mereka ingin menaiki BTS. Saya tak kesulitan dengan proses pembelian tiket naik BTS dengan melakukan pengamatan sejenak.

Berikut hasilnya :

  1. Tukarkan uang kertas dengan uang logam dengan menyatakan tujuan kemana. Biaasanya petugas akan me mix antara uang 10, 5 dan 1 . uang yang diterima oleh mesin.
  2. Kemudian, perhatikan peta/jalur stasiun yang akan di tuju di dekat mesin seperti mesin minuman ‚Äďmenurut saya lho. Ke Siam adalah tertulis 42, maka saya mememcet angka 42 baru memasuki uang logam.
  3. Lalu akan keluar kartu, yang nantinya berguna memasuki dalam stasiun.

Cara masuk ke dalam stasiun :

  1. Masuki kartu ke tempat yang tersedia ( jika bingung perhatikan orang-orang terlebih dahulu), kemudian kartu otomatis akan keluar di atas. Kamu ambil, kemudian pintu terbuka.
  2. Kartu itu jangan sampai hilang, sebab sama seperti commuterline , kartu itu berguna saat kita keluar nanti.
  3. Di bagian belakang kartu itu, ada petunjuk nama-nama stasiun/ jalur stasiun, yang membuat kita tak cemas. Perhatikan dengan seksama, dan dengar baik-baik setiap pengumuman yang ada.
  4. O ya, meskipun penguna BTS ramai, tapi mereka tertib lho. Mendahulukan orang yang keluar dulu. Dan, tentunya antri tanpa takut ketinggalan.
Tiket Bangkok Skytrain (BTS)

Tiket Bangkok Skytrain (BTS)

P.S lebih lengkapnya, ada tutorialnya di youtube lho. Searching aja ūüôā

 Pengeluaran :

  • 1 bath : IDR 445

Don Mueng – Mochit BUS A1 : 30 Bath

BTS Mochit-Siam                   : 42 Bath

Air mineral                            : *sempat mengisi air di Drinking water bandara KLIA2