Dinginnya KLIA 2, Hangatnya Malaysia

Part 1

KLIA 2, 01 September 2015

Jika ada waktu kurang dari dua puluh jam di Kuala Lumpur, bagusnya ngapain aja?

     Kira-kira seperti itu pertanyaan yang saya ajukan kepada seorang teman yang baru saja pulang menjelajahi Kuala Lumpur. Sebuah pertanyaan yang beralasan, mengingat jeda waktu menunggu penerbangan saya ke Bangkok keesok harinya pukul 06.45 AM. Ia pun menyarankan saya untuk ngopi santai di KLCC.

“ Rasanya nggak mungkin untuk menjelajahi Kuala Lumpur. Eka sampai jam empat sore disana. Perjalanan ke KL Sentral saja hampir satu jam. Tapi, kalau tidak lelah, ya udah lakukan saja.” Ucap Eda—saudara kembar saya ketika saya mendiskusikan apa sebaiknya yang saya lakukan.

            Eda pun menyarankan saya untuk menghabiskan waktu di KLIA 2. “ Disana bisa windows shopping, “ lanjutnya mengingat suasana di Bandara KLIA2 yang memang seperti suasana Mall. Sebuah pilihan yang melelahkan saya rasa

            Dan, disinilah saya berada. Melewati imigrasi dengan lancar –meskipun si Eda sempat meragukan saya dengan tiket pulang yang belum saya beli. Bismillah… satu langkah telah berlalu. Langkah selanjutnya menanti. Kejutan apa yang akan diterima? Dan, saya tak sabar menanti kejutan tersebut.

            Keluar dari imigrasi Malaysia, saya langsung menuju Surau, menunaikan sholat Ashar. Berdiam sejenak. Ada perasaan buncah sekaligus khawatir. Buncah, karena saya melakukan perjalanan. Khawatir, ini perjalanan seorang diri, di negeri asing yang belum pernah saya jejaki dan keterbatasan bahasa yang saya miliki. Dan, pada akhirnya percayalah ketika kau melibatkan sang Pencipta dalam perjalananmu, tak ada banyak ketakutan berarti di jiwa ini.

            Lepas dari surau, saya memilih berjalan keluar menuju terminal keberangkatan. Mencari colokan listrik untuk gadget saya. Bersyukurlah dengan ketersediaan wifi di tempat ini. Saya pun memilih duduk diantara segerombol remaja yang sedang duduk lesehan. Menumpang menyolok di kabel cabang yang mereka gunakan.

            Salah satu yang saya senangi dari sebuah perjalanan adalah membuka percakapan dengan orang asing. Meskipun sebatas hari itu, dan jika beruntung mungkin bisa berlanjut menjadi pertemanan –tapi saya tak pernah mengharap lebih dari sebuah percakapan dengan orang asing kecuali rasa nyaman.

            Ternyata gerombolan remaja tersebut merupakan mahasiswa kedokteran di Malaysia yang baru selesai melakukan Magang di salah satu rumah sakit swasta di Lampung selama dua bulan ini. Tak banyak percakapan berarti, selain tampak kelelahan di wajah mereka. Saya pun membayangkan perjalanan dari Lampung menuju Bandara Soekarno-Hatta, kemudian Kuala Lumpur, dan sekarang menunggu penerbangan keesok harinya ke salah satu daerah di Malaysia ( saya lupa namanya).

            Dari percakapan dengan mereka, saya pun ketiban rejeki sebuah ice cream potong. Sempat menolak, tapi mereka memaksa saya untuk sama-sama menikmati ice cream yang mereka beli. Tak peduli dinginnya hawa suasana bandara, ice cream tersebut terasa hangat di hati saya.

foto

Ais-Krim Potong dari kehangatan Mahasiswa Kedokteran Malaysia ( 01/09/2015)

            Sehangat senyuman mereka melepaskan kepergian saya yang hendak melaksanakan sholat maghrib. Lepas sholat pun saya memilih tetap berdiam di surau menanti Isya. Setelah selesai menunaikan kewajiban dengan sang Pencipta, saya pun memilih makan di salah fast food disana. Tiba-tiba saya menitik air mata, biasanya dalam perjalanan saya dibekali sebungkus nasi dan lauk oleh Ama –Mama saya. Tapi, perjalanan ini …. – saya tidak tahu apakah beliau mengizinkan perjalanan ini apa tidak.

            Malam itu, ketika saya berbaring untuk tidur di salah satu spot istirahat di Bandara KLIA2, saya menyelipkan do’a: Allah, ijinkan saya kembali ke rumah dan melihat wajah Ama. Jadikan perjalanan ini adalah perjalanan terbaik.

****

           Keesokan harinya, selepas subuh, saya bergegas ke bagian keberangkatan. Kembali menemukan gerombol mahasiswa kedokteran Malaysia tersebut yang wajahnya masih saja menyisakan kelelahan. Tapi, senyuman mereka tetap sama. Hangat. Menyapa saya, dan menanyakan pukul berapa saya akan boarding.

            Saya membekali diri dengan roti dan satu botol air mineral yang saya sisakan tak lebih dari 100 ml ketika berjalan memasuki bagian imigrasi sebelum melangkah ke Gate.

Bismillah….

Lagi. Tak ada masalah di imigrasi. Saya tersenyum melangkah berjalan menuju gate. Ada debar yang sulit saya deskripsikan. Ini bukan perasa takut, tapi lebih dari perasaan seperti bertemu dengan sang kekasih. Menanti kejutan apa yang akan dihadirkan dengan senyum mengembirakan.

Pengeluaran :

Tiket Padang-KL        : Rp 660.000,- ( * beli tiket H-1 sebelum berangkat 😦 )

Air mineral 2 botol      : 4 RM ( * 1 RM :3300,-)

Roti                             : 0.85 sen

Makan                         : 12 RM

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s