Satu Hari Bersama Jakarta

Jakarta oh Jakarta….

Aku terpuruk oleh rasa rindu yang menyesakan dada. Bukan rasa rindu ingin kembali mengulang apa yang pernah aku lakukan dulu di kota ini selama hampir lima tahun, tapi lebih pada keinginan merengkuh seutuhnya yang belum terselesaikan.

Aku merindukanmu, Jakarta.

Bukan rindu untuk kembali menikmati kemacetan jalanan atau terlena dengan obrolan penuh bual di sudut cafe dan tersesat di jejaran Mall mewah. Tapi, sebuah rindu yang belum terselesaikan untuk mengenalmu lebih jauh. Pada janji masa kecil yang pernah aku ukirkan untuk menjelajahi Taman Mini Indonesia Indah (TMII) belum sempat terwujud. Pada keinginan untuk melihat sisi lain dirimu di Ragunan, setelah film ‘Postcard from the zoo’ sempat membuatku berkesan. Dan, janji seorang sahabat menikmati romansa malam di Bundaran Hotel Indonesia.

Dan, kisah kita belum benar-benar usai — bahkan mungkin tak pernah usai dengan pesonamu yang tak pernah memudar. Imajinasi liarku selalu bermain, berharap bisa kembali menyapamu, meskipun dalam satu hari.

Satu hari bersama Jakarta

Ini tentang imajinasi liarku membayangkan kembali menyapamu meskipun dalam satu hari — dan, maafkan aku lebih mencintai tanah kelahiranku, Padang. Layaknya seorang sahabat yang saling bersua setelah sekian lama, maka aku berusaha mengemas cerita ini dengan penuh bahagia.

Rasanya mengawali pagi di kawasan kota tua, Fatahillah sungguh menyenangkan. Menyewa sebuah sepeda, aku akan menelusuri tiap sudut kota tua dan mengayuh sepeda ke Jembatan merah hingga ke Pelabuhan Sunda Kelapa . Oh, ya biar terasa Jakarta, disini aku akan sarapan kerak telor.

Selalu ada cerita indah di kota tua

Selalu ada cerita menyenangkan di Kota Tua

Lepas dari Kota tua, dengan kembali bernostalgia menggunakan commuterline, aku menuju kawasan stasiun Juanda. Berjalan ke arah monumen nasional (Monas), dan mendinginkan badan dengan ice cream di Ragusa sebelum melanjutkan perjalanan ke monas. disini aku juga akan mampir ke mesjid Istiqlal. Meskipun tidak terlalu menyukai dunia arkeologi, aku ingin mampir ke Museum nasional atau museum Gajah. Ya, sekedar melihat koleksi keramik… maklum punya jiwa mak-mak.

menggunakan Transjakarta, aku ingin melanjutkan perjalanan ke kebun binatang Ragunan, sekedar memenuhi rasa penasaranku tentang keadaan kebun binatang disini. Dari Ragunan aku akan menuju ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Jika masih ada transportasi Koantasbima 509, aku akan menaikinya hingga kampung rambutan dan melanjutkannya dengan angkot merah ke TMII. Jika tak ada, mungkin aku akan mencoba naik taksi menimbang efisiensi waktu yang akan aku peroleh.

Menjelang maghrib, terbayang nikmatinya menunaikan ibadah di mesjid Sunda Kelapa sebelum berlabuh ke arah Taman Menteng sekedar menikmati streetfood sana. Setelah itu, aku akan ke Cikini, ada satu tempat makan Sunda, di dekat daerah Taman Ismail Marzuki, yang aku rindukan untuk makan malam. — lupa namanya apa.

Wow, aku masih ada waktu tersisa untuk kota yang selalu terbangun dan tidak pernah lelah. Aku pun akan menghabiskan pengujung malam dengan nongkrong di Bundaran Hotel Indonesia. Menyapamu dengan ‘resmi’ dengan segelas kopi dari abang-abang sepeda di kawasan tersebut. Dan, menyeruput kopi merasakan romansa malam yang kau hadirkan.

Menikmati malam di Bundaran HI

Menikmati malam di Bundaran HI

Jakarta, besok aku kembali ke kotaku. Dan, sebagai sahabat suatu hari nanti aku akan kembali mengunjungimu. Maka pesona apalagi yang akan kau suguhi untukku?

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog “Blog Competition #TravelNBlog 4: Jakarta 24 Jam“ yang diselenggarakan oleh @TravelNBblogID

Iklan

4 comments

  1. Senang membaca perjalananmu yang begitu melelahkan. Sungguh perjalanan yang panjang untuk mengunjungi itu semua,
    Kalau takut kena macet, bisa naik gojek. Bebas macet dan sedikit lebih murah.

  2. thank … Akbar. heheheh ini kan imajinasi liar saja. belum terealisasi. Yup, harusnya masuki ngojek ya sebagai alternatif transportasi. secara lagi ‘kekinian’ di Jkt. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s