Cara Seru Menikmati Bangkok dengan Ketersediaan Baht terbatas

One’s destination is never a place, But a new way of seeing things — Henry Miller

Part 6

05-06 September

Bus tingkat yang saya tumpangi dari Krabi memasuki kawasan Southern Terminal, Bangkok, Sabtu di suatu subuh. Ini hari ketiga saya di Thailand. Saya berjalan memasuki Area Mall dan memilih duduk di depan Sevel. melepas penat setelah perjalanan hampir dua belas jam. Tak banyak Baht yang tersisa sejak perjalanan dari Bangkok-Krabi-Bangkok selama tiga hari ini, selain ada 150 Riyal di amplop putih dalam tas — Saya tak terbiasa menggunakan dompet sebagai penyimpanan uang kecuali kartu.

Sejenak saya menarik napas. Tak pernah terbayangkan dalam pikiran akan menikmati perjalanan seorang diri di negeri orang dengan kemampuan bahasa yang minim dan keterasingan. Namun, ucapan sarkatis Eda — saudara kembar saya, yang mempertanyakan keberanian saya melakukan perjalanan seorang diri membuat kaki ini akhirnya melangkah. Batin saya berseru, :” Siapa takut!”

Dan, disini saya berada. Duduk terdiam memandang mesin ATM sembari menghitung dalam hati persoalan Baht yang tersisa.

diam-diam saya menyelipkan do’a : “Tuhan, jadikan perjalanan ini adalah perjalanan terbaik.”

Do’a yang sama dengan hari kemarin ketika perahu yang saya tumpangi menjelajahi laut Andaman terombang-ambing akibat cuaca buruk.

Setengah jam berlalu dengan renungan tak jelas, saya pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke daerah Khaosan Road, kawasan backpacker dunia berkumpul sekaligus tempat dimana hostel yang sudah saya booking berada. Bermodal hasil informasi dari petugas terminal setempat, saya menaiki bus nomor 3 menuju kawasan tersebut. Mata saya awas memperhatikan suasana Bangkok di pagi hari lewat jendela kaca bus. Sesekali berujar pada kondektur bus,” Khaosan Road,” sebagai pengingat dimana saya harus turun.

Sampai di Khaosan Road, berbeda dengan Krabi, saya disuruh menunggu jadwal Check In hingga pukul 01.00 PM. Akhirnya saya memutuskan untuk berjalan menelusuri kawasan tersebut sembari mencari sebuah mesjid di kawasan ini.

Khasoan Road memang kawasan dengan deretan pub, sehingga keramaian baru terlihat ketika malam menjelang, tapi di kawasan ini berdasarkan informasi dari cerita yang saya dapat di beberapa blog  terselip sebuah mesjid, Chakrabongsee namanya. Terletak di Gang Trok Surao, dengan patokan seberang Tang Hua Seng Department Store, tinggal lurus saja, maka sebuah mesjid sederhna ada disana. Saya pun memutuskan untuk beristirahat sejenak disana.

Sebenarnya saya masih ada waktu untuk mengunjungi wisata Grand Palace yang bisa ditempuh dengan jalan kaki, tapi mengingat Baht yang tersisa, saya memutuskan untuk mengistirahatkan badan dengan tidur siang di hostel. Lagian, cuaca Bangkok lagi panas-panasnya.

Menjelang sore, saya memutuskan untuk berjalan menggunakan bus kota dengan nomor ngasal. Entah kemana tujuan, saya kehabisan ide– disaat seperti ini saya bersyukur melakukan perjalanan seorang diri, setidaknya ketika nyasar tak ada yang marah atau kesal karena kelelahan. Dan, saya lebih bebas menikmati perasaan ini.

Langkah ‘menyasarkan diri’ membawa saya pada kawasan Saphan Taksin , disana ada terminal boat. Mata saya menangkap tulisan Free Boat, yang membuat saya tersenyum. Saya pun memutuskan menaiki Boat tersebut, menelusuri sungai Chao Praya yang membawa kami –saya dan penumpang lain, ke kawasan Asiatique river. Menikmati sore di daerah ini sungguh menyenangkan.

Asia
Menikmati Sore di Asiatique

****

Ke esok harinya, saya tak menyiakan kesempatan untuk mengunjungi Chatuchak Market yang terkenal dengan pasar terlengkap dan ada di saat weekend. Meskipun tak berniat berbelanja, saya sempat menyicip streetfood disana dan mengambil beberapa foto yang menyenangkan tentang pasar.

Bersantai di Rot Fai Park
Bersantai di Rot Fai Park

Oh, ya sebelum ke sana. selepas subuh saya menikmati sungai Chao Praya di Santichai Prakarn, sebuah taman yang tak jauh dari kawasan Khaosan. Disana saya menemukan beberapa orang sedang berolahraga. Lagi, saya tak bosan menikmati sungai Chao Praya yang mengingatkan saya pada sungai Batang Hari di Jambi.

cha yo pra
Menelusuri Sungai Chayo Praya

Sungai Chao Praya memang tidak sejernih sungai yang ada di daerah kampung saya, Padang, tapi pengelolaannya yang membuat sungai ini memiliki sisi yang menyenangkan untuk dinikmati apalagi dipadu dengan pemandangan kota Bangkok di seberang sana. Di tempat inilah saya menikmati sore yang indah. Menanti lukisan Tuhan yang kita sebut sunset.

Saya teringat kalimat bijak tentang sebuah perjalanan :”One’s destination is never a place, But a new way of seeing things. ” (Henry Miller).

Perjalanan ini, meskipun seorang diri, tapi saya tidak merasa kesepian. Saya menemukan banyak hal yang membuat saya merasa terlibat dalam keramaian masyarakat Bangkok. Dan, di pinggir sungai Chao Paya, saya pun mengukir rasa syukur.

Terima kasih Allah, untuk sebuah perjalanan ini.

****

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar liburan tidak mati gaya selama berada di Bangkok saat ketersediaan Baht terbatas versi saya :

1.      Menikmati sungai Chao Praya di Santichai Prakarn
2.   Melipir ke Bangkok art and cultural center yang terletak di depan pusat perbelanjaan BMK
3.      Menghabiskan waktu di Rot Fai Park ( di dekat kawasan Chatchuk Market)
4.      Mengistirahatkan diri di Lumphini Park
5.   Menjelajahi Bangkok dengan Bus kota, atau berdiam diri di dalam BTS, menyaksikan Bangkok lewat jendela kaca.
6.     Menyinggahi Mall Terminal 21 sekedar berkhayal sedang menelusuri London, Tokyo, dan Paris. Sebuah Mall yang berkonsep seperti Bandara dan Negara.

* tulisan ini pernah diikutsertakan dalam lomba jurnal perjalanan di @blibur dan dengan perubahan judul.

Menerjang Ombak di Laut Andaman, Krabi

Dari perjalanan saya belajar mengatasi rasa takut

Part 5

04 September 2015

” Waw…” Hampir serentak penumpang Longtail boat berteriak yang diiringi tawa senang ketika hempasan ombak menghantam kapal. Air laut menyebur ke dalam longtail boat. Namun, tawa itu tidak berlangsung lama, ombak dengan ganas meghempas ke badan longtail boat. Kapal miring seolah-olah ingin tenggelam. Wajah kegembiraan pun berganti dengan wajah pucat karena cemas.

Satu persatu reflek peserta tour yang kebanyakan orang Asia itu pun mengenakan Life vest yang tersedia di bangku. keadaan kapal hening, cuma terdengar deru mesin yang menerobosi ombak. Saya memejamkan mata. Mengenggam erat life vest tanpa peduli bibir yang bergetar karena mengigil kedinginan. Mata saya melihat ke Mrs. Aonang, tour guide, yang tampak tenang dalam diamnya memandang lepas ke lautan luas. Pasangan turis India di depan saya saling mengenggam tangan. Sementara, pemuda Korea memejamkan mata.

Allah… ijinkan ini menjadi perjalanan terbaik saya dan betapa saya masih ingin melihat wajah ama — mama saya.

Saya memejamkan mata. Berzikir dan sesekali menarik napas menenangkan diri. Pengalaman melintasi badai ditengah laut empat tahun silam di Karimun Jawa pun kembali muncul dibenak saya.

****

Enam jam yang lalu….

Saya menatap cemas jam di ponsel. serempat jam berlalu dari jadwal yang telah direncanakan, agen tour perjalanan masih saja menunggu peserta lain. Saya berharap, perjalanan pulang sesuai dengan jadwal. Sebab, saya mesti mengejar bus ke Bangkok hari ini. Tadi malam, beberapa agen tour sepanjang Aonang beach angkat tangan ketika saya ingin berangkat ke Bangkok pukul 05.00 P.M, jadwal bus paling sore 03.00 P.M. Dan, mereka tak bisa memastikan soal bus terakhir di terminal Krabi. Alhasil, saya memilih pasrah dan tak mungkin membatalkan tour menyinggahi beberapa pulau di laut Andaman. Hati saya tetap berdo’a, semoga masih ada rejeki saya hari ini ke Bangkok.

Akhirnya, ketika waktu menunjukkan hampir setengah sepuluh, kami diarahkan ke longtail boat yang sudah terparkir di bibir pantai Aonang. Pagi ini, saya memilih paket 4 Island, Phranang Beach, Chicken Island, Tub Island, dan Poda Island seharga 500 bath sudah termasuk makan, minum, buah segar dan snorkeling . Tadinya saya ingin ke Phi-phi Island, mengikuti saran Echa, sayangnya keterbatasan waktu dan uang membuat saya memilih paket tour ini.

cave
Melepas lelah di pantai

Persinggahan pertama, adalah Phranang Beach, disini jangan terlena hanya sekedar mencebur diri sebab ada sisi menarik lain untuk diekspor di pantai ini, yaitu terdapat Gua –sayangnya saya keasyikan bermain air laut. Waktu yang diberikan satu jam pun berlalu tanpa terasa, perjalanan selanjutnya adalah Chicken Island.

Disebut Chicken Island, sebab batu tebingnya berbentuk kepala ayam. Disini kapal tak bisa berlabuh, cuma berhenti saja. Secara jujur, pemandangan bawah lautnya tak seindah di Karimun Jawa.

Lepas Snorkeling, kami pun menyinggahi Tub Island, dan menikmati makan siang. Lagi, saya kembali dibuat terpesona dengan kebersihan pantai. Saya teringat wisata pulau di negeri saya, yang tak lepas dari sampah — seorang teman, sampai memunguti sampah-sampah saat kami asyik berenang dilaut. 😦

FOAM

Dan, kesalutan saya adalah tidak menggunakan foam atau bungkus nasi, mereka menggunakan box nasi yang bisa di pake kembali. Dari Tub Island, kami pun beranjak di Poda island.

halal
Insya Allah, Halal 🙂

Di Poda Island, saya memilih menelusuri pantai ketimbang berenang. Hampir dua jam kami berada di pulau ini. Angin sempat berembus kencang, saya pun mengadahkan kepala. Awan mulai mendung.

TAKE A NAP

Semoga bukan pertanda buruk.

****

Ingin rasanya saya sujud syukur saat kapal merapat di Nopparat Thara Beach. Saya langsung bergegas menuju Soethaw yang sudah menunggu peserta tour untuk diantar ke hostel masing-masing. Karena saya sudah check out tadi pagi, Saya meminta ijin menggunakan kamar mandi untuk bersih-bersih dengan petugas hostel.

Lepas bersih-bersih, saya mengambil tas ransel yang saya titipkan di lobi hostel. Senyum ramah sang pemilik hostel melepas kepergian saya. Saya pun masih harus bekejaran dengan waktu serta berharap masih ada tersisa bus ke Bangkok untuk saya.

Supir angkutan umum Aonang-Krabi meminta waktu lima menit ke saya untuk menunggu penumpang lain, dan saya pun pasrah. Lima menit dijanjikan berlalu menjadi sepuluh menit 😦

Hujan mengiring kepergian meninggalkan Aonang beach. Saya memeluk tas ransel, menahan hawa dingin yang merasuki tubuh. perjalanan menuju terminal memakan waktu hampir satu jam.

Hampir pukul lima sore, saya sampai di terminal. Dengan terburu-buru berlari melintas gerimis berlari menuju loket. Alhamdulillah, saya menemukan bus tingkat yang lima menit lagi mau berangkat ke Bangkok.

Memasuki bus tingkat, sungguh tiba-tiba saya merindukan panasnya kota Padang. Baju yang lembab akibat tempias hujan pas perjalanan ke Krabi, suhu AC ditambah cuaca diluar sana yang masih hujan.

11163201_10207128533033009_6722218364864285020_n
Gadis Krabi menanti hujan

Lagi. Hujan pun mengiring kepergian saya yang tengah mengigil hebat. Beruntung, bangku disebelah kosong sehingga selimutnya bisa gunakan untuk menutupi kaki yang saya angkat ke atas bangku. Saya memeluk erat lutut saya.

Mata saya melepas pandang ke luar jendela.

Allah, terima kasih untuk perjalanan ini. lirih kata itu keluar tanpa suara.

Daftar pengeluaran

Tour 4 island            : 500 bath

Aonang-Krabi          : 60 bath

Bus Krabi-bangkok : 565 bath