Menerjang Ombak di Laut Andaman, Krabi

Dari perjalanan saya belajar mengatasi rasa takut

Part 5

04 September 2015

” Waw…” Hampir serentak penumpang Longtail boat berteriak yang diiringi tawa senang ketika hempasan ombak menghantam kapal. Air laut menyebur ke dalam longtail boat. Namun, tawa itu tidak berlangsung lama, ombak dengan ganas meghempas ke badan longtail boat. Kapal miring seolah-olah ingin tenggelam. Wajah kegembiraan pun berganti dengan wajah pucat karena cemas.

Satu persatu reflek peserta tour yang kebanyakan orang Asia itu pun mengenakan Life vest yang tersedia di bangku. keadaan kapal hening, cuma terdengar deru mesin yang menerobosi ombak. Saya memejamkan mata. Mengenggam erat life vest tanpa peduli bibir yang bergetar karena mengigil kedinginan. Mata saya melihat ke Mrs. Aonang, tour guide, yang tampak tenang dalam diamnya memandang lepas ke lautan luas. Pasangan turis India di depan saya saling mengenggam tangan. Sementara, pemuda Korea memejamkan mata.

Allah… ijinkan ini menjadi perjalanan terbaik saya dan betapa saya masih ingin melihat wajah ama — mama saya.

Saya memejamkan mata. Berzikir dan sesekali menarik napas menenangkan diri. Pengalaman melintasi badai ditengah laut empat tahun silam di Karimun Jawa pun kembali muncul dibenak saya.

****

Enam jam yang lalu….

Saya menatap cemas jam di ponsel. serempat jam berlalu dari jadwal yang telah direncanakan, agen tour perjalanan masih saja menunggu peserta lain. Saya berharap, perjalanan pulang sesuai dengan jadwal. Sebab, saya mesti mengejar bus ke Bangkok hari ini. Tadi malam, beberapa agen tour sepanjang Aonang beach angkat tangan ketika saya ingin berangkat ke Bangkok pukul 05.00 P.M, jadwal bus paling sore 03.00 P.M. Dan, mereka tak bisa memastikan soal bus terakhir di terminal Krabi. Alhasil, saya memilih pasrah dan tak mungkin membatalkan tour menyinggahi beberapa pulau di laut Andaman. Hati saya tetap berdo’a, semoga masih ada rejeki saya hari ini ke Bangkok.

Akhirnya, ketika waktu menunjukkan hampir setengah sepuluh, kami diarahkan ke longtail boat yang sudah terparkir di bibir pantai Aonang. Pagi ini, saya memilih paket 4 Island, Phranang Beach, Chicken Island, Tub Island, dan Poda Island seharga 500 bath sudah termasuk makan, minum, buah segar dan snorkeling . Tadinya saya ingin ke Phi-phi Island, mengikuti saran Echa, sayangnya keterbatasan waktu dan uang membuat saya memilih paket tour ini.

cave
Melepas lelah di pantai

Persinggahan pertama, adalah Phranang Beach, disini jangan terlena hanya sekedar mencebur diri sebab ada sisi menarik lain untuk diekspor di pantai ini, yaitu terdapat Gua –sayangnya saya keasyikan bermain air laut. Waktu yang diberikan satu jam pun berlalu tanpa terasa, perjalanan selanjutnya adalah Chicken Island.

Disebut Chicken Island, sebab batu tebingnya berbentuk kepala ayam. Disini kapal tak bisa berlabuh, cuma berhenti saja. Secara jujur, pemandangan bawah lautnya tak seindah di Karimun Jawa.

Lepas Snorkeling, kami pun menyinggahi Tub Island, dan menikmati makan siang. Lagi, saya kembali dibuat terpesona dengan kebersihan pantai. Saya teringat wisata pulau di negeri saya, yang tak lepas dari sampah — seorang teman, sampai memunguti sampah-sampah saat kami asyik berenang dilaut. 😦

FOAM

Dan, kesalutan saya adalah tidak menggunakan foam atau bungkus nasi, mereka menggunakan box nasi yang bisa di pake kembali. Dari Tub Island, kami pun beranjak di Poda island.

halal
Insya Allah, Halal 🙂

Di Poda Island, saya memilih menelusuri pantai ketimbang berenang. Hampir dua jam kami berada di pulau ini. Angin sempat berembus kencang, saya pun mengadahkan kepala. Awan mulai mendung.

TAKE A NAP

Semoga bukan pertanda buruk.

****

Ingin rasanya saya sujud syukur saat kapal merapat di Nopparat Thara Beach. Saya langsung bergegas menuju Soethaw yang sudah menunggu peserta tour untuk diantar ke hostel masing-masing. Karena saya sudah check out tadi pagi, Saya meminta ijin menggunakan kamar mandi untuk bersih-bersih dengan petugas hostel.

Lepas bersih-bersih, saya mengambil tas ransel yang saya titipkan di lobi hostel. Senyum ramah sang pemilik hostel melepas kepergian saya. Saya pun masih harus bekejaran dengan waktu serta berharap masih ada tersisa bus ke Bangkok untuk saya.

Supir angkutan umum Aonang-Krabi meminta waktu lima menit ke saya untuk menunggu penumpang lain, dan saya pun pasrah. Lima menit dijanjikan berlalu menjadi sepuluh menit 😦

Hujan mengiring kepergian meninggalkan Aonang beach. Saya memeluk tas ransel, menahan hawa dingin yang merasuki tubuh. perjalanan menuju terminal memakan waktu hampir satu jam.

Hampir pukul lima sore, saya sampai di terminal. Dengan terburu-buru berlari melintas gerimis berlari menuju loket. Alhamdulillah, saya menemukan bus tingkat yang lima menit lagi mau berangkat ke Bangkok.

Memasuki bus tingkat, sungguh tiba-tiba saya merindukan panasnya kota Padang. Baju yang lembab akibat tempias hujan pas perjalanan ke Krabi, suhu AC ditambah cuaca diluar sana yang masih hujan.

11163201_10207128533033009_6722218364864285020_n
Gadis Krabi menanti hujan

Lagi. Hujan pun mengiring kepergian saya yang tengah mengigil hebat. Beruntung, bangku disebelah kosong sehingga selimutnya bisa gunakan untuk menutupi kaki yang saya angkat ke atas bangku. Saya memeluk erat lutut saya.

Mata saya melepas pandang ke luar jendela.

Allah, terima kasih untuk perjalanan ini. lirih kata itu keluar tanpa suara.

Daftar pengeluaran

Tour 4 island            : 500 bath

Aonang-Krabi          : 60 bath

Bus Krabi-bangkok : 565 bath

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s