Catatan yang tersisa

langit biru

A Good Traveler has NO fixed Plans

–Lao Tzu

Part 8

9 September 2015

“Jerebunya udah mulai berkurang.”

Kalimat gadis berusia 20-an tahun itu tak begitu saya indahkan sesaat ia melepas pandang ke luar jendela dari lantai atas sebuah flat sederhana di kawasan pinggiran Kuala Lumpur. –dan beberapa jam kemudian baru saya sadari yang dihebohkan gadis itu adalah kabut asap yang berasal dari negeri saya tercinta.

” Tadi hujannya cukup deras mi.” ujarnya kepada sang umi.

Perjalanan ini cukup melelahkan bagi saya. Semalam selama perjalanan pulang dari Pattaya menuju Bangkok, hati saya bertarung mengenai ketersediaan bus A1 yang akan membawa saya ke bandara. Dan, do’a saya terjawab sesuai harapan.

Saya menelusuri Bandara Don mueng. Mencari sesuatu yang bisa dimakan. Lagi, saya dipusingkan soal kehalalan. Pada akhirnya, segelas milo hangat dan do’a cukup membuat saya bertenaga.

Wifi-an di Don Mueng tak sebaik KLIA2–entah karena saya yang gaptek. Selain ketidakpastian, saya paling malas ketika terlibat keraguan. Hati saya ragu melihat kondisi dana yang tersedia, apakah saya membeli tiket pulang ke Malaysia atau melanjutkan perjalanan ke Singapura, singgah ke Batam sebelum akhirnya ke Padang. Sesuai dengan rencana awal. Sisa bath sudah ditukar dengan dollar singapura.

Mushola Don Mueng ternyata tak memberi jawaban selain rasa dingin yang merasuki tubuh. Apa yang saya cari dari Singapura selain ingin mampir ke batam — sementara tentu dana mulai menipis. Kembali saya mempertanyakan langkah ini. Akhirnya jalan termudah adalah memutuskan ketika sampai di KLIA2.

Paginya, tak ada masalah berarti ketika lewat imigrasi, hanya saja saat hendak memasuki pesawat sempat tertahan saat petugas melihat pasport hijau saya. Ia menanyakan tiket pulang saya ke Indonesia.

” Saya satu hari di Malaysia ke tempat kakak. Dan, akan membeli tiket pulang di sana.” Ia sempat menghubungi –entah siapa, yang akhirnya membolehkan saya memasuki badan pesawat.

KLIA2 ternyata tak memberi jawaban kemana langkah saya selanjutnya. Saya akhirnya memutuskan pulang menyadari bahwa perjalanan ini tak bisa dipaksakan. Melihat harga tiket hari ini ke Padang cukup mahal di bandingkan besok pagi, saya memilih yang kedua. Seorang yang saya anggap keluarga menawarkan saya untuk singgah ke rumahnya.

Dan, disini saya berada. Menikmati nasi dengan kenyang dan berbaring dengan nyaman. Maka, kalimat gadis berusia 20-an tahun itu tak begitu saya dengar sebab tidur lebih nikmat saat itu.

****

Padang menyambut dengan sedikit kabut. Saya menaiki damri yang akan membawa saya pada nyamannya rumah. Perjalanan ini telah usai. Dan, masih tersimpan tentang harapan perjalanan selanjutnya.

Kabut asap pun menyambut saya dengan perasaan buncah.

 

**** Kuamang kuning, 23112015 Sebuah catatan perjalanan yang terlewatkan.

Iklan

2 thoughts on “Catatan yang tersisa

  1. Liburan tanpa perencanaan memang seru dan bikin penuh kejutan ya. Tapi saya lebih suka pake rencana, mba. Minimal info soal tarif ini-itu. Untuk antisipasi keabisa uang di antah berantah :)) nice story! Thanks!

  2. Iyaa… tanpa rencana bukan berarti 100% pergi tanpa list. Hehehe, setuju banget info soal tarif dan ini itu tentu sangat penting. Hanya saja kadang realitas berkata lain.

    Thank mas, cerita di blognya tak kalah menarik lho.. 🙂

    🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s