Membaca Indonesia di Sulawesi Selatan

Berbicara tentang nasionalisme adalah topik yang cukup membosankan bagi saya. Namun, perjalanan menelusuri tiap sudut nusantara mengajarkan tentang cinta sesungguhnya pada ibu pertiwi.

Mendengar kata Sulawesi Selatan, khususnya Makassar bagi saya yang terlintas adalah demonstrasi mahasiswa yang kerap memicu bentrok. Tak lebih. Sehingga tak pernah dibenak menjadikan kota ini sebagai tujuan wisata. Kesan keras dan cuaca panas melekat erat dalam pikiran saya.

Hingga suatu malam saya terpaku di laman facebook. Menelusuri satu persatu foto yang baru saja di upload seorang teman bernama Deni. Ia baru saja melakukan perjalanan menjelajahi Sulawesi Selatan selama seminggu. Cukup banyak foto yang ia upload. Dan, sebuah foto sederhana tapi membuat saya  tak berkedip.

Menakjubkan.

Deni membungkus foto-foto tersebut dengan kalimat ‘Sungguh indah tanah air beta’ pada album facebook miliknya. Kalimat yang terlahir jujur tanpa rekayasa apalahi dusta–saya rasa.

Lewat foto-foto tersebut sebuah stigma yang sudah terikat erat dalam ingatan lepas begitu saja. Mencair seperti batu es dibawah sinar matahari dan lenyap begitu saja.

ramang-ramang

sumber foto : Deni

 

Maka, keindahan Indonesia bagian mana lagi kau abaikan?

****

Kampung Berua, Oase ditengah batu yang menjulang tinggi 

Adalah kampung Berua, begitu Deni memberi caption pada sebuah foto lanscape yang menampilkan kehijauan hamparan sawah dan gugusan tebing cadas yang menjulang indah. Yup, sebuah kampung yang dikelilingi Karst yang dikenal dengan nama Ramang-Ramang.

Konon, katanya karst ini terbesar nomor dua di dunia setelah Guanxi di China. Keindahan alam dengan menelusuri sungai dangkal membuat mata dan hati benar-benar dimanjakan. Rasanya ingin mempunyai kepala seperti  seperti burung hantu yang bisa berputar tanpa perlu membalikan badan. Menikmati tiap detail tanamanan nan hijau di pinggiran sungai.

Dan, bagi yang mengagungkan kata ‘my trip my adventure’, kehadiran goa-goa yang menakjubkan pun bisa menjawab rasa haus terhadap jiwa petualangan.

Maka, keindahan Indonesia bagian mana lagi kau abaikan?

ramang

sumber foto : akun FB Deni

Mencintai keragaman Indonesia di Tanah Toraja

Keindahan Indonesia bagian mana lagi yang kau ingkari?

Jika Maros — tempat dimana karst Ramang-Ramang menjulang kokoh — memanjakan mata dan menyejukan hati dengan pemandangan serta keramahan penduduknya, Tanah Toraja memberi makanan tersendiri pada jiwa ini.

Setidaknya kesan itulah yang saya tangkap dari cerita yang dihadirkan Deni lewat foto-foto yang diuploadnya — dan saya percaya keindahan  yang terjaga tak lepas dari keramahan dan karakter penduduknya yang baik dalam menjaga alam.

Tanah toraja sendiri terletak dibagian utara provinsi Sulawesi Selatan. Sudah banyak media yang berbicara tentang kekayaan seni dan budaya yang dimiliki daerah ini. Upacara keagamaan dan ritual menjadi daya tari tersendiri. Dan, sejujurnya saya kagum pada arsitektur bangunan rumah adat khas Toraja.

Menelusuri cerita tentang Tanah Toraja sejujurnya memberi makanan tersendiri bagi jiwa nasionalis saya. Tersadar tentang Indonesia sesungguhnya. Keberagaman budaya yang berbeda, namun tetap tersatu dalam kata Indonesia.

tanah toraja

sumber foto : tanah toraja

Maka, bagian Indonesia mana lagi yang kau abaikan?

Melepas lelah di Tanjung Bira

Sebagai pribadi yang mengagumkan keindahan laut, rasanya tak ada salahnya melipir ke daerah paling timur di Sulawesi Selatan.  Seorang teman pernah bilang pasirnya seperti tepung. Lewat foto sederhana yang diupload seorang teman tentang Tanjung Bira membuat saya berdecak penuh kagum.

tanjung bira

Sumber foto : Deni

Memintal impian di Losari

Suatu senja, seorang teman mengupload foto siluet yang sedang berdiri di tulisan besar LOSARI — sebagai bukti ia berada di daerah Makassar. Jika Jakarta ada Monas dan Bukittinggi dengan Jam Gadang maka Losari adalah ikon Makassar.

Lewat foto-foto yang di upload di media sosial membuat stigma pesimis saya  tentang Sulawesi Selatan melebur begitu saja berubah menjadi impian indah suatu hari kelak bisa menyelami setiap sudut pulau yang berbentuk seperti huruf K ini.

Pertemuan beberapakali dengan teman-teman Makassar merubah stigma saya tentang Makassar yang keras — ternyata mereka seperti karakter bangsa Indonesia, ramah dan suka menolong.

Dan, seperti yang saya katakan sebelumnya “saya percaya keindahan  yang terjaga tak lepas dari keramahan dan karakter penduduknya yang baik dalam menjaga alam.”

anjungan losari

sumber foto : Anjungan Losari

Maka, do’a di pengujung tahun kali ini adalah : Tuhan, ijinkan saya sejenak menyapa Sulawesi Selatan.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog “Blog Competition #TravelNBlog 5: Jelajah Sulsel“ yang diselenggarakan oleh @TravelNBlogID.

Iklan

8 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s