Dialog Sunyi di Sarasah

“Indak (Tidak)…!”

Eda mengeleng kepala kuat. Memohon pada saya untuk tidak memaksanya mengikuti tujuan akhir kami. Ia terduduk lemas diatas batu besar.

Dilema merasuki diri. Melempar pandangan pada tiga teman yang asyik bermandian di bawah air terjun atau menemani Eda yang ketakutan duduk di atas batu besar. Mata saya mengembara memandang hutan rimbun.

Sunyi.

Saya menarik napas. Hingga bang DJ — seseorang yang baru saya kenal dalam hitungan jam sejak perjalanan ini dimulai, akhirnya memilih menyusul saya dan Eda. Atas bantuannya hati eda luruh juga untuk melangkah lebih jauh menuju aie tajun selanjutnya.

Sebagai orang yang tumbuh bersama Eda, saya tahu alasan ketakutan Eda. melintasi batu besar cukup terjal –baginya- dengan sungai yang terlihat deras ada kengerian dalam dirinya.

Tersisa satu air terjun lagi. Sayangnya, kata Ami — teman dalam rombongan, mengatakan tak ada yang menarik. Maka di air terjun  tingkat kedua inilah kami melepas lelah. Menikmati segarnya air yang jatuh ke badan. Terasa seperti relaksasi.

Menyenangkan.

sarasah 2.jpg
Ami menikmati relaksasi ala aie tajun sarasah

Pesona Aie Tajun Bertingkat

” Apa yang mau dilihat di Sarasah?”

“Tempat apa itu?”

“Emang tahu jalan menuju sana?”

Segala tanya dilemparkan kepada saya. Saya mengangkat bahu, prinsip jalan-saja-dulu-ntar-tinggal-nanya-ke-warga-sana menjadi andalan untuk menyakini Eda.

Bersama Bang DJ, bang Zeno dan Ami –tiga teman kampus Eda, kami memulai perjalanan dari daerah Pasar Baru menuju Gaduik. perjalanan ke Sarasah cukuplah mudah, tinggal menelusuri jalanan lurus dan bertemu jalan berbatuan masih lurus sampai di pengujung sebelum jembatan kayu, di rumah seorang warga parkirlah motor di sana — tak ada angkutan umum menuju kawasan ini.

Lebih lengkapnya aie tajun Sarasah terletak di kaki Bukit Sarasah, tepatnya di desa koto baru,, Gadut, kelurahan Limau manis Selatan, Padang timur, kota Padang. Atas petunjuk dari warga untuk mengikuti tanda garis merah yang diukir di batu dan di batang pohon, kami pun memulai perjalanan ini.

Menelusuri perkebunan durian, Bang DJ memimpin langkah kami. Percakapan ringan terjadi diantara kami agar perjalanan ini tidak terasa melelahkan. Mata saya mengembara mengamati perkebunan penduduk. Jalur yang dilalui tidaklah terlalu sulit. Lepas menelusuri perkebunan, kita mesti menelusuri anak sungai. Disinilah langkah harus hati-hati biar tidak terpeleset.

Kira-kira sekitar 2 km berjalan kaki sebuah Aie tajun berundak menyambut kami. Dari air terjun pertama yang terlihat kecil itu, mengadah sedikit kepala, terlihat air terjun yang lebih tinggi lagi. Tak ingin menyiakan kesempatan, kami pun memutuskan untuk mendaki menelusuri jalan setapak yang sedikit terjal.

Lepas menemukan satu air terjun lagi, kami kembali melintasi bukit terjal menuju aie terjun selanjutnya. Dan, disinilah kita bisa menyaksikan pesona Sarasah sesungguhnya.

Melepas pandangan ke bawah, mengadahkan kepala ke atas dan melempar pandangan ke sekeliling hutan rimbun nan hijau.

sarasah 1
Gerbang memasuki area Aie tajun. Masih harus berjalan sekitar 2 km lagi

Memintal Harapan di kesunyian Sarasah

Sarasah memang tersembunyi dengan dikelilingi hutan rimbun dan tak jauh dari perkampungan warga, namun eksistensinya sejak kehadiran sosial media cukup terkenal. Tempat ini memang dijadikan tempat wisata beberapa tahun belakangan ini oleh masyarakat –dan kerap ramai di hari libur.

sarasah 3
Salah satu lintasan menuju Aie Tajun

Seperti pemasalahan pada umumnya, pengelolaan menjadi yang berarti menurut saya. Tebaran sampah botol air minum mineral dan jajanan snack serta sampah lainnya akibat ulah tangan yang tak bertanggung jawab menjadikan pemandangan sekitar aie terjun cukup memilukan.

sarasah 5.jpg
Eda berinisiatif mengumpulkan sampah-sampah yang bertebaran. “Lumayan di kiloin.”

Andai pemerintah dan masyarakat bahu membahu membangun tempat ini dengan membuat regulasi yang jelas dan menyediakan fasilitas yang baik, aie tajun ini pun bisa menjadi andalan bagi perekonomian masyarakat.

Ah sudahlah, terlalu lelah saya bermain dengan kata ‘Andai’. Saya ini apalah , cuma penikmati jalan-jalan

 Tips Berkunjung ke Sarasah :

  1. Bawalah baju ganti termasuk untuk bagian dalamnya.
  2. Berpakaianlah kasual dan jangan menggunakan sepatu berhak tinggi. Disarankan untuk tidak mandi dari rumah.
  3. Bawalah makanan dan minuman, dan ingat jangan lupa bawa kembali sampah makanan dan minuman pulang.
  4. Tersenyumlah dan sapa penduduk sekitar dengan ramah.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s