Why Food Keep : Alasan Untuk Tetap Ngemil Sehat

Sejak memutuskan kembali jauh dari Ama– ibu saya, sama artinya saya  harus kembali mengikuti pola makan yang baik. Sebab, ketika jauh dari Ama, saya takut menjadi sakit, dan saya percaya makanan adalah salah satu cara menghindari sakit. Tentu makanan yang baik dan halal pastinya.

Saya sempat menerapkan pola makan food combaining semasa jadi kuli kata meskipun terkadang sesekali membandel. Lagi, saya tak bisa menolak godaan makanan yang tampak terlihat lezat. Serta saya susah konsisten pada suatu hal. Sejujurnya, pola makan food combaining adalah pola makan sehat yang menyenangkan.

Memiliki penyakit maag membuat saya harus rajin mengemil dalam keadaan apapun. Gorengan adalah surga cemilan yang tak terbantahkan bagi saya namun neraka bagi tenggorokan dan kesehatan badan saya tentunya.

Keselektifan saya dalam memilih makanan bukan berarti membuat saya terkadang menahan lapar. Saya benci menjadi lapar :)

Makanan unik ala Why Food Keep

Yulfa, seorang teman menyarankan cemilan unik untuk saya ditengah kebingungan saya kembali mengatur pola makan saya agar tubuh tidak rentan sakit di tanah rantau. Termasuk kebingungan memilih cemilan. Jika di rumah biasanya ada pisang rebus, ubi rebus atau kadang pisang goreng dan ketan serta kacang hijau yang dibuat Ama sebagai cemilan, tak mungkin saya menyediakan seperti itu ditengah mobilitas dan keterbatasan alat masak. — udah bilang aja malas ka…

yulfa
Why Food Keep 🙂

Lanjutkan membaca “Why Food Keep : Alasan Untuk Tetap Ngemil Sehat”

Perjalanan (ku) ini , Perjalananmu….

Travelling-It leaves you speechless, then turns you into story teller
-Ibnu Batutta

Saya mengigit bibir setiap kali berselancar atau menemukan cerita perjalanan di berbagai portal media online baik itu di blog maupun di sebuah website berita tentang traveling.  Dan, terkadang dengan langkah spontan saya langsung mengemas baju dan memasuki ransel. Juga kerap kali meraih notes, menulis sesuatu dan merancang perjalanan yang entah kapan terlaksana.

Tak perlu berpikir dengan siapa berpergian. Pada akhirnya, dalam perjalanan selalu ada hal yang mengejutkan terjadi, entah itu sekedar bertemu teman baru atau bisa bertemu pasangan hidup — dan ini terjadi pada teman saya.

Jika tak ingin pergi sendiri, cukup raih perangkat mobile mu search komunitas pejalan yang sedang buka open trip atau share cost. Daftar dan ikuti perjalanan serta memulai cerita baru tentang persahabatan.

Ya, ada begitu banyak komunitas pejalan dari mulai backpacker, pencinta laut, pengagum gunung dan lain sebagainya. Bahwa perjalanan ke destinasi indah tak lagi sekedar liburan semata yang mengembirakan, tapi lebih dari sekedar itu. Dewasa ini saya melihat bahwa travelling seperti kebutuhan primer untuk rohani seseorang.

Melampiaskan ke jurnal online

Dokumentasi tak sekedar foto dan cerita antar kerabat atau tetangga. Dalam satu dekade ini, melakukan perjalanan liburan menempati sesuatu yang menjadi trend sosial dalam kehidupan hampir sebagian orang. Traveling tak sekedar melepas penat dan bergembira bersama anggota keluarga, tapi ada makna yang lebih dari sekedar itu.

Setidaknya lebih mengenal diri sendiri. Alasan itu kerap dilontarkan oleh sebagian dari pejalan -termasuk saya pribadi, memaknai arti traveling itu sendiri. Tak sekedar melampiaskan dalam lensa kamera tapi juga meluapkan cerita mencoba menyampaikan perasaan usai melakukan perjalanan dalam jurnal online atau blog.

Jika blog dulu berisi cuapan tak jelas tentang kehidupan sehari-hari, maka saat ini para pejalan mencoba menjadi pencerita ulung atau story teller tentang tempat wisata, bagaimana menikmati keindahan dan tentu saja memaknai perjalanan itu sendiri.

Dan yang tak terlupakan tentunya meng-upload dokumentasi perjalan di IG, Path, FB dan lain sebagainya. Ada rasa kegembiraan yang tak terlukiskan termasuk memamerkan di akun media sosial–seolah-olah menceritakan kepada banyak orang bahwa sedang melakukan perjalanan yang membanggakan. Menghasilkan decak kagum dan keirian serta mempengaruhi seseorang untuk melakukan perjalanan.

Begitulah yang terjadi dalam satu sepuluh tahun belakangan ini.

sarasah 3
Perjalananku, Perjalanan kita semua

2006 lalu…. 
Lanjutkan membaca “Perjalanan (ku) ini , Perjalananmu….”

Ransel dan kenyamanan beraktivitas

Saya dan Ransel adalah dua hal yang sulit dilepaskan dalam beraktivitas. Kampus, kerja, bahkan ke pasar sekalipun, rasanya ada yang kurang jika tak menyandang sesuatu padahal kadang isinya cuma pulpen satu doang. Berkat tas ransel juga saya dibilang ninja 😦

” Udah badan kayak anak SD pakai tas besar-besar lagi,” celetuk seorang teman.

Bukan satu dua orang yang protes dengan kebiasaan saya mengunakan ransel kemana-mana meskipun tidak sedang melakukan perjalanan. Saya akui, saya kesulitan menepati sesuatu pada tempatnya termasuk penggunaan ransel yang tepat. Soal selera pun saya dinilai buruk. 😦

Bagi saya jika ada satu ransel, maka ia digunakan sampai benar-benar butut. Tak peduli ke kondangan, ke pasar anti kaya, pasar anti sengsara, kampus, tempat kerjaan, dan interview kerja. Saat itu memang saya terlanjur membeli tas ransel cukup besar untuk pulang kampung dan berlanjut pada penggunaan sehari-hari.

” Ka, hati-hati ya, tasnya di arahkan ke depan. Kereta rawan!”

 ” Mana doyan copet dengan eka… belum tahu saja dia isi ranselnya apa’an.”

Obrolan beberapa teman saya tercetus begitu saja saat saya pamit kepada mereka mau pergi bermain ke daerah Cikini seorang diri beberapa tahun lalu. Saya pun mengangguk. Sedikit kurang nyaman sih dengan menyandang tas besar di bagian depan.

Dan, semakin berkurang sisa usia saya di bumi Allah ini, tersadar tentang cerita saya dan ransel selama ini. Senang menggunakannya, tapi mengabaikan kenyamanan baik bagi diri saya maupun orang lain. Mengabaikan beban berat yang kadang membuat bahu saya lecet karena tali. Mengabaikan mata orang-orang yang melihat betapa tidak indah saya dengan ransel besar. Dan… mengabaikan kesehatan pundak yang terasa pegal.

daypack
Source : Langit Enterprise

Lanjutkan membaca “Ransel dan kenyamanan beraktivitas”