Sebuah kisah dengan nama Yoona

” Atas mbak siapa ya?”

” Yoona. Kim Yoona.”

Mas-mas dengan celemek bewarna hijau mengeryit dahi. ” Yuna.”

Mengangguk.

yuna

Si abang-abang selalu salah nulis, harusnya kan “YOONA!” -_-

 

****

Adalah Yoona. Jangan bayangan gadis berambut panjang dengan kaki yang skinny sedang menari indah bersama delapan anggota yang tak kalah cantiknya — Oh, lupa minus Jessica sudah keluar.

Jangan!

Sebenarnya ini bukan tentang kisah girls band Korea yang sukses menghipnotis mata dunia terfokus pada negeri ginseng. Bukan. Sangat bukan — bahkan sampai sekarang saya masih kesulitan antara membedakan Yuri, Sooyoung, dan Tifanny.

Yoona adalah satu-satunya yang saya ingat wajahnya di girl band bernama Girls Generation atau biasa dikenal dengan SNSD. Maraknya pengaruh hallyu, pada 2012-2013 membuat saya kerap mengeluarkan kata ‘Yoona’ setiap kali orang bertanya ‘atas nama siapa?’ — tentu disesuaikan dengan kondisi yang ada, tidak mungkin ketika wawancara kerja saya jawab nama : Kim Yoona . Ketika itu saya kerap menjadikan sebuah warung kopi anti kaya sebagai tempat menyelesaikan tulisan baik itu skripsi, artikel dan khayalan tak jelas.

Sejujurnya saya anak baik yang sulit berbohong, tapi untuk pemakaian nama Yoona pengecualiannya. Yah…berharap suatu hari bisa secantik Yoona, minimal memiliki keberuntungan seperti Yoona yang disukai oleh Lee Seung gi. Okeh abaikan!

yoona

” Ka, jadi cewek tuh seperti ini… tinggi, putih rambut panjang,” cetus seorang teman di suatu siang yang terik. -_-

 

Oh, ya saya bukan penyuka So Nyeo Shi Dae — satu-satunya lagu yang saya tahu adalah ost dream high pertama. Itu kenapa waktu mereka konser september 2013 saya merelakan teman saya meliput padahal meskipun waktu itu saya yang ikut press conference mereka. Dan, I LOVE dek-dek GOT7!

Kembali ke Yoona.

****

Saya meninggalkan Jakarta disuatu hari yang biasa di bulan April 2014, dan melepaskan profesi jurnalistik. Mengikhlaskan hati menjadi anak yang baik dan berbakti kepada kedua orang tua. Dan, dalam catatan ingatan saya tak ada nama Yoona terucap di bibir saya. Kecuali waktu itu ada telpon asing yang terisak tak jelas dan saya menggunakan nama Yoona sengaja berbicara ngaco untuk meladeni telpon tak jelas.

Lama tak menyinggahi Jakarta, suatu hari yang biasa Januari di tahun dimana teror “Kapan nikah” makin menjadi, saya menjejakan kaki ke Jakarta– entah untuk tujuan apa. Tak ada yang berubah dari Jakarta menurut saya, Transjak masih tetap lama. Eitss… area seperti bawah tanah yang menghubungkan antara museum mandiri, stasiun kota, dan halte transjak di daerah kota cukup membuat saya berdecak kagum.

Saya sedang duduk di salah satu bangku di dalam transjak ketika seseorang menanyakan tujuan saya. obrolan berlanjut ke kuliah dan dimana saya tinggal. Pertanyaan yang lazim tapi cukup mencurigakan bagi saya mengingat hal-hal aneh saat ini terjadi seperti yang diberitakan media.

” Emang situ kuliah dimana?” tanya saya. Rasanya kurang afdol menanyakan balik.

” Kuliah kehidupan. Jurusan kesehatan.”

Melongo.

” Namamu siapa?”

” Yoona.”

” Yun, bagi nomor ponsel?”

” Lah buat apaan?”

” Nggak buat nyimpan aja.”

saya menyebutkan nomor ponsel yang tak aktif lagi.

” Yon… tak telelpon ya?”

” Oh, telponnya lagi mati. Di dalam tas.”

Dia mengangguk. Sekilas saya melihat brosur yang di pegangnya.

Sateee…. MLM!

*****

Sekilas cerita 

Tak ada angin tak ada hujan, seorang teman SMA tiba-tiba muncul di permintaan teman di akun  facebook saya di pengujung tahun lalu. Dari sana, berlanjut ke chat via FB. Menanyakan hal yang lazim termasuk apa kesibukan.

Saya :Memang sibuk apa?

teman : Sibuk mensejahterakan rakyat.

Saya :?!

teman : usaha ini kerja sama dengan anggota DPR bla…bla..bla..

Saya : Keren ya.. boleh ikut lah kalau gituh– memang lagi haus rupiah untuk liburan awal tahun.

teman : Oh, boleh kebetulan kita sedang ngadain pertemuan di Bandung. Besar-besaran…

Lepas dari obrolan dia minta pin bb yang kemudian saya beri. Dasar jiwa stalker, saya pun mensearch di google tentang nama sebuah organisasi yang dibilang dia sebagai usaha mensejahteraan rakyat.

Lama saya terdiam pada penemuan saya, yang pada akhirnya saya berujar.

Sate… MLM!

**** Gramedia Matraman, Jakarta, Januari 2016 *ditengah kekosongan ide untuk menyelesaikan tulisan fiksi

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s