Perjalanan (ku) ini , Perjalananmu….

Travelling-It leaves you speechless, then turns you into story teller
-Ibnu Batutta

Saya mengigit bibir setiap kali berselancar atau menemukan cerita perjalanan di berbagai portal media online baik itu di blog maupun di sebuah website berita tentang traveling.  Dan, terkadang dengan langkah spontan saya langsung mengemas baju dan memasuki ransel. Juga kerap kali meraih notes, menulis sesuatu dan merancang perjalanan yang entah kapan terlaksana.

Tak perlu berpikir dengan siapa berpergian. Pada akhirnya, dalam perjalanan selalu ada hal yang mengejutkan terjadi, entah itu sekedar bertemu teman baru atau bisa bertemu pasangan hidup — dan ini terjadi pada teman saya.

Jika tak ingin pergi sendiri, cukup raih perangkat mobile mu search komunitas pejalan yang sedang buka open trip atau share cost. Daftar dan ikuti perjalanan serta memulai cerita baru tentang persahabatan.

Ya, ada begitu banyak komunitas pejalan dari mulai backpacker, pencinta laut, pengagum gunung dan lain sebagainya. Bahwa perjalanan ke destinasi indah tak lagi sekedar liburan semata yang mengembirakan, tapi lebih dari sekedar itu. Dewasa ini saya melihat bahwa travelling seperti kebutuhan primer untuk rohani seseorang.

Melampiaskan ke jurnal online

Dokumentasi tak sekedar foto dan cerita antar kerabat atau tetangga. Dalam satu dekade ini, melakukan perjalanan liburan menempati sesuatu yang menjadi trend sosial dalam kehidupan hampir sebagian orang. Traveling tak sekedar melepas penat dan bergembira bersama anggota keluarga, tapi ada makna yang lebih dari sekedar itu.

Setidaknya lebih mengenal diri sendiri. Alasan itu kerap dilontarkan oleh sebagian dari pejalan -termasuk saya pribadi, memaknai arti traveling itu sendiri. Tak sekedar melampiaskan dalam lensa kamera tapi juga meluapkan cerita mencoba menyampaikan perasaan usai melakukan perjalanan dalam jurnal online atau blog.

Jika blog dulu berisi cuapan tak jelas tentang kehidupan sehari-hari, maka saat ini para pejalan mencoba menjadi pencerita ulung atau story teller tentang tempat wisata, bagaimana menikmati keindahan dan tentu saja memaknai perjalanan itu sendiri.

Dan yang tak terlupakan tentunya meng-upload dokumentasi perjalan di IG, Path, FB dan lain sebagainya. Ada rasa kegembiraan yang tak terlukiskan termasuk memamerkan di akun media sosial–seolah-olah menceritakan kepada banyak orang bahwa sedang melakukan perjalanan yang membanggakan. Menghasilkan decak kagum dan keirian serta mempengaruhi seseorang untuk melakukan perjalanan.

Begitulah yang terjadi dalam satu sepuluh tahun belakangan ini.

sarasah 3
Perjalananku, Perjalanan kita semua

2006 lalu…. 
Lanjutkan membaca “Perjalanan (ku) ini , Perjalananmu….”