(Novel) Ama … dan tentang setiap langkah ini.

Prolog

“ Jadi… negara yang dikenal dengan kincir anginnya itu…” gadis bertubuh mungil itu berhenti sejenak. Memberi jeda pada kalimat yang ingin disampaikannya. Ia mengedar mata ke beberapa anak yang berada di ruangan tidak terlalu luas. Sekedar menarik fokus anak-anak tersebut kepadanya. “Belanda.” Ucapnya seraya menarik napas dan senyum tetap terukir di bibir meskipun matanya menyirat kelelahan yang tak terbantahkan.

“Nah, siapa yang ingin ke Belanda?” lanjutnya dengan suaranya terdengar mulai parau. Sejak tadi pagi ia tidak berhenti berbicara dengan nada tinggi sekedar menarik fokus anak didiknya—biasa ia sebut dengan istilah teman belajar.

Serentak anak-anak yang berjumlah empat orang itu mengelengkan kepala. Dua diantaranya sibuk menulis di buku –entah apa yang ditulisnya.

“Kenapa nggak mau ke Belanda? Kak Nisa aja pengin banget,” ia menatap seksama wajah-wajah polos tersebut. “ Belanda itu…”

“ Habis mereka jahat sama kita. Menjajahkan tiga ratus tahun lebih,” cetus Della, salah satu empat anak yang berada diruangan tersebut.

Nisa, sang gadis yang sedang asyik bercengkrama – lebih tepatnya mengajar – dengan bocah-bocah tersebut tak dapat menyembunyikan senyum gelinya mendengar kalimat lugu Della. Ia menoleh ke salah satu bocah yang berada di sisi Della. “ Novi kenapa nggak mau ke Belanda? Negaranya keren lho!”

Novi menunduk kepala. Memainkan pensilnya. “ Novi nggak ada uang ke Belandanya kak.”

Lagi. Nisa tak dapat menyembunyikan senyum gelinya mendengar jawaban polos Novi. Kali ini ia tersenyum lebar sembari membelai lembut kepala Novi. Tiba-tiba rasa lelah menguap begitu saja.

Maka, nikmat apalagi yang kamu dustai dari perjalanan ini, Sa?

Sudut hatinya berbisik pelan. Mengusik senyum lebarnya. Ia menghela napas. Melanjutkan kembali pelajaran sosial tentang Benua.

****

khaosan

Bab 1 : Satu langkah untuk ribuan harapan

Awal Januari 2013

            Selalu ada harapan diantara gemuruh letupan kembang api yang mengudara di langit setiap pergantian tahun. Ada rangkaian resolusi yang tertanam dijiwa maupun terukir di atas kertas. Dan, lagi ada asa yang tak terbantahkan. Lewat beberapa akun sosial media mereka meluapkan harapan itu. Dan, selalu ada kerinduan menjadi lebih baik.

            Tak terkecuali bagi Nisa Ramadhani. Meskipun ia selalu mengungkapkan bahwa tahun baru sama saja seperti pergantian hari. Biasanya saja. Maka tak ada rangkaian prosesi pergantian tahun yang pernah ia lakukan hampir dua puluh empat tahun sepanjang usianya saat ini. Tapi, jauh dihatinya, selalu ada harapan indah yang ingin diraihnya tahun ini.

Keliling Indonesia. Minimal beberapa pulau di Indonesia dan tiga negara tetangga layaknya kehidupan backpacker yang lagi menjadi trendsetter belakangan ini. Menyandang tas ransel dengan kamera sambil mengambil gambar indah dan berbagi lewat sosial media sekedar memancing decak kagum dari teman-temannya – dan ia tidak munafik tentang naluriah pamer ini sebagai manusia sekedar mengungkapkan eksistensi dirinya bahwa ia ada.

           Bagaimana dengan menghabiskan liburan tahun baru dengan pergi ke tempat wisata yang menyenangkan seperti yang dilakukan kebanyakan orang lain. Hah… bukannya saat ini ia tidak tahu arti dari liburan selain menghabiskan waktu dengan menonton drama Korea yang meninakbobokan pikirannya sepanjang hari.

            Nisa memejamkan matanya diantara suara kembang api diluar sana yang memekakan telinga. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, ia memang kerap melewatikan pergantian tahun dengan tertidur seperti biasanya. Seperti yang ia ungkapkan bahwa pergantian tahun tak ubahnya pergantian hari.

            Namun, Nisa tak bisa menampik hatinya. Diam-diam dalam pejaman matanya, hatinya dan pikirannya kompak mengucapkan resolusi yang ingin ia raih. Minimal ia bisa menjadi apa yang ia inginkan. Dan… cara terbaik memulainya, kembali memulai langkah untuk keluar dari rumah ini.

****

“ Apa tujuan kau sebenarnya Sa?” tanya Ama – sebutan untuk kata mama yang kerap diucapkan Nisa.

Nisa menghela napas disela kunyahan nasinya. Rasanya ia terlalu lelah setiap hari hampir dua bulan sejak menyandang gelar sarjana diteror pertanyaan tentang langkahnya ini. “ Aku mau kembali ke Jakarta,” ucap Nisa menghentikan suapan nasinya. Menatap lekat pada Ama yang asyik melipat kain.

Tak ada ruangan makan di di rumah ini. Yang ada adalah ruangan televisi tanpa sofa hanya karpet yang membentang serta dua kursi kayu dan satu meja yang menyandar di dinding tembok. Di sinilah kegiatan makan, melipat atau menyetrika kain dilakukan dalam ruangan sama. Dan, diruangan ini segala diskusi penuh emosional kerap terjadi.

“ Jakarta…” Ama mendengus. “ Apa yang kau cari? Mending kau tolong ayahmu.”

Nisa mengangkat bahu. Lebih baik memilih diam. Ia terlalu lelah jika menjabarkan apa yang ingin ia lakukan. Selalu ada perdebatan yang menjengkelkan yang akan terjadi nanti.

“ Ama bilang apa. Lebih baik kau ambil jurusan Kebidanan, kau sudah jadi orang sekarang. Tidak luntang lantung ginih.”

Nisa menelan ludah. Selera makannya tiba-tiba lenyap. Ia mengangkat kepalanya. Menatap sejenak pada sosok Ama yang mulai menua. Raut kelelahan tak bisa disamarkan lagi. Ia segera beranjak dari tempat tidur ini. Dilema kembali menghantui langkahnya.

“ Aku akan ke Padang nanti malam,” ucapnya lirih yang ditanggapi oleh diamnya Ama.

****

Menguatkan hati untuk keluar dari rumah setelah hampir dua bulan terlena dengan kegiatan tak berarti bukanlah hal yang mudah.

Rumah.

Nisa menghela napas disela kesibukannya memasuki berapa helai baju. Seperti apa yang disebut dengan rumah dalam artian sebenarnya? Sebuah pertanyaan yang sederhana namun terkadang sulit ia jabarkan.

Dulu ketika ia menghabiskan masa kuliah di Ibukota – yang bagi Ama adalah masa sekedar main-main cari pengalaman, dan pertanyaan itu menghampirinya, ia selalu menjawab daerah Padang adalah rumahnya. Disisi lain ia kerap pulang ke daerah transmigrasi pelosok Jambi tempat ia kedua orangtuanya berada.

Padang adalah tempat dimana kerap ia tuju ketika kecil dulu sekedar menghabiskan waktu liburan sekolah. Padang adalah tempat dimana ia melewati masa emosional dalam tumbuh kembang sebagai remaja.Padang…

Rumah.

Nisa menyandang tas ranselnya. Meraih tangan Ama yang seperti biasa sedang sibuk membaca Alqur’an menjelang jeda antara Maghrib dan Isya.

“ Hati-hati di Jalan. Pikirkan lagi tentang langkah kau. Jangan cikua campang, cikua lapeh, “ ujar Ama.

Nisa mengangguk. Berjalan keluar melewati ruangan depan yang digunakan untuk toko. Ayah tampak asyik di meja dengan kalkulator serta tumpukan kertas nota. Entah apa yang dikerjakannya – lagi ia tidak pernah terlalu peduli.

“ Yah, Nisa pamit.” Ia mengulurkan telapak tangannya. Menyalami tangan ayahnya.

“ Hati-hati. Udah ada uang awak?”

Nisa mengangguk. Meskipun kerap membahas masalah keuangan di rumah ini, namun ia bebas mengambil uang sesuka hatinya di laci. Siang tadi ia sudah mengambilnya lebih dari cukup. Sejenak ia menatap rambut ayah yang mulai beruban.

Dengan langkah berat ia berjalan keluar rumah. Menghampir mobil travel yang sudah menunggunya sejak lima belas menit lalu.

****

Berada di tempat dimana kedua orangtuanya berada bukanlah sesuatu yang diharapkan oleh Nisa. Tapi meninggalkan begitu saja juga bukan hal yang mudah. Ada perasaan berat meninggalkan kedua orang tuanya begitu saja. Sebagai anak yang mulai beranjak dewasa harusnya ia mengambil tangggung jawab orang tuanya termasuk mengurus rumah dan sang adik.

Tidak.

Ia terlalu muda untuk mengambil langkah itu. Terjebak pada sepinya suasana rumah tanpa kegiatan yang jelas. Terperosok pada langkah rutinitas yang melelahkan yang tak berarti. Dan… terkurung pada kesepian yang membosankan.

Bismillah, untuk sebuah langkah yang pasti.

lirih hatinya mengucap kalimat tersebut. Perlahan laju mobil travel membawanya menjauh rumah menemui sebuah langkah yang indah.

Mungkin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s