Cerpen : Berai

taBarangkali hidup bagimu sebatas ketika menikmati kacang yang kulitnya berujung pada tempat sampah di depan kelasmu. Tak ada artinya dan tentunya tak ada pentingnya sekedar mengingat sampah tersebut.

Terlalu dramatis ketika aku menyimpulkan hal ini. Sayangnya, mengeluarkan kesimpulan tersebut aku membutuhkan waktu yang tidak secepat mata mengejapkan kelopak mata. Aku butuh proses termasuk menikmati irama sesak di dadaku seiring air mata yang mengalir di sudut mata ini.

“Lihat, Rey nggak malu-malu lagi mengandeng tangan Winda!” seru Leni sambil melepas pandang ke jendela kaca kelas.

Aku tak mungkin tidak mendengar kalimat Leni, teman sekelasku yang memang paling heboh. Inikah jawabanmu mengabaikan beberapa hari ini?
W-i-n-d-a. Aku mengeja nama itu di dalam hati.

****
Sama hal yang ‘tak mungkin aku-tak-tahu’ dengan apa yang terjadi padamu akhir-akhir ini. cerita tentangmu dan Winda menjadi ‘santapan’ yang lezat di jam istirahat. Ini menyakitkan bagiku yang masih tengelam senyummu.

Aku juga tak mungkin lupa gambaran senyummu penuh harap saat kamu meraih tanganku. Berbicara mengenai banyak hal yang kamu anggap adalah rangkaian mimpi buruk yang tak seharusnya kau yang alami. Tapi, bersamaku mimpi buruk itu mungkin bisa sedikit menguap dan perlahan berganti dengan mimpi indah kita.
Kita?!

Seharusnya aku meragukan ketika mulutmu mengeluarkan kata ‘kita’. Ada puluhan pasang mata yang mengagumimu dan ingin meraihmu di sekolah ini. Berharap suatu hari nanti bisa berjalan beriringan denganmu menelusuri tiap sudut koridor sekolah.
Ya, agaknya aku berhati-hati ketika kau melibatkanku dalam setiap langkahmu. Sayangnya aku terlanjur tenggelam dalam kenyamanan menikmati hidup dalam duniamu.

****
Barangkali hidup bagimu sekedar untuk menikmati tawa tanpa harus mengeluarkan air mata kesedihan. Hidup tak ubahnya warna putih yang kau agungkan atau warna emas yang kau banggakan. Bahagia dan kemewahan yang membuat orang berdecak kagum. Agaknya kau lupa mengenai Tuhan menciptakan berbagai warna. Itu kenapa pelangi sangat mengagumkan. Karena kombinasi berbagai warna berkumpul di sana.

Tawamu adalah tawaku. Tawa kita.

Kita?!

Agaknya aku yang menganggap ini sebagai ikatan dalam kata ‘kita’. Kau tertawa, aku ikut tertawa. Katamu aku orang yang beruntung bisa berjalan bersamamu.

“Kapan lagi kamu bisa boncengan denganku.”

Kalimat yang pernah kamu lontarkan sekedar membujukku untuk mau diantarkan pulang bersamamu. Kamu bilang saat itu, puluhan pasang mata akan menatap iri padaku. Yah. kau memberiku kemewahan dalam rangkaian kisah kita.
****

Agaknya kau lupa dengan kisah sendumu yang terus kau dongengkan sepanjang perjalanan mengantarku pulang ke rumah. Membuatku ikut larut dalam sendumu.

“Hari ini Ryan meremehkanku dalam permainan basket,” kamu mengeluh.

Mungkin bagimu aku orang yang beruntung menemanimu melewati mimpi-mimpi buruk ini. Mungkin aku paling bahagia mendengar rangkaian harapan dan janji indah dari mulutmu.

“Aku akan buktikan kepada Ryan kalau aku bukan modal tampang doang. Aku nggak banci, ” ucapmu penuh harap.

Barangkali hidup bagiku bukan sekedar tawa renyahmu saat membayangkan dirimu lepas dari mimpi buruk tanpa memikirkan air mata. Aku menikmati tawa renyah dan juga air mata ketika aku merasa gagal membuatmu jauh dari mimpi indah yang ingin kau raih.
Barangkali ada jeda dimana aku tak lagi mengikuti langkahmu setiap saat. Agaknya aku sadar dengan hal itu. Menghindarimu bukan berarti genggaman ini terlepas. Tidak berada dilangkahmu bukan berarti kata ‘kita’ terberai.

****
Agaknya kesadaran juga menbawaku pada pikiran bahwa aku bukanlah kemewahan bagimu. Tak ada suaramu. Tak jua ceritamu meskipun kamu masih menyisa senyum di bibirmu. Sayangnya, bukan senyum sumringah yang selama ini kamu hadirkan untukku. Kamu masih menyisakan kata ‘hei’ untukku dan kemudian segera berlalu.

Hidup tak ubahnya proses. Kupu-kupu yang cantik bukan terlahir dari induk kupu-kupu. Tapi melalui Metamorposa yang tidak cepat. Kamu tidak menghadirkan perubahan langsung begitu saja dalam hubungan kita.

Kita?!

Lebih tepatnya hubungan sosialisasimu dengan gadis sepertiku. Berawal tak ada lagi suara dering telepon yang membangunkan setiap pagiku. Tapi, kamu masih menyisakan cerita ketika kita bertemu di sekolah. Sesekali kamu masih mengajakku menemani langkahmu yang sekarang jarang dihantui oleh mimpi buruk itu. Apakah kamu masih tidak-dianggap- dikelasmu oleh Ryan cs?

Cerita perlahan memudar seiring kesuksesanmu melewati mimpi buruk itu dan meraih mimpi indah yang selama ini kau idam-idamkan. Mimpi yang kau anggap orang-orang sepertimu yang berhak atas mimpi indah tersebut. Ya, popularitasmu tak sekedar dari kaum hawa, tapi juga para guru. Bahkan, Winda yang terkenal dingin bisa kamu taklukan.
Mengagumkan!

Sayangnya mimpi indah itu tak pernah ada langkahku di sisimu. Cerita sendu menguap dan kamu hanya menyisakan senyum kepadaku. Aku melewati cerita tentang mimpi indah itu. Bagaimana perasaanmu ketika tenggelam dalam mimpi tersebut?

Rasa penasaranku hanya terjawab lewat mulut-mulut orang lain, bukan dari mulutmu.

Genggaman tangan ini benar-benar lepas.

Lepas.

Tak tersisa meskipun sebatas ukiran senyum.
****

Barangkali hidup bagiku adalah rangkaian kenangan yang tak bisa dilupakan begitu saja. Agaknya aku lupa tentang peranmu yang tak lagi dilangkahku. Membangun kenangan itu dalam pikiranku bukanlah hal yang mudah. Ada isak tangis berkombinasi dengan rasa sesak yang menyadariku seperti ini rasanya mengalami mimpi buruk.

Mimpi buruk?!

Apakah kepergianmu merupakan mimpi buruk bagiku. Batinku menolak kenyataan itu. Ini hanyalah rindu. Perasaan rindu melewati hari-hari bersamamu dan tidak terjebak pada perasan kesepian ini.

Kesepian merupakan mimpi buruk yang harus kamu hindari. Itu kenapa kamu tak pernah tampak benar-benar sendiri. Kau melepaskan genggaman tanganku, bukan berarti tak ada lengan lain yang bisa kamu genggam.

Dan, kau meraih sukses dengan genggaman lengan lain itu.
Sepanjang hari dari sudut ekor mataku menangkap sosokmu di sudut perpustakaan melihat tawa renyahmu yang sangat bahagia. Juga tawa renyah pemilik lengan lain itu. Dia jauh lebih baik membuat tawamu tetap bertahan.

W-i-n-d-a.

Dan, aku lupa pernah membuat tawa renyahmu terhenti bergantian dengan muka memerahmu menahan amarah saat aku melempar kalimat yang kamu anggap itu sangat menyakitkan.

Apa ini yang membuatmu melepaskan genggaman tangan ini.

Tidak!

Waktu itu kau tetap memilih berada di setiap langkahku. Kembali tertawa renyah. Atau ini langkah awal cara untuk melepaskanku dari sisimu.
Tidak juga. Kamu masih menyisakan cerita. Hanya saja kesadaranku yang waktu itu sempat beberapakali menolak permintaanmu yang melibatkanku pada duniamu. Dan mungkin kamu kecewa.

Entahlah.

*****
Barangkali melangkah di sisimu adalah keraguan bagiku. Semua yang indah namun tak ada artinya.
Barangkali….
Barangkali….
Barangkali….

Kamu tahu arti barangkali. Perspektif yang belum terbukti kebenarannya. Itu berarti ada keraguan dalam unsur kata tersebut. Itulah yang terjadi ketika kata ‘k-i-t-a’ terberai. Ada banyak keraguan menyelimutiku.

Tentang keberadaanmu selama ini mungkin hanya imajinasi pikiranku.

Tentang kepergianmu dari langkahku mungkin juga imajinasi pikiranku.

Kata mungkin mengiringku pada perasaan keraguan.

Rasa ragu yang menbawaku pada realitas bahwa aku merindukanmu.
*****
Agaknya aku lupa tentang Tuhan menciptakan warna bukan sekedar pelangi. Ada putih. Ada hitam. Ada emas. Ada… kelabu.

Aku tidak berada dalam perasaan warna putih yang kamu agungkan atau warna emas yang kau banggakan. Dan, apakah aku dalam perasaan kelabu?

Kau tahu tentang jeda dalam kehidupan. Kelabu adalah jeda dalam kehidupan saat ini. Aku tetap membanggakan unsur warna pelangi. Tanpamu bukan berarti semuanya warna itu terlupakan. Tanpamu bukan berarti aku mengalami warna hitam yang kau benci itu.

Melupakanmu bukan semudah kau melupakan kulit kacangmu. Aku tidak melupakanmu, tapi lebih tepatnya belajar mengabaikan sosokmu dan menyambut kembali warna pelangi di luar duniamu.

Kamu lupa, Tuhan banyak menciptakan ‘kamu-kamu’ yang lain di luar sana.
Sayangnya, aku tidak tahu bagaimana cara belajar mengabaikanmu. Termasuk gambaran wajahmu ketika melepaskan tawa renyah.

Haruskah aku menghampirimu dengan senyum sumringah dan bertanya.

“Hei, bagaimana cara mengabaikan seseorang yang kamu anggap bagian tulang rusukmu. O, tidak. Bagaimana cara terbaik menghadapi terberainya kata ‘kita’?”

Sayangnya, kalimat itu sebatas tatapan mataku yang hanya berani melihatmu diam-diam dari balik kubikel di perpustakaan sekolah.
(****)

Sebuah Catatan :

Keisengan malam ini ditengah kehabisan ide menulis adalah mengobrak-abrik file lama. Dan, menemukan tulisan ini — saya tidak tahu apakah tulisan pernah mengirimkannya pada sebuah media.

Membaca kembali tulisan ini, menyadarkan saya bahwa tulisan ini lahir pada saat sibuk mengarap skripsi. Pada saat dimana saya merasakan kehilangan langkah seorang teman di samping saya.

Happy reading.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s