Bulan: April 2016

Ao Nang Beach : Ketenangan di Pesisir Thailand Selatan

Namanya tak sepopuler pantai Patong yang ada di Phuket, pun jarang hadir ditengah hiruk pikuk obrolan ketika merencanakan liburan di daerah Thailand Selatan. Namun, pantai ini mampu mengukir kenangan yang tak terabaikan baik oleh hati maupun pikiran. Ketenangannya yang membuat hati jatuh berkali-kali pada rasa nyaman.

image (1)

Menikmati Sore di tepi pantai Aonang

Setidaknya perasaan itu yang saya rasakan ketika memutuskan kaki melangkah menelusuri pantai Ao Nang seorang diri sekedar menikmati sore menjelang senja. Sesekali kaki saya terhenti sekedar mengamati beberapa wisatawan asyik duduk menikmati deburan ombak. Ada yang sibuk mengabadikan moment lewat bidikan kamera dengan pemandangan laut lepas. Ada yang sekedar duduk santai di atas pasir nan bersih dari sampah dan ada juga sekedar mengukir kata di atas pasir pantai lalu difoto kemudian dihapus lagi tulisan pasir tersebut dengan kaki.

 

Ao Nang Beach memiliki garis pantai sepanjang dua puluh kilometer dari kota Krabi. Menempuh perjalanan hampir satu jam dari Krabi dengan menggunakan angkutan umum saya disuguhi pemandangan keindahan batu-batu yang menjulang tinggi dan terselip warna hijau tumbuhan di tebing batu tersebut.

Menikmati Ketenangan Ao Nang Beach
Ada yang bilang, perjalanan yang berkesan, bukan kemana tujuan kita tapi dengan siapa kita melakukan perjalanan. Tapi bagi saya yang kerap terjebak perjalanan solo, berkesan itu menikmati proses perjalanan itu sendiri.

aonang beach

Menyaksikan kebahagiaan turis India menikmati debur ombak Aonang Beach

Ao Nang tidak seramai pantai Patong di Phuket — dan mungkin menjadi alasan tempat ini kurang populer. Suasananya yang masih terbilang sepi cocok bagi kamu sekedar melepaskan rasa lelah beraktivitas kerja selama ini. Ya, itulah yang saya rasakan ketika berada di tempat ini.

Saya menemukan pemandangan yang menyenangkan ketika keluarga India membentangi tikar dan duduk di atasnya sambil menikmati cemilan. Tak ada percakapan berarti diantara mereka selain melepas pandang ke arah pantai. Pun begitu dengan sang anak. Tak ada kehebohan selain menikmati angin pantai.

(lebih…)

Sekelumit Resah Tentang Duta Pariwisata

Saya baru saja menyelesaikan 14 episode drama korea berjudul “Descendant Of The Sun” — yang lagi heboh-hebohnya. Idealnya sih 16 episode, sayang, cerita romancenya membuat saya terjebak pada kebosanan. Sebenarnya lebih ganteng Kang Maroo sih ketimbang Kapten Yoo Si Jin.

Kepopuleran drama ini tentu memberi dampak yang sangat besar bagi pemeran utamanya, terutama pesona Soo Joong Ki yang baru-baru ini dipilih sebagai duta pariwisata negaranya. Dan, Korea Selatan menurut saya tak salah memilih mantan personel running man ini sebagai duta pariwisata. Sebagai penikmat dunia hiburan dari Korea Selatan, Joongki bagi saya pria berkarakter cerdas dan pernah menerbitkan sebuah buku berjudul “ Beautiful Skin Project” *oke bagian terakhir memang tidak terlalu penting.

song-joong-ki-raffi-ahmad_20160414_095244

Source : Tribun

Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Dua minggu sudah saya berjibaku untuk tidak berkomentar dan menahan diri mengenai artikel ini — sebuah artikel yang membuat saya menghela napas entah untuk alasan setiap kali memikirkannya.

Raffi Ahmad bukan lagi sebuah nama asing bagi tanah air ini. Saya termasuk pernah mengaguminya ketika sinetron masih asyik untuk dinikmati. Ketika acara hiburan tanah air masih seru untuk ditonton. Hampir tiap hari wajahnya menghiasi layar kaca. Meliput apapun tentang dia dari yang tidak penting hingga ‘dianggap’ penting. — Dan, saya rasa tidak perlu membahas ini lebih lanjut. Kita sama-sama tahu lah!

Memiliki banyak follower di media sosial menjadi alasan Kemempar menuju suami Nagita Slavina ini menjadi duta pariwisata — termasuk istrinya juga kalau tidak salah. Tentu ini dianggap bisa mempengaruhi orang untuk mencintai pariwisata negeri ini.

Entah kenapa sisi hati saya menolak fakta bahwa Raffi Ahmad ditunjuk sebagai duta pariwasata. Jika tolak ukurnya adalah popularitas tanpa mempertimbangkan kualifikasi pribadi jelas ini sesuatu yang tak terlalu mendapat efek berarti menurut saya. Mempromosi pariwisata Indonesia bagi saya membutuhkan orang-orang yang berkarakter cerdas dan memahami tentang permasalahan pariwisata Indonesia.

Bukan berarti Raffi tidak cerdas lho. Ia cerdas kok.

Tapi yang dimaksud adalah cerdas memperlihatkan sikap dan wibawa, hal apa yang pantas di informasikan kepada khalayak. Bukan ‘drama ‘ menye-menye tentang kehidupan tak jelas yang tidak seharusnya menjadi konsumsi pribadi.

Lalu, jika bukan Raffi siapa yang sesuai untuk mendapatkan peran tersebut?