Menikmati Berbaring di Kelembutan Pasir Pulau Klagian, Lampung Timur

Saya melepas pandangan ke laut lepas. Menanti lukisan Tuhan nan indah bernama senja. Angin laut menyapa tubuh mungil saya. Sementara ombak nan tenang perlahan menyentuh ujung telapak kaki saya.

Menenangkan.

DSC02254
Menanti senja di Klagian, Lampung Timur

Tempat itu bernama Pulau Klagian

DSC02253
Perjalanan Menuju Klagian

Suatu malam Frau — seorang teman yang saya kenal lewat perjalanan bersama komunitas online, menyapa saya lewat facebook. Ia mengajak sejenak melarikan dari rutinitas kesibukan di Ibukota. Saya yang saat itu mengalami kejenuhan mengerjakan skripsi langsung mengiyakan ajakan tanpa berpikir soal tugas kuliah yang menumpuk.

“ Pasirnya selembut terigu, Ka.”

Begitu Frau memberi informasi. Singkat kata sepulang dari kuliah dengan menggunakan Transjakarta saya melintasi macet menuju terminal Kalideres tempat bertemuan saya dan Frau – serta temannya dua temannya Frau: Lydia dan Dimas. Disinilah perjalanan dimulai.

Tepat 22:30 Wib bus Arimbi tujuan Pelabuhan Merak bertolak meninggalkan Kalideres. Saya memilih memejamkan mata. Badan saya cukup lelah berjibaku melewati macetnya Jum’at malam melintasi Lenteng Agung-Kalideres. Tapi tidak dengan pikiran dan hati. Ada rasa buncah yang tak terkatakan pada perjalanan kali ini.

Kami menyewa sebuah mobil travel untuk menuju daerah yang disebut Gudang Garam keesok paginya sesampai di Bakauheni. Demi menghemat pengeluaran kami membeli makan di warung sejenis warteg di daerah ini. Membungkus nasi dan lauk yang terpisah untuk stock sampai keesok paginya. Membeli air mineral ukuran besar untuk persediaan.

Sebab kami akan mendirikan tenda di sebuah pulau yang kata Frau memiliki pasir yang bersih dan lembut. Menikmat taburan bintang dengan berbaring diatas pasir tersebut. Dan, saya pun berjibaku dengan khayalan yang menyenangkan.

Dari tempat ini kami menuju Pantai kKlara dengan angkutan seperti omprengan jurusan Pasar minggu-Depok kalau tengah malam. Sejenak kami beristirahat di Pantai Klara, sebuah pantai yang biasa saja dengan sampah yang cukup memprihatinkan. Hati saya meringis membayangkan akan mendirikan tenda di tempat ini. Menghabiskan satu malam yang saya pikir akan menyenangkan.

Tapi saya salah. Sebuah kapal nelayan menghampiri kami. Frau bernegosasi cukup baik dengan pemilik kapal tersebut.  Dengan tanda tanya saya mengikuti Frau dan kawan-kawan menuju kapal dan berlayar ke seberang pulau.

Sebuah pemandangan yang mempesona dengan hamparan pasir putih membentuk garis pantai serta tepian pantai yang tak berombak bergradasi biru dan hijau ditambah pemandangan pepohonan nan asri menyambut kami.

Selamat datang di Pulau Klagian!

Melepas rasa takut diantara ketenangan Pulau Klagian

IMG00276-20120422-1801
Detik-detik Penantian Sunset di Klagian

Bagi saya perjalanan adalah mengatasi rasa takut yang berlebihan. Ya, terlahir sebagai anak yang dibesarkan dengan nyamannya rumah membuat saya memiliki banyak ketakutan yang tak berarti. Jantung saya berdegup kencang ketika menyadari saya harus bermalaman di pulau yang tak berpenghuni.

Bagaimana kalau terjadi Badai? Bagaimana kalau terjadi Tsunami?

Hati saya berdo’a ditengah kesibukan kami mendirikan tenda. Ya, pulau Klagian adalah sebuah pulau yang tak berpenghuni yang berada di pesisir pantai Lampung Timur. Tidak berpenghuni bukan berarti tak ada penjaganya. Ada satu keluarga yang menjaga pulau ini dengan mendirikan seperti rumah serta juga menjual kebutuhan makanan seperti mie instan dan air mineral.

Saya mengajak mengobrol penjaga tersebut untuk mengatasi rasa takut. Pulau ini memang indah dan menyenangkan. Apalagi cukup menenangkan tanpa kebisingan.  Perlahan perasaan takut ini menguap ketika angin laut menyapa saya.

Frau dan Lydia tak sabaran menghabiskan sisa sore dengan snorkeling dan bermain kano. Sementara saya memilih berbaring di atas pasir yang memang sangat lembut. Melepas pandangan ke langit. Meresapi setiap detik yang berjalan dalam perjalanan ini.

Klagian : Tempat untuk latihan Perang

Untuk mereka yang ingin snorkeling di tempat ini tetap berhati-hati. Penjaga pantai berbagi cerita soal pulau ini kerap dijadikan sebagai tempat latihan militer TNI. Kapal tengker kerap menyinggahi pulau ini. Hal ini membuat kondisi laut menjorok seperti Palung, dari dangkal tiba-tiba menyusup dalam.

Namun yang disyukuri dari Klagian adalah pulaunya yang masih bersih dan ombak yang tenang serta kelembutan pasar seperti tepung terigu. Saya melepas pandangan ke laut. Menyaksikan kegembiraan teman-teman yang berenang. Pikiran saya mulai berimajinasi kelak bersama pasangan akan mengelarkan tikar dan berbaring bersama sambil membaca buku ; layaknya romansa yang dihadirkan dalam drama Korea Selatan.

Maka Keindahan Indonesia bagian mana lagi yang kau dustai?

**** sebuah catatan perjalanan ke Klagian, April 2012 .

Iklan

9 thoughts on “Menikmati Berbaring di Kelembutan Pasir Pulau Klagian, Lampung Timur

  1. Dari cerita penduduk sana sih tempat latihan perang kak… Biasanya masyarakat di sana trip ke Klagian balik hari.
    dan Aku masih menyimpan keinginan untuk k Lampung lagi. banyak pulau-pulau keren di sana yang belum dikunjungi 🙂

  2. Aku jadi tertarik banget sama Klagian ini mba, di pulau yang gak berpenghuni sekalipun pasti kita bisa nemuin hal2 menarik :D. Dan masih ada pulau2 keren lain? Wiihh.. asik banget :). Insya Allah satu saat bisa menjejakkan kaki ke Lampung :).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s