Bulan: Juli 2016

Pagelaran Pacu Jawi, Atraksi Permainan Tradisional di Tanah Datar, Sumatra Barat

pacu-jawi_arie-darmana

gambar from : infosumbar

Festival pacu jawi atau dalam istilah setempat dikenal dengan Alek Pacu Jawi merupakan tradisi budaya di Sumatra Barat yang dilakukan setelah masa panen datang atau diadakan sebelum musim tanam sebagai hiburan bagi petani. Event budaya ini kembali di adakan pada pada 9, 16, 23 dan 30 Juli mendatang bertempat di Nagari Galogandang Kecamatan Rambatan, Tanah Datar, Sumatra Barat.

Pacu Jawi merupakan istilah bahasa Minangkabau yang berarti perlombaan balap sapi. Tradisi ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan masih dipertahankan oleh Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat – dan belakangan ini dijadikan sebagai ajang pariwisata daerah. Biasanya balap sapi ini akan diselenggarakan secara bergiliran selama empat minggu di empat kecamatan yaitu Pariangan, Rambatan, Lima Kaum, dan Sungai Tarab.

Berbeda dengan Karapan sapi di Madura yang dilakukan ditanah kering, Pacu jawi dilakukan pada sebidang sawah atau tanah berlumpur milik masyarakat. Perlombaan pacu jawi ini diikuti oleh jawi secara berpasangan yang dikendalikan oleh seorang joki cilik yang berpegangan pada tangkai bajak. Biasanya, sang juara tidak saja ditentukan dari kecepatan jawi dalam berpacu tapi juga cara jawi berlari apakah lurus atau berbelok.

Selain itu, selama perlombaan berlangsung terkadang juga terjadi transaksi jual-beli Jawi. Dan, Jawi yang menjadi juara biasanya dihargai dengan harga yang cukup tinggi. O, ya Alek Jawi ini juga dimeriahi oleh ragam prosesi musik tradisional khas Sumatra Barat dan ragam beberapa penjual khas makanan Minangkabau yang mengugah selera. Jadi jangan sampai kelewatan lho untuk menyaksikannya kemeriahan pagelaran budaya ini! (ekahei)

  • Tulisan ini diterbitkan pertamakali di infosumbar ditengah kerinduan kembali mengeluti dunia jurnalis.

 

Panduan Keliling Kota Padang Dalam 24 Jam

Padang bukan Jam Gadang yang melegenda, juga bukan Lembah Arau yang menakjubkan, dan juga bukan Kelok Sembilan yang mengagumkan. Padang adalah…

Panas.

Begitu seorang teman mengungkapkan Padang dalam satu kata. Tapi, bagi saya Padang adalah rindu. Kerinduan dibalik tagline-nya “Kota tercinta, kujaga dan kubela”. Setiap sudut kotanya menyimpan cerita yang menyenangkan ditengah hempasan ombak pantai Padang yang menganas dan cuacanya yang panas.

Maka lupakan sejenak ademnya suasana Bukittinggi dan Lembau Arau atau pemandangan mengagumkan dari Kelok Sembilan, luangkan waktu menjelajahi setiap sudut kota yang terkenal dengan oleh-oleh Bengkoangnya ini.

Gunung Padang

Mengawali pagi di kota Padang bagi saya lebih seru Jogging ke Gunung Padang — lebih tepatnya sih sejenis bukit. Berjalan menelusuri pesisir pantai hingga ke Jembatan Siti Nurbaya. Sejenak bayangan saya larut pada kisah Siti Nurbaya karya Marah Rusli, sebuah roman kasih tak sampai, ketika kaki melewati jembatan Siti Nurbaya. Oh, ya di Gunung Padang ini juga terdapat makam yang disinyalir makam Siti Nurbaya.

Menelusuri tepian sungai batang Arau, gunung Padang sudah terlihat dari kejauhan. Sebuah pemandangan yang menyenangkan disela udara pagi yang segar menyambut kedatangan saya.

Terus berjalan, sebuah gapura bertulis objek wisata gunung Padang bukan berarti menandakan bahwa perjalanan sudah selesai. Inilah awal sebuah langkah menemui keindahan kota Padang. Perjalanan ke puncak tidak terlalu ekstrim, sebab tersedia ratusan anak tangga yang sudah dibeton semen. Disini kamu akan menemukan bungker dan meriam yang merupakan situs peninggalan jaman penjajahan.

foto diam

Menikmati keindahan kota Padang dari Ketinggian Gunung Padang

Perlu sekitar satu kilometeran atau menapaki 300an lebih anak tangga untuk mencapai puncak, sebuah taman yang disebut taman Siti Nurbaya menanti sekedar tempat leyeh-leyeh. Saya melepas pandangan ke hamparan laut luas Samudra Hindia.

Maka, Keindahan Indonesia bagian mana lagi kau dustai?

Seorang teman menyeletuk bahwa kawasan ini mungkin dulunya tempat yang strategis bagi penjajah sebagai pos pengintai. Namun, bagi saya lebih dari sekedar itu, Gunung Padang bukan sekedar menyimpan cerita sejarah di masa penjajahan, tapi juga kisah cinta melegenda dan menawarkan panorama indah yang tak terbantahkan.

Tips :

  1. Gunakan pakaian yang menyerap keringat dan sepatu olah raga
  2. Bawalah botol air minum meskipun diatas terdapat warung — namun biasanya kalau terlalu pagi takutnya masih tutup.
  3. Hati-hati dengan monyet yang berkeliaran tapi jangan takut. Mereka sudah akrab kok dengan pemandang lalu lalang manusia. Asal kita tak menganggu mereka saja.

Museum Adityawarman

Menjelang siang ditengah teriknya panasnya cuaca Padang, ademkan hati di sebuah bangunan seperti rumah gadang khas Sumatra Barat dengan taman yang cukup luas. Perkayakan pikiran dengan ragam informasi tentang budaya Sumatera  Barat lewat Museum Adityawarman yang terletak di Jl. Diponegoro no.10, Padang.

museum

Museum Adityawarman : Mengenal Minangkabau lebih dekat

Alunan musik khas acara pernikahan menyambut langkah kaki saya. Sejenak saya menghempaskan tubuh ke kursi yang disediakan. Melepas pandangan pada ragam etalase yang memanjang manekin yang menggunakan pakaian adat khas minangkabau. Selain itu, juga ada miniatur makanan yang disajikan ketika acara pernikahan.

Setiap daerah di Sumatra Barat ternyata memiliki perbedaan dalam penyelenggarakan pernikahan bertema adat minangkabau. Seperti di Pariaman, ada nasi kuning dengan juadah — ragam kue tradisional yang tak saya pahami. hehehe, tapi waktu kecil saya sempat menikmati kelezatan makanan ini.

Minangkabau menerapkan sistem Matrilineal, di museum ini dipaparkan dengan jelas kegiatan para wanita Minangkabau. Selain itu, juga ada ragam peninggalkan bersejarah dan kehidupan di masa lampau.

Tips :

  1. Gunakan pakaian nyaman yang menyerap keringat mengingat kondisi kota Padang yang memiliki cuaca panas
  2. Cukupkan baterai ponsel dan kamera sekedar mengabadikan setiap moment. Banyak spot menarik di sini untuk berfoto

Berpenat ria di kawasan Pondok

Menjelang sore, menelusuri kawasan Pondok adalah pilihan yang baik menurut saya disaat matahari tak terlalu menyengat. Pondok bisa dikatakan kawasan Pencinan kota Padang. Banyak bangunan tua serta ragam pusat kuliner dengan ragam cafe di tempat ini.

bangunan klasik yang mengagumkan membuat kita terlempar pada zaman Belanda. Sejenak hati membenarkan pada cerita sejarah tentang peranan perdagangan di masa penjajahan Belanda di tempat ini. Saya menyempatkan diri mampir ke Klenteng See Hin Kiong yang terkenal dengan arsitekturnya yang indah.

photo (1)

Flower girl hahahah *abaikan sandal jepitnya :p

Tips :

  1. Sediakan kaki yang kuat untuk menelusuri kawasan yang terkenal dengan kota tua nya ini.
  2. Bagi yang muslim berhati-hatilah pada makanan yang tidak ada label Halal.
  3. Tunjukan ke Indonesiaan-mu dengan tersenyum ramah

Menikmati Sunset di Pantai Padang

Spot terbaik menikmati keindahan Tuhan bernama sunset adalah Pantai. Berada di pesisir pantai dengan samudra Hindia terbentang luas, inilah anugerah terindah bagi Kota Padang.

Sayangnya abrasi yang parah, membuat sebagian pantai ini tak berpasir luas. Hanya bebatuan besar yang digunakan sebagai tempat memecahkan hempasan ombak. Tapi bukan berarti hal ini mengurangi kedamaian menikmati sunset.

photo

Menikmati sunset di tepi pantai Padang

Aroma khas ikan bakar dan ragam penglihatan street food  khas minangkabau seperti Pensi dan Langkitang — sejenis kerang-kerangan — mengugah selera untuk segera melumatinya. Dari deretan cafe yang berada di danau Cimpago — bukan danau dalam artian sebenarnya, hanya seperti buatan sebab tidak terlalu luas, saya menikmati lukisan Tuhan.

Tips :

  1. Lazimnya tempat wisata pada umumnya bertanyalah terlebih dahulu harga makanan yang disajikan atau yang hendak dibeli untuk menghindari penipuan/scam.

Menyinggahi Mesjid Raya Sumatra Barat

Untuk menuju ke tempat ini dari pantai Padang kamu bisa menggunakan jasa ojek atau naik angkot arah pasar raya. Kemudian berhentilah di lampu merah daerah Damar dan berjalan ke arah belakang olo. Tunggu angkot bewarna biru jurusan Lapai dengan mengatakan pada supir angkot,“ mesjid Raya, Pak!”

mesjid raya

Mesjid Raya Sumatra Barat salah satu spot terbaik untuk berkodak ria di Padang 🙂

Mesjid Raya Sumatra Barat adalah spot terbaik untuk berfoto dengan redup cahaya lampu dan suasana malam yang indah. Tapi, bagi saya tempat ini berguna melepas lelah dan meluangkan waktu untuk mensyukuri nikmat Tuhan hari ini.

Tips :

  1. Jangan melakukan vandalisme di tempat ini termasuk membuang sampah sembarang. Dan jagalah kebersihan dimana pun kamu berada.
  2. Bercengkramalah dengan warga sekitar. Pada umumnya, warga Padang senang mengobrol. (ekahei)

Tulisan ini pernah dimuat di phinemo

Renungan Diri dari Sebuah Kabar

Saya terdiam membaca update seorang teman di path. Berita duka yang selalu meninggalkan emosi yang sulit dijelaskan kata-kata. Menyentakan hati dan membuat pikiran saya kembali pada kalimat yang pernah ditulis adik saya:” Perjalanan terdekat adalah kematian, …”

Dan… tentu meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi anggota keluarga dan orang terdekat — Semoga Allah memberi ketabahan dan kesabaran bagi mereka.

*****

Saya mengenalnya di pengujung tahun 2013 dari seorang teman ketika saya membutuhkan seorang narasumber untuk mendukung artikel tematik tentang bahasa yang sedang saya kerjakan. Saya tak mungkin lupa ketika malam itu saya menghubunginya lewat telpon. Suaranya terdengar ramah, meminta saya untuk melakukan wawancara via email sebab dia sedang sibuk mengadakan diskusi dengan beberapa mahasiswa yang sedang menginap di rumahnya — sekaligus menyambut tahun baru. Saya pun menyetujui dan menyampaikan harapan agar ia bisa membalas email dengan cepat.

Hanya sebatas itu saya mengenalnya — dan tidak pernah lagi menghubungi beliau. Namun, Ia pernah beberapa kali mengirimkan saya email tulisan yang sungguh memberi pencerahan kepada diri saya — bersamaan dengan beberapa orang tentunya terlihat dari daftar penerima email. Maka, ketika kabar berita tentang beliau di update-an path teman saya tersebut, cukup menyentakan hati saya.

Dan,  hati saya berdo’a : ” Semoga beliau ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah”

Aamiin.

Berikut saya share salah satu tulisan beliau.

*****

Cuaca Dan Kita

Oleh : Dr. Nusa Putra, S.Fil., M.Pd

Cuaca di seluruh dunia makin kacau. Salju turun di tempat yang tidak biasa. Salju tebal turun berhari-hari di padang pasir Chili, Mesir, Arab Saudi, Palestina, dan Vietnam. Di Beijing dan Sanghai bandara dilumpuhkan salju. Di beberapa negara bagian di Amerika Serikat suhu berada di bawah 50 derajat celcius. Bukan hanya bandara yang lumpuh, kehidupan secara keseluruhan terganngu.

Sementara itu Filipina dilanda banjir yang sangat meluas, Australia diserang gelombang panas. Kita di Indonesia mulai dikepung banjir. Bersamaan dengan banjir, gunung meletus di Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Longsor di mana-mana.

Sudah pasti kekacauan cuaca ini menjadi bencana yang menelan korban jiwa, dan memporakporandakan pemukiman, persawahan, dan berbagai fasilitas umum. Oleh karena bencana makin meluas dan terjadi di banyak tempat dalam waktu yang hampir bersamaan, mulailah muncul berbagai reaksi dan respon.

Di Arab Saudi seorang ulama menyatakan, turunnya salju di Timur Tengah merupakan salah satu tanda hari kiamat sudah dekat. Di Jakarta, sedang diupayakan rekayasa cuaca agar banjir tidak semakin meluas. Beberapa ilmuwan lintas negara dan juga lintas disiplin ilmu melakukan penelitian komprehensif yang melibatkan teknologi canggih untuk mencaritemukan penjelasan mendalam mengapa di seluruh dunia terjadi kecenderungan cuaca semakin ekstrim. Penelitian melibatkan penggunan satelit untuk mengumpulkan data dari seluruh dunia. Data itu terkait dengan tingkat kerusakan hutan, pencemaran air, udara, dan tanah, serta kerusakan lapisan ozon. Simpulan sementara menunjukkan bahwa dunia tempat manusia hidup memang semakin ancur. Kekacauan cuaca yang kita alami sekarang tak lebih dari konsekuensi tak terelakkan dari semakin ancurnya lingkungan kita.

Temuan yang masih bersifat sementara itu tidaklah mengejutkan. Mazhab Frankfurt yang muncul pada tahun 1930an, dalam analisis yang sangat kritis tentang perkembangan masyarakat moderen di Barat sudah menunjukkan betapa kekuatan kapitalisme telah menghancurkan sendi-sendi masyarakat. Mereka mulai mengingatkan bahaya yang semakin besar dari pemanfaatan teknologi sebagai piranti utama kapitalisme untuk terus melakukan ekspansi.

Pada tahun 50an, Jacques Ellul melalui bukunya “Masyarakat Teknologis” menegaskan bahwa teknologi semakin penting dan secara sangat signifikan telah mengubah masyarakat. Teknologi telah memasuki ruang bathin manusia dan ikut menentukan penghayatan hidupnya. Teknologi bukan sekadar alat atau perpanjangan tangan manusia, tetapi telah menjadi bagian dari metabolisme manusia moderen. Teknologi juga sudah sangat merombak paradigma ekonomi dan model-model ekspansi dan eksploitasi. Saat Alvin Toffler merumuskan gelombang ketiga yang antara lain ditandai oleh revolusi digital dan semakin berkuasanya teknologi, sebenarnya merupakan kelanjutan logis dari masyarakat teknologisnya Ellul.

Mengapa kekacauan cuaca dan dampak buruknya terhadap alam dan manusia harus dikaitkan dengan kapitalisme dan teknologi? Apa pula hubungannya dengan pendapat ulama di Saudi tentang kiamat sudah dekat?

Pada tahun 1968 Klub Roma (Club of Rome) berdiri, 1972 mereka mempublikasikan “Batas-batas Pertumbuhan”. Sebuah analisis yang menghebohkan dunia. Pertumbuhan ekonomi yang dikelola dengan paradigma kapitalisme secara nyata bukan saja telah menimbulkan banyak masalah, tragedi, dan irrasionalitas manusia dan masyrakat seperti yang telah ditunjukkan oleh Mazhab Frankfurt. Juga melakukan penghancuran lingkungan yang salah satu indikatornya tampak paling nyata pada kekacauan iklim.

Baru-baru ini Klub Roma menerbitkan “2052: A Global Forecast for the Next Forty Years”. Jorgen Randers, penulis laporan itu menyatakan, ” Dampak negatif perubahan iklim akan semakin kentara”. Lebih lanjut ia jelaskan, ” Manusia mengeksploitasi habis-habisan sumber daya alam, dan kita akan melihat sebelum 2052 di sejumlah kawasan akan terjadi keruntuhan”. Mengapa akan ada akibat setragis itu? Menurut Randers, salah satu penyebabnya adalah, ” Kita setiap tahunnya memproduksi gas rumah kaca dua kali lebih banyak dari kemampuan absorpsi hutan dan lautan”. (Deutsche Welle, http://www.dw.de).

Kata kunci dari penjelasan Sanders adalah manusia mengeksploitasi habis-habisan sumber daya alam. Pada titik inilah penjelasan Klub Roma bersesuaian dengan analisis Mazhab Frankfurt dan J. Ellul. Eksploitasi tersebut secara sistematis, terstruktur, dan besar-besaran dilakukan oleh kapitalisme.

Mengapa manusia mengeksploitasi habis-habisan sumber daya alam?

Ini soal paradigma atau mind set, dan penghayatan hidup manusia moderen yang berakar pada zaman pencerahan di Eropa Barat. Saat embrio ilmu pngetahuan moderen mulai terbentuk.

Ilmu pengetahuan moderen tidak mulai dengan mengkaji permasalahan-permasalahan nyata dalam masyarakat. Tetapi diawali dengan perdebatan tentang sesuatu yang nun jauh di sana, yang tidak bisa dikaji secara empiris menggunakan panca indra. Perdebatan itu menyangkut apa yang menjadi pusat, bumi atau matahari. Geosentris atau heliosentris? Karena masalahnya menyangkut sistem tatasurya yang tak terjangkau panca indra, dan peralatan untuk memantau dan mengujinya juga belum ada, maka yang digunakan adalah matematika.

Namun perlu ditegaskan, perdebatan ini bukan hanya soal kecanggihan pembuktian matematika. Ini pertarungan dua pandangan dunia yang sangat berbeda. Geosentris yang diusung Claudius Ptolemeus dicoraki sangat kental oleh tafsir dan keyakinan religius tentang tempat manusia di bumi dan kaitannya dengan Sang Pencipta ( bandingkan perdebatan di dunia maya, tentang posisi Ka’bah, manusia, dan matahari). Sementara itu Nicolaus Copernicus yang mengusung heliosentris adalah ilmuwan yang bekerja dan meneliti atas biaya institusi keagamaan. Jadi, si Copernicus sejak mula berkeyakinan bahwa pandangan revolusioner yang dirumuskannya dalam De Revolutionibus Orbium Coelestrum akan memunculkan masalah serius di kemudian hari. Dalam konteks itulah harus difahami mengapa ada perseteruan sengit antara Galileo dengan para elit gereja pada waktu itu. Galileo mencoba membuktikan secara empiris bahwa heliosentris benar adanya. Dia juga mencoba memperbaiki beberapa bagian dari penjelasan Copernicus yang masih kontroversial.

Pandangan revolusioner yang dimulai oleh Copernicus, dilanjutkan oleh Tycho Brahe, Johannes Keppler dan Galileo Galilei, berpuncak pada genius terbesar ilmu pengetahuan moderen yaitu Isaac Newton. Newton berhasil menjelaskan cara kerja alam semesta dengan rumus matematika yang sederhana. Sesuatu yang sangat diinginkan dan diusahakan oleh ahli matematika kuno Phytagoras dua ribu tahun sebelum Newton, dan tidak tercapai.

Dalam paradigma Newtonian, alam dipersepsi sebagai keberadaan yang mandiri dan bersifat mekanis. Dengan demikian paradigma dan penghayatan lama yang dipertahankan sampai abad pertengahan bahwa alam ini bergantung pada yang Maha Ada, dan ada hubungan yang sangat erat antara alam dan manusia mulai tergerus. Comte pelopor filsafat positivisme bahkan menghina pemikiran yang menjelaskan keberadaan alam dan realitas lainnya terkait dengan Tuhan sebagai masa kanak-kanak dalam perkembangan pemikiran manusia.

Ilmu pengetahuan moderen menegaskan bahwa alam harus dimengerti dalam kerangka rasional-empiris, dieksplorasi untuk difahami dan dimanfaatkan bagi kemajuan dan kemakmuran manusia. Dalam perjalanan waktu, eksplorasi terus berkembang menjadi eksploitasi. Kapitalisme menjadikan eksploitasi alam sebagai cara untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya.

Modernitas bukan sekedar cara berfikir yang mempengaruhi ilmu pengetahuan dan melahirkan ilmu penegetahuan moderen. Modernitas adalah pandangan hidup yang merasuki cara berfikir dan penghayatan hidup. Fakta ini bisa ditunjukkan dengan serangkaian bukti.

Periksalah dengan cermat tatakota pada senjakala abad pertengahan dan zaman pencerahan sebagai masa awal zaman moderen. Bila dahulu pusat kota adalah rumah ibadah yang dibangun dengan megah. Pada zaman pencerahan bangunan paling megah adalah universitas, gedung perkantoran pemerintah dan pusat-pusat perekonomian. Zaman sungguh telah berubah. Pelajarilah tatakota Hamburg. Dulu St. Pauli adalah wilayah yang dipenuhi bangunan keagamaan. Sekarang merupakan pusat kegiatan seks bebas.

Sejak zaman pencerahan sampai zaman moderen kosakata yang paling banyak disebut adalah revolusi, kemajuan, ilmu, penjelajahan, produktifitas, keuntungan, eksperimen, pengukuran, positivisme, rasionalisme, empirisme, ideologi, eksplorasi, eksploitasi, progresif, penaklukan, dan ratusan kata sejenis. Jadi, penjelajahan Bartholomeuz Diaz, Marcopolo, Vasco da Gama, Columbus, dan Magelhaens bukanlah sebuah kebetulan. Penjelajahan itu mendapat inspirasi dari Copernicus yang mengatakan bumi ini bulat dan semangat eksplorasi serta eksploitasi yang memang sangat menonjol pada masa itu.

Modernitas melanjutkan terus paradigma itu terutama dalam bidang ilmu dan ekonomi. Eksplorasi, ekspansi dan eksploitasi menjadi kata kunci. Alam semesta, terutama bumi, tentulah menjadi objek utamanya.

Kerusakan iklim global yang kini sama kita hadapi, tak lebih merupakan konsekuensi niscaya dari paradigma modernitas yang oleh Mazhab Frankfurt disebut berdarah dan membeku. Melalui penjajahan sistematis, nyaris hampir semua kebudayaan telah dirasuki oleh paradigma modernitas yang sangat ekspansif dan eksploitatif ini.

Itulah sebabnya, banyak di antara kita terheran-heran saat orang Baduy Dalam, atau Suku Dayak di pedalaman Kalimantan mengucapkan sesuatu, bahkan seperti berbicara ketika akan menebang pohon. Modernitas memang telah berhasil membuat banyak orang yakin bahwa lingkungan di sekitar kita yaitu tanah, pohon, gunung, lautan, hutan tak lebih hanya komoditi, benda yang bisa dieksploitasi demi keuntungan dalam model transaksi kapitalisme.

Kita telah lupa bahwa tanah, pohon, lautan, gunung, dan sungai adalah bagian dari keberadaan kita. Kita telah alpa bahwa manusia harus menjaga harmoni dan menghormati sesama, dan lingkungan sekitarnya dalam bimbingan sabda Ilahi.

Bila nanti malam, rumah kita disambangi banjir, pohon-pohon tumbang, dan tanah di sekitar kita longsor, ingatlah

ALLAH MENCIPTAKAN ALAM SEBAGAI ANUGERAH BAGI KITA, TAPI KEJAHATAN KITA TELAH MERUBAHNYA MENJADI BENCANA.

*****

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu : Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang sholeh

(HR. Muslim)