Renungan Diri dari Sebuah Kabar

Saya terdiam membaca update seorang teman di path. Berita duka yang selalu meninggalkan emosi yang sulit dijelaskan kata-kata. Menyentakan hati dan membuat pikiran saya kembali pada kalimat yang pernah ditulis adik saya:” Perjalanan terdekat adalah kematian, …”

Dan… tentu meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi anggota keluarga dan orang terdekat — Semoga Allah memberi ketabahan dan kesabaran bagi mereka.

*****

Saya mengenalnya di pengujung tahun 2013 dari seorang teman ketika saya membutuhkan seorang narasumber untuk mendukung artikel tematik tentang bahasa yang sedang saya kerjakan. Saya tak mungkin lupa ketika malam itu saya menghubunginya lewat telpon. Suaranya terdengar ramah, meminta saya untuk melakukan wawancara via email sebab dia sedang sibuk mengadakan diskusi dengan beberapa mahasiswa yang sedang menginap di rumahnya — sekaligus menyambut tahun baru. Saya pun menyetujui dan menyampaikan harapan agar ia bisa membalas email dengan cepat.

Hanya sebatas itu saya mengenalnya — dan tidak pernah lagi menghubungi beliau. Namun, Ia pernah beberapa kali mengirimkan saya email tulisan yang sungguh memberi pencerahan kepada diri saya — bersamaan dengan beberapa orang tentunya terlihat dari daftar penerima email. Maka, ketika kabar berita tentang beliau di update-an path teman saya tersebut, cukup menyentakan hati saya.

Dan,  hati saya berdo’a : ” Semoga beliau ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah”

Aamiin.

Berikut saya share salah satu tulisan beliau.

*****

Cuaca Dan Kita

Oleh : Dr. Nusa Putra, S.Fil., M.Pd

Cuaca di seluruh dunia makin kacau. Salju turun di tempat yang tidak biasa. Salju tebal turun berhari-hari di padang pasir Chili, Mesir, Arab Saudi, Palestina, dan Vietnam. Di Beijing dan Sanghai bandara dilumpuhkan salju. Di beberapa negara bagian di Amerika Serikat suhu berada di bawah 50 derajat celcius. Bukan hanya bandara yang lumpuh, kehidupan secara keseluruhan terganngu.

Sementara itu Filipina dilanda banjir yang sangat meluas, Australia diserang gelombang panas. Kita di Indonesia mulai dikepung banjir. Bersamaan dengan banjir, gunung meletus di Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Longsor di mana-mana.

Sudah pasti kekacauan cuaca ini menjadi bencana yang menelan korban jiwa, dan memporakporandakan pemukiman, persawahan, dan berbagai fasilitas umum. Oleh karena bencana makin meluas dan terjadi di banyak tempat dalam waktu yang hampir bersamaan, mulailah muncul berbagai reaksi dan respon.

Di Arab Saudi seorang ulama menyatakan, turunnya salju di Timur Tengah merupakan salah satu tanda hari kiamat sudah dekat. Di Jakarta, sedang diupayakan rekayasa cuaca agar banjir tidak semakin meluas. Beberapa ilmuwan lintas negara dan juga lintas disiplin ilmu melakukan penelitian komprehensif yang melibatkan teknologi canggih untuk mencaritemukan penjelasan mendalam mengapa di seluruh dunia terjadi kecenderungan cuaca semakin ekstrim. Penelitian melibatkan penggunan satelit untuk mengumpulkan data dari seluruh dunia. Data itu terkait dengan tingkat kerusakan hutan, pencemaran air, udara, dan tanah, serta kerusakan lapisan ozon. Simpulan sementara menunjukkan bahwa dunia tempat manusia hidup memang semakin ancur. Kekacauan cuaca yang kita alami sekarang tak lebih dari konsekuensi tak terelakkan dari semakin ancurnya lingkungan kita.

Temuan yang masih bersifat sementara itu tidaklah mengejutkan. Mazhab Frankfurt yang muncul pada tahun 1930an, dalam analisis yang sangat kritis tentang perkembangan masyarakat moderen di Barat sudah menunjukkan betapa kekuatan kapitalisme telah menghancurkan sendi-sendi masyarakat. Mereka mulai mengingatkan bahaya yang semakin besar dari pemanfaatan teknologi sebagai piranti utama kapitalisme untuk terus melakukan ekspansi.

Pada tahun 50an, Jacques Ellul melalui bukunya “Masyarakat Teknologis” menegaskan bahwa teknologi semakin penting dan secara sangat signifikan telah mengubah masyarakat. Teknologi telah memasuki ruang bathin manusia dan ikut menentukan penghayatan hidupnya. Teknologi bukan sekadar alat atau perpanjangan tangan manusia, tetapi telah menjadi bagian dari metabolisme manusia moderen. Teknologi juga sudah sangat merombak paradigma ekonomi dan model-model ekspansi dan eksploitasi. Saat Alvin Toffler merumuskan gelombang ketiga yang antara lain ditandai oleh revolusi digital dan semakin berkuasanya teknologi, sebenarnya merupakan kelanjutan logis dari masyarakat teknologisnya Ellul.

Mengapa kekacauan cuaca dan dampak buruknya terhadap alam dan manusia harus dikaitkan dengan kapitalisme dan teknologi? Apa pula hubungannya dengan pendapat ulama di Saudi tentang kiamat sudah dekat?

Pada tahun 1968 Klub Roma (Club of Rome) berdiri, 1972 mereka mempublikasikan “Batas-batas Pertumbuhan”. Sebuah analisis yang menghebohkan dunia. Pertumbuhan ekonomi yang dikelola dengan paradigma kapitalisme secara nyata bukan saja telah menimbulkan banyak masalah, tragedi, dan irrasionalitas manusia dan masyrakat seperti yang telah ditunjukkan oleh Mazhab Frankfurt. Juga melakukan penghancuran lingkungan yang salah satu indikatornya tampak paling nyata pada kekacauan iklim.

Baru-baru ini Klub Roma menerbitkan “2052: A Global Forecast for the Next Forty Years”. Jorgen Randers, penulis laporan itu menyatakan, ” Dampak negatif perubahan iklim akan semakin kentara”. Lebih lanjut ia jelaskan, ” Manusia mengeksploitasi habis-habisan sumber daya alam, dan kita akan melihat sebelum 2052 di sejumlah kawasan akan terjadi keruntuhan”. Mengapa akan ada akibat setragis itu? Menurut Randers, salah satu penyebabnya adalah, ” Kita setiap tahunnya memproduksi gas rumah kaca dua kali lebih banyak dari kemampuan absorpsi hutan dan lautan”. (Deutsche Welle, http://www.dw.de).

Kata kunci dari penjelasan Sanders adalah manusia mengeksploitasi habis-habisan sumber daya alam. Pada titik inilah penjelasan Klub Roma bersesuaian dengan analisis Mazhab Frankfurt dan J. Ellul. Eksploitasi tersebut secara sistematis, terstruktur, dan besar-besaran dilakukan oleh kapitalisme.

Mengapa manusia mengeksploitasi habis-habisan sumber daya alam?

Ini soal paradigma atau mind set, dan penghayatan hidup manusia moderen yang berakar pada zaman pencerahan di Eropa Barat. Saat embrio ilmu pngetahuan moderen mulai terbentuk.

Ilmu pengetahuan moderen tidak mulai dengan mengkaji permasalahan-permasalahan nyata dalam masyarakat. Tetapi diawali dengan perdebatan tentang sesuatu yang nun jauh di sana, yang tidak bisa dikaji secara empiris menggunakan panca indra. Perdebatan itu menyangkut apa yang menjadi pusat, bumi atau matahari. Geosentris atau heliosentris? Karena masalahnya menyangkut sistem tatasurya yang tak terjangkau panca indra, dan peralatan untuk memantau dan mengujinya juga belum ada, maka yang digunakan adalah matematika.

Namun perlu ditegaskan, perdebatan ini bukan hanya soal kecanggihan pembuktian matematika. Ini pertarungan dua pandangan dunia yang sangat berbeda. Geosentris yang diusung Claudius Ptolemeus dicoraki sangat kental oleh tafsir dan keyakinan religius tentang tempat manusia di bumi dan kaitannya dengan Sang Pencipta ( bandingkan perdebatan di dunia maya, tentang posisi Ka’bah, manusia, dan matahari). Sementara itu Nicolaus Copernicus yang mengusung heliosentris adalah ilmuwan yang bekerja dan meneliti atas biaya institusi keagamaan. Jadi, si Copernicus sejak mula berkeyakinan bahwa pandangan revolusioner yang dirumuskannya dalam De Revolutionibus Orbium Coelestrum akan memunculkan masalah serius di kemudian hari. Dalam konteks itulah harus difahami mengapa ada perseteruan sengit antara Galileo dengan para elit gereja pada waktu itu. Galileo mencoba membuktikan secara empiris bahwa heliosentris benar adanya. Dia juga mencoba memperbaiki beberapa bagian dari penjelasan Copernicus yang masih kontroversial.

Pandangan revolusioner yang dimulai oleh Copernicus, dilanjutkan oleh Tycho Brahe, Johannes Keppler dan Galileo Galilei, berpuncak pada genius terbesar ilmu pengetahuan moderen yaitu Isaac Newton. Newton berhasil menjelaskan cara kerja alam semesta dengan rumus matematika yang sederhana. Sesuatu yang sangat diinginkan dan diusahakan oleh ahli matematika kuno Phytagoras dua ribu tahun sebelum Newton, dan tidak tercapai.

Dalam paradigma Newtonian, alam dipersepsi sebagai keberadaan yang mandiri dan bersifat mekanis. Dengan demikian paradigma dan penghayatan lama yang dipertahankan sampai abad pertengahan bahwa alam ini bergantung pada yang Maha Ada, dan ada hubungan yang sangat erat antara alam dan manusia mulai tergerus. Comte pelopor filsafat positivisme bahkan menghina pemikiran yang menjelaskan keberadaan alam dan realitas lainnya terkait dengan Tuhan sebagai masa kanak-kanak dalam perkembangan pemikiran manusia.

Ilmu pengetahuan moderen menegaskan bahwa alam harus dimengerti dalam kerangka rasional-empiris, dieksplorasi untuk difahami dan dimanfaatkan bagi kemajuan dan kemakmuran manusia. Dalam perjalanan waktu, eksplorasi terus berkembang menjadi eksploitasi. Kapitalisme menjadikan eksploitasi alam sebagai cara untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya.

Modernitas bukan sekedar cara berfikir yang mempengaruhi ilmu pengetahuan dan melahirkan ilmu penegetahuan moderen. Modernitas adalah pandangan hidup yang merasuki cara berfikir dan penghayatan hidup. Fakta ini bisa ditunjukkan dengan serangkaian bukti.

Periksalah dengan cermat tatakota pada senjakala abad pertengahan dan zaman pencerahan sebagai masa awal zaman moderen. Bila dahulu pusat kota adalah rumah ibadah yang dibangun dengan megah. Pada zaman pencerahan bangunan paling megah adalah universitas, gedung perkantoran pemerintah dan pusat-pusat perekonomian. Zaman sungguh telah berubah. Pelajarilah tatakota Hamburg. Dulu St. Pauli adalah wilayah yang dipenuhi bangunan keagamaan. Sekarang merupakan pusat kegiatan seks bebas.

Sejak zaman pencerahan sampai zaman moderen kosakata yang paling banyak disebut adalah revolusi, kemajuan, ilmu, penjelajahan, produktifitas, keuntungan, eksperimen, pengukuran, positivisme, rasionalisme, empirisme, ideologi, eksplorasi, eksploitasi, progresif, penaklukan, dan ratusan kata sejenis. Jadi, penjelajahan Bartholomeuz Diaz, Marcopolo, Vasco da Gama, Columbus, dan Magelhaens bukanlah sebuah kebetulan. Penjelajahan itu mendapat inspirasi dari Copernicus yang mengatakan bumi ini bulat dan semangat eksplorasi serta eksploitasi yang memang sangat menonjol pada masa itu.

Modernitas melanjutkan terus paradigma itu terutama dalam bidang ilmu dan ekonomi. Eksplorasi, ekspansi dan eksploitasi menjadi kata kunci. Alam semesta, terutama bumi, tentulah menjadi objek utamanya.

Kerusakan iklim global yang kini sama kita hadapi, tak lebih merupakan konsekuensi niscaya dari paradigma modernitas yang oleh Mazhab Frankfurt disebut berdarah dan membeku. Melalui penjajahan sistematis, nyaris hampir semua kebudayaan telah dirasuki oleh paradigma modernitas yang sangat ekspansif dan eksploitatif ini.

Itulah sebabnya, banyak di antara kita terheran-heran saat orang Baduy Dalam, atau Suku Dayak di pedalaman Kalimantan mengucapkan sesuatu, bahkan seperti berbicara ketika akan menebang pohon. Modernitas memang telah berhasil membuat banyak orang yakin bahwa lingkungan di sekitar kita yaitu tanah, pohon, gunung, lautan, hutan tak lebih hanya komoditi, benda yang bisa dieksploitasi demi keuntungan dalam model transaksi kapitalisme.

Kita telah lupa bahwa tanah, pohon, lautan, gunung, dan sungai adalah bagian dari keberadaan kita. Kita telah alpa bahwa manusia harus menjaga harmoni dan menghormati sesama, dan lingkungan sekitarnya dalam bimbingan sabda Ilahi.

Bila nanti malam, rumah kita disambangi banjir, pohon-pohon tumbang, dan tanah di sekitar kita longsor, ingatlah

ALLAH MENCIPTAKAN ALAM SEBAGAI ANUGERAH BAGI KITA, TAPI KEJAHATAN KITA TELAH MERUBAHNYA MENJADI BENCANA.

*****

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu : Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang sholeh

(HR. Muslim)

 

 

Iklan

2 thoughts on “Renungan Diri dari Sebuah Kabar

  1. Sebenarnya, yang meninggalkan itu dosen teman aku Winny. Merasa kehilangan sih dianya, mengingat pribadi sang dosen baik — aku pun merasa hal yang sama saat menjadikan dosen itu sbg narasumber aku 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s