Bulan: September 2016

Slow Travel : Memaknai Perjalanan Itu Sendiri

The value of your travels does not hinge on how many stamps you have in your pasport when you get home – and the slow nuanced experience of a single country is always better than the hurried, superficial experience of forty countries. – Rolf Potts

karimun-jawa

Perjalanan bukan soal seberapa banyak tempat yang sudah dikunjungi, tapi tentang kesan yang mampu mengubahmu menjadi manusia yang berkarakter baik — ekahei

Saya menatap iri pada beberapa jajanan pasar yang dibeli salah satu teman perjalanan suatu pagi yang sibuk di pertengahan tahun 2011. Karena kelelahan kemaren seharian bermain di tengah laut, saya memilih untuk tidur sejenak usai menunaikan subuh sebelum buru-buru mengejar kapal yang akan kembali membawa kami ke pantai Kartini, Jepara, Jawa Tengah.

            Teman saya bercerita dengan riang ia menemui pasar di daerah ini dan dalam pikiran saya terbayang pemandangan menyenangkan kesibukan aktivitas pasar di subuh hari. Sesuatu yang sudah memudar dalam ingatan saya sejak lima belas tahun terakhir ini. Saya menarik napas berusaha menghilangkan rasa sesal memilih tidur seusai subuh daripada bergerilya menyisir perkampungan di Karimun Jawa.

           Empat  hari sudah berada di tanah yang menawarkan keramahan yang tak terlupakan oleh saya. Sayangnya, selama itu, waktu saya dihabiskan dengan ragam kegiatan bersenang-senang di laut yang indah dan kembali ke penginapan ketika malam tiba. – Oh, ya kesan ramah saya simpulkan dari harga aqua dan pop mie yang masih sama dengan harga alfamart.

                  Waktu yang singkat itu tentu saja meninggalkan kesan yang mendalam bagi hati dan pikiran tentang kenangan yang tak terlupakan. Tapi, saya lupa meninggalkan kesan yang menyenangkan bagi masyarakat setempat. Lupa menyisakan kegembiraan berarti sebagai sesama anak bangsa.

        Tersisa adalah lelah dan baju kotor.

****

 

img-20160918-wa0068

Menanti adzan maghrib di suatu sore, kawasan KLCC, Malaysia

One’s destination is never a place, but a new way of seeing things – Henry miller

Saya sedang menanti bus yang membawa saya kembali ke Kuala Lumpur di suatu siang yang terik ketika seorang wanita berambut pirang membuka percakapan tentang kota tempat kami berada saat ini – Malaka. Saya hanya menjawab biasa saja dan cenderung membosankan. Dia hanya tersenyum simpul. Menanyakan berapa lama saya sudah berada di kota ini.

“ Tak kurang dari 24 jam,” ucap saya.

Saya pun menanyakan hal serupa pada perempuan yang saya perkirakan berasal dari benua Eropa – saya harus dengar seksama ucapan bahasa Inggrisnya yang cepat. Saya cuma bengong mendengar jawabannya, ia sudah berada hampir sebulan di kota yang tenang ini.

Saya teringat pada Cristina, bule yang saya temui saat berada di salah satu daerah di Khaosan, Bangkok tahun lalu. Jika saya menghabiskan waktu dua hari, Cristina menghabiskan waktu dua minggu. Pun ketika dia mengunjungi Semarang beberapa bulan lalu. Ia banyak bercerita tentang budaya Jawa yang mengagumkan.

Bagi saya – dan mungkin kebanyakan orang, perjalanan adalah menemui beberapa tempat liburan yang menarik sembari mengabadikan dalam bidikan kamera. Menanti decakan penuh kekaguman saat berbagi cerita tentang kalau kaki kita habis melakukan perjalanan. Tak lebih. Tersisa hanya cerita penuh kebanggaan.

****

 

img-20160918-wa0073

Menjumpai acara pernikahan warga keturunan India di kawasan Batu Caves, Kuala Lumpur. Tadinya mo numpang makan percuma *eh

When you travel, remember that a foreign country is not designed to make you comfortable. It is designed to make its own people comfortable

–Cliffton Fadiman

 Suatu siang di tengah panasnya cuaca kota Padang, seorang teman bercerita tentang kejenuhannya melancong ke berbagai negara ; Roma, Belgia, Dubai, Sanghai, Singapura, dan Kuala Lumpur  – sesuatu yang membuat saya iri kepadanya.

Bersama saudara kembar saya, saya pun membahas perasaan jenuh teman tersebut. Ya, bagaimana tidak jenuh, jika ia mengikuti list-list yang sudah tertera dalam jangka waktu paling lama seminggu. Yang ada lelah. Begitu kembaran saya menanggapinya. Sebagai seorang pemimpi yang bisa menjelajahi dan menikmati ragam perkotaan di dunia, saya hanya manggut-manggut tak jelas.

Bagi saudara kembar saya, perjalanan yang menyenangkan adalah menikmati kehidupan masyarakat setempat dengan suasana santai yang pada akhirnya akan membawa kita pada rasa syukur. Bangun di pagi hari, menikmati aktivitas bagaimana orang-orang setempat memulai hari dan menikmati kesibukan jalanan dengan ragam streetfood. Begitu ia berkomentar.

Saya pun setuju dengan apa yang disampaikannya. Saya teringat pada tulisan di beberapa buku Agustinus Wibowo yang membuat saya beberapakali menarik napas dan berguman iri. Membayangkan bagaimana cara ia berbaur dengan masyarakat lokal – setahu saya Asia Tengah bukanlah tujuan wisata.

Menguak kemisteriusan negara berakhiran ‘Tan’, tentu perjalanan yang melelahkan tapi menyisakan kekayaan pikiran dan jiwa dalam diri Agustinus Wibowo–saya rasa. Dan, perjalanan Agustinus bukan dalam hitungan 3D2N untuk memperoleh kekayaan tersebut.

****

img_20160922_114555

Melangkah santai, Memaknai intisari dari langkah ini.

Bukan bermaksud menyudutkan gaya perjalanan singkat yang mampu menyinggahi beberapa destinasi – saya menyadari keterbatasan hari libur mungkin menjadi kendala, bagi saya konsep slow travel yang dijabarkan oleh Pitor adalah ada benarnya. Bahwa slow travel  sebentuk usaha untuk mengembalikan titik berat perjalanan pada kualitas dan dampak yang dibuatnya.

Saya menyadari bahwa lewat slow travel kita akan lebih memahami arti perjalanan itu sendiri sehingga menghadirkan diri kita yang baru dengan karakter yang lebih baik. Menjadikan suatu daerah sebagai sekolah dan masyarakat sebagai guru serta kita sebagai murid. Memberi sesuatu yang berarti bagi tempat yang kita kunjungi. Toh, dalam hidup ini yang terpenting adalah bagaimana bermanfaat bagi orang lain dan lingkungan, bukan?

Saya pun masih menyimpan impian untuk berada selama satu bulan di Timur Indonesia. Merasakan keramahan Indonesia lewat senyum manis masyarakat sana. Melihat Indonesia dari perspektif yang berbeda. Ya, semoga suatu hari nanti.

Mengutip kalimat bijak dari Filsafat Cina, Lao Tzu : ” When I let go of what I am, I become what I might be.” Slow travel adalah jawaban atas menemukan diri sendiri dan menyadari peran sebagai manusia itu sendiri. Tak lebih. (ekahei)

Iklan