Bulan: Oktober 2016

6 Pelajaran yang diperoleh dari Backpacking ke Luar Negeri

“When I let go of what I am , I become what I might be”– Lao Tzu

           

“Heran deh, ngapain ke luar negeri. Toh, Indonesia tak kalah kerennya. Lebih keren malah,” seloroh seorang teman saat tak sengaja menonton acara liputan seru jalan-jalan ke luar negeri di salah satu stasiun televisi swasta.

Saya menanggapi dengan senyum simpul. Terpaku pada layar televisi – berusaha mengabaikan kalimat teman tersebut. Saya mungkin bukan satu-satunya orang yang mendapatkan pernyataan yang sama. Pun di dunia sosial kerap dibahas tak perlu ke luar negeri jika di negara kita pun begitu mempesona.

Indonesia adalah surga keindahan alam yang tak terbantahkan. Saya tak bisa menampik hal tersebut, namun perjalanan bukan sekedar menjelajahi tiap jengkal bumi ini.

Mengutip kalimat bijak dari Henry Miller, “One’s destination is never a place, but a new way of seeing things,” bagi saya berusaha melakukan perjalanan ke luar negeri, setidaknya minimal satu kali dalam setahun, menyadarkan peran saya sebagai manusia dalam kehidupan.

13442342_10209200013538727_5173343686293616954_n

  1. Menaklukan rasa takut

Terlahir sebagai anak manja, saya tumbuh menjadi pribadi yang penuh ketakutan. Takut berbicara dengan orang asing dan takut mengambil resiko. Backpacking ke luar negeri tentu beresiko. Orang asing, tempat baru, suasana yang berbeda, dan bahasa yang terdengar aneh di telinga.

Ragam ketakutan menghantui saya ketika pertama kali menginjak kaki ke luar negeri. Mengobrol dengan masyarakat setempat pun saya tak berani. Namun pengalaman pertama itu menjadi pelajaran berharga bagi saya, bahwa tak ada yang perlu ditakutkan, pada dasarnya manusia adalah memiliki sisi yang baik.

Begitu juga dengan komunikasi, sejujurnya kemampuan bahasa Inggris saya standar kemampuan bahasa Inggris siswa sekolah dasar di kota besar seperti Jakarta. Namun, perjalanan keluar negeri menumbuh keberanian saya untuk mengasah kemampuan bahasa internasional tersebut.

 Tak saja menaklukan ketakutan dalam berbagai hal, saya belajar mengatasi perasaan egois dalam diri sendiri. Menyadari bahwa hidup bukan soal saya seorang. Tapi juga tentang orang-orang sekitar.

khaosan

Khaosan Road, Thailand

  1. Berdamai dengan keadaan

Saya berusaha memejamkan mata. Menyebut nama Tuhan dalam hati. Berusaha untuk tertidur. Mengabaikan kehebohan teman saya yang merasa terganggu dengan orang di sebelahnya yang mendengkur sangat keras. Saat itu kami lagi terjebak tertidur di bandara Kuala Lumpur international Airport 2 (KLIA 2) sebelum memulai perjalanan esok pagi.

     Hidup memang tak selalu menyenangkan seperti menikmati es kelapa muda di tengah teriknya matahari. Namun, akan lebih menyenangkan jika kita tak merusuhkan hal-hal yang tak menyenangkan tersebut.

Saat itu saya cuma berguman kepada teman saya. “Anggap saja kita sedang dininabobokan oleh suara dengkuran tersebut.”

Pun ketika kita terjebak dengan ragam peraturan dan budaya yang terasa tak menyenangkan bagi kita. Seperti saat di Shenzen, saya cuma menarik napas melihat kondisi toilet di sana. Saya teringat kalimat bijak dari ibu saya :” Dimana bumi dipijak disanalah langit dijunjung.” Perjalanan ke luar negeri mengajarkan saya untuk menerima kondisi apapun dengan perasaan santai.

krap

Santai sejenak di Aonang Beach, Krabi, Thailand

3. Lebih Menghargai Perbedaan

Saya teringat pelajaran PPKN zaman sekolah dasar dulu tentang sikap menghargai. Sayangnya, pemahaman hanya sebatas teori saat ujian tertulis kenaikan kelas. Lewat backpacking ke Luar negeri saya memahami arti sesungguhnya dari sikap menghargai tersebut.

Melangkahkan kaki ke luar negeri, melihat dunia yang lebih luas dan berbeda, dan bertemu orang-orang dengan ragam kulit dan karakter menyadari saya bahwa dunia ini menyenangkan. Meskipun awalnya, saya suka membandingkan dengan negara saya yang saya anggap lebih baik, pada akhirnya rasa itu mengikis perlahan-lahan. Sisi manusia sebagai makluk sosial menyadari peran saya sebagai masyarakat global ; Bahwa kita sama-sama makhluk Tuhan.

artis-dadakan

Jadi artis dadakan di OCT (Overseas Chinese Town ) East, Shenzen * banyak abege sana pada minta foto bareng :p

  1. Membentuk Pribadi yang Berkarakter

Menjadi backpacker bukan sekedar melakukan perjalanan dengan biaya seminimal mungkin dan berusaha berbaur dengan masyarakat lokal. Bagi saya lebih dari sekedar itu, dalam perjalanan kerapkali kita dihadapan dengan pilihan. Disinilah di asah jiwa kepekaan dalam mengambil keputusan dan bertanggung jawab pada pilihan tersebut.

     Tak sekedar mengasahkan kemandirian, backpacker juga mengasah pikiran untuk menjadi pribadi yang kreatif. Ketika menghadapi masalah-masalah yang ditemui dalam perjalanan mau tak mau menuntut kita untuk berpikir bukan menangis.

Saya teringat situasi dimana teman saya bermasalah dengan debitcard miliknya yang tak bisa digunakan dengan mesin ATM negara setempat. Padahal uang tersisa sangat menipis, sementara itu kami ingin melanjutkan perjalanan ke Singapura.

Saya pun mengambil keputusan untuk tak melanjutkan perjalanan yang beresiko dengan uang seadanya. Memberi saran untuk melanjutkan perjalanan ke Malaka. Menelusuri jejak sejarah perdagangan portugis di tempat tersebut. Sebuah keputusan yang tepat menurut saya saat itu.

malaka

  1. Belajar Mensyukuri Hidup

Kapal yang membawa saya menikmati keindahan laut Andaman terombang-ambing tak karuan. Beberapa kali ombak menghempas ke badan kapal. Air laut pun sempat membanjiri lantai kapal. Ragam ekspresi takut terpancar di wajah peserta tour termasuk saya.

Pengalaman mengerikan itu tak mungkin saya lupakan, tapi bukan berarti menjadi trauma tersendiri bagi saya. Saya bersyukur Tuhan masih menyelamatkan saat itu dan masih memberi saya kesempatan untuk menikmati keindahan alam lainnya. Masih banyak sudut bumi ini yang harus saya jelajahi. Pikir saya usai menikmati adrenalin melewati badai di tengah laut.

laut-andaman

Salah satu pulau di laut Andaman — lupa nama pulaunya apa 😦

Suatu siang dalam perjalanan ke Pattaya, saya bertemu dengan salah satu orang keturunan Indonesia namun berkewarganegaraan Thailand. Banyak hal yang ia ceritakan tentu saja tentang kehidupan. Diam-diam saya bersyukur pada kehidupan yang saya jalankan.

Pun ketika mendengar curahan hati seorang tour guide saat saya berada di Shenzen, China, ia memiliki keinginan untuk punya anak lebih dari satu. Sayangnya, peraturan negaranya tentu saja melarang hal tersebut, jika pun harus dilanggar ia harus membayar lebih mahal.

Diam –diam saya bersyukur terlahir menjadi Indonesia. Dalam perenungan di atas ribuan kaki permukaan laut, dari jendela pesawat saya menyelipkan rasa syukur terhadap garis kehidupan yang telah ditentukan oleh Tuhan pada saya. Perjalanan telah mengajarkan untuk tak banyak mengeluh pada hidup.

  1. Mendekatkan diri pada sang pencipta

Percayalah ada ragam emosi yang sulit kamu pahami ketika melakukan berbagai perjalanan ala backpacker ke berbagai negara. Perjalanan mengajarkan saya untuk lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta. Saya percaya bahwa dalam setiap langkah ini terwujud karena atas ijin-Nya.

krabi

    Bahagia itu sederhana, seperti keluarga India ini ; Mengelar tikar , menanti senja dan berbagi cerita. 🙂

     Mempertemukan saya dengan orang baik saat tersesat di Bangkok ketika mencari makanan halal, dan tak kalah menyenangkan ketika saya berjumpa dengan orang Indonesia yang secara tiba-tiba membayar makanan saya – setidaknya menghemat anggaran perjalanan saya. Saya percaya hal itu terjadi atas ijin Tuhan.****

Tulisan ini pernah dimuat di Phinemo dengan perubahan judul.

Iklan

Kuala Lumpur ; Putrajaya yang Panas, Putrajaya yang Mengagumkan

“Putrajaya nggak ada bagusnya sih. Biasa saja menurutku. Panas.” Cece pemilik guest house tempat dimana saya dan dua teman saya ; Silta dan Mara melepaskan penat berguman sesaat setelah mendengar perdebatan kecil kami bertiga tentang destinasi selanjutnya.

 “Aku dulu ngikut tour. 15 ringgit kalo tak salah. Mending sih ikut paket tournya aja…”

Sebelumnya kalimat itu terlontar dari perempuan asal Jakarta ini.  Cece menatap kami bertiga dengan ekspresi yang sulit dipahami. Saya menghela napas, melempar pandangan pada Mara yang sudah menyerah — memilih untuk kembali ke Jakarta.

mesjid-putra-jaya

Nama mesjid Putra diambil dari nama mantan Perdana Menteri Malaysia pertama, (Alm) Tunku Abdul Rahman Putra Al Haj, sebagai salah satu bentuk penghormatan rakyat dan pemerintahan Malaysia terhadap beliau.

Baiklah!

Perjalanan ini bukanlah perjalanan egois, ada langkah-langkah kaki lain yang mengikuti langkah saya. Tak ada renungan berarti, tak ada waktu sia-sia untuk sekedar bernapas sejenak mengambil jeda  dari kelelahan yang mampir. Saya pun mengalah tidak memaksa Mara untuk ke kawasan Putrajaya.

****

Tahun lalu, saya sempat diajak ke Putrajaya Square dengan rombongan tour umroh yang pernah saya ikuti. Sempat merasakan sholat zuhur di tempat ini, kawasan mesjid Putra memberi kesan tersendiri bagi saya. Ya, saat itu, seperti biasa ikut dalam rombongan tour selalu di desak soal waktu yang terburu-buru. Dan, saat itu saya pun bertekad suatu hari bisa kembali mampir di tempat ini.

Inilah menjadi alasan saya kenapa harus mampir ke Putrajaya meskipun saya buta dengan arah dan transportasi serta tempat seperti apa sebenarnya kawasan ini. Mengabaikan kelelahan di wajah teman saya, Silta, saya pun mengajaknya menaiki KLIA Ekspress (padahal sisa ringgit sudah menipis 😦 ) menuju stasiun Putrajaya. Kami sempat kebingungan, pusing-pusing tak jelas kemana langkah selanjutnya.

” Bagaimana menuju mesjid Putrajaya?”

Pertanyaan saya pun membuat beberapa orang di stasiun Putrajaya yang saya tanyakan mengeryit dahi bingung — Dan, beberapa saat kemudian setelah mutar-mutar di kawasan tersebut saya pun tersadar pada pertanyaan yang membingungkan tersebut. Ternyata yang saya maksud sama masyarakat setempat disebut mesjid Putra.

puta-jaya

Bus Putrajaya Sightseeing tour ; peserta tour tak menyiakan kesempatan yang diberi uncle untuk mengabadikan moment dalam bidikan kamera.

Kelelahan membuat kami tersesat pada jalan yang benar ( Ya kali ka… tersesat di jalan yang benar 😀 ). Ya, kami menemukan tempat mangkal bis. Segerombolan turis sedang mengerumuni seorang uncle. Saya pun menghampiri uncle tersebut. Ternyata ia sedang menawarkan Putrajaya sightseeing tour.

Tanpa pikir panjang saya pun turut serta ikut paket tour yang menghabiskan waktu sekitar dua jam dengan harga 20 Ringgit atau sekitar enam puluhan ribu lebih rupiah yang ditawarkan uncle tersebut.

Putrajaya Sightsseeing tour ; Mengenal lebih jauh kawasan pusat administrasi pemerintahan Malaysia

Mesjid Putra yang saya kunjungi setahun silam adalah merupakan kawasan Putrajaya Square. Mengabungan arsitektur tempo dulu yang dipadu dengan kemodernan bangunan mesjid ini menawarkan keindahan yang tak terbantahkan. Terletak dipinggirkan danau, mesjid Putra memiliki puncak menara yang menjulang tinggi. Menakjubkan! Sesekali cobalah sholat di mesjid ini.  Oh, ya kawasan ini juga terdapat komplek tempat tinggal perdana menteri Malaysia.

jubah

Perbedaan keyakinan tak menyurut hati untuk bisa menikmati keindahan bangunan mesjid. Bagi mereka yang tidak menggunakan hijab atau pakaian pendek  dipinjamkan jubah percuma. Inilah hidup yang menyenangkan ; saling menghargai 🙂

Yup, Putrajaya merupakan pusat administrasi pemerintahan negara Malaysia. Begitu uncle yang ternyata sopir bus Putrajaya Sightseeing tour menjelaskan secara singkat. Baru diresmikan sekitar tahun 1995 lalu, kawasan ini ditata begitu apik dengan ragam bangunan menakjubkan bertujuan mengatasi kepadatan Kuala Lumpur. Tak heran terlihat beberapa bangunan pemerintahan saat bus kami melaju dengan kecepatan santai.

bukan-harry-potter

Bukan Hogwarts School ; jadi jangan harap bisa bertemu si manis Ronald Weasley. Heh, Pak cieknya cukup ganteng lho! 😀

Dari mulai Jembatan yang melintasi danau cukup luas ; Jembatan Seri perdana dan Jembatan putra, serta beberapa gedung pusat pemerintahan seperti kehakiman, putrajaya Ministry of finance dan lain sebagainya membuat mata saya pun terpana pada arsitektur megah khas ala Eropa dan jalanan yang cukup luas.

pemandangan

salah satu sudut kawasan Putrajaya dari seberang Putrajaya Convention Centre (PCC)

Mengikut paket tour Putrajaya Sightseeing adalah pilihan yang tepat bagi saya. Melintasi kawasan Putrajaya seperti Dataran kemerdekaan Putrajaya, Mesjid Putra, Putrajaya Convention Centre (PCC), dan beberapa gedung pemerintahan. Menyenangkan !

Menghabiskan waktu sekitar dua jam, berhenti di spot-spot tertentu yang menarik untuk di foto, uncle  memberi jeda waktu  dan kesempatan untuk kami mengambil foto. Oh, ya bus ini beroperasi sampai pukul 03.00 p.m.

PutraJaya ; Biasa saja, tapi mengagumkan !  

” Wajar cece itu bilang biasa saja, lah dia udah pernah ke sini !” seloroh saya ditengah panasnya cuaca Putrajaya. “Tapi bagi yang belum pernah, ini adalah tempat yang harus dikunjungi.”

Sebagai orang yang menghabiskan masa kecil di pelosok daerah transmigrasi Jambi, melihat bangunan-bangunan yang ada di kawasan Putrajaya adalah kemewahan tersendiri bagi saya.

kehakiman

Bukannya takut debu sih sebenarnya, tapi Yoona nya takut hitam makanya pake masker :p

Silta tertawa pelan. Ia beberapa kali berkomentar mengenai foto yang diambilnya jadi gelap karena cahaya matahari yang lagi semangatnya. Padahal banyak spot menarik untuk berpose diantara ragam bangunan yang mengagumkan tersebut.

Dari jendela kaca bus, saya melempar pandangan ke danau yang cukup luas. Menikmati pemandangan pada beberapa bangunan dan taman yang terlihat asri. Di tengah teriknya matahari dan keringat yang mengucur di dahi, pikiran saya sempat mengkhayal.

Sungguh menyenangkan melintasi pinggiran danau di sore menjelang senja. Bersepeda santai bersama seorang sahabat hati yang entah dimana keberadaannya. Ah, Yoona terlalu merindukan moment tersebut!

jembatan

Ada yang lagi ngikuti K-Drama ”On the way to the airport” salah satu pemandangan ya ini : Jembatan Seri perdana. Oh, ya pengemar AA boleh lho nonton episode ! *kode airport aja sih.

🙂

Niat Hati PPJ Malah Berpusing Ria di Kuala Lumpur

*PPJ — Para pencari Jodoh

Suatu hari yang tak biasa, seorang teman bernama Mara, yang sudah saya kenal sejak belasan tahun walaupun perteman kami harus terpisahkan pulau, tiba-tiba mengajak melakukan perjalanan ke Kuala Lumpur.

” Backpackeran salah satu ikhtiar cari jodoh ka…”

Begitu alasannya. Ya kami memang sedang memasuki usia dimana teror tentang jodoh dan harapan untuk memiliki sahabat hati menjadi konsumsi obrolan tiap hari. Sebenarnya agak sangsi juga sih ngajak teman dekat. Saya biasanya melakukan jalan kaki, berjalan santai melintasi sudut perkotaan, tersesat tak tentu arah tanpa dipusingkan perasaan khawatir menengang perasaan orang lain. eda, Saudara kembar saya pun mempertanyakan pertimbangan saya melakukan perjalanan dengan teman — biasanya sendiri atau sesama komunitas.

KL benar-benar akan buat pusing dan melelahkan lho! kira-kira seperti itu kalimat yang pernah terlontar dari mulut eda yang punya pengalaman menjelajahi KL. Saya pun mengabaikan perasaan ragu ini. Dan dengan keberanian saya mengajak salah satu teman SMA saya yang ingin merasakan liburan ke Luar Negeri. Saya wanti-wanti, meskipun ini kali ketiga saya ke Kuala Lumpur, jujur ini pertama kalinya bagi saya menjelajahi kota Kuala Lumpur. Jadi kita tak apelah pusing-pusing nantinya!– tentu hal ini dalam arti sebenarnya dalam bahasa ibu pertiwi.

Maka perjalanan di mulai di Minggu pagi setelah semalaman tidur di KLIA 2. Mara yang besar dan tinggal di Jakarta, sempat ngoceh tak jelas karena merasa terganggu dengan dengkuran orang yang tidur tak jauh dari dia. Saya sempat menghibur dia ditengah rasa lelah setelah diajak main ‘kereta-keretaan’ mengeliling KLIA2 ” Anggap aja lagi dininabobokan mara….”

Maka pagi ini, saya berinisiatif mengunjungi Batu Caves —  sebenarnya bagi saya tak terlalu menarik di Batu Caves. Tapi, karena ini tempat tujuan kebanyakan turis, rasanya kurang afdol kalau ke Kuala lumpur tak mengunjungi tempat ini. Beruntung, kami berkenalan dengan Mbak Ratna, backpacker asal Jakarta yang sama penerbangan dengan Mara ; Mara bilang mbak Ratna adalah orang yang dikirim Allah untuk membantu di tengah kebingungan dia dengan KLIA2.

Berkat Mbak Ratna, saya — kami pun tak perlu berpusing soal transportasi. Sebagai orang yang sudah malah melintang di dunia backpackeran, mbak Ratna yang memberi saran dan antri membeli tiket PP ke batu caves dengan commuterline.

img-20160918-wa0074

Senyum adalah senjata ampuh dalam memulai perjalanan yang mengembirakan — ekahei

Tips : Bawa kain sarung jika ada niat bermalaman di KLIA2

Menjumpai Pernikahan di Batu Caves

 “Ih, ada pernikahan. Gue mo foto…!” seru Mbak Ratna riang. Saya celingak-celinguk. Sesuatu menarik perhatian kami, sebuah pernikahan sederhana sedang di helat sesaat kami memasuki kawasan wisata Batu Caves. Sempat terpikir untuk menyelundup sebagai tamu sekedar menikmati hidangan gratis. Maklum secara dari wajah dan warna kulit, sebelas dua belas lah dengan Kajol. Sayangnya saya lagi puasa 😦

Percayalah, ini pernikahan yang sederhana yang pernah saya lihat. Maka lupakan tarian menyenangkan seperti film Bollywood. Yang ada alunan musik tenang.

Bagi saya batu Caves menawarkan harmonisasi sebuah kehidupan yang tenang dan bersih ditengah cuaca panas. Beberapa monyet yang berkeliaran bebas dan burung-burung yang beterbang dengan bebas termasuk mengeluarkan kotoran begitu saja, sementara beberapa ragam orang dengan keriangan masing-masing.

Inilah kehidupan masyarakat sesungguhnya. Batin saya ketika mata menangkap pemandangan yang menarik. Saat itu batu caves lagi ada renovasi penambahan anak tangga menuju gua. Beberapa wisatawan diminta tolong membawa ember yang berisi tanah ke atas. Saya melihat jiwa gotong royong  disana sementara di lingkungan saya sudah memudar.

img-20160918-wa0073

Pernikahan multikultural yang sederhana dan penuh kegembiraan.

Tips : Hati-hati dengan makanan yang dibawa dengan tangan terbuka jika tak ada niat untuk membaginya pada monyet yang ada disana.

Berburu Milo di Central Market

Tadinya saya mau mengajak dua teman saya ke kawasan Putra Jaya. Melihat kelelahan ditubuh mereka, saya pun mengurungkan niat. Membiarkan mereka sejenak terlelap. Merasakan empuknya kasur hostel setelah semalam terjebak di dinginnya ubin Musholla KLIA2.

Kehebohan Mara soal oleh-oleh dan Milo, pada akhirnya membawa langkah saya ke Central Market, pusat oleh-oleh. Mengeliling pertokoan dengan ragam souvenir. Sebagai orang yang tidak suka membeli oleh-oleh, saya lebih banyak mengamati transaksi jual beli.

” Mara mo beli Milo….!”

Ya beli lah…. borong sekalipun tak ape. batin saya. Maka dicarilah harga yang sesuai dengan saku dan keinginan. Tawar menawar pun terjadi.  Milo isi 18 percuma tiga pun dibeli dengan Harga 17 RM.

img-20160918-wa0047

Milo di dapat, senyum pun terukir

Tips : Tawarlah semampunya. Saran saya, berbelanja Milo atau coklat mending di KL Sentral atau di Jaya Grocer yang ada di KLIA2. Lebih murah!

Riweh di Bukit Bintang

“Mara, itu bus percuma menuju KLCC !” seru saya ditengah ramainya kawasan Bukit Bintang. Alasan saya memilih bukit bintang saat itu adalah ingin membeli sandal di Vincci, sebab sendal yang saya kenakan putus tiba-tiba.

Reflek Mara berlari mengejar bus sambil melambaikan tangan. Begonya adalah, dengan kondisi sendal putus saya pun melepaskan satu sendal dan ikut berlari mengikuti Mara , pun dengan Silta. Kami bertiga berlari berurutan sambil berteriak :“mas-mas tungguin kita dong….” *okeh bagian teriak itu tentu cuma dalam hati (mungkin) — dan serius saya tak bisa membayangkan adegan ini.

Bus sempat berhenti di lampu merah, namun tak ada tanda-tanda membuka pintu. Saya terdiam sejenak. Menatap dengan tampang cengo’ ke arah Mara sambil mengeleng kepala. Memaksa memasang kembali sandal yang putus.

” Ya kali Mar, disangka kayak Jakarta!” dengus saya seraya berbalik arah.  transportasi publik bisa di stop semberangan tempat. Saya pun kembali menelusuri kawasan bukit bintang.

“Mana Mara tahu. Lo sih nggak ngasih tahu,” dengan logat betawinya, perempuan berjilbab lebar ini pun ngedumel nggak jelas.

Sementara Silta masih tenang mengikuti kami dari belakang. Sore itu Bukit Bintang benar-benar padat ditengah lalu lalang kendaraan dan orang-orang yang berjalan. Melihat pemandangan ini, tentu makin membuat mood Mara nggak ngenaki banget, yang sehari-hari disuguhi pemandangan serupa di kawasan kuningan Jakarta — maklum kantornya di daerah tersebut.

Saya melangkah santai ke arah kerumunan orang-orang yang menunggu bus GO KL. Jauh di dasar hati saya, sedang berkomat-kamit semoga tak ada yang menvideokan adegan kami lari-lari tadi mengejar bus. batin saya. Sungguh, Yoona tak sanggup jadi orang terkenal!

” Untung nggak ada yang kenal gini…”

Entah siapa yang berujar, saya menghela napas.

img-20160918-wa0041

Suatu Sore di Kawasan Bukit Bintang

Tips naik GO KL : Hati-hatilah terhadap pelecehan seksual ketika bis dalam kondisi padat. Pilihlah posisi di pintu tengah, di dekat kaum hawa banyak berdiri.  Ini tak saja berlaku ketika naik bus GO KL tapi juga public transportasi lainnya.

****

Menikmat sore di KLCC

Saya sengaja mengajak dua teman saya ke area bagian belakang Suriah. Menelusuri taman yang tenang seraya menanti air mancur. Ini kali kedua saya menginjak Mall Suriah — kunjungi pertama saya cuma sekedar menumpang sholat ashar dan tak lebih dari sekedar itu.

Maka tak banyak yang saya tahu tentang kawasan ini. Mereka mengikuti langkah kaki saya — entah mungkin dalam hati bete juga diajak jalan kaki mulu. Maka maafkan Yoona, Chingu’….!

img-20160918-wa0004

Kaki-kaki yang (tak) lelah berjalan demi mengukir senang

Menikmati sore adalah pilihan tepat di taman ini. Mengamati lalu lalang orang-orang dengan berbagai aktivitas. Saya menghirup udara di pengujung sore — tak ada bedanya dengan udara di Padang. Ya iyalah ka…!

Diiringi sholawat segerombol pria yang duduk di belakang kami, saya dan dua teman yang kelelahan ini tetap tersenyum manis melakukan beberapa aksi di depan kamera.

Di belakang menjulang tinggi menara kembar, perlahan saat langit mulai gelap lampu pun berpejar satu persatu. Saya pun beranjak, seraya meneguk air mineral. Mengajak mereka untuk menikmati air mancur menari tepat di bagian halaman belakang Mall Suriah. Mengabaikan keindahan menara kembar petronas yang mempesona.

Makin malam, tempat ini mengiurkan… untuk sekedar menikmati segelas kopi seraya mengamati tarian air mancur nan penuh warna. Sayang tak ada segelas kopi… yang tersisa adalah rasa lapar dan lelah.

img-20160918-wa0039

Cantik…. airnya 🙂

Tips : Jangan banyak ngayal di sini. Serius tempatnya bikin ngayal romantis ala adegan K-Drama.

Sholat Idul Adha di Mesjid Jamek dan Narsis di Dataran Merdeka

” Bagaimana rasanya idul adha di sana ka?”

Tanya supir travel yang menjemput saya dari Bandara Internasional Minangkabau. Saya mengangkat bahu, seraya tersenyum. Tak ada kesan apapun selain biasa saja. Saya pikir akan ada ‘penyembelihan sapi’ lazimnya di tanah air. Ternyata tidak, yang tersisa adalah sepi ditengah ramainya teriakan dari perut yang minta makan.

img-20160918-wa0022

Masha Allah…. dek punya abang yang udah usia 25++ nggak yang butuh sahabat hati? *eh

Menelusuri kawasan mesjid jamek,tak ada sekali pun toko makanan terlihat buka. Tadinya saya berharap ada pembagian makanan gratis selepas sholat di gerbang depan, sayangnya hujan sedang yang menyambut kami usai  sholat. Mengabaikan ocehan Mara yang heboh soal segera ‘batal puasa’, saya terus berjalan. Hingga bertemu gedung bertulisan Mud, sejenis GKJ mungkin. Di depannya terhampar jalan raya lebar, dan di seberangnya dataran merdeka.

Saya memencet sesuatu di balik tonggak lampu lalu lintas. Memberi tanda bahwa akan menyemberang. Mara sempat cengo’, ” Ih, kayak di monas.”

— Ya kali, di kokas juga ada tahu….! seru saya seraya berjalan tenang melintas jalan raya.

Dan, secara jujur saya terganggu dengan ocehan Mara yang masihhh pusing soal makanan. Padahal, menelusuri kawasan dataran Merdeka dengan berpose cantik memberi sensasi pamer yang beda nantinya di sosial media.

Ya sudahlah, mara … mari melipir ke sevel. Beli roti yang tak sampai 1 RM.

Tips : Jangan lupa persiapkan sehari sebelumnya bekal makanan untuk penganjal perut. Ya, minimal malkist roma lah yang dibawa dari tanah air.

 Pusing-pusing dengan bus percuma ; GO KL

” Mara nggak mau lagi ke KL,” sahut mara ditengah menikmati burger Mcd di KL Sentral. Saya meringis menyimpan rasa bersalah tak bisa menghadirkan liburan yang menyenangkan baginya. ” Kapok Mara.”

Saya melirik ke Silta. Mempertanyakan apakah ia merasakan hal yang sama. Silta hanya tersenyum. Dia bilang, ke depan lebih baik melakukan perjalanan salah satunya harus ada cowok dalam rombongan sekedar menjaga. Tentu hal ini bertolak dari gaya perjalanan saya yang lebih mengandalkan diri sendiri dan Tuhan. Saya pun manggut-manggut.

Menghabiskan sisa waktu sebelum mengantar Mara ke bus yang membawanya ke KLIA, saya pun mengajak mereka sekedar keliling tak jelas dengan bus GO KL. Menelusuri jalanan Kuala Lumpur tak tentu arah.

img-20160918-wa00201

Main Kereta-keretaan pusing-pusing KLIA 2

Tips : Jangan sampai kelelahan dan kelaparan. Dibutuhkan kesehatan dan senyum indah menelusuri perjalanan ini.

Niat yang Terlupakan

” Ka PPJ di Indonesia aja yuk ka…”

Suatu malam yang tenang, tiba-tiba Mara mengirim pesan whatsapp. Saya pun tersenyum membaca pesannya. Tertawa geli… sejujurnya, tak pernah kepikir untuk mencari jodoh sampai ke luar negeri. Hahahah, Toh, pada akhirnya ia akan datang dengan sendirinya. Begitulah saya menyakini hati ini.

” Mara malas kalo ke KL lagi.”

img-20160918-wa00261

AKU CINTA INDONESIA…. tentunya 🙂

Ya, mara…. dan saya kapok tidak mempersiapkan perjalanan yang menyesuaikan karakter siapa yang saya ajak. Pada akhirnya, perjalanan melelah ini tetap saja menyisakan pelajaran berarti bagi saya ; bahwa jangan sampai melupakan tujuan awal yang telah direncanakan. PPJ *eh

Ya kita terlalu banyak nonton inpotainment yang ngarap kisah romansa dengan pangeran. Pada akhirnya…. ada ragam keindahan alam dengan karakter para pria yang mengagumkan di tanah air sendiri.

” Ke Anambas yuk Mara…. siapa tahu dapat orang melayu!”

” Anambas dimana ka.”

” Tanyaaaaa google nggih… sekalian lihat foto-fotonya. Mimpi eka dari 2011 itu Mara….!”

****

  • PPJ adalah istilah Mara , singkatan dari : Para pencari jodoh, merujuk pada serial PPT — Para pencari Tuhan 🙂