Niat Hati PPJ Malah Berpusing Ria di Kuala Lumpur

*PPJ — Para pencari Jodoh

Suatu hari yang tak biasa, seorang teman bernama Mara, yang sudah saya kenal sejak belasan tahun walaupun perteman kami harus terpisahkan pulau, tiba-tiba mengajak melakukan perjalanan ke Kuala Lumpur.

” Backpackeran salah satu ikhtiar cari jodoh ka…”

Begitu alasannya. Ya kami memang sedang memasuki usia dimana teror tentang jodoh dan harapan untuk memiliki sahabat hati menjadi konsumsi obrolan tiap hari. Sebenarnya agak sangsi juga sih ngajak teman dekat. Saya biasanya melakukan jalan kaki, berjalan santai melintasi sudut perkotaan, tersesat tak tentu arah tanpa dipusingkan perasaan khawatir menengang perasaan orang lain. eda, Saudara kembar saya pun mempertanyakan pertimbangan saya melakukan perjalanan dengan teman — biasanya sendiri atau sesama komunitas.

KL benar-benar akan buat pusing dan melelahkan lho! kira-kira seperti itu kalimat yang pernah terlontar dari mulut eda yang punya pengalaman menjelajahi KL. Saya pun mengabaikan perasaan ragu ini. Dan dengan keberanian saya mengajak salah satu teman SMA saya yang ingin merasakan liburan ke Luar Negeri. Saya wanti-wanti, meskipun ini kali ketiga saya ke Kuala Lumpur, jujur ini pertama kalinya bagi saya menjelajahi kota Kuala Lumpur. Jadi kita tak apelah pusing-pusing nantinya!– tentu hal ini dalam arti sebenarnya dalam bahasa ibu pertiwi.

Maka perjalanan di mulai di Minggu pagi setelah semalaman tidur di KLIA 2. Mara yang besar dan tinggal di Jakarta, sempat ngoceh tak jelas karena merasa terganggu dengan dengkuran orang yang tidur tak jauh dari dia. Saya sempat menghibur dia ditengah rasa lelah setelah diajak main ‘kereta-keretaan’ mengeliling KLIA2 ” Anggap aja lagi dininabobokan mara….”

Maka pagi ini, saya berinisiatif mengunjungi Batu Caves —  sebenarnya bagi saya tak terlalu menarik di Batu Caves. Tapi, karena ini tempat tujuan kebanyakan turis, rasanya kurang afdol kalau ke Kuala lumpur tak mengunjungi tempat ini. Beruntung, kami berkenalan dengan Mbak Ratna, backpacker asal Jakarta yang sama penerbangan dengan Mara ; Mara bilang mbak Ratna adalah orang yang dikirim Allah untuk membantu di tengah kebingungan dia dengan KLIA2.

Berkat Mbak Ratna, saya — kami pun tak perlu berpusing soal transportasi. Sebagai orang yang sudah malah melintang di dunia backpackeran, mbak Ratna yang memberi saran dan antri membeli tiket PP ke batu caves dengan commuterline.

img-20160918-wa0074

Senyum adalah senjata ampuh dalam memulai perjalanan yang mengembirakan — ekahei

Tips : Bawa kain sarung jika ada niat bermalaman di KLIA2

Menjumpai Pernikahan di Batu Caves

 “Ih, ada pernikahan. Gue mo foto…!” seru Mbak Ratna riang. Saya celingak-celinguk. Sesuatu menarik perhatian kami, sebuah pernikahan sederhana sedang di helat sesaat kami memasuki kawasan wisata Batu Caves. Sempat terpikir untuk menyelundup sebagai tamu sekedar menikmati hidangan gratis. Maklum secara dari wajah dan warna kulit, sebelas dua belas lah dengan Kajol. Sayangnya saya lagi puasa 😦

Percayalah, ini pernikahan yang sederhana yang pernah saya lihat. Maka lupakan tarian menyenangkan seperti film Bollywood. Yang ada alunan musik tenang.

Bagi saya batu Caves menawarkan harmonisasi sebuah kehidupan yang tenang dan bersih ditengah cuaca panas. Beberapa monyet yang berkeliaran bebas dan burung-burung yang beterbang dengan bebas termasuk mengeluarkan kotoran begitu saja, sementara beberapa ragam orang dengan keriangan masing-masing.

Inilah kehidupan masyarakat sesungguhnya. Batin saya ketika mata menangkap pemandangan yang menarik. Saat itu batu caves lagi ada renovasi penambahan anak tangga menuju gua. Beberapa wisatawan diminta tolong membawa ember yang berisi tanah ke atas. Saya melihat jiwa gotong royong  disana sementara di lingkungan saya sudah memudar.

img-20160918-wa0073

Pernikahan multikultural yang sederhana dan penuh kegembiraan.

Tips : Hati-hati dengan makanan yang dibawa dengan tangan terbuka jika tak ada niat untuk membaginya pada monyet yang ada disana.

Berburu Milo di Central Market

Tadinya saya mau mengajak dua teman saya ke kawasan Putra Jaya. Melihat kelelahan ditubuh mereka, saya pun mengurungkan niat. Membiarkan mereka sejenak terlelap. Merasakan empuknya kasur hostel setelah semalam terjebak di dinginnya ubin Musholla KLIA2.

Kehebohan Mara soal oleh-oleh dan Milo, pada akhirnya membawa langkah saya ke Central Market, pusat oleh-oleh. Mengeliling pertokoan dengan ragam souvenir. Sebagai orang yang tidak suka membeli oleh-oleh, saya lebih banyak mengamati transaksi jual beli.

” Mara mo beli Milo….!”

Ya beli lah…. borong sekalipun tak ape. batin saya. Maka dicarilah harga yang sesuai dengan saku dan keinginan. Tawar menawar pun terjadi.  Milo isi 18 percuma tiga pun dibeli dengan Harga 17 RM.

img-20160918-wa0047

Milo di dapat, senyum pun terukir

Tips : Tawarlah semampunya. Saran saya, berbelanja Milo atau coklat mending di KL Sentral atau di Jaya Grocer yang ada di KLIA2. Lebih murah!

Riweh di Bukit Bintang

“Mara, itu bus percuma menuju KLCC !” seru saya ditengah ramainya kawasan Bukit Bintang. Alasan saya memilih bukit bintang saat itu adalah ingin membeli sandal di Vincci, sebab sendal yang saya kenakan putus tiba-tiba.

Reflek Mara berlari mengejar bus sambil melambaikan tangan. Begonya adalah, dengan kondisi sendal putus saya pun melepaskan satu sendal dan ikut berlari mengikuti Mara , pun dengan Silta. Kami bertiga berlari berurutan sambil berteriak :“mas-mas tungguin kita dong….” *okeh bagian teriak itu tentu cuma dalam hati (mungkin) — dan serius saya tak bisa membayangkan adegan ini.

Bus sempat berhenti di lampu merah, namun tak ada tanda-tanda membuka pintu. Saya terdiam sejenak. Menatap dengan tampang cengo’ ke arah Mara sambil mengeleng kepala. Memaksa memasang kembali sandal yang putus.

” Ya kali Mar, disangka kayak Jakarta!” dengus saya seraya berbalik arah.  transportasi publik bisa di stop semberangan tempat. Saya pun kembali menelusuri kawasan bukit bintang.

“Mana Mara tahu. Lo sih nggak ngasih tahu,” dengan logat betawinya, perempuan berjilbab lebar ini pun ngedumel nggak jelas.

Sementara Silta masih tenang mengikuti kami dari belakang. Sore itu Bukit Bintang benar-benar padat ditengah lalu lalang kendaraan dan orang-orang yang berjalan. Melihat pemandangan ini, tentu makin membuat mood Mara nggak ngenaki banget, yang sehari-hari disuguhi pemandangan serupa di kawasan kuningan Jakarta — maklum kantornya di daerah tersebut.

Saya melangkah santai ke arah kerumunan orang-orang yang menunggu bus GO KL. Jauh di dasar hati saya, sedang berkomat-kamit semoga tak ada yang menvideokan adegan kami lari-lari tadi mengejar bus. batin saya. Sungguh, Yoona tak sanggup jadi orang terkenal!

” Untung nggak ada yang kenal gini…”

Entah siapa yang berujar, saya menghela napas.

img-20160918-wa0041

Suatu Sore di Kawasan Bukit Bintang

Tips naik GO KL : Hati-hatilah terhadap pelecehan seksual ketika bis dalam kondisi padat. Pilihlah posisi di pintu tengah, di dekat kaum hawa banyak berdiri.  Ini tak saja berlaku ketika naik bus GO KL tapi juga public transportasi lainnya.

****

Menikmat sore di KLCC

Saya sengaja mengajak dua teman saya ke area bagian belakang Suriah. Menelusuri taman yang tenang seraya menanti air mancur. Ini kali kedua saya menginjak Mall Suriah — kunjungi pertama saya cuma sekedar menumpang sholat ashar dan tak lebih dari sekedar itu.

Maka tak banyak yang saya tahu tentang kawasan ini. Mereka mengikuti langkah kaki saya — entah mungkin dalam hati bete juga diajak jalan kaki mulu. Maka maafkan Yoona, Chingu’….!

img-20160918-wa0004

Kaki-kaki yang (tak) lelah berjalan demi mengukir senang

Menikmati sore adalah pilihan tepat di taman ini. Mengamati lalu lalang orang-orang dengan berbagai aktivitas. Saya menghirup udara di pengujung sore — tak ada bedanya dengan udara di Padang. Ya iyalah ka…!

Diiringi sholawat segerombol pria yang duduk di belakang kami, saya dan dua teman yang kelelahan ini tetap tersenyum manis melakukan beberapa aksi di depan kamera.

Di belakang menjulang tinggi menara kembar, perlahan saat langit mulai gelap lampu pun berpejar satu persatu. Saya pun beranjak, seraya meneguk air mineral. Mengajak mereka untuk menikmati air mancur menari tepat di bagian halaman belakang Mall Suriah. Mengabaikan keindahan menara kembar petronas yang mempesona.

Makin malam, tempat ini mengiurkan… untuk sekedar menikmati segelas kopi seraya mengamati tarian air mancur nan penuh warna. Sayang tak ada segelas kopi… yang tersisa adalah rasa lapar dan lelah.

img-20160918-wa0039

Cantik…. airnya 🙂

Tips : Jangan banyak ngayal di sini. Serius tempatnya bikin ngayal romantis ala adegan K-Drama.

Sholat Idul Adha di Mesjid Jamek dan Narsis di Dataran Merdeka

” Bagaimana rasanya idul adha di sana ka?”

Tanya supir travel yang menjemput saya dari Bandara Internasional Minangkabau. Saya mengangkat bahu, seraya tersenyum. Tak ada kesan apapun selain biasa saja. Saya pikir akan ada ‘penyembelihan sapi’ lazimnya di tanah air. Ternyata tidak, yang tersisa adalah sepi ditengah ramainya teriakan dari perut yang minta makan.

img-20160918-wa0022

Masha Allah…. dek punya abang yang udah usia 25++ nggak yang butuh sahabat hati? *eh

Menelusuri kawasan mesjid jamek,tak ada sekali pun toko makanan terlihat buka. Tadinya saya berharap ada pembagian makanan gratis selepas sholat di gerbang depan, sayangnya hujan sedang yang menyambut kami usai  sholat. Mengabaikan ocehan Mara yang heboh soal segera ‘batal puasa’, saya terus berjalan. Hingga bertemu gedung bertulisan Mud, sejenis GKJ mungkin. Di depannya terhampar jalan raya lebar, dan di seberangnya dataran merdeka.

Saya memencet sesuatu di balik tonggak lampu lalu lintas. Memberi tanda bahwa akan menyemberang. Mara sempat cengo’, ” Ih, kayak di monas.”

— Ya kali, di kokas juga ada tahu….! seru saya seraya berjalan tenang melintas jalan raya.

Dan, secara jujur saya terganggu dengan ocehan Mara yang masihhh pusing soal makanan. Padahal, menelusuri kawasan dataran Merdeka dengan berpose cantik memberi sensasi pamer yang beda nantinya di sosial media.

Ya sudahlah, mara … mari melipir ke sevel. Beli roti yang tak sampai 1 RM.

Tips : Jangan lupa persiapkan sehari sebelumnya bekal makanan untuk penganjal perut. Ya, minimal malkist roma lah yang dibawa dari tanah air.

 Pusing-pusing dengan bus percuma ; GO KL

” Mara nggak mau lagi ke KL,” sahut mara ditengah menikmati burger Mcd di KL Sentral. Saya meringis menyimpan rasa bersalah tak bisa menghadirkan liburan yang menyenangkan baginya. ” Kapok Mara.”

Saya melirik ke Silta. Mempertanyakan apakah ia merasakan hal yang sama. Silta hanya tersenyum. Dia bilang, ke depan lebih baik melakukan perjalanan salah satunya harus ada cowok dalam rombongan sekedar menjaga. Tentu hal ini bertolak dari gaya perjalanan saya yang lebih mengandalkan diri sendiri dan Tuhan. Saya pun manggut-manggut.

Menghabiskan sisa waktu sebelum mengantar Mara ke bus yang membawanya ke KLIA, saya pun mengajak mereka sekedar keliling tak jelas dengan bus GO KL. Menelusuri jalanan Kuala Lumpur tak tentu arah.

img-20160918-wa00201

Main Kereta-keretaan pusing-pusing KLIA 2

Tips : Jangan sampai kelelahan dan kelaparan. Dibutuhkan kesehatan dan senyum indah menelusuri perjalanan ini.

Niat yang Terlupakan

” Ka PPJ di Indonesia aja yuk ka…”

Suatu malam yang tenang, tiba-tiba Mara mengirim pesan whatsapp. Saya pun tersenyum membaca pesannya. Tertawa geli… sejujurnya, tak pernah kepikir untuk mencari jodoh sampai ke luar negeri. Hahahah, Toh, pada akhirnya ia akan datang dengan sendirinya. Begitulah saya menyakini hati ini.

” Mara malas kalo ke KL lagi.”

img-20160918-wa00261

AKU CINTA INDONESIA…. tentunya 🙂

Ya, mara…. dan saya kapok tidak mempersiapkan perjalanan yang menyesuaikan karakter siapa yang saya ajak. Pada akhirnya, perjalanan melelah ini tetap saja menyisakan pelajaran berarti bagi saya ; bahwa jangan sampai melupakan tujuan awal yang telah direncanakan. PPJ *eh

Ya kita terlalu banyak nonton inpotainment yang ngarap kisah romansa dengan pangeran. Pada akhirnya…. ada ragam keindahan alam dengan karakter para pria yang mengagumkan di tanah air sendiri.

” Ke Anambas yuk Mara…. siapa tahu dapat orang melayu!”

” Anambas dimana ka.”

” Tanyaaaaa google nggih… sekalian lihat foto-fotonya. Mimpi eka dari 2011 itu Mara….!”

****

  • PPJ adalah istilah Mara , singkatan dari : Para pencari jodoh, merujuk pada serial PPT — Para pencari Tuhan 🙂

Iklan

16 comments

  1. Saya juga pernah bermalam di KL ia 2. Sungguh tak bisa tidur karena orang bolak-balik di samping juga lampunya terang benderang. Tapi lumayan nyaman juga menunggu pesawat esok paginya.

    Jalan-jalan di Kuala Lumpur memang menyenang. Banyak yang bisa dilihat ya Mbak 🙂

  2. Iya… mbak, setidaknya tidur di KLIA 2 lebih nyaman dibandingkan Soetta berdasarkan pengalaman saya.

    Heheh, iya… KL memang menyenangkan mbak 🙂

  3. saya kemana-mana selalu bawa scraves gede dibandingkan sarung mba eka. Bisa buat di macem-macemin, selimut oke,, bahkan kalau kehabisan jilbab juga bisa dijadikan jilbab 😀

  4. Trima kasih kakak sudah mau menikmati cerita ini. hehehe 🙂

    Wahhh… pasti seruuuuu dong meskipun sekedar transit. *brb meluncur ke blog bukanrastaman* 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s