6 Pelajaran yang diperoleh dari Backpacking ke Luar Negeri

“When I let go of what I am , I become what I might be”– Lao Tzu

           

“Heran deh, ngapain ke luar negeri. Toh, Indonesia tak kalah kerennya. Lebih keren malah,” seloroh seorang teman saat tak sengaja menonton acara liputan seru jalan-jalan ke luar negeri di salah satu stasiun televisi swasta.

Saya menanggapi dengan senyum simpul. Terpaku pada layar televisi – berusaha mengabaikan kalimat teman tersebut. Saya mungkin bukan satu-satunya orang yang mendapatkan pernyataan yang sama. Pun di dunia sosial kerap dibahas tak perlu ke luar negeri jika di negara kita pun begitu mempesona.

Indonesia adalah surga keindahan alam yang tak terbantahkan. Saya tak bisa menampik hal tersebut, namun perjalanan bukan sekedar menjelajahi tiap jengkal bumi ini.

Mengutip kalimat bijak dari Henry Miller, “One’s destination is never a place, but a new way of seeing things,” bagi saya berusaha melakukan perjalanan ke luar negeri, setidaknya minimal satu kali dalam setahun, menyadarkan peran saya sebagai manusia dalam kehidupan.

13442342_10209200013538727_5173343686293616954_n

  1. Menaklukan rasa takut

Terlahir sebagai anak manja, saya tumbuh menjadi pribadi yang penuh ketakutan. Takut berbicara dengan orang asing dan takut mengambil resiko. Backpacking ke luar negeri tentu beresiko. Orang asing, tempat baru, suasana yang berbeda, dan bahasa yang terdengar aneh di telinga.

Ragam ketakutan menghantui saya ketika pertama kali menginjak kaki ke luar negeri. Mengobrol dengan masyarakat setempat pun saya tak berani. Namun pengalaman pertama itu menjadi pelajaran berharga bagi saya, bahwa tak ada yang perlu ditakutkan, pada dasarnya manusia adalah memiliki sisi yang baik.

Begitu juga dengan komunikasi, sejujurnya kemampuan bahasa Inggris saya standar kemampuan bahasa Inggris siswa sekolah dasar di kota besar seperti Jakarta. Namun, perjalanan keluar negeri menumbuh keberanian saya untuk mengasah kemampuan bahasa internasional tersebut.

 Tak saja menaklukan ketakutan dalam berbagai hal, saya belajar mengatasi perasaan egois dalam diri sendiri. Menyadari bahwa hidup bukan soal saya seorang. Tapi juga tentang orang-orang sekitar.

khaosan
Khaosan Road, Thailand
  1. Berdamai dengan keadaan

Saya berusaha memejamkan mata. Menyebut nama Tuhan dalam hati. Berusaha untuk tertidur. Mengabaikan kehebohan teman saya yang merasa terganggu dengan orang di sebelahnya yang mendengkur sangat keras. Saat itu kami lagi terjebak tertidur di bandara Kuala Lumpur international Airport 2 (KLIA 2) sebelum memulai perjalanan esok pagi.

     Hidup memang tak selalu menyenangkan seperti menikmati es kelapa muda di tengah teriknya matahari. Namun, akan lebih menyenangkan jika kita tak merusuhkan hal-hal yang tak menyenangkan tersebut.

Saat itu saya cuma berguman kepada teman saya. “Anggap saja kita sedang dininabobokan oleh suara dengkuran tersebut.”

Pun ketika kita terjebak dengan ragam peraturan dan budaya yang terasa tak menyenangkan bagi kita. Seperti saat di Shenzen, saya cuma menarik napas melihat kondisi toilet di sana. Saya teringat kalimat bijak dari ibu saya :” Dimana bumi dipijak disanalah langit dijunjung.” Perjalanan ke luar negeri mengajarkan saya untuk menerima kondisi apapun dengan perasaan santai.

krap
Santai sejenak di Aonang Beach, Krabi, Thailand

3. Lebih Menghargai Perbedaan

Saya teringat pelajaran PPKN zaman sekolah dasar dulu tentang sikap menghargai. Sayangnya, pemahaman hanya sebatas teori saat ujian tertulis kenaikan kelas. Lewat backpacking ke Luar negeri saya memahami arti sesungguhnya dari sikap menghargai tersebut.

Melangkahkan kaki ke luar negeri, melihat dunia yang lebih luas dan berbeda, dan bertemu orang-orang dengan ragam kulit dan karakter menyadari saya bahwa dunia ini menyenangkan. Meskipun awalnya, saya suka membandingkan dengan negara saya yang saya anggap lebih baik, pada akhirnya rasa itu mengikis perlahan-lahan. Sisi manusia sebagai makluk sosial menyadari peran saya sebagai masyarakat global ; Bahwa kita sama-sama makhluk Tuhan.

artis-dadakan
Jadi artis dadakan di OCT (Overseas Chinese Town ) East, Shenzen * banyak abege sana pada minta foto bareng :p
  1. Membentuk Pribadi yang Berkarakter

Menjadi backpacker bukan sekedar melakukan perjalanan dengan biaya seminimal mungkin dan berusaha berbaur dengan masyarakat lokal. Bagi saya lebih dari sekedar itu, dalam perjalanan kerapkali kita dihadapan dengan pilihan. Disinilah di asah jiwa kepekaan dalam mengambil keputusan dan bertanggung jawab pada pilihan tersebut.

     Tak sekedar mengasahkan kemandirian, backpacker juga mengasah pikiran untuk menjadi pribadi yang kreatif. Ketika menghadapi masalah-masalah yang ditemui dalam perjalanan mau tak mau menuntut kita untuk berpikir bukan menangis.

Saya teringat situasi dimana teman saya bermasalah dengan debitcard miliknya yang tak bisa digunakan dengan mesin ATM negara setempat. Padahal uang tersisa sangat menipis, sementara itu kami ingin melanjutkan perjalanan ke Singapura.

Saya pun mengambil keputusan untuk tak melanjutkan perjalanan yang beresiko dengan uang seadanya. Memberi saran untuk melanjutkan perjalanan ke Malaka. Menelusuri jejak sejarah perdagangan portugis di tempat tersebut. Sebuah keputusan yang tepat menurut saya saat itu.

malaka

  1. Belajar Mensyukuri Hidup

Kapal yang membawa saya menikmati keindahan laut Andaman terombang-ambing tak karuan. Beberapa kali ombak menghempas ke badan kapal. Air laut pun sempat membanjiri lantai kapal. Ragam ekspresi takut terpancar di wajah peserta tour termasuk saya.

Pengalaman mengerikan itu tak mungkin saya lupakan, tapi bukan berarti menjadi trauma tersendiri bagi saya. Saya bersyukur Tuhan masih menyelamatkan saat itu dan masih memberi saya kesempatan untuk menikmati keindahan alam lainnya. Masih banyak sudut bumi ini yang harus saya jelajahi. Pikir saya usai menikmati adrenalin melewati badai di tengah laut.

laut-andaman
Salah satu pulau di laut Andaman — lupa nama pulaunya apa 😦

Suatu siang dalam perjalanan ke Pattaya, saya bertemu dengan salah satu orang keturunan Indonesia namun berkewarganegaraan Thailand. Banyak hal yang ia ceritakan tentu saja tentang kehidupan. Diam-diam saya bersyukur pada kehidupan yang saya jalankan.

Pun ketika mendengar curahan hati seorang tour guide saat saya berada di Shenzen, China, ia memiliki keinginan untuk punya anak lebih dari satu. Sayangnya, peraturan negaranya tentu saja melarang hal tersebut, jika pun harus dilanggar ia harus membayar lebih mahal.

Diam –diam saya bersyukur terlahir menjadi Indonesia. Dalam perenungan di atas ribuan kaki permukaan laut, dari jendela pesawat saya menyelipkan rasa syukur terhadap garis kehidupan yang telah ditentukan oleh Tuhan pada saya. Perjalanan telah mengajarkan untuk tak banyak mengeluh pada hidup.

  1. Mendekatkan diri pada sang pencipta

Percayalah ada ragam emosi yang sulit kamu pahami ketika melakukan berbagai perjalanan ala backpacker ke berbagai negara. Perjalanan mengajarkan saya untuk lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta. Saya percaya bahwa dalam setiap langkah ini terwujud karena atas ijin-Nya.

krabi

    Bahagia itu sederhana, seperti keluarga India ini ; Mengelar tikar , menanti senja dan berbagi cerita. 🙂

     Mempertemukan saya dengan orang baik saat tersesat di Bangkok ketika mencari makanan halal, dan tak kalah menyenangkan ketika saya berjumpa dengan orang Indonesia yang secara tiba-tiba membayar makanan saya – setidaknya menghemat anggaran perjalanan saya. Saya percaya hal itu terjadi atas ijin Tuhan.****

Tulisan ini pernah dimuat di Phinemo dengan perubahan judul.