Sang Bolang ; Mengukir Kisah Menuju Pulang

“Ka, temani gue liputan ngerjain tugas PB (Penulisan Berita) nih. Lo kan suka ngebolang, jadi tahu lah acara menarik di Jakarta.”

Kira-kira intinya begitulah kalimat Nara yang keluar di suatu siang yang panas beberapa tahun lalu. Saya mangut-mangut tak tentu. Seingat saya saat itu belum lama kami kenal sebagai seorang teman.

Perkenalan kami tak terlepas dari ketika saya meminta diri untuk bergabung ke kelompok Nara dalam rangka tugas kuliah bernama ‘ Etika Komunikasi’ — Ya, saat itu saya merasa terasing di kelas mata kuliah ini akibat jarang masuk. Dari sinilah tercipta obrolan lepas bersama Nara. Ekspetaksinya penuh kagum terhadap saya di ungkapkannya secara jujur — membuat saya melongo.

eka
Menikmati malam di Bundaran HI

Bagi Nara saya adalah Bolang –mengacu pada program acara bocah petualangan di salah satu stasiun televisi. Setiap hal yang berbau jalan-jalan maka ia akan turut serta menyampaikan ide atau mengajak saya. Nara yang haus liburan pun mengungkapkan keinginannya untuk menjelajahi yogyakarta kepada saya. Saat itu istilah backpacking belum se-booming sekarang. Ia mengajak teman dekat kami, Umi.

Saya terdiam.  Saya memang menyukai perjalanan tapi tidak terlalu suka berada di tempat wisata yang penuh keramaian. Satu sisi saya punya ketakutan mengajak teman yang punya ekspektasi tinggi terhadap saya. Alasan yang sebenarnya adalah saya belum pernah ke yogyakarta saat itu. Bagaimana kalau nanti sampai sana? Bagaimana kalau terjebak kelinglungan dan bla..bla..bla! ragam ketakutan menari di benak saya.

Ini mah yang ada bukan bocah petualang tapi malah jadi bocah hilang!

Dalam kebingungan, mata saya tertuju pada Eda, saudara kembar saya. Berbeda dengan saya yang suka melakukan perjalanan sendiri, Eda orang yang biasa melakukan perjalanan dengan teman. Satu hal yang jelas, ia pernah ke yogyakarta. Maka janji telah terukir bersama Nara diwujudkan oleh Eda.

eda
Meski jarang melakukan perjalanan bersama, Eda adalah teman yang baik dalam melakukan perjalanan selama ini 🙂

Sementara saya terjebak di atas ribuan kaki dari permukaan laut. Memandang lepas ke awan, mengembara pada pikiran ; menuju Pulang.

****

Nara bukan satu-satunya menganggap saya Bolang. Sebagian orang-orang yang pernah bersentuhan dalam artian mengobrol beberapa kali menganggap hal serupa. padahal tak ada petualang berarti yang pernah saya lakukan. Entah itu berpetualang menaklukan gunung atau buaya.

Beberapakali tawaran mengajak saya mendaki gunung pun menghampiri saya yang saya tolak secara halus karena ada ragam ketakutan yang sulit saya jabarkan –bagaimana kalau saya hilang di gunung? Bagaimana nanti saya tak bisa pulang?

Waktu saya lebih banyak dihabiskan di kampus dan jalan menuju kosan Eda di kawasan Slipi, Jakarta Barat. Jika lelah, saya melipir ke toko buku atau melangkah ke area permainan anak-anak di Mall. Memandang penuh senyum pada tawa lepas bocah yang bermain mandi bola atau kereta-keretaan.

Tak lebih.

Jika Jakarta mengandalkan wisata Dufannya, saya angkat tangan. Saya orang paling rugi berada di area permainan ini. Tak ada permainan yang membuat saya tertawa lepas di Dufan selain kelelahan mengantri dan tangisan penuh ketakutan ketika naik rollercoster. Satu-satunya yang menyenangkan adalah bersepeda menelusuri bangunan Tua hingga ke pelabuhan sunda kelapa atau menikmati pemandangan malam di bundara H.I.

photo (5)
Tak ada yang lebih menyenangkan dari secangkir coklat panas dan sore

Dan… saya merasa gagal menyandang Bolang ; bocah petualang.

****

Jika perjalanan adalah jalan menuju pulang. Sesungguhnya perjalanan itu sendiri adalah rumah untuk menemui — mengenal diri sendiri.

Saya memejam mata sejenak. Pikiran saya mengembara ke lorong waktu ketika usia saya belum genap 6 tahun. berdiri memegang dasboard mobil truk yang di kendarai oleh Pak Aie — orang kepercayaan ayah. Bernyanyi penuh keriangan saat laju mobil memasuki kawasan Muaro bungo, Jambi. Sesaat kemudian akan memasuki hutan belantara.

Begitulah perjalanan saya di mulai selama beberapa tahun hingga remaja. Menyaksikan hutan yang perlahan berubah menjadi permukiman, Jalan penuh lumpur berubah menjadi aspal, serta tanah bekas penambangan emas yang dibiarkan begitu saja.  Serta menikmati subuh di pasaraya Padang menunggu pak  Aie bertransaksi dengan orang pasar ; menurunkan nangka dan beberapa karung jengkol yang di bawa pak Aie.

 

padang
Pemandangan indah dalam perjalanan Padang-Pariaman ; menuju rumah

Tumbuh menjadi anak pedagang Minangkabau yang merantau di daerah transmigrasi Jambi, orang tua saya mengirim saya untuk menghabiskan banyak hari di Padang. Bisa dipastikan dalam setahun saya melakukan perjalanan melintasi jalanan Sumatera dari Padang-Muaro Bungo-Kuamang kuning.

Mengunakan Truk, Pak Ai kerap beristirahat di rumah makan yang isinya supir-supir truk yang baru pulang dari membawa beberapa hasil kebun seperti jengkol ke tanah Jawa. Memori kecil saya saat itu dipenuhi oleh ragam cerita yang keluar dari mulut mereka di sela-sela menyeruput kopi susu panas yang dipesan Pak Ai.

Jika ada tugas mengarang pengalaman liburan di sekolah, saya bingung menceritakan apa. Teman saya menceritakan ia menghabiskan liburan ke Jembatan Akar di Pesisir Selatan, yang satu lagi menceritakan liburan di Malibo Anai, bahkan ada dengan serunya menceritakan liburan ke Monas, Jakarta.

Saya kecil terdiam. Terkadang dalam perjalanan bersama Pak Ai, kami kerap mengalami bocor ban. Tidur di tengah kesunyian jalanan sambil menunggu pagi hingga bengkel buka. Atau menikmati kegerahan menunggu mobil di perbaiki di salah satu bengkel yang ditemui di jalanan.

Kadang yang menyenangkan sesaat sebelum memasuki kota Padang, melintasi Sitinjau Laut nan sunyi, Pak Ai membangunkan saya. Memperlambat laju mobil. Memperlihatkan keindahan lampu kota dari Panorama. Hal ini juga berlaku di siang hari saat kami meninggalkan kota Padang. Berhenti sejenak sekedar menikmati sejuknya udara di panorama sambil melempar pandangan di bawah sana.

kota-padang-padang
Menikmati pemandangan kota Padang dari ketinggian bukit Gunung Padang

Biasanya tak ada cerita yang bisa saya sajikan saat itu. Mengarang bebas dengan kalimat pembuka penuh kebohongan;” Pada suatu hari ayah mengajakku liburan ke pantai Gandoriah Pariaman…”

Sebab sesampai di Padang, tak ada liburan berarti selain berada di rumah. Terkurung dengan ragam bacaan serta televisi. Sesekali keluar menuju swalayan atau toko buku.

Tak lebih.

****

Perjalanan menuju pulang bersama truk dan pak Ai memberi kesan berarti di benak saya. Menghabiskan masa kuliah di ibukota yang memberi kebebasan dalam melangkah, saya kerap melakukan perjalanan sendiri tanpa tujuan destinasi jelas. Menaiki  kereta api ekonomi menuju daerah Kota dan terjebak menonton kuda lumping. Kadang juga terjebak obrolan dengan orang-orang tak dikenal yang saya temui baik di stasiun maupun di gerbong kereta api.

sawahlunto
Museum Kereta Api di Sawahlunto; Entah kenapa stasiun menyimpan cerita syahdu dan romantis bagi saya 🙂

Terkadang saya melipir ke Jatinangor, sekedar merasakan sensasi menjadi mahasiswa Unpad dengan menghabiskan beberapa hari di kosan teman yang kebetulan kuliah yang di sana. Pun ketika melakukan perjalanan ke Yogyakarta. Menelusuri kawasan UGM dan terjebak beberapa hari di kamar kosan teman.

Tak lebih.

****

Saya berdecak kagum melepas pandangan ke laut yang tampak terlihat hijau. Mengabaikan perasaan ingin melarikan diri saat tahu harus menyemberang selama 6 jam menuju tempat ini ; Karimun Jawa. Saat itu ketakutan menghantui saya, bagaimana jika ombak menghantam kapal ini… terus karam… terus terbenam. Arghht….!

Entah keberanian dari mana datang yang membuat saya bertahan  untuk terus melakukan perjalanan ke Karimun Jawa hingga kembali pulang ke Jakarta saat melihat wajah-wajah asing penuh senyum kegembiraan berada di sekitar saya.

traveller kaskus
Menikmati perjalanan di Karimun Jawa, Jepara.

Pun ketika saya melompat dari kapal dengan life vest untuk pertama kalinya melakukan snorkeling. Jantung saya berdebar-debar penuh ketakutan dan khayalan tak jelas menghantui saya.

Semua perasaan itu hilang saat kesegaran merasuki tubuh saya. Senyum mengembang terukir di bibir saya memperhatikan ikan-ikan indah lalu lalang di sekitar tubuh saya.

 Perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah –Lao Tzu

Pengalaman melakukan perjalanan ke Karimun Jawa dengan orang-orang asing yang saya temui di situs jejaring sosial mengubah pandangan saya tentang perjalanan itu sendiri.

Tentang Indonesia yang tak sebatas jalanan lintasan Sumatera dan lautan luas Karimun Jawa. Hal ini kerap menghantui pikiran saya ; memaksa untuk kembali melangkah. Jika rumah adalah kenyaman untuk hati ini, maka sesungguhnya rumah itu adalah perjalanan.  Dan, pulang bukan tujuan akhir tapi tempat melepas lelah sejenak.

pantai-padang
Pulang bukanlah akhir dari perjalanan… ia adalah rumah sebenarnya bagi pejalan 🙂

Memeluk tubuh ibumu sekedar membisikan kalimat mengucapkan rasa syukur telah menghadirkan dan mengenal dunia yang menyenangkan ini.

Kuamang Kuning, Oktober 2016

 

Iklan

11 thoughts on “Sang Bolang ; Mengukir Kisah Menuju Pulang

  1. ternyata punya sodara kembar 😀
    saya pun jika berpergian tak berekspektasi banyak, misal harus sepi atau tidak terlalu ramai. saya juga tipe orang yang tidak terlalu suka dengan keramaian, tapi saya malah menikmati keramaian itu dengan merenung, entah kenapa malah jadi berkesan 🙂

  2. heheh iya mas Anggoro, kadang suka terjebak sendiri di keramaian apalagi pas nonton konser. Seru aja ikut euforianya… meskipun datangnya sendiri. hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s