Melihat Kuala Lumpur Lewat Drama Musikal

“ Mara kira Kuala Lumpur itu isinya semua orang Melayu.” Pandangan mata Mara terlempar jauh mengamati kesibukan orang-orang yang berlalu lalang di KL Sentral. Siang itu kami asyik menyantap makan siang di salah satu restoran cepat saji. Ini pengalaman pertama Mara menginjak Kuala Lumpur.

                Saya cuma tersenyum tipis menanggapi komen Mara yang sudah saya kenal sejak masih duduk dibangku menengah pertama. Menyantap kentang goreng sembari menyapu pandangan yang sama dengan Mara. Siapa tahu diantara lalu lalang orang-orang itu terselip sahabat hati yang mau berbagi suka dan duka *halah.

img-20160918-wa0039

Kemegahan Kuala Lumpur Lewat Twin Tower

                Komentar Mara tentang Kuala Lumpur menyadarkan saya pada satu hal tentang multietnis negeri ini yang berjalan damai—sesuatu yang akhir-akhir ini terlihat memudar di negeri ini . Sejujurnya selama ini saya mengabaikan ragam manusia yang memenuhi ibukota Malaysia ini. Bagi saya Kuala Lumpur tak ubahnya tempat transit yang nyaman. Tak lebih.

                Berkat kebaikan omndut, saya mendapatkan sebuah tiket drama musikal. Saat itu, sebagai orang yang pernah berkecimpungan dalam dunia teater tentu penasaran bagaimana serunya menonton drama musikal di negeri orang. Ini alasan kenapa aku mengajukan diri ke omndut untuk sebuah tiket gratis – kebetulan saat itu mo berkunjung ke KL juga.

MUD : ‘’ Our Story of Kuala Lumpur”

Drama yang terdiri dari empat babak dengan latar belakang tahun 1857-1881 ini kembali membuat saya teringat pada komentar Mara tentang Kuala Lumpur. Berlangsung hampir satu jam lebih dengan tiga tokoh utama ; Mamat berdarah melayu, Meng berdarah China, dan Muthiah berdarah India.

Dari pengenalan tiga tokoh itu mengambarkan representasi mengenai Kuala Lumpur. Cerita dimulai pada 1857 saat kegemilangan biji timah yang mendatangi beberapa pendatang ke pertemuan dua sungai yaitu sungai Lumpur (Sungai Gombak) dan Sungai Kelang ; termasuk kehadiran Meng, Muthiah dan Mamat. Mud sendiri seperti yang kita ketahui berarti Lumpur.

dsc02878

                Tiga tokoh utama itu memiliki cerita yang beragam dan unik serta menghibur. Meng yang ceria mampu memunculkan tawa saya di sela-sela kefokusan saya memaknai kalimat yang diucapnya dalam bahasa Inggris. Maklum bahasa pengantarnya dominan english dan  kemampuan bahasa Inggris saya sebatas ; yes/no and I love you .

                Harmonisasi kehidupan di perlihatkan dalam drama ini, aneka tarian yang beberapa kali membuat kantuknya saya hilang terganti dengan decak penuh kekaguman — maklum saat itu saya menonton di jam waktunya tidur siang –. Menariknya adalah ketika pemainnya mengajak penonton ikut terlibat dalam keceriaan mereka.

                Tak saja menampilkan harmonisasi kehidupan, pada babak ketiga diperlihatkan kebakaran besar yang melanda Kuala Lumpur pada tahun 1881. Musibah pun kembali terjadi yaitu banjir besar yang memusnahkan impian mereka. Namun, ditengah rasa putus asa mereka kembali tersadar pada semangat hidup yang harus terus dijalankan. Di Akhir cerita diperlihatkan kebangkitan mereka dalam membangun Kuala Lumpur kembali. Kemeriahan pun terjadi lewat tarian yang menyenangkan.

 dsc02894

****

Bagi saya ini drama musikal yang cukup mengagumkan. Tak heran jika Tripdvisor merekomendasikan sebagai salah satu kegiatan yang bisa kamu lakukan selama berada di Kuala Lumpur ; menonton MUD ” Our story of Kuala Lumpur. Selain melakukan interaksi dengan penonton, para pemainnya juga nggak segan mengajak kita untuk terlibat dalam alur cerita dengan mengajak naik ke atas penonton. Saya pun ikut menari penuh kegembiraan.

Memperkenalkan wajah Kuala Lumpur secara singkat, drama musikal ini berlangsung hingga pengujung Desember dengan jadwal tayang pada pukul 03.00 PM dan 08.30 PM. Untuk lokasi sendiri berada di Panggung Bandaraya , dataran merdeka, Kuala Lumpur — lebih tepatnya di depan dataran merdeka atau di belakang mesjid Jamek. Untuk tiket masuk dikenakan RM 84.80. Sebandinglah dengan hiburan yang didapati  🙂 ****

DSC02887.JPG

Si bule di ajak mengaduk di atas kuali besar. Menikmati kehidupan Kuala Lumpur ceritanya…

Iklan

8 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s