Bulan: Desember 2016

Panduan Liburan Murah ke Kuala Lumpur Untuk Pertama Kali

Letak geografis yang terbilang dekat dan banyaknya penerbangan langsung ke Kuala Lumpur di sebagian daerah Indonesia, menjadikan ibukota Malaysia ini sebagai tujuan favorit bagi sebagian mereka yang ingin merasakan liburan di luar Indonesia tak terkecuali saya.

Tak perlu memikirkan masalah bahasa yang notabene cukup bisa dipahami, pun dengan ragam makanannya yang tak jauh berbeda dengan Indonesia, Negeri Jiran ini kerap dijadikan sebagai batu loncatan untuk melakukan backpacking Internasional – langkah awal memulai perjalanan ke luar negeri. Alasan inilah yang membuat saya meyakinkan seorang teman yang ingin merasakan liburan ke luar negeri.

Ada banyak ragam pertanyaan dan perasaan takut yang terkadang masih menjadi hambatan untuk berani melangkah terutama tentu saja masalah anggaran biaya liburan.

“Ka, kalau bawa 200 ringgit cukup nggak?”
“Ka, hotel disana berapa ya?”
“Transportasinya gimana ya Ka?”

img-20160918-wa0039

Bagi saya pribadi, liburan ke Malaysia terbilang ramah di kantong dan tak perlu untuk menggadaikan motor. Dibutuhkan adalah menabung berbulan-bulan. Percayalah, Kuala Lumpur meskipun terlihat mengagumkan dan menawarkan kemewahan lewat menara kembar Petronas, namun mampu memberikan hal yang sesuai dengan ekspektasi kondisi keuangan sang pelancong. Berikut panduan liburan murah ke Kuala Lumpur bagi mereka yang pertamakali ke luar negeri.

1. Persiapkan Tiket Pesawat Pulang-Pergi

Ada banyak ragam promo yang ditawarkan oleh beberapa maskapai penerbangan. Jika ketinggalan info promo, membeli tiket dua minggu sebelum penerbangan menurut pengalaman saya adalah waktu yang tepat. Karena keraguan teman saya yang masih galau untuk ke Kuala Lumpur, ia memesan seminggu sebelum keberangkatan yang selisih harganya seratus ribu rupiah dari dua minggu sebelumnya. Lumayan lah!

Meskipun imigrasi Kuala Lumpur jarang mempertanyakan tiket kembali ke Indonesia, sebagai pemula setidaknya sediakan tiket kembali ke tanah air biar lebih aman.

2. Menyusun Itinerary

1005510_10207847671531022_1232919064051065947_n

Berjalan tanpa tujuan terkadang menguras tenaga, waktu dan biaya. Susunlah itinerary yang baik dan jelas. Tempat-tempat menarik apa yang hendak dikunjungi. Berikut contoh Itinarary liburan saya ke Kuala Lumpur selama tiga hari:

Hari pertama

Putrajaya Sightseeing tour
Batu Caves
Menginap di daerah Central Market

Catatan:

Melakukan penerbangan di pagi hari, dari KLIA 2 menggunakan KLIA Transit menuju stasiun Putrajaya Sentral dengan tiket seharga 9.40 RM.

Mengikuti paket tour Putrajaya Sightseeing seharga 20 RM selama dua jam. Makan siang di Putrajaya sentral, terdapat restoran prasmanan yang harganya mulai 6-8 RM.

Melakukan perjalanan dengan Bus Nadi Putra 502 menuju KL Sentral dengan tarif 3.80 RM.

Menitip tas di loker seharga 10 RM, kemudian membeli tiket commuterline tujuan batu caves pulang-pergi seharga sekitar 5.7 RM.

Kembali ke KL Sentral dan Makan Malam 14 RM. Menuju daerah pasar seni dengan Bus GO KL yang percuma alias gratis. Rata-rata penginapan di daerah pasar seni sekitar 25-40 RM/Night.

puta-jaya

Hari kedua:

Genting Highland
Bukit Bintang
KLCC

Catatan :

Kembali mengunakan bus GO KL menuju KL Sentral, kemudian membeli tiket bus GO Genting pulang-pergi sekitar 15 RM termasuk harga cable car pulang pergi.

Kembali ke KL Sentral, masih mengunakan bus Go KL menuju Bukit Bintang.

Menikmati Malam di KLCC (Kuala Lumpur City Centre) dari bukit bintang bisa ditempuh dengan bus GO KL.

Dari KLCC ke pasar seni masih menggunakan bus GO KL.

img-20160918-wa0068

Hari terakhir:

Dataran Merdeka
KL Galery
Mesjid Jamek
Kuliner di dekat Mesjid India
Central Market

img-20160918-wa0047

Catatan :

Dari penginapan bisa ditempuh dengan jalan kaki menuju Dataran Merdeka. Pun dengan KL Galery. Begitu juga dengan Mesjid Jamek serta kawasan kuliner di Mesjid India dan juga central market. Menuju KLIA 2 dari sini terlebih dahulu menuju KL Sentral dengan bus GO KL. Lalu gunakan bus menuju bandara seharga 11 RM. Istirahatlah sejenak di airport sebelum melakukan flight keesokan paginya. Banyak spot yang bisa ditiduri dengan nyaman tanpa perlu membayar lebih untuk hotel.

3. Bawa botol minum dan cemilan dari rumah

Salah satu untuk menghemat budget adalah mengurangi pengeluaran di konsumsi namun bukan berarti menahan lapar. Saya biasanya membawa botol air minum dan mengisi air di Kran air yang bisa langsung diminum dan banyak tersebar di bandara maupun tempat wisata. Pun ketika berada di hostel.
Jika memungkinkan bawalah seperti lauk pauk seperti rendang dan beberapa roti kering sekedar cemilan.Jadi pengeluaran sekedar membeli nasi putih saja serta sayuran. Sssst.. saran ini tidak berlaku lho untuk yang bertujuan wisata kuliner!

energen

senjata kalau ke LN 😀

4. Cari resensi sebanyak-banyaknya

Ikut gabung di beberapa group pencinta jalan-jalan sekedar mengetahui transportasi serta penginapan murah di Kuala Lumpur. Juga melakukan blogwalking untuk sekedar mengetahui pengalaman orang-orang yang sudah melakukan perjalanan di Kuala Lumpur.

hanoman

5. Hindari Taksi dan Manfaatkan keberadaan Bus GO KL

Jika kamu melakukan perjalanan solo traveling atau berdua dengan teman sebisa mungkin hindari penggunaan taksi dan manfaatkanlah bus GO KL yang tak mengeluarkan biaya alias percuma bahasa sananya. Untuk operasi sendiri bus ini ada hingga pukul setengah dua belas malam jika weekend. Pelajarilah Peta Bus GO KL yang bisa kamu lihat di bus stop atau halte bus GO KL.

6. Jangan lupa siapkan dana darurat

Saya menganggarkan perjalanan di luar tiket pesawat dan hostel dengan membawa uang 200 RM. Di satu sisi saya juga membawa 50 USD dan debitcard berlogo mastercard. Saya juga menyelipkan Rp 200.000,- sebagai cadangan. Kita tidak akan tahu apa yang terjadi ketika berada di tempat tujuan. Entah keasyikan belanja dan menikmati jajanan yang mengiurkan. Menyediakan dana darurat menurut saya adalah hal yang wajib dilakukan dalam perjalanan.

eka

Entah kenapa paling suka ngehabisin sisa ringgit di Jaya Grocery

  • Tulisan ini pernah dimuat di Phinemo
Iklan

Review hostel : Mint Guesthouse, Busan, South Korea

Hujan yang menguyur Busan ditambah dengan kenyamanan yang ditawarkan kota ini membuat saya menambah satu hari untuk tinggal lebih lama di salah satu kota pelabuhan terbesar di Asia. Memutuskan untuk beranjak dari kawasan Haeundae, tempat dimana saya menginap selama dua malam, saya melipir ke pusat kota.

Kenyamanan. Ya lagi-lagi soal kenyamanan yang membuat saya tak ingin menambah satu malam untuk tetap tinggal di hostel kawasan Haeundae ini — Ah bahkan saya  lupa nama hostelnya. Saya punya kebiasaan mengabaikan sesuatu peristiwa yang meninggalkan kesan tidak menyenangkan .

Yang saya ingat adalah wajah jutek si anak pemilik hostel ketika saya lupa melepaskan sepatu dan melangkah begitu saja ke dalam ruangan. Sederhana sih, tapi masih saja bikin saya malas lihat wajah juteknya meskipun sang ibu selalu tersenyum ramah pada saya. Satu lagi, ketika saya merebus tiga telur, sambil menunggu dingin saya memutuskan mandi. Usai mandi telur saya hanya tersisa 2. Kikirnya ngalahi tukang kikir…!*hiks

Hahaha… karena itu saya memutuskan untuk segera kabur dari penginapan ini dan memilih penginapan lainnya. Tentu saja juga pertimbangan jarak yang dekat dari stasiun Busan. Memilih secara acak di situs Bookingcom saya menemukan penginapan khusus perempuan.

Terbayang kenyamanan yang akan saya rasakan.

Busan Mint Guesthouse : Bukan saja tentang kenyamanan tapi juga menyadari kebutuhan sang pejalan

Saya menelusuri beberapa blok bangunan berdasarkan informasi yang saya terima dari Mint guesthouse via email tentang keberadaan penginapan ini. Saya berbaik sangka ketika saya diarahkan ke sebuah cafe bernama More. Karena waktu check-in nya baru bisa pukul 04.00 PM , saya disarankan untuk menitip tas ransel atau menunggu di cafe tersebut. Tentu saya memilih pilihan pertama; melanjutkan keinginan saya untuk menelusuri Busan.

Saya kembali ke cafe More menjelang langit berubah menjadi gelap. Beberapa cowok ala boyband Korea tampak sibuk dengan peralatan kopi. Aroma kopi mengalihkan pandangan saya pada cowok cakep nan ramah yang menyambut saya. Gerimis di luar sana, caffeeshop, seorang opa… aroma kopi. Kurang penghulu ajaa inih mah… 😀

brunch.jpg

Menu Bruch yang saya ambil gambarnya dari Booking

Saya pikir saya dibawa ke lantai atas cafe ini dimana kamar saya berada. Si babang opa ini ( sebut aja seperti itu) reflek mengambil tas ransel yang sedang saya sandang. Menawarkan diri biar ia yang bawa. Gimana hati ini tak terenyuh. Ia membawa langkah saya keluar cafe More menemui keberadaan penginapan. Bawa aku ke hatimu bang…!

Singkat cerita saya di bawa ke sebuah bangunan yang dekat banget dengan stasiun Jung-ang subway exit 1. Terletak di lantai satu, ia menyuruh saya menekan tombol pada pintu yang selama ini saya lihat di drama-drama korea sesuai kode yang sudah ia berikan. Setelah itu, sebuah lorong tidak terlalu luas menyambut kami dengan tulisan Mint guesthouse, di sisi kiri terletak loker untuk menyimpan sepatu.

DSC03228.JPG

Lorong yang menyambut kita sesaat ketika pintu terbuka.

Beberapa pintu terlihat di lorong tersebut. di sisi sebelah kanan sebuah kamar mandi , toilet dan tempat dandan yang dilengkapi pengering rambut sekaligus tempat dispenser air berada. Langkah kami terhenti di depan sebuah pintu. Kembali si babang menyuruh saya menekan kode yang sudah ia berikan untuk membuka pintu. Kehangatan menyambut tubuh saya saat pintu terbuka.

Empat tempat tidur menyambut saya. Sejujurnya ruangan ini lumayan sempit, tapi tempat tidur ala bunk — mengingatkan saya pada hostel capsul di KLIA2, cukup terlihat nyaman. Satu lagi, penghangatnya berfungsi sangat baik itu kenapa saya merasa hangat ketika memasuki ruangan kamar ini. Di atas kasur sudah tersedia handuk, sikat gigi, spon mandi dan kemasan kecil sabun cair dan penyumbat telinga. Ehm….

DSC03219.JPG

Panpang, tetangga tempat tidur alias roomate saya 🙂

Dari roomate — backpacker asal china– yang tinggal sudah tiga hari di tempat ini saya mengetahui kalau peralatan seperti itu akan kita terima tiap hari. Ia memamerkan kemasan-kemasan kecil sabun cair tersebut dan menawarkan beberapa buah untuk saya simpan. Tahu aja nih orang kalau ekanya suka gratisan.

Bahkan saya hampir saja menginap gratis gara-gara si babang lupa minta bayaran uang sewa. Untung ajaaa dedeknya sadar mengenai hak si babang yang harus menerima uang sewa. Segera mengejar si babang, menyerahkan 11000 won sesuai harga yang saya bayar saat itu.

Salah satu kenyamanan sebuah penginapan adalah tempat mandi. Saya pun segera buru-buru memeriksa kamar mandinya yang membuat saya tersenyum. Sebuah sampo, conditioner dan sabun dengan merk Dove tertata rapi. Hahaha, kalau sudah disediain kenapa masih nyediain perlengkapan mandi sabun cair untuk kita. ehm…

DSC03226.JPG

Kamar mandinya bersih 🙂

Mint guesthouse satu diantara hostel yang membuat saya sangat nyaman dan mengabaikan kekurangan yang ditawarkan hostel ini:

  • Pertama, minus dari hostel ini adalah ia tidak menyediakan sarapan lazimnya hostel lainnya minimal roti dan selai lah. Eitsss… tapi menariknya adalah hostel ini menyediakan kupon bruch untuk kita yang bisa dinikmati di More cafe.
  • Kedua, adalah kita ‘diusir’ dari pukul 01.00 pm sampai 04.00 pm karena diwaktu itu guest house ini sedang dibersihkan oleh Ahjumma yang ramahnya bikin saya rindu ibu saya.
  • Ketiga, tidak adanya dapur untuk memasak. Hanya disediakan dispenser.

Untuk Bruch, sayangnya saya tak sempat menikmati sebab waktu brunch adalah dari pukul 09.30 am – 11.30 am dan saya di waktu itu keasyikan berada di Jagalchi — lagian mikir kehalalannya sih. Panpang, roomate saya pun memamerkan foto brunch yang  tadi ia nikmati. Sekilas mengingatkan saya pada masakan western yang saya nikmati di sebuah cafe di kawasan Kuningan Jakarta.

Saya pun mengambilkan kesimpulan, guesthouse ini mungkin menyarankan kita untuk tak berleha-leha ditempat tidur dan segeralah menikmati Busan. Menelusuri Jagalchi Seafood Market dan Busan International Market dipagi hari yang memang tak jauh dari tempat guesthouse sekaligus sarapan di seberang sana — saya lupa nama daerahnya apa. Jika ingin menikmati sore di Busan Tower, tempat ini bisa di tempuh dengan berjalan kaki. Pun dengan keramaian Nampo-dong.

DSC03227.JPG

Ruang dandan yang saya ceritakan 🙂

Mint Guesthouse menyadari kepada kita sebagai pejalan untuk menikmati kuliner di kota ini tanpa perlu memasak di hostel. Guesthouse ini boleh saja mengabaikan prinsip backpacker yang menekan biaya seminimal mungkin, tapi penginapan ini memberi kebutuhan tentang pengalaman yang harus dilakukan di kota metropolitan kedua di korea selatan ini.

DSC03222.JPG

Mint Guesthouse (Female Only) : First floor, 36, Haegwan-ro, Jung-gu, Busan, South Korea.