Review hostel : Mint Guesthouse, Busan, South Korea

Hujan yang menguyur Busan ditambah dengan kenyamanan yang ditawarkan kota ini membuat saya menambah satu hari untuk tinggal lebih lama di salah satu kota pelabuhan terbesar di Asia. Memutuskan untuk beranjak dari kawasan Haeundae, tempat dimana saya menginap selama dua malam, saya melipir ke pusat kota.

Kenyamanan. Ya lagi-lagi soal kenyamanan yang membuat saya tak ingin menambah satu malam untuk tetap tinggal di hostel kawasan Haeundae ini — Ah bahkan saya  lupa nama hostelnya. Saya punya kebiasaan mengabaikan sesuatu peristiwa yang meninggalkan kesan tidak menyenangkan .

Yang saya ingat adalah wajah jutek si anak pemilik hostel ketika saya lupa melepaskan sepatu dan melangkah begitu saja ke dalam ruangan. Sederhana sih, tapi masih saja bikin saya malas lihat wajah juteknya meskipun sang ibu selalu tersenyum ramah pada saya. Satu lagi, ketika saya merebus tiga telur, sambil menunggu dingin saya memutuskan mandi. Usai mandi telur saya hanya tersisa 2. Kikirnya ngalahi tukang kikir…!*hiks

Hahaha… karena itu saya memutuskan untuk segera kabur dari penginapan ini dan memilih penginapan lainnya. Tentu saja juga pertimbangan jarak yang dekat dari stasiun Busan. Memilih secara acak di situs Bookingcom saya menemukan penginapan khusus perempuan.

Terbayang kenyamanan yang akan saya rasakan.

Busan Mint Guesthouse : Bukan saja tentang kenyamanan tapi juga menyadari kebutuhan sang pejalan

Saya menelusuri beberapa blok bangunan berdasarkan informasi yang saya terima dari Mint guesthouse via email tentang keberadaan penginapan ini. Saya berbaik sangka ketika saya diarahkan ke sebuah cafe bernama More. Karena waktu check-in nya baru bisa pukul 04.00 PM , saya disarankan untuk menitip tas ransel atau menunggu di cafe tersebut. Tentu saya memilih pilihan pertama; melanjutkan keinginan saya untuk menelusuri Busan.

Saya kembali ke cafe More menjelang langit berubah menjadi gelap. Beberapa cowok ala boyband Korea tampak sibuk dengan peralatan kopi. Aroma kopi mengalihkan pandangan saya pada cowok cakep nan ramah yang menyambut saya. Gerimis di luar sana, caffeeshop, seorang opa… aroma kopi. Kurang penghulu ajaa inih mah… 😀

brunch.jpg
Menu Bruch yang saya ambil gambarnya dari Booking

Saya pikir saya dibawa ke lantai atas cafe ini dimana kamar saya berada. Si babang opa ini ( sebut aja seperti itu) reflek mengambil tas ransel yang sedang saya sandang. Menawarkan diri biar ia yang bawa. Gimana hati ini tak terenyuh. Ia membawa langkah saya keluar cafe More menemui keberadaan penginapan. Bawa aku ke hatimu bang…!

Singkat cerita saya di bawa ke sebuah bangunan yang dekat banget dengan stasiun Jung-ang subway exit 1. Terletak di lantai satu, ia menyuruh saya menekan tombol pada pintu yang selama ini saya lihat di drama-drama korea sesuai kode yang sudah ia berikan. Setelah itu, sebuah lorong tidak terlalu luas menyambut kami dengan tulisan Mint guesthouse, di sisi kiri terletak loker untuk menyimpan sepatu.

DSC03228.JPG
Lorong yang menyambut kita sesaat ketika pintu terbuka.

Beberapa pintu terlihat di lorong tersebut. di sisi sebelah kanan sebuah kamar mandi , toilet dan tempat dandan yang dilengkapi pengering rambut sekaligus tempat dispenser air berada. Langkah kami terhenti di depan sebuah pintu. Kembali si babang menyuruh saya menekan kode yang sudah ia berikan untuk membuka pintu. Kehangatan menyambut tubuh saya saat pintu terbuka.

Empat tempat tidur menyambut saya. Sejujurnya ruangan ini lumayan sempit, tapi tempat tidur ala bunk — mengingatkan saya pada hostel capsul di KLIA2, cukup terlihat nyaman. Satu lagi, penghangatnya berfungsi sangat baik itu kenapa saya merasa hangat ketika memasuki ruangan kamar ini. Di atas kasur sudah tersedia handuk, sikat gigi, spon mandi dan kemasan kecil sabun cair dan penyumbat telinga. Ehm….

DSC03219.JPG
Panpang, tetangga tempat tidur alias roomate saya 🙂

Dari roomate — backpacker asal china– yang tinggal sudah tiga hari di tempat ini saya mengetahui kalau peralatan seperti itu akan kita terima tiap hari. Ia memamerkan kemasan-kemasan kecil sabun cair tersebut dan menawarkan beberapa buah untuk saya simpan. Tahu aja nih orang kalau ekanya suka gratisan.

Bahkan saya hampir saja menginap gratis gara-gara si babang lupa minta bayaran uang sewa. Untung ajaaa dedeknya sadar mengenai hak si babang yang harus menerima uang sewa. Segera mengejar si babang, menyerahkan 11000 won sesuai harga yang saya bayar saat itu.

Salah satu kenyamanan sebuah penginapan adalah tempat mandi. Saya pun segera buru-buru memeriksa kamar mandinya yang membuat saya tersenyum. Sebuah sampo, conditioner dan sabun dengan merk Dove tertata rapi. Hahaha, kalau sudah disediain kenapa masih nyediain perlengkapan mandi sabun cair untuk kita. ehm…

DSC03226.JPG
Kamar mandinya bersih 🙂

Mint guesthouse satu diantara hostel yang membuat saya sangat nyaman dan mengabaikan kekurangan yang ditawarkan hostel ini:

  • Pertama, minus dari hostel ini adalah ia tidak menyediakan sarapan lazimnya hostel lainnya minimal roti dan selai lah. Eitsss… tapi menariknya adalah hostel ini menyediakan kupon bruch untuk kita yang bisa dinikmati di More cafe.
  • Kedua, adalah kita ‘diusir’ dari pukul 01.00 pm sampai 04.00 pm karena diwaktu itu guest house ini sedang dibersihkan oleh Ahjumma yang ramahnya bikin saya rindu ibu saya.
  • Ketiga, tidak adanya dapur untuk memasak. Hanya disediakan dispenser.

Untuk Bruch, sayangnya saya tak sempat menikmati sebab waktu brunch adalah dari pukul 09.30 am – 11.30 am dan saya di waktu itu keasyikan berada di Jagalchi — lagian mikir kehalalannya sih. Panpang, roomate saya pun memamerkan foto brunch yang  tadi ia nikmati. Sekilas mengingatkan saya pada masakan western yang saya nikmati di sebuah cafe di kawasan Kuningan Jakarta.

Saya pun mengambilkan kesimpulan, guesthouse ini mungkin menyarankan kita untuk tak berleha-leha ditempat tidur dan segeralah menikmati Busan. Menelusuri Jagalchi Seafood Market dan Busan International Market dipagi hari yang memang tak jauh dari tempat guesthouse sekaligus sarapan di seberang sana — saya lupa nama daerahnya apa. Jika ingin menikmati sore di Busan Tower, tempat ini bisa di tempuh dengan berjalan kaki. Pun dengan keramaian Nampo-dong.

DSC03227.JPG
Ruang dandan yang saya ceritakan 🙂

Mint Guesthouse menyadari kepada kita sebagai pejalan untuk menikmati kuliner di kota ini tanpa perlu memasak di hostel. Guesthouse ini boleh saja mengabaikan prinsip backpacker yang menekan biaya seminimal mungkin, tapi penginapan ini memberi kebutuhan tentang pengalaman yang harus dilakukan di kota metropolitan kedua di korea selatan ini.

DSC03222.JPG

Mint Guesthouse (Female Only) : First floor, 36, Haegwan-ro, Jung-gu, Busan, South Korea.

Iklan

24 thoughts on “Review hostel : Mint Guesthouse, Busan, South Korea

  1. semangat nabung kak… aku juga lagi nabung buat ke sana lagi… !heheh abis nggak puas kemaren soalnya tersiksa banget bawa uang dikit 😥

  2. hahaha iya April, wajar sih klo menurut aku… cuma ya nggak usah dijuteki gituh. akunyaa kan jadi malasss. Tapi posisi hostelnya aku ingat kok… dekat banget sama subway Haeundae 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s