Bulan: Januari 2017

Sabtu Pagi di Seocho Flea Market

Bagi saya hidup dimulai ketika aktivitas pasar mulai bergeliat ditengah suara kokok ayam dan adzan yang mulai bergema. Betapa saya menyukai suasana pagi seperti itu yang perlahan entah kenapa memudar dalam kehidupan saya. Saya teringat masa kecil dulu, rasa senang disela ngantuk memperhatikan aktivitas pasar raya Padang dari dalam truk saat adzan mulai berkumandang dari mesjid Muhammadiyah. Saat itu, saya sedang menemani Pak Aie, kerabat ayah saya, membongkar muat jengkol dan nangka yang kami bawa dari daerah transmigrasi Jambi. Ini mungkin menjadi alasan kenapa saya menyukai suasana pasar.

Saya mengunjungi Seoul di pertengahan November yang dingin menusuk dengan kondisi badan yang masih remuk akibat kecelakaan lalu lintas yang saya alami sehari sebelum penerbangan. Pikiran saya masih kalut terpaku pada perdebatan dengan sang ayah yang menyuruh saya segera menikah beberapa hari lalu. Tersadar pada itinerary yang tak ada dan tujuan yang tak pasti, satu-satunya keinginan saya saat itu adalah bermain di pasar tradisional kota ini –entah untuk apa.

dsc03413

Senja di pinggir sungai Han, Hangang Park, Seoul

Sayangnya, saya terlalu lelah setelah semalaman menelusuri Hangang Park dengan berjalan kaki dari Itaewon sehingga mengabaikan membuat itenerary kemana tujuan keesok harinya. Alhamdulillah, di tengah kelelahan, kamar saya kedatangan tiga mahasiswi yang satu diantara mereka berasal dari Indonesia.

Paginya, usai menunaikan sholat subuh — tadinya saya ingin menelusuri Itaewon sesudah sholat subuh di mesjid, sayangnya saya tertidur pulas 😦 –, iseng saya menanyakan tujuan mereka.

Flea Market.

Saya pun menawarkan diri untuk ikut dalam perjalanan mereka. Sesuatu yang menarik. Pasar barang bekas yang ada cuma di hari Sabtu. Bersama Firza dan Saidah, Mahasiswa Ulsan dari Malaysia, serta Mbak Rani Mahasiswa Ulsan dari Indonesia saya memulai Sabtu pagi yang menyenangkan.

Seocho Saturday Market ; Pasar Loak Tertua di Korea

Sebenarnya ada begitu banyak Flea Market yang diadakan setiap hari Sabtu yang tersebar di Seoul. Flea market bisa dikatakan pasar loak tapi seperti bazaar. Sejenak saya teringat pada Sunday Morning UGM Yogyakarta , bedanya di UGM diadakan minggu pagi dan bukan secondhand stuff.  Saya hanya mengikuti langkah Firza, yang menjadi tour guide.

dsc03458

Penjual tanaman pun ada di Seocho Saturday Market

Di kemudian hari, saya baru tahu kenapa pilihannya adalah Seocho Saturday Market. Ternyata Flea Market ini merupakan terluas dan tertua di kota Seoul yang mulai ada sejak tahun 1988. Beroperasi dari mulai pukul 09.00 pagi hingga 03.00 sore, pasar ini menjadi favorit sebagian orang Korea untuk mencari barang dengan harga relatif murah.

Saya bukan tipe orang yang betah berlama-lama dalam hal berbelanja, namun melihat ragam barang yang dijual menarik hati, kaki saya menghampiri satu persatu tenda. Senyum manis Ahjumma dan Ahjusshi menyapa saya. Keterbatasan bahasa tak jadi hambatan untuk melakukan transaksi jual beli. Mengandalkan jari dan kalkulator saya mendapatkan sebuah jacket yang akhirnya saya jual sesampai di Padang.

dsc03451

Mendapatkan senyum ramah Ahjumma dan Ahjusshi ini ; masih tega nawar??? — Sepatunya sudah murah juga 🙂

Tak saja baju, peralatan dapur pun ada di tempat ini. Saya sempat terpaku pada stand buku, sayangnya bertulis hangeul. Oh, ya tempat ini bisa juga menjadi alternatif untuk membeli oleh-oleh. Kan pada nggak nanya ini baru atau bekas. *eh

dsc03442

Tersesat yang disengajakan ; Lost in Seocho Flea Market.

” Ini lu jual 200 ribu laku Ka!” seru Mbak Rani saat menemuikan coat cantik. ” Lu tinggal laundry aja.”

Otak dagang saya pun bekerja, tapi …. tersadar saya tak bawa koper. Untuk perjalanan sembilan hari saya cuma mengandalkan tas ransel Jan-sport yang berisi tiga helai baju yang saya bawa. Satu sisi, tentu saja kondisi keuangan menjadi kendala juga.

Saya pun mengurungkan niat. Berjalan keluar area Flea Market. Menghirup udara pagi seraya melempar pandangan. Dari informasi yang saya dapat, sebagian dari mereka ada pedagang yang regular dan ada juga dadakan. Mereka mengumpulkan barang bekas yang layak digunakan kembali baik itu milik pribadi atau tetangga. Untuk membuka lapak di sini  harus mendaftar di website resmi Seocho terlebih dahulu, dan itu harus jauh-jauh hari sebab peminat yang ingin buka lapak banyak agar mendapat tempat.

dsc03450

Seocho Flea Market

Lelah berkeliling, di sepanjang jalan depan Flea Market ada banyak caffee yang bisa kamu singgahi. Sayangnya, selain budget saya terbatas sekedar nongkrong manis di caffee, Firza membatasi waktu kami di Flea Market. Sebab, perjalanan masih terus berlanjut. Ehm… tiba-tiba saya teringat, sejauh hasil pengamatan dari menghampiri satu persatu pedagang di Flea Market, ternyata tidak semua barang merupakan barang bekas. Yah, tak ada salahnya mencari oleh-oleh di sini.

dsc03453

Belanja Sampai Puas di Flea Market

Akhir dari sebuah perjalanan
Mendarat di sudut pertokoan
Buang kepenatan 

” Belanja Terus Sampai Mati” — Efek Rumah Kaca

Menuju ke Seocho Saturday Flea Market : 

  • Gunakan Subway Line 2 atau Line 4 tujuan Sadang Station (Exit 14)
  • Belok kiri dan jalan lurus sampai kamu menemukan pasar ‘dadakan’ di sepanjang Jalan yang disediakan/ menemukan keramaian.
  • Jika ragu, bertanya lah pada dua atau tiga orang di sana agar tidak tersesat. 

Hari (Ibu) Yang Tertunda….

Tadinya saya mo melanjutkan sebuah catatan perjalanan November lalu… tapi entah kenapa menguap begitu saja. Sebuah rasa dan kondisi yang sulit dijabarkan selain menikmat dalam diam dan sendiri sembari mengabaikan tiket ke Xian yang tersia-sia begitu saja.

Maka lupakan curhatan tak penting di atas. Tulisan ini tadinya ingin saya bagi tepat ketika 22 Desember — entah kenapa saya menyukai angka 22. Sayangnya selama dua minggu ini saya mesti ‘bermain’ di area rumah sakit. Mengabaikan sejenak hiruk pikuk sosial media termasuk obrolan tentang liburan.

Ah… berbicara tentang sosok seorang yang menghadirkan ke dunia ini membuat saya sedikit emosional. Dua minggu berada di lingkungan rumah sakit, saya banyak melihat ketabahan luar biasa dari sosok seorang ibu.

” Amuh amak putus asa dek si Rani ko ka….”

Seorang ibu tua mengusik keasyikan saya menonton drama korea lewat ponsel. Ibu itu baru saya kenal beberapa jam lalu di sebuah koridor rumah sakit daerah. Dia meluapkan kegelisahan tentang anaknya yang jatuh sakit.

Saya hanya bisa bermain dalam diam. Pikiran saya terkenang pada suatu tugas di pengujung 2013 lalu; tentang seorang ibu.

Sebuah senyum lebar menyambut saya; bu Anggraini. Berbagi kisah yang saya tulis menjadi artikel dalam rangka menyambut hari ibu saat itu.

berikut tulisan yang pernah di muat di koran Jakarta :

Belajar Semangat dari Sang Buah Hati

Syukuri apa yang ada

Hidup adalah anugerah

Tetap jalani hidup ini

Melakukan yang terbaik

            Angrani (51) ikut bersenandung pelan tatkala sang buah hati, Kausar Excellio Jordan (17) membawa lagu “Jangan Menyerah” D’massiv dengan iringan permainan musik keyboard yang dimainkan Excel – begitu ia memanggil sang buah hati. Matanya tak lepas memandang seraya tersenyum pada putranya tersebut yang masih saja sibuk memainkan tuts-tust keyboard, memilih nada yang sesuai dengan keinginan hatinya.

            Hidup yang dilalui Excel tak semudah ketika ia memilih nada musik yang diinginkannya. Terlahir dengan kondisi mata yang tidak bisa melihat sempurna bukanlah pilihannya. Tak sekedar bagian mata, tapi dalam tumbuh kembang yang dilalui, Excel mengalami masalah pada bagian kaki yang membuat ia tidak bisa berjalan.

            “ Saya mengetahui kondisi Excel saat dia beranjak usia satu tahun, kok nggak bisa jalan seperti anak lainnya. Penyakit apa ya? Pengobatan pun sudah saya lakukan baik dari non medis maupun medis. Tiga tahun cuma bisa merayap,” cerita Angrani yang semula melihat kondisi fisik Excel tak ada masalahnya. Vonis Hidrosefalus — adanya cairan yang terlalu banyak dibagian kepala– menghampiri Excel dan membuat putranya menjalankan operasi.

            Selain itu, Excel juga mengalami epilepsi, yang mengharuskannya bergantung pada obat seumur hidup. Dengan kondisi semua itu wajar jika terkadang Excel merasa terbebani dengan keadaannya. “Kenapa Tuhan ngasih Excel kayak ginih. Nggak bisa lihat, nggak bisa jalan, kejang-kejang lagi.”

            Kalau sudah begitu, biasanya Angrani mengajak Excel untuk lebih bersyukur, “bersyukur Excel masih bisa lihat gelap dan terang, bagaimana dengan nggak bisa lihat sama sekali. Bagaimana dengan orang stroke yang cuma bisa tiduran doang. Excel masih bisa ngomong.”

            Tak bisa dipungkiri perasaan sedih sempat menyelimuti Angrani saat pertamakali mengetahui kondisi sang buah hati yang hampir tiga belas tahun ia nantikan. “Pasti bingung. Lah pertamanya punya anak dikasih kayak gini. Mikir, mo sekolah bagaimana? Mau jadi apa ya? Tapi lagi-lagi kita pasrahkan kepada Tuhan, Dia yang memberi kita seperti ini, Dia pasti punya rencana juga buat saya dan Excel,” paparnya.

            Ia pun mengakui banyak belajar dari sosok Excel yang selalu memperlihatkan semangat yang luar biasa dalam menjalankan kehidupan. “kita bersyukur dengan keadaan Excel yang masih bisa berbicara apa yang dia mau, masih bisa bernyanyi dan main musik,” tutur Angrani.

*****

Sebuah catatan :

Teruntuk seseorang yang selalu saya panggil ‘ Ama’ ; Saya tahu terlalu muak mendengar janjian dan khayalan yang terlontarkan dari mulut ini, tapi senyum dan hatimu tetap tabah untuk mendengarnya. Seperti yang selalu engkau ajarkan tentang Do’a, maka rasanya lagi-lagi hanya do’a yang bisa saya lakukan untuk segala ketabahan hatimu yang luar biasa ini, Ma.

Selamat hari Ibu

🙂