Hari (Ibu) Yang Tertunda….

Tadinya saya mo melanjutkan sebuah catatan perjalanan November lalu… tapi entah kenapa menguap begitu saja. Sebuah rasa dan kondisi yang sulit dijabarkan selain menikmat dalam diam dan sendiri sembari mengabaikan tiket ke Xian yang tersia-sia begitu saja.

Maka lupakan curhatan tak penting di atas. Tulisan ini tadinya ingin saya bagi tepat ketika 22 Desember — entah kenapa saya menyukai angka 22. Sayangnya selama dua minggu ini saya mesti ‘bermain’ di area rumah sakit. Mengabaikan sejenak hiruk pikuk sosial media termasuk obrolan tentang liburan.

Ah… berbicara tentang sosok seorang yang menghadirkan ke dunia ini membuat saya sedikit emosional. Dua minggu berada di lingkungan rumah sakit, saya banyak melihat ketabahan luar biasa dari sosok seorang ibu.

” Amuh amak putus asa dek si Rani ko ka….”

Seorang ibu tua mengusik keasyikan saya menonton drama korea lewat ponsel. Ibu itu baru saya kenal beberapa jam lalu di sebuah koridor rumah sakit daerah. Dia meluapkan kegelisahan tentang anaknya yang jatuh sakit.

Saya hanya bisa bermain dalam diam. Pikiran saya terkenang pada suatu tugas di pengujung 2013 lalu; tentang seorang ibu.

Sebuah senyum lebar menyambut saya; bu Anggraini. Berbagi kisah yang saya tulis menjadi artikel dalam rangka menyambut hari ibu saat itu.

berikut tulisan yang pernah di muat di koran Jakarta :

Belajar Semangat dari Sang Buah Hati

Syukuri apa yang ada

Hidup adalah anugerah

Tetap jalani hidup ini

Melakukan yang terbaik

            Angrani (51) ikut bersenandung pelan tatkala sang buah hati, Kausar Excellio Jordan (17) membawa lagu “Jangan Menyerah” D’massiv dengan iringan permainan musik keyboard yang dimainkan Excel – begitu ia memanggil sang buah hati. Matanya tak lepas memandang seraya tersenyum pada putranya tersebut yang masih saja sibuk memainkan tuts-tust keyboard, memilih nada yang sesuai dengan keinginan hatinya.

            Hidup yang dilalui Excel tak semudah ketika ia memilih nada musik yang diinginkannya. Terlahir dengan kondisi mata yang tidak bisa melihat sempurna bukanlah pilihannya. Tak sekedar bagian mata, tapi dalam tumbuh kembang yang dilalui, Excel mengalami masalah pada bagian kaki yang membuat ia tidak bisa berjalan.

            “ Saya mengetahui kondisi Excel saat dia beranjak usia satu tahun, kok nggak bisa jalan seperti anak lainnya. Penyakit apa ya? Pengobatan pun sudah saya lakukan baik dari non medis maupun medis. Tiga tahun cuma bisa merayap,” cerita Angrani yang semula melihat kondisi fisik Excel tak ada masalahnya. Vonis Hidrosefalus — adanya cairan yang terlalu banyak dibagian kepala– menghampiri Excel dan membuat putranya menjalankan operasi.

            Selain itu, Excel juga mengalami epilepsi, yang mengharuskannya bergantung pada obat seumur hidup. Dengan kondisi semua itu wajar jika terkadang Excel merasa terbebani dengan keadaannya. “Kenapa Tuhan ngasih Excel kayak ginih. Nggak bisa lihat, nggak bisa jalan, kejang-kejang lagi.”

            Kalau sudah begitu, biasanya Angrani mengajak Excel untuk lebih bersyukur, “bersyukur Excel masih bisa lihat gelap dan terang, bagaimana dengan nggak bisa lihat sama sekali. Bagaimana dengan orang stroke yang cuma bisa tiduran doang. Excel masih bisa ngomong.”

            Tak bisa dipungkiri perasaan sedih sempat menyelimuti Angrani saat pertamakali mengetahui kondisi sang buah hati yang hampir tiga belas tahun ia nantikan. “Pasti bingung. Lah pertamanya punya anak dikasih kayak gini. Mikir, mo sekolah bagaimana? Mau jadi apa ya? Tapi lagi-lagi kita pasrahkan kepada Tuhan, Dia yang memberi kita seperti ini, Dia pasti punya rencana juga buat saya dan Excel,” paparnya.

            Ia pun mengakui banyak belajar dari sosok Excel yang selalu memperlihatkan semangat yang luar biasa dalam menjalankan kehidupan. “kita bersyukur dengan keadaan Excel yang masih bisa berbicara apa yang dia mau, masih bisa bernyanyi dan main musik,” tutur Angrani.

*****

Sebuah catatan :

Teruntuk seseorang yang selalu saya panggil ‘ Ama’ ; Saya tahu terlalu muak mendengar janjian dan khayalan yang terlontarkan dari mulut ini, tapi senyum dan hatimu tetap tabah untuk mendengarnya. Seperti yang selalu engkau ajarkan tentang Do’a, maka rasanya lagi-lagi hanya do’a yang bisa saya lakukan untuk segala ketabahan hatimu yang luar biasa ini, Ma.

Selamat hari Ibu

🙂

Iklan

2 comments

  1. Kamu lagi nonton drakor apa kak ??? aku juga lagi demen drakor nich udah sebulan. Semua itu gara2 kuota telkomshit yang kasih bonus buat nonton viu jadi sayang kalo ngak di pake hahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s