Bulan: Februari 2017

Sakura dan Romantisme Kehidupan Musim Semi di Kyoto

Ketika angin musim melambai

Kelopak bunga sakura bertaburan

Suaranya menggema di jalan ini

Saat kita berdua berjalan

dikutip dari terjemahan lagu Cherry Blossom ‘Busker-Busker’

Sebuah telapak tangan perlahan mulai bersentuhan. Saling mengengam erat berjalan melintasi pepohonan rindang yang bunganya sedang bermekaran. Satu kelopak bunga jatuh tepat di atas rambut hitam sang perempuan. Sang lelaki dengan lembut meraih kelopak tersebut tanpa melepas gengaman tangannya.

            Pasangan tersebut tak berhenti saling melempar senyum sumringah. langkah kaki terhenti pada lapangan luas. Mereka mulai mengelar tikar. Sang perempuan sibuk mengeluarkan bento dengan segala bentuk yang menakjubkan ; telur mata sapi yang diukir senyum dengan saos atau potongan tomat berbentuk lambang love. Tak lupa kudapan Sakuramochi, kue mochi yang dibungkus dengan sehelai daun sakura.

Di sekitar mereka hal serupa terjadi, penuh keriangan dan bahagia yang tak terlukiskan. Anak-anak saling berlari, bermain penuh tawa. Sementara orang dewasa menikmati semilir angin seraya melempar pemandangan bunga sakura yang lagi bermekaran sangat indah.

kento-yamazaki

Source : Google Image

CUT!

Adegan yang tergambarkan lewat kalimat di atas bukanlah sebuah kejadian nyata atau apalah namanya — berharap suatu saat bisa mengalami sih *lope-lope*. Tapi itulah yang terlintas dalam benak saya ketika tak sengaja melihat pemandangan bunga sakura entah itu dari layar televisi, majalah, koran, laptop maupun ponsel.

semi

Keindahan yang memukau!

Sebagai penikmat Dorama dan melewati masa remaja bersama manga shoujo (serial cantik) yang kerap mengambil latar belakang kehidupan remaja serta keindahan berbagai kota di Jepang, tentu perasaan penuh imajinasi menemani tidur saya. Ah, membayangkan senyum sinis Kento Yamazaki atau tampang cengo’ Takeru Satoh berjalan di sisi tubuh mungil ini menelusuri jalan setapak yang dipenuhi dengan ratusan bunga sakura sedang bermekaran indah sungguh sebuah kebahagiaan yang tak terlukiskan lewat kata-kata.

satohtakeru-amuseblog-jp

Bang senyummu bang… Ibarat sakura yang sedang bermekaran. Indah ! ( source : satoh)

Sebuah kebahagiaan yang tergambarkan lewat keindahan bunga sakura yang rimbun. Yup, bagi saya bunga sakura tak ubahnya lambang kebahagiaan apalagi bergandengan tangan dengan Satoh. Bunga yang bermekaran ketika musim semi  selama dua minggu dalam setahun sekitar  Maret hingga akhir Juni ini merupakan bunga nasional negara Jepang. Sementara Jepang sendiri merupakan rumah bagi ratusan jenis Cherry blossom tersebut. Sedangkan bagi masyarakat Jepang adalah simbol sebuah pembaharuan dan harapan.

Meskipun mengunjungi negara Jepang dapat dilakukan di berbagai 4 musim yang dimiliki negara Doraemon ini — sebab selalu ada kejutan yang menakjubkan dari setiap musimnya, tapi saya ingin menjadi bagian dari romantisme kebahagiaan yang tak terlukiskan tersebut lewat musim seminya. Mengukir harapan di bawah  rindangnya pohon bunga Sakura pada hidup yang lebih baik ke depannya. Syukur-syukur bisa nemu sahabat hati seperti karakter Kento Yamazaki sebagai Kanata Shibasaki di dorama Sukina Hito Ga Iru Koto.*kalem*

Maka lupakan sejenak romantisme Jepang di musim gugur kala warna-warni dedaunan mulai berjatuhan menghiasi jalanan, abaikan keriangan saat musim panas dengan mendaki gunung Fuji dan senyum gembira menikmati festival salju. Lagi-lagi saya ingin mengukir cerita nan manis yang dilengkapi eksotisme pemandangan bunga bewarna pink muda menakjubkan itu.

his-travel

Masya Allah, kawaii! sumber : H.I.S

****

Maka kemanakah langkah saya untuk memulainya?

Kyoto. Tak ada yang meragukan keindahan kota terbaik di dunia versi majalah travel + Leisure ini. Sebagai pencinta keindahan dan cerita sejarah, bagi saya mantan ibukota kekaisaran Jepang ini sungguh menakjubkan. Ibarat makanan Kyoto adalah paket lengkap dari sajian makanan ala Sumatera Barat. Penuh cerita dan keeksostisan yang tak terbantahkan.

Ditengah gempuran modernisasi arsitektur bangunan yang futuristik, Kyoto masih bertahan dengan gaya tradisionalnya. Kota ini merupakan jantungnya sejarah Jepang dan rumah bagi ribuan keajaiban arsitektur bangunan tuanya yang terjaga dengan baik –salah satunya termasuk dalam 17 warisan budaya dunia UNESCO.

kyoto-rumah

Kyoto adalah salah satu  kota Jepang yang masih teguh suasana tradisionalnya. Salah satu kuil tua yang menjadi landmarknya kota Kyoto dan merupakan warisan dunia UNESCO ; Kiyomizudera Temple

Kyoto adalah salah satu kota yang wajib dikunjungi oleh para traveller jika berkunjung ke Jepang. Setidaknya itu yang saya simpulkan dari beberapa pengalaman travel blogger yang melancong ke Jepang. Maka, Kyoto adalah pilihan terbaik mengukir kisah manis menikmati momen sakura bermekaran.

Kota nan klasik. Budaya yang masih kental Jepangnya. Dan, pemandangan bunga Sakura. Ehm….

Dan, bagi saya meluapkan khayalan di tulisan ini tentang Kyoto adalah seni mewujudkan perjalanan ke Jepang. Berikut ini khayalan yang akan saya lakukan jika suatu hari nanti Sang Pemberi Hidup, Allah Subhanahu wa ta’ala memberi kesempatan untuk melancong ke Jepang, terutama Kyoto.

fushimi

Fushimi inari taisha ; Kuil sinto yng merupakan kuil pust bai sekitr 40.000 kuil Inari yang memuliakan Inari. Tempat ini sangat populer di kalangan pelancong saat berkunjung ke Kyoto

Bismillah 🙂

7 Hal Seru mengukir cerita musim semi tak terlupakan di Kyoto :

  1. Menikmati Malam di Distrik Gion

Gion merupakan distrik hiburan terkenal di Kyoto yang masih kental dengan arsitektur dan dekorasi budaya tradisional Jepang. Di tempat ini kita juga bisa bertemu Geisha. Tapi, sejujurnya saya tak ingin bertemu Geisha. Saya ingin menelusuri romantisme daerah yang masih mempertahan keindahan arsitektur tradisional khas Jepang dibawah sinar rembulan dan gemerlap lampu jalanan yang membawa saya pada kesan kehidupan di zaman Edo.

kyoto-geish

Geishanya cantik. Hehehehe, Kyoto salah satu kota yang masih bisa di temuinya Geisha, salah satunya di kawasan Gion.

Menyinggahi salah satu kedai dan menikmati secangkir kehangatan teh yang menyegarkan badan. Berdasarkan cerita sejarah Gion dulunya merupakan tempat dimana kedai-kedia teh melayani para pengunjung yang kelelahan setelah dari Kuil Yasaka (Yasaka-Jinja). Nah, rasanya seru saja nongkrong seraya ngeteh cantik di tempat ini. Apalagi kalau ditemani sahabat hati. *eh

ngeteh-cantik

upacara minum teh atau disebut Chatoo adalah tradisi Jepang dalamm menyambut tamu.

   2. Berjalan di The Philosopher’s Path  

Hanami merupakan sebuah tradisi di Jepang untuk menikmati bunga terutama saat Sakura mulai bermekaran. Biasanya orang Jepang akan melakukan piknik untuk menikmati pemandangan dan atmosfer yang menyenangkan pada Cherry Blossom tersebut.

salah satu tempat terbaik Hanami di Kyoto dengan berjalan  di bawah pohon Sakura adalah Tetsugaku no michi atau lebih di kenal dengan sebutan The Philosopher’s Path. Sebuah jalan setapak disisinya mengalir sungai kecil yang menghubungkan antara kuil Ginkaku-ji dan Kuil Nanzen-ji. Sepanjang jalan yang memiliki panjang sekitar 3 km ini dihiasi oleh pohon Sakura nan rindang.

the path.jpg

Jalan romantis. heheheh . (sumber gambar : klik di sini)

Menarik tentu saja kuil yang ada di kawasan ini untuk memberi kesan bahwa saya benar-benar berada di Kyoto. Selain itu berjalan beriringi tangan dengan orang terkasih atau menelusuri dengan sepeda adalah pilihan yang menyenangkan menikmati Hanami di The Philosopher’s Path.

hanami

Ayooo siapa yang mau Hanami di sini??? Baper hiks lihat ginian -_-

3. Piknik di Arashiyama 

Arghtt! Saya tak dapat menahan diri untuk tidak berteriak saat menelusuri twitter salah satu akun travel tour agen, HIS Travel Indonesia. Sebuah foto terpampang indah. Deretan pohon bambu berjajar sangat asri di sepanjang jalan setapak. Sepanjang mata melihat, perasaan damai dan tentram perlahan menyusup di relung hati ini. Ah, apalagi ada adegan dimana Sato membonceng saya menelusur jalan setapak ini. 😀

C21yinPUkAAS7c6.jpeg

Tambah baper lihat ini. Babang Satoh kapan ajak dedek main sepeda di sini????

Menariknya adalah ternyata Arashiyama termasuk salah satu kawasan terbaik melakukan Hanami. Sebab di sini juga terdapat banyak sekali pohon sakura di sekitar Togetsukyo Birdge, jembatan yang menjadi ikonnya Arashiyama. Sebuah jembatan kayu yang berusia sekitar 400 tahun tersebut membentang diatas Katsura River dengan latar pengunungan Arashiyama. Tidak terbayang keindahan pemandangan di tempat ini saat Sakura bermekaran.

Mengelarkan tikar diseberang jembatan, tepatnya di salah satu taman dimana pohon Sakura berkumpul adalah aktivitas terbaik harus dilakukan di tempat ini. Menikmati Bento seraya memintal impian untuk menikmati hidup yang lebih baik dan bahagia ke depannya. Tanpa kata, saling melempar pandangan mata yang indah. Seindah bunga sakura.

BENTO BENT.jpg

Bentonyaa unyu !

Mengakhiri piknik asyik, di tempat ini kita bisa mencoba menaiki Rickshaw, sebuah alat transportasi tradisional khas Jepang yang ditarik menggunakan tenaga manusia. Sensasi seru mengabadikan momen tak terlupakan saat liburan di Kyoto ketika menaiki Rickshaw, menurut saya sih.

Hehehe…

4. Menelusuri Kanal Okazaki

Lupakan sejenak tentang keeksotisan kota Venesia dengan kanalnya. Ada yang tak kalah indah dan menyenangkan ketika kaki menginjak Kyoto apalagi di saat Sakura bermekaran. Berperahu ria menelusuri kanal Okazaki, sebuah kanal yang menghubungkan danau Biwa dengan Kamo River.

okazaki-canal

Bang Satoh yuk berlayar! (sumber foto : japan-guide)

Romantis tak terlupakan saat pandangan lepas ke jejaran bunga-bunga Sakura di sisi Kanal dari atas perahu yang melaju tenang di kanal Okazaki. Rasanya inilah Hanami yang mengesankan, yah meskipun harus merogoh kocek untuk sekedar menelusuri kanal dengan perahu tersebut. Tapi hal tersebut terbalas dengan momen mengesankan yang tak terlupakan. Pemandangan yang memukau!

5. Mencari Sahabat Hati di Kuil Kiyomizudera

Ayo siapa yang pernah menjadikan salah satu kuil Budha kuno ini sebagai walpaper di desktop PC komputernya? Yup, kuil yang dibangun pada tahun 789 masehi ini sungguh memiliki arsitektur klasik nan indah. Ditambah dengan pemandangan lanskap yang menyegarkan mata.

Tak heran kuil ini menjadi landmarknya Kyoto dan tempat wisata yang populer dikalangan pelancong. Menarik dari kuil ini adalah dibagian belakang kuil utama terdapat kuil Jisshu-jinja yang disebut dengan dewa jodoh. Hah, semoga saya berjodoh dengan Keshin, eh Sato ding!

Amin.

kuil.jpg

foto dicomot dari : klik di sini

Ada cukup banyak bunga sakura di tempat ini, terutama di kolam dekat pintu keluar kuil. Seraya berhanami dan menikmati atmosfer yang menyegarkan, kita bisa diam-diam memintal harapan semoga bertemu sahabat hati di sini. *kemudian mengedarkan mata ke ragam pengunjung kuil. Adakah terselip jodohku?*

6. Bertemu Kenshin di Toei Kyoto Studio Park ( Toei Uzumasa Eigamura )

Dua puluh tahun lalu, kakak sepupu saya pernah berteriak dalam tidurnya.” Satria Baja Hitam. Berubah!” Yah, bagi mereka yang tumbuh di era 90-an tahu serunya menonton serial Kamen Rider Black itu seperti apa.

Sama seperti halnya kakak sepupu saya yang kerap membayangkan kehidupan yang terjadi di Kamen Rider Black tersebut, saya pun juga kerap menghayal berada di kehidupan periode Meiji ala Rurouni Kenshin. Berjalan mengunakan kimono nan cantik menelusuri bangunan kayu klasik khas Jepang. Yah, anggap saja saya Kamiya Kaoru. *kalem

samurai

Kenshin!

Impian untuk merasakan era Jepang kuno bisa dinikmati di Toe Kyoto Studio Park (Toei Uzumasa Eigamura), sebuah tempat dimana kita bisa melihat banyak set untuk shooting beberapa film Jepan termasuk Rurouni Kenshin. Ada rumah jaman dulu, teater, jembatan dengan nuansa Jepang kuno. Dijamin Instagramble deh!

Maka lupakan sejenak bermain di Fushimi Inari taisha yang mengagumkan tersebut, rasanya menemui sahabat hati si Kenshin disini lebih prioritas. Terus baru deh si Kenshinnya dibujuk ke kuil Shinto tersebut. Sekedar berfoto bahwa ; Saya  di Kyoto lho! hehehe….

7. Bertamu ke The Kyoto International Manga Museum

Saya tumbuh bersama Manga, sebut saja Serial Cantik, Naruto, Conan, dan Samurai X. Komik-komik tersebut menghiasi beberapa bofet di rumah. Bertamu di The Kyoto International Manga Museum adalah kegiatan yang wajib saya lakukan ketika berada di Kyoto. Sebuah mimpi yang sempurna nan indah.

museum.jpg

Boleh bobok cantik nggak sambil baca buku di rumputnyaaa??? (sumber : insidekyoto)

Berbicara mengenai manga tak lepas dari kultur Jepang itu sendiri terutama mengambil peran terhadap berkembangnya budaya J-Pop. Ya, lewat manga saya  mungkin adalah diantara ribuan orang di luar Jepang yang melihat negara ini dari sisi yang menyenang — sangat menyenangkan.

Museum ini didedikasikan untuk manga dan pengemar seperti saya * tersenyum kalem*. Sebagai tepat berinteraksi dan berkomunikasi bagi para pencinta komik Jepang. Menariknya adalah di tempat ini juga menyelipkan pertunjukan tradisional bersejarah yang disuguhi secara reguler yaitu Kamishibai ( drama kertas), dongeng bergambar tradisional Jepang yang disampaikan narator lewat gambar-gambar.

Zaman dulu pertunjukkan tersebut populer sebagai hiburan jalanan. Seru nggak sih? Ngebayangi aja sudah seru 😀

****

Kalimat bijak pernah bilang, jangan pernah berhenti untuk bermimpi. Ya, impian untuk suatu hari bisa melancong ke Kyoto saya jaga di ruang hati ini termasuk mimpi bersanding di pelaminan dengan Satoh. Oke, bagian terakhir ngayal parah!

sato

Si babang lagi on the way menjemput si Eka. Jangan ngelamun aku mulu dong bang! *kalem*

Well, selalu ada usaha disamping do’a yang terus menerus diucapkan untuk bisa menginjak Kyoto — bahkan membuat ‘kyotojepang’ sebagai password wifi hotspot ponsel pintar saya. hehehehe, jadi … *tari napas dulu*

Bagaimana cara termudah bisa menikmati liburan ke Jepang?

Cobalah iseng bertandang ke website  H.I.S. Travel and Tour , sebuah agen perjalanan yang siap membantu memudahkan mewujudkan perjalanan menikmati keindahan Sakura. Dari mulai membantu mengurus Visa, sampai merancang sebuah perjalanan yang menyenangkan baik itu individu maupun grup — ada jual JR Pass lho sama rental egg wi-fi 🙂

jr-pass-banner-harga-rupiah-newjuly2016-4

Yup, kenapa harus H.I.S?

alasanhis

No tipu-tipu ! Hehehehe, setidaknya travel tour ini terpercaya, sebab seorang teman pernah cerita kalau perusaha tempat dia bekerja suka mengunakan  H.I.S dalam mengatur perjalanan gathering kantor selama ini. Waktu itu teman saya cerita mengenai liburan seru dia ke Singapura bareng teman kantornya yang diatur oleh H.I.S

Kenapa harus mencoba dengan H.I.S?

his

 

Lewat kelebihan yang dimiliki oleh H.I.S, bagi saya ini bisa menjadi pilihan yang menarik bagi yang bermimpi seperti saya untuk bisa menikmati romantisnya wisata ke Jepang. Kamu bisa memilih HAnavi , sebuah paket travel domestik Jepang kolaborasi H.I.S dengan salah satu maskapai terbaik di dunia, ANA (All Nippon Airways) untu mengukir kenangan indah perjalanan liburan ke negeri sakura.

Disini kamu tidak perlu repot-repot, soalnya  HAnavi telah menyediakan paket tiket penerbangan plus hotel dengan harga yang cukup ramah. Satu lagi bagi yang muslim seperti saya yang selalu mikirin makan halal, H.I.S bisa membantu lho. hehehe

 Berikut beberapa hal yang kamu dapati dari HAnavi :

  1. Hemat, dari segi biaya, paket yang ditawarkan Hanavi sangat ramah. Selain itu, hemat dari segi waktu, kamu tak perlu berpusing-pusing ria mencari destinasi sebab sudah diatur semakin rupa oleh HAnavi.
  2. Banyak pilihan paket yang dapat kamu pilih sesuai dengan keinginanmu. Ada sekitar 800 penerbangan maupun ribuan hotel. O,ya kamu bisa juga lho menyewa wifi, sehingga masih bisa terkoneksi dengan sosial media dan memamerkan foto indah selfiemu bersama bunga sakura.
  3. Paket hotel dan tiket pesawat dengan diskon besar-besaran. Ehm… tentu ini sangat mengiurkan bukan?

Ayo rencanakan perjalanan bersama H.I.S Travel and tour lewat HAnavi untuk menyaksikan bunga Sakura yang sebentar lagi mulai menghiasi negeri Jepang yang memukau indah. Kamu juga bisa lho berkesempatan memenangkan wisata ke Jepang dengan mengikuti lomba blog yang diselenggarakan H.I.S.

**** Tulisan ini diikut sertakan dalam lomba blog bertema #HISAmazingsakura. info lebih lanjut : http://his-travel.co.id/amazing-sakura-blogger-competition/

HIS Amazing Sakura - Blogger Competition

Satu Hari Yang Bermakna di Sawahlunto, Sumatra Barat

Bawolah buku iko atau fotokopi (bawalah buku ini atau fotokopi). Banyak cerita sejarah yang menarik yang bisa kamu dapat,” ujar bapak pemilik toko kelontong yang saya singgahi sekedar membeli minuman dingin. Wajah asing saya membawa si bapak cerita banyak tentang daerah yang sedang saya kunjungi. Di seberang tokonya terdapat bangunan tua khas Arsitektur Tionghoa yang dikenal dengan rumah Fak Sin Kek.

            Rumah tersebut dibangun tahun 1906 oleh Fak Sin Kek, seorang berkebangsaan Tiongkok yang menetap di kota ini. Bangunan tersebut menjadi cagar budaya dan salah satu tujuan wisata sejarah. Bangunan ini juga menjadi bukti tentang keglamouran sebuah kota ketika emas hitam masih berjaya yang membuat banyak pendatang mengadu nasib di daerah tempat dimana pencetus sumpah pemuda lahir, Mohammad Yamin.

            Adalah Sawahlunto. Dimana pagi itu saya menjejaki untuk pertamakalinya setelah hampir belasan tahun mendengar namanya. Sebuah kota yang terletak 95 km sebelah timur laut kota Padang, ibukota provinsi Sumatra Barat. Daerah ini dikenal dengan kota tambang, namun belakangan mulai bergiat menuju kota wisata sejarah dengan cerita yang mengagumkan.

16559106_1374213589297200_1249758657_n

Sawahlunto ; Kota Tambang yang berevolusi menuju kota wisata sejarah

Berbekal buku saku yang berisi informasi tentang tempat wisata milik sang bapak, pagi itu saya melakukan napak tilas kejayaan kota ini dimasa lalu.

            The Little Old Netherland   

            Bagi saya yang berdarah Minangkabau memasuki kota yang dikelilingi oleh perbukitan ini terasa asing. Saya merasa seperti sedang tidak berada di Sumatra Barat, namun terlempar di dimensi waktu yang berbeda. Bangunan tua dan arsitektur khas Belanda masih terjaga dengan baik.

            Saya pun memasuki sebuah bangunan yang di depannya terdapat plang bertuliskan Museum Tambang Batu Bara. Menemui cerita dari kota yang dikenal sebagai situs pertambangan batu bara tertua se Asia Tenggara. Yup, kota ini sempat berjaya di masa lalu berkat emas hitam yang membuat banyak orang berdatangan ke daerah tersebut sehingga terasa kental suasana multietnisnya.

16559029_1374261329292426_129359942_n

Salah satu artefak yang ada di museum tambang batu bara Ombilin, Sawahlunto

              Berawal dari penemuan oleh De Groet yang menyusuri Singkarak pada pertengahan abad ke-19, kemudian ditindaklanjuti oleh Ir W.H. de Grave yang menemukan ada ratusan juta ton emas hitam bersemayam di bumi Sawahlunto. Inilah awal dimana penambangan di mulai oleh pemerintah Kolonial sekitar tahun 1892.

             Pemandu museum memberitahu saya tentang gedung museum yang merupakan bangunan bekas pemerintahan Belanda disela-sela keasyikan saya mengamati ragam artefak emas hitam dan peralatan tambang yang digunakan dari waktu ke waktu. Di buka secara resmi pada 2014 lalu, museum batu bara ini sudah banyak dikunjungi dari berbagai kalangan termasuk para akademis.

          Uni, begitu saya memanggil sang pemandu museum pun bercerita pernah kedatangan tamu dari Belanda. “Ada seorang ibu-ibu, dia udah lama tinggal Belanda dan main ke sini. Dia bercerita beberapa bangunan benar-benar mirip yang ada di Belanda.”

            Saya mengangguk. Menatap langit-langit gedung dan memperhatikan setiap detail sudut ruangan. Pikiran saya menerka tentang gambaran kehidupan di Sawahlunto saat tambang emas hitam berjaya di Sawahlunto. Entah kenapa saya merasakan kemewahan hidup ala Eropa dan aura pekerja lori sangat kental di kota ini.

Mbah Suro dan kisah orang rantai

16559331_1374224045962821_1387354585_n

Lubang Mbah Suro ; Ditempat inilah pernah ada kisah orang rantai

Pemandu museum tambang batu bara mengarahkan langkah saya selanjutnya untuk mengunjungi Lubang Mbah Suro. Berbicara mengenai mbah Suro, ia adalah seorang mandor yang didatangkan dari pulau Jawa untuk memantau pekerja tambang.

Sebuah terowongan bekas galian tambang dengan kedalaman beberapa ratus meter ke bawah dari permukaan tanah menyambut langkah kedatangan saya. Penambangan di lubang ini berdasarkan informasi yang saya peroleh terjadi sekitar tahun 1898 hingga 1932. Eksploitasi penambangan yang dilakukan oleh pemerintahan kolonial Belanda di saat itu membutuhkan tenaga kerja yang cukup banyak.

Selain mendatangkan pekerja tambang yang merupakan narapidana Penjara Muara Padang, juga didatangkan dari pulau Jawa. Tahanan yang dianggap berbahaya dikalungkan rantai dan besi yang melingkar di pergelangan tangan dan kaki mereka. Dan, disinilah lahir sebutan orang rantai. Ditempat ini kita dapat menemui monumen orang rantai sebagai gambaran terhadap apa yang pernah terjadi di kota tambang ini.

monumen-orang-rantai

Monumen orang rantai sebagai gambaran kisah di masa lalu tentang pekerja tambang.

Diresmikan pada April 2008, Lubang mbah Suro mengalami pemugaran pada lubang pertama sekitar pertengahan 2007 lalu sebagai komitmen mewujudkan Sawahlunto sebagai kota wisata tambang dengan membangun beberapa anak tangga. Renovasi ini tetap mempertahankan keaslian seperti terlihat pada langit-langit terowongan dan dinding yang terbuat dari batu bara.

16558966_1374256399292919_1457972769_n

Museum Gudang Ransum adalah kompek dapur umum para pekerja tambang dan pasien rumah sakit. Sekilas warna cat merahnya mengingatkan saya pada Malaka, Malaysia. Oh, ya di sini kita juga bisa menemui satu ruangan ‘malaka’ yang merupakan kerjasama pemerintah setempat dengan Malaka.

 Oh, ya mengenai kisah tentang orang rantai pun dapat juga kita temukan di Gudang Ransum, sebuah kompleks bangunan yang dulunya digunakan bekas dapur umum para pekerja tambang batu bara dan pasien rumah sakit yang tak jauh dari lubang penambangan tersebut keberadaannya.

 Menyapa Mak Itam, Sang Legenda Lokomotif Uap

Perjalanan saya berakhir di stasiun yang masih kental dengan suasana tempo dulunya. Menanti kereta lokomotif tua yang akan membawa saya kembali ke ibukota Provinsi, Padang. Suara lonceng dan pluit petugas kereta saling bersahut disela deru mesin kereta memasuki stasiun.

16558753_1374216105963615_635721856_n

Kereta-kereta di masa itu yang terdapat si stasiun Sawahlunto yang kini beralih menjadi museum kereta api.

Tentu peristiwa itu hanya terjadi dalam khayalan saya. Pikiran saya benar-benar terlempar ke masa kolonial Belanda. Mendongak kepala dan menemukan jam dinding yang bertuliskan huruf Romawi. Sebuah tulisan selamat datang di museum kereta api memberi informasi bagi saya. Museum kereta api Sawahlunto merupakan satu-satunya di pulau Sumatra dan yang kedua di Indonesia setelah Ambarawa, Jawa Tengah.

Pembangunan jalur kereta api dari Sawahlunto ke Padang pada saat itu bertujuan untuk memudahkan mengangkut hasil tambang batu bara ke pelabuhan Teluk Bayur sebelum berlayar ke benua Eropa. Museum kereta api ini menyimpan literatur tentang lokomotif uap dan sejarah kereta api di kota tambang ini.

16652036_1374221139296445_1965556998_n

miniatur kereta api yang mengagumkan. Di museum kereta api kita juga bisa menemui sejarah perkembangan kereta yang dijelaskan dengan baik.

Di museum ini Mak Itam, salah satu lokomotif uap yang digunakan sejak 1894 lalu diistirahatkan. Beberapa kali Mak Itam pernah digunakan sebagai kereta wisata dalam perjalanan menuju Muara Kalaban. Sayangnya, tergerus usia yang tak bisa dikatakan muda, Mak Itam kerap tak bisa berfungsi dengan baik.

Dulu Mak Itam berada di Museum Ambarawa, namun sejak stasiun ini dijadikan museum pada 2005 lalu, ia dibawa kembali ke tempat asalnya, Sawahlunto. Perjalanan saya berakhir di sini, menyapa Mak Itam dengan harapan ia tetap kuat dan ‘muda’. Saya ingin melempar pandang dari jendela kereta menikmati alam Sawahlunto. Merasakan kembali kemewahan kehidupan kolonial Belanda di masa emas hitam masih berjaya saat itu.

Saya pun memejamkan mata sejenak. Pilihan melarikan diri dari kepenatan aktivitas ke kota ini adalah langkah tempat. Ada sesuatu baru yang membuat pikiran saya terlahir kembali. Satu hari yang penuh makna dalam perjalanan kali ini.

 

Get Lost In South Korea (2) : Tentang Orang-Orang di Perjalanan dan Seuntas Senyum Bahagia

Bapak itu ngeracau cukup keras di telinga saya. Berusaha untuk menjelaskan sesuatu yang tentu saja tak saya mengerti. Saya mengigit bibir, meringis tak tentu ditengah kebingungan memahami setiap kata yang ia keluarkan dari mulutnya.

“ Sorry..”

Ia masih saja berbicara. Mendekatkan mulutnya ke daun telinga. Suaranya cukup keras dan nyaring. Sejujurnya ini sungguh menganggu gendang telinga. Entah hitungan menit keberapa akhirnya ia menyerah. Sudut hati saya merasa bersalah tak membalas ocehannya. Bahasa menjadi kendala untuk berbagi obrolan.

Pagi itu, sepulang dari Haedong Yong Gung Temple saya berjalan menelusuri jalanan Haeundae hingga menemui sekelompok orang tua yang sedang mengadakan acara. Ini pagi pertama saya di kota pelabuhan terbesar se -Asia ini. Rasanya tak ingin menyiakan waktu, saya menikmati udara perkotaan dengan berjalan kaki.

Alunan lagu lawas terdengar menyenangkan ditengah wajah kegembiraan mnyambut langkah saya. Saya pun terpaku dan diam-diam mengukir senyum melihat aktivitas para orang tua yang berkumpul dengan bahagia.

15171269_10210639674769358_2659081439634790432_n

Haeundae Station, Busan : Sepasang kakek nenek meminta saya untuk mengabadikan foto mereka berdua. Pada mereka saya belajar tentang rasa cinta yang tak tergerus usia dan waktu.  Inilah romantisme cinta yang menakjubkan.

Sepasang kakek nenek menghampiri saya. Dengan bahasa isyarat mereka ingin saya mengambil foto mereka lewat kamera saya. Tak ingin menyiakan kesempatan, saya pun mengabadikan kebahagiaan pasangan tersebut. Keasyikan saya terganggu saat seorang kakek tiba-tiba muncul dan mengajak saya mengobrol.

Rentetan katanya tak satu pun saya mengerti. Sungguh sebagai orang yang suka mengobrol tentu hal ini cukup membuat sudut hati saya sedih. Sebab terkadang kita menemukan hal yang menyenangkan dalam setiap obrolan dengan orang asing.

****

Busan bagi saya merupakan kota metropolitan yang cukup humanis. Senyum sekelompok manula yang saya temui di salah satu kawasan dekat stasiun Haeundae setidaknya gambaran tersebut menyadarkan saya betapa kota ini cukup ramah. Tak berhenti disana, saat memutuskan untuk menaiki Hop-on Hop-off tour kembali saya terjebak pada suara riuh para orang tua dengan keriangan terpancar di wajah mereka.

dsc02973

Salah satu aktivitas pelabuhan di pesisir pantai Haeundae. Mengagumkan adalah kebersihan tempat ini yang terjaga dengan baik

Malam itu, setelah menghabiskan waktu dengan istirahat sejenak di Hostel saya memutuskan beranjak dari Haeundae menuju downtown-nya Busan. Menemui mbak Nuning, penguasaha tempe yang cukup lama berada di Busan.

Berbicara mengenai Mbak Nuning, saya tak sengaja menemukan akun facebook-nya di salah  satu group traveller. Tak ada alasan yang pasti saat itu, kecuali sama-sama INDONESIA—tentu faktor dia tinggal di Busan menjadi pertimbangan bagi saya saat itu.

Di salah satu tempat makan khas Korea di kawasan Pusan University, bersama Lastin – tetangga mbak Nuning yang lagi kuliah di Pusan University, kami pun bercerita banyak hal. Lastin menanyakan tujuan saya datang ke Korea Selatan. Dengan senyum malu-malu saya pun mengungkapkan kalau perjalanan ini dalam rangka PPJ – Para pencari jodoh. *eh

16700252_10211454672703797_3513964935293664022_o

Pencinta drama korea mungkin nggak asing dengan menu ini ; Teobokki dan Odeng serta gorengan ubi. Untuk Odeng sendiri mengingatkan saya pada rasa otak-otak.

Obrolan sempat membahas tentang K-pop. Tentang kegilaan mereka yang di tanah air terperangkap pada virus Hallyu. Dan, salah satu alasan untuk bermimpi bisa ke Korea Selatan. Saya sempat senyum malu; sejujurnya, salah satu alasan saya mengunjungi tempat ini adalah karena pengaruh Kpop.

 Malam itu, mbak Nuning dan Lastin yang membagi cerita pengalaman tinggal di Busan. Tentang aturan pembuangan sampah yang berjadwal, tentang cowok Korea yang suka berdandan, dan keamanan kota ini dengan tebaran CCTV.

16716220_10211454671063756_2094365114880442754_o

Profesi yang paling laku ketika ujian atau apapun itu adalah tukang Ramal. Hampir sepanjang jalan di kawasan Pusan University terdapat tenda-tenda tukang Ramal.

Malam itu, saya dapat berhemat beberapa ribu won sekedar bisa menikmati makanan khas Korea yang selama ini saya saksikan di k-drama. Yah, mungkin ini salah satu tips menghemat pengeluaran melancong di negeri orang adalah menemui saudara setanah air di sana. Tapi dengan aturan dan syarat yang berlaku tentunya. *nyengir*