Get Lost In South Korea : Tentang Pelarian

 

Bandara Incheon, Korea Selatan

Jarum jam menunjuk angka sepuluh lewat sepuluh menit di pergelangan tangan saya saat langkah kaki keluar dari Airport Railroad Express Train (AREX). Suasana sepi dan sunyi mengikuti langkah kebingungan saya menyisiri Bandara Incheon – mengabaikan kemewahan arsitektur futuristik bandar udara tersebut.

Udara dingin malam itu tak saja membuat bibir saya kering. Tenggorokan serta lidah dan bagian atas bibir terasa perih. Saya mencari tempat sekedar mengistirahatkan sejenak kaki yang telah berjalan menelusuri sudut perkotaan metropolitan Korea Selatan ini. Tak ada kesan yang berarti malam itu, sedikit penyesalan dengan waktu yang terabaikan sehingga melewati hal-hal yang lebih menakjubkan selama ini dilihat dari layar ponsel.

Saya menelan ludah. Tenggorokan benar-benar terasa tidak nyaman. Mata saya memanas. Tersadar pada badan yang mulai ‘protes’ karena dipaksa beraktivitas ditengah penyesuaian terhadap cuaca dingin. Mengandalkan Tolak Angin yang tersisa satu, saya mengemut perlahan-lahan memberi rasa nyaman pada lidah dan tengorokan.

Dalam sujud saya saat menunaikan sholat di depan nursery room bandara usai mengistirahatkan badan, ragam emosi sulit diungkapkan. Tersisa sudut mata yang berkaca. Pada rasa syukur terhadap sang pemberi hidup; “Allah, terima kasih untuk perjalanan yang luar biasa ini. Mengizinkan saya memaksa langkah ini.

incheon

Suasana menuju gate di Bandara Internasional Incheon, Korea Selatan : Bandar Udara ini sempat berturut-turut meraih penghargaan sebagai Bandara terbaik di dunia.

****

Delapan hari yang lalu…

Udara dingin perlahan merasuki tubuh saya. Menembus jaket windbreaker yang saya kenakan saat keluar dari Busan Stasiun. Berdiri menanti bis 1001 yang akan membawa saya ke hostel tempat saya menginap di daerah Haeundae Beach. Terbiasa dengan panasnya pesisir pantai, tentu ini cukup menyiksa. Saya mengigit bibir, mengabaikan ucapan seorang kenalan di facebook yang menyarankan saya membawa pakaian hangat atau jaket tebal.

Menaiki bis, aroma tak sedap menusuk hidung. Saya menarik napas – entahlah bagaimana cara mendeskripsikan aroma bau tersebut. Dalam kebingungan, mata saya awas menatap jam digital yang terpampang di dalam bis. Jantung saya berdebar tak karuan, hostel tempat saya menginap memberi waktu check-in sampai pukul 11.00 malam, sementara tersisa lima belas menit lagi.

haeundae-beach

Haeundae Beach : Salah satu destinasi favorit jika berkunjung ke Busan. Pantai ini memiliki lautan pasir yang cukup bersih dan menarik

Pada perjalanan yang entah berapa kilo, saya memutuskan untuk turun dari Bis. Berpindah pada transportasi Taksi dengan harap-harap cemas. Saya sempat sedikit panik saat menyadari supir taksi tak bisa menggunakan bahasa Inggris dan tak memahami alamat yang saya berikan. Beruntung, supir taksi yang lain memberi petunjuk pada temannya itu dengan menggunakan GPS berdasarkan informasi dari nomor telpon hostel.

Kebingungan saya ternyata tak berhenti, terpaku pada bangunan ditengah luasnya jalan raya dan dingin yang makin menusuk. Sebelas lewat lima menit. Memejamkan mata, seraya menghela napas panjang. Sepasang muda-mudi berjalan melintasi di sisi saya. Reflek saya mengejar langkah mereka.

“ Sorry, can you help me?”

Langkah mereka berhenti. Menatap penuh arti pada tubuh mungil saya.

 “ How to get this hostel.” Saya menyodorkan smartphone.

Si cowok meraih ponsel saya, matanya melepas pandang ke bangunan tinggi dihadapan kami. Ia tersenyum. Masih tetap merangkul ceweknya, mengiring langkah saya pada satu pintu. Memberi petunjuk apa yang harus dilakukan seraya menyerahkan ponsel. Membawa langkah saya hingga ke pintu lift.

“ Thank you.”

“ Bye,” ucap mereka lembut.

****

Malam itu, pihak hostel ternyata menunggu kedatangan saya. Usai berbenah, di ruang pantry seraya menikmati air hangat dan dua buah biskuit oat gandum, pikiran saya dipenuhi puzzle peristiwa yang saya lalui saat hendak memulai perjalanan ini ; kecelakaan motor sehari sebelum penerbangan yang membuat badan saya terhempas ke aspal, ketersediaan mata uang setempat ; 50.000 won, tersisa 50 euro dan 100 dollar, serta lembaran rupiah yang saya tak tahu jumlahnya berapa.

busan

Taman di depan Busan Station cukup menarik jika malam tiba. Gemerlap lampu menambah keelokan kota ini.

Saya tertawa pelan. Menyadari ketidaksiapan saya melakukan perjalanan ini. Tak ada itinerary yang pasti seperti biasanya. Mengandalkan tas ransel jansport, saya hanya membawa tiga pasang baju dan handuk kecil. Lupakan aneka makanan yang biasa saya bawa serta perlengkapan obat-obatan. Tersisa adalah dua bungkus tolak angin dan sambal ABC serta satu bungkus Abon.

Malam itu, saya menyadari tujuan dari perjalanan kali ini tak lebih dari pelarian terhadap kejenuhan hidup yang melelahkan akhir-akhir ini, sekedar mengistirahatkan diri pada tanya yang tak usainya. Itu kenapa saya tak mempedulikan rancangan perjalanan saat visa sudah ditangan. Tak ada bayangan perjalanan yang menghantui saya seperti perjalanan solo backpacking ke Thailand 2015 lalu ; Sebulan sebelum berangkat saya sudah dihantui ragam apa yang harus saya lakukan di Thailand saat itu.

Malam itu, alih-alih membuat itinerary untuk perjalanan keesok harinya, saya lebih memilih membaringkan badan. Menikmati kenyamanan akan sebuah kasur. Lebih tepatnya merasakan sakitnya punggung akibat kecelakaan dua hari yang lalu.

dsc03028

Adik saya, Yulma, meminta untuk menulis namanya di sebuah kertas lazimnya kebanyakan yang bermunculan di sosial media. Sempat bingung dengan pemilihan kata-kata — dan berujung pada protes, harusnya nulis :” Adik kapan ke sini?” -_-

 

 

Iklan

13 comments

  1. Banyak kejadian yang tak terduga ya Mbak. Mbak kuat banget. Jadi penasaran dengan bagaimana petualangan di Korea selanjutnya. Tapi satu yang pasti: sudah sampai Korea. Syukur banget pemilik hostelnya masih mau menunggu, hehe. Kalau saya mungkin sudah panik banget dah jika begitu kejadiannya. Mesti belajar banyak dari para solotraveler seperti Mbak soal bagaimana menjadi tenang di tanah orang ketika ada masalah. Hehe.

  2. @Gara : Terima kasih Gara… ya selalu ada kejadian tak terduga dalam perjalanan. Saya percaya Insya Allah semua akan baik-baik saja jika kita melibatkan perjalanan ini dengan nama-Nya. hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s