Get Lost In South Korea (2) : Tentang Orang-Orang di Perjalanan dan Seuntas Senyum Bahagia

Bapak itu ngeracau cukup keras di telinga saya. Berusaha untuk menjelaskan sesuatu yang tentu saja tak saya mengerti. Saya mengigit bibir, meringis tak tentu ditengah kebingungan memahami setiap kata yang ia keluarkan dari mulutnya.

“ Sorry..”

Ia masih saja berbicara. Mendekatkan mulutnya ke daun telinga. Suaranya cukup keras dan nyaring. Sejujurnya ini sungguh menganggu gendang telinga. Entah hitungan menit keberapa akhirnya ia menyerah. Sudut hati saya merasa bersalah tak membalas ocehannya. Bahasa menjadi kendala untuk berbagi obrolan.

Pagi itu, sepulang dari Haedong Yong Gung Temple saya berjalan menelusuri jalanan Haeundae hingga menemui sekelompok orang tua yang sedang mengadakan acara. Ini pagi pertama saya di kota pelabuhan terbesar se -Asia ini. Rasanya tak ingin menyiakan waktu, saya menikmati udara perkotaan dengan berjalan kaki.

Alunan lagu lawas terdengar menyenangkan ditengah wajah kegembiraan mnyambut langkah saya. Saya pun terpaku dan diam-diam mengukir senyum melihat aktivitas para orang tua yang berkumpul dengan bahagia.

15171269_10210639674769358_2659081439634790432_n

Haeundae Station, Busan : Sepasang kakek nenek meminta saya untuk mengabadikan foto mereka berdua. Pada mereka saya belajar tentang rasa cinta yang tak tergerus usia dan waktu.  Inilah romantisme cinta yang menakjubkan.

Sepasang kakek nenek menghampiri saya. Dengan bahasa isyarat mereka ingin saya mengambil foto mereka lewat kamera saya. Tak ingin menyiakan kesempatan, saya pun mengabadikan kebahagiaan pasangan tersebut. Keasyikan saya terganggu saat seorang kakek tiba-tiba muncul dan mengajak saya mengobrol.

Rentetan katanya tak satu pun saya mengerti. Sungguh sebagai orang yang suka mengobrol tentu hal ini cukup membuat sudut hati saya sedih. Sebab terkadang kita menemukan hal yang menyenangkan dalam setiap obrolan dengan orang asing.

****

Busan bagi saya merupakan kota metropolitan yang cukup humanis. Senyum sekelompok manula yang saya temui di salah satu kawasan dekat stasiun Haeundae setidaknya gambaran tersebut menyadarkan saya betapa kota ini cukup ramah. Tak berhenti disana, saat memutuskan untuk menaiki Hop-on Hop-off tour kembali saya terjebak pada suara riuh para orang tua dengan keriangan terpancar di wajah mereka.

dsc02973

Salah satu aktivitas pelabuhan di pesisir pantai Haeundae. Mengagumkan adalah kebersihan tempat ini yang terjaga dengan baik

Malam itu, setelah menghabiskan waktu dengan istirahat sejenak di Hostel saya memutuskan beranjak dari Haeundae menuju downtown-nya Busan. Menemui mbak Nuning, penguasaha tempe yang cukup lama berada di Busan.

Berbicara mengenai Mbak Nuning, saya tak sengaja menemukan akun facebook-nya di salah  satu group traveller. Tak ada alasan yang pasti saat itu, kecuali sama-sama INDONESIA—tentu faktor dia tinggal di Busan menjadi pertimbangan bagi saya saat itu.

Di salah satu tempat makan khas Korea di kawasan Pusan University, bersama Lastin – tetangga mbak Nuning yang lagi kuliah di Pusan University, kami pun bercerita banyak hal. Lastin menanyakan tujuan saya datang ke Korea Selatan. Dengan senyum malu-malu saya pun mengungkapkan kalau perjalanan ini dalam rangka PPJ – Para pencari jodoh. *eh

16700252_10211454672703797_3513964935293664022_o

Pencinta drama korea mungkin nggak asing dengan menu ini ; Teobokki dan Odeng serta gorengan ubi. Untuk Odeng sendiri mengingatkan saya pada rasa otak-otak.

Obrolan sempat membahas tentang K-pop. Tentang kegilaan mereka yang di tanah air terperangkap pada virus Hallyu. Dan, salah satu alasan untuk bermimpi bisa ke Korea Selatan. Saya sempat senyum malu; sejujurnya, salah satu alasan saya mengunjungi tempat ini adalah karena pengaruh Kpop.

 Malam itu, mbak Nuning dan Lastin yang membagi cerita pengalaman tinggal di Busan. Tentang aturan pembuangan sampah yang berjadwal, tentang cowok Korea yang suka berdandan, dan keamanan kota ini dengan tebaran CCTV.

16716220_10211454671063756_2094365114880442754_o

Profesi yang paling laku ketika ujian atau apapun itu adalah tukang Ramal. Hampir sepanjang jalan di kawasan Pusan University terdapat tenda-tenda tukang Ramal.

Malam itu, saya dapat berhemat beberapa ribu won sekedar bisa menikmati makanan khas Korea yang selama ini saya saksikan di k-drama. Yah, mungkin ini salah satu tips menghemat pengeluaran melancong di negeri orang adalah menemui saudara setanah air di sana. Tapi dengan aturan dan syarat yang berlaku tentunya. *nyengir*

 

 

 

Iklan

9 comments

  1. Romantisnya kakek dan nenek itu, semoga mereka selalu bahagia. Dan memang beruntung banget jika di tanah yang jauh ada kawan-kawan sekampung halaman ya. Minimal kita dapat informasi lebih jauh soal apa-apa yang mesti diperhatikan di tempat itu. Saya melihat Busan dari sisi yang berbeda dan lebih humanis melalui tulisan ini. Tidak cuma sebuah kota pelabuhan yang merupakan salah satu yang terbesar di Asia. Di balik kerasnya pelabuhan pun, ada cinta, hehe.
    Semoga cepat menemukan jodoh yang dicari ya Mbak. Amin.

  2. Tuh kan setiap orang beda2 ngalamin perjalanannya. Ketemu kakek nenek mesra, ketemu orang baik yg kasih tunjuk hostel… sementara saya engga sama sekali…. senanglah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s