Satu Hari Yang Bermakna di Sawahlunto, Sumatra Barat

Bawolah buku iko atau fotokopi (bawalah buku ini atau fotokopi). Banyak cerita sejarah yang menarik yang bisa kamu dapat,” ujar bapak pemilik toko kelontong yang saya singgahi sekedar membeli minuman dingin. Wajah asing saya membawa si bapak cerita banyak tentang daerah yang sedang saya kunjungi. Di seberang tokonya terdapat bangunan tua khas Arsitektur Tionghoa yang dikenal dengan rumah Fak Sin Kek.

            Rumah tersebut dibangun tahun 1906 oleh Fak Sin Kek, seorang berkebangsaan Tiongkok yang menetap di kota ini. Bangunan tersebut menjadi cagar budaya dan salah satu tujuan wisata sejarah. Bangunan ini juga menjadi bukti tentang keglamouran sebuah kota ketika emas hitam masih berjaya yang membuat banyak pendatang mengadu nasib di daerah tempat dimana pencetus sumpah pemuda lahir, Mohammad Yamin.

            Adalah Sawahlunto. Dimana pagi itu saya menjejaki untuk pertamakalinya setelah hampir belasan tahun mendengar namanya. Sebuah kota yang terletak 95 km sebelah timur laut kota Padang, ibukota provinsi Sumatra Barat. Daerah ini dikenal dengan kota tambang, namun belakangan mulai bergiat menuju kota wisata sejarah dengan cerita yang mengagumkan.

16559106_1374213589297200_1249758657_n

Sawahlunto ; Kota Tambang yang berevolusi menuju kota wisata sejarah

Berbekal buku saku yang berisi informasi tentang tempat wisata milik sang bapak, pagi itu saya melakukan napak tilas kejayaan kota ini dimasa lalu.

            The Little Old Netherland   

            Bagi saya yang berdarah Minangkabau memasuki kota yang dikelilingi oleh perbukitan ini terasa asing. Saya merasa seperti sedang tidak berada di Sumatra Barat, namun terlempar di dimensi waktu yang berbeda. Bangunan tua dan arsitektur khas Belanda masih terjaga dengan baik.

            Saya pun memasuki sebuah bangunan yang di depannya terdapat plang bertuliskan Museum Tambang Batu Bara. Menemui cerita dari kota yang dikenal sebagai situs pertambangan batu bara tertua se Asia Tenggara. Yup, kota ini sempat berjaya di masa lalu berkat emas hitam yang membuat banyak orang berdatangan ke daerah tersebut sehingga terasa kental suasana multietnisnya.

16559029_1374261329292426_129359942_n

Salah satu artefak yang ada di museum tambang batu bara Ombilin, Sawahlunto

              Berawal dari penemuan oleh De Groet yang menyusuri Singkarak pada pertengahan abad ke-19, kemudian ditindaklanjuti oleh Ir W.H. de Grave yang menemukan ada ratusan juta ton emas hitam bersemayam di bumi Sawahlunto. Inilah awal dimana penambangan di mulai oleh pemerintah Kolonial sekitar tahun 1892.

             Pemandu museum memberitahu saya tentang gedung museum yang merupakan bangunan bekas pemerintahan Belanda disela-sela keasyikan saya mengamati ragam artefak emas hitam dan peralatan tambang yang digunakan dari waktu ke waktu. Di buka secara resmi pada 2014 lalu, museum batu bara ini sudah banyak dikunjungi dari berbagai kalangan termasuk para akademis.

          Uni, begitu saya memanggil sang pemandu museum pun bercerita pernah kedatangan tamu dari Belanda. “Ada seorang ibu-ibu, dia udah lama tinggal Belanda dan main ke sini. Dia bercerita beberapa bangunan benar-benar mirip yang ada di Belanda.”

            Saya mengangguk. Menatap langit-langit gedung dan memperhatikan setiap detail sudut ruangan. Pikiran saya menerka tentang gambaran kehidupan di Sawahlunto saat tambang emas hitam berjaya di Sawahlunto. Entah kenapa saya merasakan kemewahan hidup ala Eropa dan aura pekerja lori sangat kental di kota ini.

Mbah Suro dan kisah orang rantai

16559331_1374224045962821_1387354585_n

Lubang Mbah Suro ; Ditempat inilah pernah ada kisah orang rantai

Pemandu museum tambang batu bara mengarahkan langkah saya selanjutnya untuk mengunjungi Lubang Mbah Suro. Berbicara mengenai mbah Suro, ia adalah seorang mandor yang didatangkan dari pulau Jawa untuk memantau pekerja tambang.

Sebuah terowongan bekas galian tambang dengan kedalaman beberapa ratus meter ke bawah dari permukaan tanah menyambut langkah kedatangan saya. Penambangan di lubang ini berdasarkan informasi yang saya peroleh terjadi sekitar tahun 1898 hingga 1932. Eksploitasi penambangan yang dilakukan oleh pemerintahan kolonial Belanda di saat itu membutuhkan tenaga kerja yang cukup banyak.

Selain mendatangkan pekerja tambang yang merupakan narapidana Penjara Muara Padang, juga didatangkan dari pulau Jawa. Tahanan yang dianggap berbahaya dikalungkan rantai dan besi yang melingkar di pergelangan tangan dan kaki mereka. Dan, disinilah lahir sebutan orang rantai. Ditempat ini kita dapat menemui monumen orang rantai sebagai gambaran terhadap apa yang pernah terjadi di kota tambang ini.

monumen-orang-rantai

Monumen orang rantai sebagai gambaran kisah di masa lalu tentang pekerja tambang.

Diresmikan pada April 2008, Lubang mbah Suro mengalami pemugaran pada lubang pertama sekitar pertengahan 2007 lalu sebagai komitmen mewujudkan Sawahlunto sebagai kota wisata tambang dengan membangun beberapa anak tangga. Renovasi ini tetap mempertahankan keaslian seperti terlihat pada langit-langit terowongan dan dinding yang terbuat dari batu bara.

16558966_1374256399292919_1457972769_n

Museum Gudang Ransum adalah kompek dapur umum para pekerja tambang dan pasien rumah sakit. Sekilas warna cat merahnya mengingatkan saya pada Malaka, Malaysia. Oh, ya di sini kita juga bisa menemui satu ruangan ‘malaka’ yang merupakan kerjasama pemerintah setempat dengan Malaka.

 Oh, ya mengenai kisah tentang orang rantai pun dapat juga kita temukan di Gudang Ransum, sebuah kompleks bangunan yang dulunya digunakan bekas dapur umum para pekerja tambang batu bara dan pasien rumah sakit yang tak jauh dari lubang penambangan tersebut keberadaannya.

 Menyapa Mak Itam, Sang Legenda Lokomotif Uap

Perjalanan saya berakhir di stasiun yang masih kental dengan suasana tempo dulunya. Menanti kereta lokomotif tua yang akan membawa saya kembali ke ibukota Provinsi, Padang. Suara lonceng dan pluit petugas kereta saling bersahut disela deru mesin kereta memasuki stasiun.

16558753_1374216105963615_635721856_n

Kereta-kereta di masa itu yang terdapat si stasiun Sawahlunto yang kini beralih menjadi museum kereta api.

Tentu peristiwa itu hanya terjadi dalam khayalan saya. Pikiran saya benar-benar terlempar ke masa kolonial Belanda. Mendongak kepala dan menemukan jam dinding yang bertuliskan huruf Romawi. Sebuah tulisan selamat datang di museum kereta api memberi informasi bagi saya. Museum kereta api Sawahlunto merupakan satu-satunya di pulau Sumatra dan yang kedua di Indonesia setelah Ambarawa, Jawa Tengah.

Pembangunan jalur kereta api dari Sawahlunto ke Padang pada saat itu bertujuan untuk memudahkan mengangkut hasil tambang batu bara ke pelabuhan Teluk Bayur sebelum berlayar ke benua Eropa. Museum kereta api ini menyimpan literatur tentang lokomotif uap dan sejarah kereta api di kota tambang ini.

16652036_1374221139296445_1965556998_n

miniatur kereta api yang mengagumkan. Di museum kereta api kita juga bisa menemui sejarah perkembangan kereta yang dijelaskan dengan baik.

Di museum ini Mak Itam, salah satu lokomotif uap yang digunakan sejak 1894 lalu diistirahatkan. Beberapa kali Mak Itam pernah digunakan sebagai kereta wisata dalam perjalanan menuju Muara Kalaban. Sayangnya, tergerus usia yang tak bisa dikatakan muda, Mak Itam kerap tak bisa berfungsi dengan baik.

Dulu Mak Itam berada di Museum Ambarawa, namun sejak stasiun ini dijadikan museum pada 2005 lalu, ia dibawa kembali ke tempat asalnya, Sawahlunto. Perjalanan saya berakhir di sini, menyapa Mak Itam dengan harapan ia tetap kuat dan ‘muda’. Saya ingin melempar pandang dari jendela kereta menikmati alam Sawahlunto. Merasakan kembali kemewahan kehidupan kolonial Belanda di masa emas hitam masih berjaya saat itu.

Saya pun memejamkan mata sejenak. Pilihan melarikan diri dari kepenatan aktivitas ke kota ini adalah langkah tempat. Ada sesuatu baru yang membuat pikiran saya terlahir kembali. Satu hari yang penuh makna dalam perjalanan kali ini.

 

Iklan

9 comments

  1. Membayangkan perihnya kerja mereka sang orang rantai itu pasti sangat menyakitkan dan menyedihkan. Ya Tuhan, orang-orang itu mengeruk kekayaan bangsa. Ibarat tamu yang sudah dikasih hati tapi meminta jantung. Pasti berasa banget ya Mbak sedih dan harunya, saudara-saudara sendiri diperlakukan seperti itu. Tapi sekarang masih ada nggak sih penambangan batu bara di sana? Apa dalam kurun waktu penambangan kolonial itu, sudah habis semua? Doh pengen ke Sawahlunto nih jadinya, haha.

  2. @Gara : Sekarang udah nggak ada lagi Gara, pemerintahnya kini fokus membangun wisata sejarah di kota ini. Ayoo main ke Sawahlunto, ntar mampir ke Padang 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s