Bulan: April 2017

Review Film Surau dan Silek : Tentang Ambisi dan Filosofi Silek Bagi Sang Petarung

” Silek lahirnya mencari  kawan, batinnya mencari Tuhan.”

SURAU

Film dibuka dengan cerita kekalahan tokoh bernama Adil dalam melawan Hardi yang disinyalir melakukan kecurangan. Adil tak sendiri, dua sahabatnya , Kurip dan Akbar yang berada dalam guru yang sama, Rustam ( Gilang Dirga), pun mengalami hal yang serupa.

Kekalahan cukup membuat Adil tak terima. Apalagi di sekolah, Hardi kerap memperolok-olok dirinya yang membuat emosi Adil tersulut untuk berkelahi. Hardi terkadang juga menyindir keadaan ekonomi Adil yang tidak berkecukupan. Sikap teman sekolah sekaligus rivalnya di gelangang itulah yang membuat Adil terobsesi memenangkan laga selanjut yang diadakan 6 bulan sekali.

IMG_9893

Di satu sisi, kegalauan Rustam yang tak saja sebagai guru silek tapi juga Mamak (paman) Adil membuat ia mengambil keputusan untuk merantau. Meninggalkan tanggung jawabnya terhadap tiga bocah yang berambisi untuk menang dalam laga .

Kepergian Mak Rustam tentu membawa tiga sahabat ini cukup terpukul ditengah pertandingan yang semakin dekat. Beruntung, mereka memiliki teman cantik nan cerdas bernama Rani yang mengenalkan mereka pada Gaek Johar seorang pensiun dosen yang memilih kembali ke kampung Halaman.

Bagi Adil, silek membawa kebanggaan tersendiri atas kemenangan mengalahkan Hardi, Sedangkan bagi Kurip Silek adalah ‘Paga diri’ , sedangkan Dayat sekedar menguruskan badan gemuknya.

IMG_9894

Dibawah bimbingan Gaek Johar perlahan pandangan mereka tentang ambisi sebuah kemenangan pun berubah. Tentang silek yang mendatangkan pertemanan dan mengenal Tuhan.

“Silek tuh untuak mancari kawan jo mancari Tuhan. Indak kalah manang nan jadi ukuran.”

****

Film surau dan silek adalah salah satu film yang sempat mampu ‘menghantui’ pikiran saya usai menontonnya. Film ini bukanlah film yang bertema Laga. Tapi sebuah film drama anak-anak yang ringan, sederhana dan penuh makna. Ibarat makanan khas Minang, ia seperti kerupuk balado.

IMG_9781

Kehadiran Praz Teguh, sebagai teman Rustam cukup mengelitik dengan bahasa minangnya yang kental. Ya, hampir 90 persen film ini mengunakan bahasa minang — tenang bagi tak paham ada subtittlenya lho!

‘Jualan’ dari sponsor pada film ini pun terlihat sangat soft — Kehadiran hotel Ananda yang sekilas dilihatkan dan snack merk Ananda pada saat Gaek masuk rumah sakit hanya beberapa detik tak banyak. Tetap fokus pada cerita.

Berikut ada beberapa poin kesimpulan berdasarkan pandangan pribadi saya dari film yang disutradarai oleh Sineas Muda asal Minangkabau, Arief Malinmudo.

Film anak-anak yang sarat akan moral agama 

Bagi saya film Surau dan Silek tak hanya berkisah tentang persahabatan tapi juga hubungan nan renyah antara mereka bertiga, Adil, Kurip dan Akbar ; penuh tawa. Mengajarkan ketulusan khas anak-anak dan bagaimana saling mengatasi perasaan dendam — mengabaikan emosi masing-masing.

IMG_9896

Kondisi Adil sebagai anak yatim, juga kembali mengingat pada ajaran nilai agama mengenai tiga perkara ; Sedekah Jariah, ilmu yang bermanfaat dan do’a anak yang sholeh. Pesan ibunya yang selalu mengingatkan Adil tentang sang Abak (ayah) yang menyadarkan pentingnya menjadi pribadi yang sholeh agar Abaknya tenang di alam kubur.

Pun pada nilai-nilai kecurangan yang dilakukan Hardi pada akhirnya akan terkalahkan dengan sendirinya.

Menjaga kearifan lokal

Sebagai pemuda yang lahir dan besar di ranah Minangkabau tentu Arif paham mengenai tentang peran Surau bagi orang minangkabau. Bagi saya film ini mengingatkan saya kembali pada arti Minangkabau dalam diri saya yang mulai perlahan mengikis.

SURAU DAN SILEK

Bagi pemuda Minangkabau dulunya surau tak ubahnya basecamp dimana bisa mempelajari banyak hal termasuk silek. Maka itulah sebab dulunya di rumah gadang tak ada kamar untuk kaum pemuda.

Arif memberi kejutan yang menarik dari film Surau dan Silek, bukan memperlihatkan bagaimana budaya Minang tempo dulu. Tapi, lebih pada menyadari keberadaan surau dalam kehidupan budaya Minangkabau; tentang filosofi silek yang tak lepas dari nilai-nilai agama.

Ya, sebagai orang minang yang memegang falsafah hidup : ” Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” terlihat jelas dalam film ini — meskipun dalam alur cerita tidak menyingung hal ini.  Dan, perlu digarisbawahi walaupun mengandung unsur agama, film ini general bukan tentang agama. Sangat pas ditonton bersama keluarga dan sahabat.

Media promosi bagi pariwisata Minangkabau

Film surau dan silek adalah film kedua yang saya nonton setelah Denias :Senandung di atas awam yang mampu memanjakan mata saya dengan keindahan alam ibu pertiwi. Mengambil lokasi di daerah Bukittinggi, salah satu kota wisata di Sumatera Barat film ini menyuguhi alam yang membuat saya terpukau.

18159885_10212159979176018_1613034098_o

salah satu scene yang terdapat di film Surau dan Silek.

Bagi saya film merupakan media efektif dalam mempengaruhi setiap individu. Meskipun tidak bertujuan untuk “jualan” mengenai pariwisata Minangkabau, drama anak-anak ini membuat kita penasaran ingin mengunjungi daerah tersebut. Ya, setidaknya mengagumi keindahan alam Minangkabau yang tak terbantahkan. (eka hei)

Surau _ Silek promo

Iklan

Menyusuri Romantisme Sudut Perkotaan Seoul, Korea Selatan

Seoul menjadi destinasi impian bagi sebagian anak muda yang terperangkap virus Hallyu. Kota ini mendunia dengan romantisme tak terbantahkan.

Saya mengunjungi Seoul di pertengahan November ketika negara ini sudah mulai memasuki musim dingin. Sayangnya tak ada persiapan khusus selain mengandalkan jaket jenis windbreaker keluaran brand alat outdoor yang biasa digunakan saat mendaki gunung – cukup tangguh mengatasi suhu 10-15 degree menurut saya. Maka lupakan senyum penuh keriangan melangkah dengan cepat menghampiri destinasi favorit yang digadangkan media dan travel agen di tanah air ; Nami Island dan N Seoul tower.

Hari pertama di Seoul setelah menembus dinginnya udara subuh, saya memilih berdiam di livingroom guesthouse berbagi cerita sesama tamu penginapan dengan topik basa-basi seraya menyantap sarapan. Saya menikmati pagi menjelang siang yang tenang dan santai hingga sinar mentari menembus jendela menyadari saya akan waktu; pada penjelajahan sesungguhnya yang belum jua dimulai.

Itaewon menjadi salah satu kawasan favorit tujuan wisatawan (1)

Teriknya matahari ternyata tak sejalan dengan hembusan angin yang masih saja menyisakan dingin. Terbiasa dengan panasnya pesisir kota Padang, tentu ini cukup membuat tubuh mungil saya tidak nyaman. Reflek saya memasuki dua telapak tangan ke dalam saku jaket agar menyisakan kehangatan. Perjalanan mengajarkan saya pada sikap nrimo tanpa banyak protes, langkah saya tetap berjalan dengan santai menikmati cerahnya cuaca menjelang siang menelusuri kawasan Itaewon.

Street Market di Itaewon

Kawasan ini cukup populer bagi wisatawan internasional. Banyak dijumpai turis dari berbagai negara sepanjang jalan. Tulisan yang tersebar untuk memberitahu keterangan tak saja dalam bentuk huruf hangeul, tapi juga Inggris, Jepang, dan Mandarin. Tempat ini benar-benar kawasan turis. Saya pun menemui mie instan favorit tanah air di salah satu mart di Itaewon yang menjual barang dari berbagai negara ; Indomie.

Salah satu restoran bernuangsa mancanegara yang terdapat di Itaewon

Bisa dikatakan Itaewon adalah kampung global. Menawarkan sensasi berada ditengah keanekaragaman budaya yang menyenangkan. Untuk mengukuhkan daerah ini sebagai kawasan global, banyak dijumpai restoran yang menawarkan masakan dari berbagai belahan dunia seperti Thailand, Jepang, China, Belgia, New York, Italia, Mexico, Perancis, Turki, India bahkan Melayu. Umumnya di buka oleh Imigran asing yang datang ke Korea Selatan. Sebagian bahan kebutuhan masakan mereka impor dari negara asal untuk menjaga citra rasa otentik. ( Ah, jadi kepikiran untuk buka rumah makan Padang di sini:) )

Suasana malam di Itaewon

Seperti halnya Khaosan Road di Thailand, Itaewon  tak lepas dari banyaknya bar dan klub  malam – ini juga menjadi salah satu daya tarik Itaewon. Keramaian terasa saat malam tiba. Jika pagi hari menjelang siang kawasan ini relatif tenang. Saya pun menelusuri tiap gang jalanan. Menghirup atmosfer yang menyenangkan. Tujuan saya segera bertamu ke mesjid besar yang terkenal di Seoul.

Mesjid Pusat , Seoul

Tulisan arab Allahuakbar bewarna hijau berdiri dengan megah pada keindahan arsitektur bangunan mesjid menyambut langkah kecil saya usai berjalan mendaki memasuki halaman mesjid. Keramaian dihari Jum’at  yang memenuhi mesjid membuat haru tak terbantahkan perlahan-lahan menyusup di relung hati ini. Berbagai warna kulit memenuhi kawasan tersebut dengan damai. Terpancar kebahagiaan yang tak terbantahkan.

14992076_10210531766951730_4133870001042045703_n

Sebagai mesjid besar tempat ini kerap dijadikan sebagai tujuan wisata dan juga sebagai tempat mendengar pembicaraan berkenaan dengan Islam. Siang itu usai melaksanakan sholat, saya menjumpai rombongan pelajar Korea Selatan di halaman mesjid.

 “ Songsaenim (guru) !” teriak salah satu diantara mereka. Sang guru langsung menoleh ke saya diiringi rombongn pelajar yang berjalan menghampiri saya.

“ Dapankah kamu menolong kita. Berapa kali kamu sholat dalam sehari?” dengan bahasa Inggris yang pelan ia mengungkapkan hati-hati pada saya.

“ Lima.” Rupanya mereka sedang ada tugas sekolah mengenai pengenalan agama Islam.  Saya pun meladeni pertanyaan Songsaenim, sementara sang murid sibuk menulis di kertas.

keindahan mesjid besar Seoul di kala malam hari

Tadinya saya ingin melanjutkan perjalanan ke Namsan Park, sayangnya rasa penasaran saya pada kota ini membuat saya memilih jalan acak memasuki sebuah gang yang membuat saya tersasar. Hingga saya menemui perumahan yang tertata rapi. Menelusuri suasana sepi seraya mengamati bangunan perumahan yang ternyata tak jauh berbeda dengan bangunan perumahan yang selama ini saya lihat dalam drama Korea.

Pusat pertokoan Barang Antik, Itaewon

Langkah menyesatkan diri membawa saya pada deretan pertokoan barang antik di kawasan Itaewon. Sejenak saya merasa seperti terjebak di Jalan Surabaya, Jakarta. Bedanya tentu pada apa yang dijual. Jika di jalan surabaya di dominasi pada penjual tas dan sepatu, tempat ini mengutamakan furniture nan antik dan jadul.

kawasan pertokoan furniture antik di Itaewon

Sepasang kaki saya masih ingin berjalan. Melewati guguran daun pepohonan yang menyemarakan suasana jalanan kota. Menyenangkan dari kota ini adalah kenyamanan bagi pejalan kaki. Saya tidak menemui klakson motor yang menganggu keasyikan melangkah seperti yang pernah saya alami di kawasan Sudirman, Jakarta.  Pepohonan di sepanjang jalan cukup membantu saya merelaksasi pandangan mata dan pikiran. Menambah kesejukan siang itu.

Menikmati sore di Hangang Park

Bagi saya tak ada yang menyusahkan hati jika tersesat di dalam kota. Saya menyukai atmosfer perkotaan ditengah kesibukan aktivitas warga lokal yang berseliweran. Mata saya tak sengaja menangkap tulisan Hangang Park setelah lama melangkah. Saya pun memasuki semacam terowongn khusus pejalan kaki dan sepeda. Beberapa sepeda terparkir.

Terowongan Menuju Hangang Park (1)

Pandangan mata saya menangkap beberapa kamera pengawas dalam terowongan ini. Tergiang ucapan seorang teman, Lastin, yang sedang menempuh studi Magisternya di salah satu universitas Korea Selatan.

“ Korea Selatan relatif aman. Motor terparkir dengan meninggalkan kunci, tak ada yang mengambil. Kalau di Jakarta udah hilang kali. Di sini CCTV dimana-mana.”

Selain Lastin, seorang teman yang lain pun menyakini hati saya bahwa tak perlu ditakuti dari kota ini. “ Kalau kamu kemalaman, tetap aman kok,” ungkapnya lewat pesan facebook seminggu sebelum kedatangan saya ke kota megapolitan ini.

Saya teringat saat menikmati makan siang nasi instan di sebuah mini market, tertempel banyak foto orang yang sama sebagai pelaku pencurian di tempat tersebut yang tertangkap kamera pengawas. Itulah kenapa perasaan saya tetap aman terus berjalan menelusuri kesunyian terowongan. Di ujung terowongan sebuah jalanan luas khusus berolahraga menyambut saya. Di sisi jalanan tersebut sebuah sungai terbentang luas ; Sungai Han.

Kawasan Hangang Park yang dimanfaatkan tempat berolahraga

Terbentang dengan luas sepanjang 514 KM, sungai Han mengalir disepanjang kota Seoul yang menjadi penghubung antara wilayah yang Utara dan Selatan ibukota Korea Selatan ini. Ada banyak park yang di bangun pemerintahan Korea Selatan disisi sungai tersebut sebagai relaksasi bagi penduduknya.

Untuk bisa menikmati keromantisme kota seoul dengan menelusuri sungai, saya menyarankan mengikuti wisata kapal sungai Hangang yang start-nya di Jamsil Hangang. Perjalanan hampir memakan waktu dua jam mengelilingi sungai Han dengan pemandangan gedung tinggi menjulang khas arsitektur futuristik dan cahaya lampu nan indah. Itu pun  jika memilih tour di malam hari.

Pemandangan kota dari pinggir sungai Han

Sayangnya, karena budget terbatas saya lebih memilih untuk menikmatinya dengan duduk tenang di pinggir sungai Han seraya menyantap bekal roti serta telur rebus yang saya bawa dari guesthouse – sisa dari jatah sarapan. Cerita keindahan cukup saya dapati dari roomate di penginapan yang melakukan wisata tersebut lewat foto yang dipamerkannya.

Menghabiskan sisa malam di Hongdae

Hongdae, distrik yang berada di sekolah seni Hongik University semakin larut kehidupan makin dinamis

Malam menjelang, alih-alih ikut terlibat dalam keriuhan dunia malam Itaewon saya memilih penjelajahan yang cukup jauh dari daerah tersebut. Kawasan populer di kalangan anak muda, Hongdae. Sebuah kawasan di sekolah seni terkemuka di Korea Selatan, Universitas Hongik. Lantunan lagu salah satu boyband, BigBang mengalun cukup keras memecah keramaian jalanan Hondae yang penuh anak muda. Kerumunan anak muda membuat rasa penasaran saya untuk mendekat. Rupanya sedang ada pertunjukan dance oleh  cowok berparas lembut khas boyband negeri ginseng.

Atraksi dance yang dilakukan pemuda Seoul di kawasan Hongdae

Hongdae penuh enerjik khas dunia muda. Kawasan ini memang terkenal dengan musisi jalanan yang kerap menjadikan jalanan di Hongdae sebagai panggung dadakan. Selain itu, tempat yang mayoritas dipenuhi oleh seniman muda ini juga terdapat Pasar HeeMang atau pasar Loak yang buka setiap akhir pekan. Jejaran pertokoan yang menjual ragam kebutuhan fashion menarik hati saya untuk singgah sekedar singgah sejenak. Keberadaan tempat nongkrong sejenis caffee menyemarakan kehidupan khas dunia muda. Saya merasa menemui dunia yang telah memudar dalam jiwa saya beberapa tahun ini.

Hongdae juga diidentikan dengan musisi underground yang memiliki khas tersendiri

Malam itu, di sebuah taman kawasan Hongdae, saya menikmati nyanyian merdu dari musisi jalanan. Meskipun tak paham makna lagu yang disenandungkan entah kenapa tak mengurangi kesan romantis terhadap lagu tersebut. Di sekeliling saya banyak pasangan saling mengenggam tangan.

Romantis pasangan yang dimabuk asmara menikmati alunan lagu dari musisi jalanan Hongdae

Perlahan saya beranjak pergi. Malam yang semakin larut namun kehidupan di tempat ini masih saja hidup sementara kondisi badan tak bisa membohongi usia yang tak lagi muda. Saya butuh istirahat.

stand penjualan ring atau cincin sebagai tanda mengungkap rasa pada pasangan

Sepanjang jalan menuju stasiun subway, saya menjumpai jejaran beberapa stand penjual beraneka ragam cincin baik terbuat dari perak maupun plastik dengan desain lucu. Beberapa barang couple dijajakan sepanjang jalan yang membuat saya menelan ludah. Tersadar mengenai romantisme kehidupan yang tiba-tiba saya rindukan; menikmati dramaqueen khas dunia muda. Ibukota Korea Selatan ini masih saja menyisakan hal sama dengan cerita-cerita drama mereka yang mendunia di luar sana ; romantisme kehidupan pasangan. (Eka Hei)

Busan : Kota Pelabuhan Nan Menakjubkan

Bayangan mengenai kota pelabuhan dengan pemandangan ragam kontainer, kapal dan kesibukan yang membosankan terbantahkan begitu saja saat kaki menelusuri jalanan di Busan.

Kesan aman dan tenang saya rasakan sejak pertamakali menginjak kaki di Busan suatu malam awal November nan dingin. Ketakutan akan penipuan supir taksi buyar seketika saat sang supir dengan susah payah mencari alamat hostel hanya mengandalkan nomor telpon hostel yang saya berikan melalui GPS mobilnya – tak ada niat menipu di wajahnya yang mulai keriput, pun dengan sepasang anak muda yang mengantar saya ke depan pintu masuk hostel saat saya kebingungan menemui pintu menuju hostel.

Ketika sinar mentari menyapa pagi pertama saya di kota terbesar kedua di negeri ginseng tersebut dengan angin yang cukup membuat tubuh ini  mengigil, namun terabaikan begitu saja saat melihat senyum sepasang kakek nenek yang saya jumpai tak jauh dari stasiun Haeundae. Kehangatan menjalar di seluruh tubuh, saat langkah kecil ini memutuskan menelusuri jalanan Haeundae secara acak. Menikmati pembangunan kota yang hampir bersaing dengan sang ibukota, Seoul. Gedung-gedung bertingkat menarik perhatian dengan ragam keunikan yang mengagumkan.

DSC02943

Rooftop hostel yang menyenangkan

Menghirup udara dingin nan menyegarkan, saya melintasi pasar Haeundae yang tertata rapi dan bersih. Menikmati aktivitas pasar nan menyenangkan dengan ragam interaksi sosial. Muka-muka semangat melakukan kegiatan terpancar di wajah para Ahjumma – sebutan untuk wanita berumur – tanpa mempedulikan udara dingin. Lewat lensa kamera, saya membekukan satu momen kehidupan humanis yang menenangkan tersebut.

DSC02951

Beranjak dari pasar saya berjalan menuju pantai. Pagi itu tak ada aktivitas yang berarti, pesisir Haeundae tampak lenggang. Beberapa dari mereka benar-benar menikmati minggu pagi dengan kegiatan menyenangkan. Bersepeda dengan pelan, berjalan dengan santai, bercengkrama dengan sang buah hati, dan bersama orang terkasih menikmati debur ombak nan tenang.

Burung-burung camar pun tak kalah riangnya, beterbangan seolah mengajak ikut serta menjadi bagian dari aktivitas kegembiraan tersebut. Sebuah harmonisasi kehidupan diantara lautan pasir Haeundae, saya pun melepas pandangan lepas. Menikmati denyut kehidupan kota, sejenak mengabaikan fakta tentang Busan adalah kota Pelabuhan tersibuk se Asia.

DSC02909

Fisheries Science Museum

Terletak di muara sungai Nakdong yang mengalir sepanjang 700 KM dari pendalaman semenanjung Korea, Busan dikelilingi oleh lautan di tiga sisinya yang menjadi daya tarik kota ini sebagai obyek wisata pantai. Keadaan geografis ini juga menjadikan Busan sebagai kota pelabuhan yang berkembang cukup baik. Bahkan masuk dalam jajaran salah satu dari tiga pelabuhan tersibuk di dunia.

Sebagai kota pelabuhan, Busan memiliki budaya kelautan dan menyimpan cerita sejarah yang menarik. Memanfaatkan Bus City Tour yang di beri nama BUTI ( BUSAN City Tour) di depan Haeundae Beach dengan tiket seharian 15.000 Won saya memilih menghabiskan waktu lama di Fisheries Science Museum ; sekedar menemui cerita kelautan Busan.

DSC02991

Sebuah bangunan yang cukup besar dengan taman dan halaman yang luas tertata sangat bersih serta rapi. Saya menjumpai suara riang segerombolan yang saya perkirakan siswa sekolah taman kanak-kanak di depan pintu masuk sedang mengikuti tour bersama dua orang guru mereka.

Seorang petugas informasi menyapa dengan senyum ramah dan mempersilahkan untuk menjelajahi museum ini tanpa dikenakan biaya apapun. Saya tak dapat menyembunyikan ragam decak kagum melihat koleksi museum yang ditampilkan dengan perpaduan teknologi yang membuat saya menarik napas ; Andai di Indonesia ada museum seperti ini mengingat negara kita termasuk negara maritim.

DSC03007

Beberapa tanda memberitahu kemana langkah ini harus melangkah. Melihat sejarah kegiatan kelautan dari menangkap ikan dengan jala hingga menggunakan teknologi canggih. Miniatur kapal yang sederhana hingga yang modern. Beberapa layar ragam aquarium dengan koleksi ikan nan unik pun saya jumpai.

DSC03017

Dibangun pada 1997 Fisheries Science Museum merupakan museum perikanan yang pertama di Korea Selatan dengan tujuan sebagai pusat untuk mempromosi ilmu pengetahuan mengenai kemaritiman. Terdiri dari beberapa bangunan, museum ini memberikan gambaran yang menarik mengenai teknologi perikanan dan peralatan maritim hingga pameran mengenai ikan hiu. Selain itu, juga disediakan sebuah ruangan dimana pengunjung dapat belajar bagaimana mengoperasi kapal laut.

Memanjakan lidah di pasar Bupyeong Kkantong Yasijang (Night Market)

Malam mulai beranjak, gemerlap lampu menghiasi perkotaan Busan ditengah suasana hujan yang baru saja reda. Sejenak saya merasakan suasana romantis menelusuri jalanan di kawasan Nampodong.

DSC03146

Busan tak saja berkembang menjadi kota Pelabuhan dan Metropolitan yang menakjubkan, tapi juga sebagai kota penuh kreativitas. Jangan lupakan mengenai Festival Film Internasional Busan, Festival Film terbesar di Asia yang setiap tahun diselenggarakan. Saya pun sempat melewati kawasan BIFF (Busan Internasional Festival Film) dengan keindahan lampu dan beberapa streetfood dengan tenda bewarna merah ; mengingat saya pada pecel lele di jalanan Jakarta.

DSC03142

siapa yang tega buang sampah plastik di jalanan ini? *hiks

Dari kawasan BIFF saya melipir ke Bupyeong Kkangttong Yasijang ( Night Market), sebuah pasar yang  sudah ada sejak tahun 1910. Awalnya merupakan pasar tradisional biasa, namun berjalan waktu pasar ini berubah menjadi pasar malam yang dipenuhi aneka jajanan pasar dari berbagai negara. Kata Kkantong sendiri mengacu pada makanan kaleng yang saat itu banyak di jual di pasar ini ketika jaman perang Korea masih berlangsung.

DSC03260

Maya, seorang mahasiswa Pusan Nasional University asal Bandung yang tak sengaja saya temui di kawasan Jung-gu – tempat saya menginap, bersama keluarga kecilnya mengajak saya menelusuri tiap  sudut Bupyeong Kkangttong Yasijang ( Night Market) yang dipenuhi dengan aroma makanan mengoda imam.

DSC03266

Saya melihat hal yang sama seperti di Indonesia — keramahan– saat Maya dan keluarga kecilnya saling menyapa beberapa pedagang makanan. Maya pun bercerita, dulu ia sempat bekerja part-time dan menjual mie goreng di tempat ini. Ia pun suka tukar makanan dengan salah satu Ahjumma yang jualan makanan tradisional khas Korea yang sempat ia sapa di pasar Bupyeong Kkantong Yasijang.

Malam itu, Maya mentraktir saya beberapa jajanan pasar yang mengiurkan. Membekali kebab dan kue khas Busan yang isinya kacang merah untuk perjalanan saya ke Seoul. Kehangatan keluarga Maya membuat saya lupa pada dinginnya Busan Malam itu. Tersisa adalah rasa kekaguman yang menakjubkan tentang Busan nan Indah. (eka)