Menyusuri Romantisme Sudut Perkotaan Seoul, Korea Selatan

Seoul menjadi destinasi impian bagi sebagian anak muda yang terperangkap virus Hallyu. Kota ini mendunia dengan romantisme tak terbantahkan.

Saya mengunjungi Seoul di pertengahan November ketika negara ini sudah mulai memasuki musim dingin. Sayangnya tak ada persiapan khusus selain mengandalkan jaket jenis windbreaker keluaran brand alat outdoor yang biasa digunakan saat mendaki gunung – cukup tangguh mengatasi suhu 10-15 degree menurut saya. Maka lupakan senyum penuh keriangan melangkah dengan cepat menghampiri destinasi favorit yang digadangkan media dan travel agen di tanah air ; Nami Island dan N Seoul tower.

Hari pertama di Seoul setelah menembus dinginnya udara subuh, saya memilih berdiam di livingroom guesthouse berbagi cerita sesama tamu penginapan dengan topik basa-basi seraya menyantap sarapan. Saya menikmati pagi menjelang siang yang tenang dan santai hingga sinar mentari menembus jendela menyadari saya akan waktu; pada penjelajahan sesungguhnya yang belum jua dimulai.

Itaewon menjadi salah satu kawasan favorit tujuan wisatawan (1)

Teriknya matahari ternyata tak sejalan dengan hembusan angin yang masih saja menyisakan dingin. Terbiasa dengan panasnya pesisir kota Padang, tentu ini cukup membuat tubuh mungil saya tidak nyaman. Reflek saya memasuki dua telapak tangan ke dalam saku jaket agar menyisakan kehangatan. Perjalanan mengajarkan saya pada sikap nrimo tanpa banyak protes, langkah saya tetap berjalan dengan santai menikmati cerahnya cuaca menjelang siang menelusuri kawasan Itaewon.

Street Market di Itaewon

Kawasan ini cukup populer bagi wisatawan internasional. Banyak dijumpai turis dari berbagai negara sepanjang jalan. Tulisan yang tersebar untuk memberitahu keterangan tak saja dalam bentuk huruf hangeul, tapi juga Inggris, Jepang, dan Mandarin. Tempat ini benar-benar kawasan turis. Saya pun menemui mie instan favorit tanah air di salah satu mart di Itaewon yang menjual barang dari berbagai negara ; Indomie.

Salah satu restoran bernuangsa mancanegara yang terdapat di Itaewon

Bisa dikatakan Itaewon adalah kampung global. Menawarkan sensasi berada ditengah keanekaragaman budaya yang menyenangkan. Untuk mengukuhkan daerah ini sebagai kawasan global, banyak dijumpai restoran yang menawarkan masakan dari berbagai belahan dunia seperti Thailand, Jepang, China, Belgia, New York, Italia, Mexico, Perancis, Turki, India bahkan Melayu. Umumnya di buka oleh Imigran asing yang datang ke Korea Selatan. Sebagian bahan kebutuhan masakan mereka impor dari negara asal untuk menjaga citra rasa otentik. ( Ah, jadi kepikiran untuk buka rumah makan Padang di sini:) )

Suasana malam di Itaewon

Seperti halnya Khaosan Road di Thailand, Itaewon  tak lepas dari banyaknya bar dan klub  malam – ini juga menjadi salah satu daya tarik Itaewon. Keramaian terasa saat malam tiba. Jika pagi hari menjelang siang kawasan ini relatif tenang. Saya pun menelusuri tiap gang jalanan. Menghirup atmosfer yang menyenangkan. Tujuan saya segera bertamu ke mesjid besar yang terkenal di Seoul.

Mesjid Pusat , Seoul

Tulisan arab Allahuakbar bewarna hijau berdiri dengan megah pada keindahan arsitektur bangunan mesjid menyambut langkah kecil saya usai berjalan mendaki memasuki halaman mesjid. Keramaian dihari Jum’at  yang memenuhi mesjid membuat haru tak terbantahkan perlahan-lahan menyusup di relung hati ini. Berbagai warna kulit memenuhi kawasan tersebut dengan damai. Terpancar kebahagiaan yang tak terbantahkan.

14992076_10210531766951730_4133870001042045703_n

Sebagai mesjid besar tempat ini kerap dijadikan sebagai tujuan wisata dan juga sebagai tempat mendengar pembicaraan berkenaan dengan Islam. Siang itu usai melaksanakan sholat, saya menjumpai rombongan pelajar Korea Selatan di halaman mesjid.

 “ Songsaenim (guru) !” teriak salah satu diantara mereka. Sang guru langsung menoleh ke saya diiringi rombongn pelajar yang berjalan menghampiri saya.

“ Dapankah kamu menolong kita. Berapa kali kamu sholat dalam sehari?” dengan bahasa Inggris yang pelan ia mengungkapkan hati-hati pada saya.

“ Lima.” Rupanya mereka sedang ada tugas sekolah mengenai pengenalan agama Islam.  Saya pun meladeni pertanyaan Songsaenim, sementara sang murid sibuk menulis di kertas.

keindahan mesjid besar Seoul di kala malam hari

Tadinya saya ingin melanjutkan perjalanan ke Namsan Park, sayangnya rasa penasaran saya pada kota ini membuat saya memilih jalan acak memasuki sebuah gang yang membuat saya tersasar. Hingga saya menemui perumahan yang tertata rapi. Menelusuri suasana sepi seraya mengamati bangunan perumahan yang ternyata tak jauh berbeda dengan bangunan perumahan yang selama ini saya lihat dalam drama Korea.

Pusat pertokoan Barang Antik, Itaewon

Langkah menyesatkan diri membawa saya pada deretan pertokoan barang antik di kawasan Itaewon. Sejenak saya merasa seperti terjebak di Jalan Surabaya, Jakarta. Bedanya tentu pada apa yang dijual. Jika di jalan surabaya di dominasi pada penjual tas dan sepatu, tempat ini mengutamakan furniture nan antik dan jadul.

kawasan pertokoan furniture antik di Itaewon

Sepasang kaki saya masih ingin berjalan. Melewati guguran daun pepohonan yang menyemarakan suasana jalanan kota. Menyenangkan dari kota ini adalah kenyamanan bagi pejalan kaki. Saya tidak menemui klakson motor yang menganggu keasyikan melangkah seperti yang pernah saya alami di kawasan Sudirman, Jakarta.  Pepohonan di sepanjang jalan cukup membantu saya merelaksasi pandangan mata dan pikiran. Menambah kesejukan siang itu.

Menikmati sore di Hangang Park

Bagi saya tak ada yang menyusahkan hati jika tersesat di dalam kota. Saya menyukai atmosfer perkotaan ditengah kesibukan aktivitas warga lokal yang berseliweran. Mata saya tak sengaja menangkap tulisan Hangang Park setelah lama melangkah. Saya pun memasuki semacam terowongn khusus pejalan kaki dan sepeda. Beberapa sepeda terparkir.

Terowongan Menuju Hangang Park (1)

Pandangan mata saya menangkap beberapa kamera pengawas dalam terowongan ini. Tergiang ucapan seorang teman, Lastin, yang sedang menempuh studi Magisternya di salah satu universitas Korea Selatan.

“ Korea Selatan relatif aman. Motor terparkir dengan meninggalkan kunci, tak ada yang mengambil. Kalau di Jakarta udah hilang kali. Di sini CCTV dimana-mana.”

Selain Lastin, seorang teman yang lain pun menyakini hati saya bahwa tak perlu ditakuti dari kota ini. “ Kalau kamu kemalaman, tetap aman kok,” ungkapnya lewat pesan facebook seminggu sebelum kedatangan saya ke kota megapolitan ini.

Saya teringat saat menikmati makan siang nasi instan di sebuah mini market, tertempel banyak foto orang yang sama sebagai pelaku pencurian di tempat tersebut yang tertangkap kamera pengawas. Itulah kenapa perasaan saya tetap aman terus berjalan menelusuri kesunyian terowongan. Di ujung terowongan sebuah jalanan luas khusus berolahraga menyambut saya. Di sisi jalanan tersebut sebuah sungai terbentang luas ; Sungai Han.

Kawasan Hangang Park yang dimanfaatkan tempat berolahraga

Terbentang dengan luas sepanjang 514 KM, sungai Han mengalir disepanjang kota Seoul yang menjadi penghubung antara wilayah yang Utara dan Selatan ibukota Korea Selatan ini. Ada banyak park yang di bangun pemerintahan Korea Selatan disisi sungai tersebut sebagai relaksasi bagi penduduknya.

Untuk bisa menikmati keromantisme kota seoul dengan menelusuri sungai, saya menyarankan mengikuti wisata kapal sungai Hangang yang start-nya di Jamsil Hangang. Perjalanan hampir memakan waktu dua jam mengelilingi sungai Han dengan pemandangan gedung tinggi menjulang khas arsitektur futuristik dan cahaya lampu nan indah. Itu pun  jika memilih tour di malam hari.

Pemandangan kota dari pinggir sungai Han

Sayangnya, karena budget terbatas saya lebih memilih untuk menikmatinya dengan duduk tenang di pinggir sungai Han seraya menyantap bekal roti serta telur rebus yang saya bawa dari guesthouse – sisa dari jatah sarapan. Cerita keindahan cukup saya dapati dari roomate di penginapan yang melakukan wisata tersebut lewat foto yang dipamerkannya.

Menghabiskan sisa malam di Hongdae

Hongdae, distrik yang berada di sekolah seni Hongik University semakin larut kehidupan makin dinamis

Malam menjelang, alih-alih ikut terlibat dalam keriuhan dunia malam Itaewon saya memilih penjelajahan yang cukup jauh dari daerah tersebut. Kawasan populer di kalangan anak muda, Hongdae. Sebuah kawasan di sekolah seni terkemuka di Korea Selatan, Universitas Hongik. Lantunan lagu salah satu boyband, BigBang mengalun cukup keras memecah keramaian jalanan Hondae yang penuh anak muda. Kerumunan anak muda membuat rasa penasaran saya untuk mendekat. Rupanya sedang ada pertunjukan dance oleh  cowok berparas lembut khas boyband negeri ginseng.

Atraksi dance yang dilakukan pemuda Seoul di kawasan Hongdae

Hongdae penuh enerjik khas dunia muda. Kawasan ini memang terkenal dengan musisi jalanan yang kerap menjadikan jalanan di Hongdae sebagai panggung dadakan. Selain itu, tempat yang mayoritas dipenuhi oleh seniman muda ini juga terdapat Pasar HeeMang atau pasar Loak yang buka setiap akhir pekan. Jejaran pertokoan yang menjual ragam kebutuhan fashion menarik hati saya untuk singgah sekedar singgah sejenak. Keberadaan tempat nongkrong sejenis caffee menyemarakan kehidupan khas dunia muda. Saya merasa menemui dunia yang telah memudar dalam jiwa saya beberapa tahun ini.

Hongdae juga diidentikan dengan musisi underground yang memiliki khas tersendiri

Malam itu, di sebuah taman kawasan Hongdae, saya menikmati nyanyian merdu dari musisi jalanan. Meskipun tak paham makna lagu yang disenandungkan entah kenapa tak mengurangi kesan romantis terhadap lagu tersebut. Di sekeliling saya banyak pasangan saling mengenggam tangan.

Romantis pasangan yang dimabuk asmara menikmati alunan lagu dari musisi jalanan Hongdae

Perlahan saya beranjak pergi. Malam yang semakin larut namun kehidupan di tempat ini masih saja hidup sementara kondisi badan tak bisa membohongi usia yang tak lagi muda. Saya butuh istirahat.

stand penjualan ring atau cincin sebagai tanda mengungkap rasa pada pasangan

Sepanjang jalan menuju stasiun subway, saya menjumpai jejaran beberapa stand penjual beraneka ragam cincin baik terbuat dari perak maupun plastik dengan desain lucu. Beberapa barang couple dijajakan sepanjang jalan yang membuat saya menelan ludah. Tersadar mengenai romantisme kehidupan yang tiba-tiba saya rindukan; menikmati dramaqueen khas dunia muda. Ibukota Korea Selatan ini masih saja menyisakan hal sama dengan cerita-cerita drama mereka yang mendunia di luar sana ; romantisme kehidupan pasangan. (Eka Hei)

Iklan

23 comments

  1. Heheh mommy nya Arina bisa ajaaa… do’akan ogut bisa main ke Jepang juga ya bareng sahabat hati. Biar pose romantis gituh pas sakuraaa 😀

  2. Jadi di Itaewon ada bar, klub dan masjid. Luar biasa.
    Enak banget ya kalo jalan2 mandiri gini. Kemarin pas ke Korea cuma lihat sekilas aja soalnya kan ngikut paket tour and travel (itu juga hadiah, jadi nrimo aja)

  3. @catur hehehe iya lebih seru daripada ngikut paket tour gituh — tapi kan seru juga Gratis *eh.

    Lebih seru lagi jelajah Korea Selatan secara mandiri bareng sahabat hati. 😀

  4. wah seul, sungguh mengagumkan, btw agan di seul berapa lama dalam rangka apa nih..??

    dilihat dari fotonya sepertinya seul tempat yg nyaman untuk jalan jalan…

  5. ide bagus tuh kak buka rumah makan Padang disana 😀

    saya juga terkadang kalau lagi jalan jalan suka coba jalan acak aja, bisa ketemu hal menarik 🙂

  6. Waaa HanGang Park sama Hongdae bakal jadi tujuan wajib nih di Seoul! Sama, aku cuma duduk santai di pinggir sungai sambil merenung dan foto-foto pun udah cukup.
    (((merenung)))

    Katanya di Hongdae emang suka ada pertunjukkan dance. Ikutan ah #eh #lalusetellaguUKISS

  7. Wina : hehehe iya Wina.. cuma nggak tau gimana mewujudkannya *berabe nyari opa-opa tajir plus seiman nih #eh

    banget.. terkadang nemu hal yang unik kalau jalan ngacak gitu meskipun capek juga.

  8. Matius : Harus banget ke Hongdae, Matius !

    Jiah pengemar UKiss ketahuan banget nih generasi kpop angkatan siapa. hehehe, btw bukannya udah bubar ya Ukissnya?

  9. Waaa mupeeeng jd pengeen menikmaati romantismee perkotaan seoul jugaaa. Sambil berburu barang antik di itaewoon 😁😁 makasiih sharingnyaaa mbaak 😊😊

  10. @kiki : Yah aku malah belum sempat sepedahan di sungai han — padahal ada di list yg harus dilakukan pas di Seoul. Hehehe, semoga ada waktu dan rejeki untuk bisa ke sana lagi 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s