Tak Perlu Berhutang Untuk Sekedar Menikmati Serunya Perjalanan

Beberapa waktu lalu saya sempat terdiam ketika linimasa dihebohkan oleh cerita seorang travel blogger di media sosial mengenai sosok yang berhutang dengannya dalam jumlah besar demi melampiaskan hasrat untuk berplesiran. Cerita tersebut membuka cerita yang tak kalah mengejutkan yang ternyata banyak memakan korban dari si pengutang. Tak saja lewat linimasa, ternyata cerita ini jadi pembahasan hangat di ruang keluarga antara abang dan kakak saya waktu itu.

Seoul Forest JPG
Seoul Forest : Alih-alih ke Nami Island untuk melihat keindahan musim gugur, saya justru melipir ke Seoul Forest yang tidak terlalu menghabiskan biaya dan waktu. Tempat ini cukup menyenangkan sekedar mengabadikan moment pemandangan indah.

Saya mengakui perjalanan adalah candu tersendiri – apalagi melakukan perjalanan keluar negeri. Namun, melihat apa yang dilakukan oleh sosok yang berani berhutang dengan jumlah yang terbilang cukup ‘wow’ bagi saya pribadi membuat saya menghela napas sesaat. Menyadari makna perjalanan sendiri bagi pelaku yang gemar traveling.

Esensi perjalanan bagi saya adalah pembentukan karakter yang lebih baik dan berani dalam hal menghargai perbedaan yang ada. Bukan demi menghadirkan pose tersenyum bangga berada di suatu destinasi biar terkesan glamour agar memperoleh decak penuh kekaguman dan klik ‘love’.

foto eka

Agaknya mereka yang berutang demi melampiaskan hobi jalan-jalannya tersebut lupa pada esensi perjalanan itu sendiri. Saya bersyukur pada kemampuan yang diberikan oleh Tuhan kepada saya. Berada dalam kondisi keuangan yang berbeda dari princess Syahrini, saya belum berani bermimpi apalagi berencana untuk bisa menjelajahi benua Eropa.

Traveling adalah candu yang tak terbantahkan. Menjelajahi dari satu tempat ke tempat lain. Menikmat atmosfer berbeda dan senyum masyarakat lokal. Membeku momen berharga lewat lensa kamera. Kegiatan yang sungguh menyenangkan dan tentu saja membutuhkan biaya yang tak sedikit. Terlahir bukan dari keluarga Bakri, berikut beberapa hal yang pernah saya lakukan dalam mewujudkan perjalanan termasuk pergi ke keluar negeri.

  1. Berdagang

Percayalah rejeki Tuhan itu luas. Luas bagi mereka yang senantiasa bersyukur, berdoa dan berusaha. Saya ingat perjalanan pertamakali saya waktu itu ke Karimun Jawa yang menghabiskan dana kurang lebih Rp 700.000,- dari Jakarta. Berprofesi sebagai mahasiswa rantau saat itu tentu jumlah tersebut cukup besar. Saya berjualan Risoless yang saya peroleh dari seorang teman yang memiliki tetangga yang suka masak. Sempat dijutekin oleh ibu kantin kampus karena merasa tersaingi, Alhamdulillah dalam satu hari saya bisa menabung Rp 20.000,-/hari.

Jualan Puding
Salah satu jualan yang saya buat dan di titipkan di warung agak jauh dari rumah

Selain jualan makanan di lingkungan kampus saya juga berjualan Aksesoris yang saat itu barangnya saya beli di pasar Asemka, Mangga Dua, Jakarta. Keuntungan tersebut saya tabung yang akhirnya membawa langkah saya pada perjalanan ke Karimun Jawa, Yogyakarta, Bandung, Kepulauan Seribu dan Lampung.

Oh, ya saat ini saya buka lapak di IG dengan akun : Kibostuff — boleh diintip dagangannya kakak ! — sebagian barang merupakan hasil berbelanja saat plesiran dan lebih banyak produk Korea sih. Yuk mampir !

kibostuff

2. Membuka tabungan berjangka

Perjalanan pertama kali ke luar negeri adalah Thailand, dana yang saya gunakan adalah dari tabungan berjangka yang sudah saya siapkan setahun sebelumnya. Saya harus keluar negeri. Begitu batin saya ketika memutuskan membuka tabungan berjangka yang di debet Rp 300.000,- setiap bulannya.

Sejujurnya, ketika membeli tiket promo saat itu KL-Bangkok saya sempat berutang pada abang saya yang kebetulan memiliki kartu kredit dengan perjanjian akan membayar ketika tabungan berjangka saya sudah bisa dicairkan. Dengan dana terbilang terbatas tersebutlah saya gunakan untuk menjelajahi Thailand sebaik mungkin dan mengabaikan wisata belanja negara tersebut.

Bawa makan
Dalam perjalanan saya kerap membawa nasi bungkus dan lauk yang dibungkus plastik dengan porsi sekali makan. Jadi selesai makan tinggal di buang sampahnya.

3. Mengirim tulisan dan foto perjalanan ke berbagai media

Saya bersyukur dengan kegemaran saya dalam hal membaca yang membuat saya menyukai dunia tulis menulis. Pengalaman selama melakukan perjalanan saya tuangkan dalam tulisan dan mengirimkannya ke beberapa media. Tidak selalu tulisan yang dikirim ke media di muat. Banyak tulisan saya yang diabaikan dan dikritik karena tidak masuk dalam kriteria media mereka. Dari beberapa kali dimuat di media, honor yang saya dapat setidaknya menambah tabungan perjalanan saya ke Korea Selatan saat itu.

natgeo
Salah  satu hadiah yang saya dapat mengirim tulisan singkat di Natgeo Travel

4. Mengikuti berbagai kuis di Media Sosial

Ya, tak ada salahnya menjadi kuis hunter. Kita tidak tahu rejeki seperti apa yang akan menghampiri kita. Saya kerap mengikut kuis baik itu di twitter, instagram dan facebook. Setidaknya produk yang didapat bisa dijual ke teman-teman yang tentunya menambah tabungan untuk plesiran.

susan
Alhamdulillah dapat buku referensi dari pergidulu

5. Perhatikan gaya hidup

Bagi saya inilah yang paling penting meskipun untuk sebagian mereka yang menyukai dunia belanja hal ini tentu saja menyiksa. Saya harus menahan diri untuk tidak membeli sepatu cantik, menutup mata dari sista-sista online shop dan menelan ludah setiap kali melewati tempat makan yang mengiurkan.

makan
Alhamdulillah, waktu di Busan ditawarkan makan oleh orang Indonesia yang sudah cukup lama tinggal di Korea Selatan. Di Bangkok pun saya ditraktir oleh orang Indonesia yang tak sengaja saya temui di salah satu mesjid di sana. 

Alih-alih membeli makanan cepat saji, saya mengasah kemampuan memasak sendiri. Selain hemat, hal ini ternyata juga baik bagi kesehatan karena sebisa mungkin menghindari penyedap rasa instan dalam proses memasak.

jajan thailand
Saya berusaha menahan diri untuk tidak tergiur pada benda-benda lucu yang ditemui sepanjang perjalanan . Dan, untuk memuaskan rasa ini biasanya saya memilih memotret benda-benda tersebut

****

forest

Lima hal itulah yang saya terapkan dalam kehidupan agar terhindar dari utang tak menentu demi mewujudkan keinginan menjelajahi destinasi yang mengiurkan.

Sungguh dibebani utang sama menyiksanya dengan pernyataan : “Oleh-olehnya dong kakak!” –> “boleh mampir di IG Kibostuff kak, masih ada sisa tempelan kulkas yang siap di tukar dengan rupiah.” *eh

20161114_142442
Saya cukup lama berdiri di depan tenant ini. Memperhatikan benda keren tersebut kalau di tempel di dinding kamar. Sayangnya, dana saya tak cukup. Ya sudahlah belum rejeki 🙂

Ingatlah bahwa esensi dari traveling itu sendiri adalah mengumpul pengalaman tak terlupakan dalam hal mengasah karakter diri yang lebih baik bukan menjadi pribadi yang menyebalkan karena suka utang terus tidak membayar segera utang tersebut.

Romantisme Korea di Kawasan Hongdae, Seoul

Korea hadir di Indonesia dengan cerita romantisnya lewat drama dan mimpi yang mengagumkan untuk bisa plesiran ke negara Ahjushi Goblin tersebut bagi mereka yang terperangkap dalam virus Hallyu. Termasuk Saya.

jjy

Saya mengunjungi Korea Selatan ketika negara ini sedang bersiap memasuki musim dingin di pertengahan November tahun lalu. Tak ada ekspektasi khusus terhadap negara tersebut. Ya, virus Hallyu yang sempat merasuki jiwa beberapa tahun lalu memudar seiring realitas hidup yang seharusnya saya hadapi di usia yang tak lagi muda. Dan hal ini tentu berimbas pada antusias saya terhadap negeri gingseng tersebut berkurang tersisa hanya rasa penasaran terhadap suasana kotanya. Tak ada itinerary yang pasti bagaimana semestinya saya menikmat waktu di tempat ini.

Ketinggalan jadwal kapal Feri untuk menelusuri Sungai Hangang agar bisa melihat keindahan kota Seoul, saya pun beralih ke Hongdae tanpa ekspektasi apapun – saat itu saya menghadapi kebosanan suasana hiruk pikuk perkotaan khas metropolitan yang sibuk.

DSC03537

Dentuman suara musik yang sangat familiar di telinga menyambut kedatangan saya saat beberapa langkah keluar dari Subway Station. Kebisingan, lalu lalang orang-orang yang berjalan santai, dan semarak lampu pertokoan berbaur menjadi satu dalam sebuah harmonisasi geliat kehidupan yang menyenangkan; Hongdae. Perlahan rasa jemu pada kehidupan perkotaan menguap begitu saja.

Sambutan Yang Menyenangkan dari Street Dancer di Hongdae

 Bang..bang..bang

            pangya ppangya ppangya

            Alunan suara G-Dragon dan kawan-kawan sesama personil Bigbang menghentak salah satu jalanan di Hongdae, sebuah daerah dimana terletak sekolah seni terkemuka , Hongik University , Sabtu malam itu. Saya melangkah mencari sumber musik tersebut. Kerumunan anak muda terlihat menambah rasa penasaran. Sebuah atraksi dance sedang dilakukan tiga pemuda dengan gerakan tubuh yang cukup mengagumkan.

DSC03544.JPGYa, Korea menghipnotis lewat boyband-nya yang memukau dengan atraksi kekompakan gerakan tubuh. Gerakan yang seirama itu pun diikuti musik nan riang yang mampu membawa budaya pop Korea di kancah internasional. Gelombang korea hadir ditengah teriakan mereka yang terperangkap pada pesona rangkaian cowok dengan wajah menyegarkan tersebut ; khas idol Korea.

Tak terkecuali di negara asalnya, tiga cowok kurus dihadapan saya tanpa lelah mengerakan tubuhnya dengan lincah mengikuti iringan musik. Mereka bukanlah Idol kpop. Namun, atraksi yang dilakukan di jalanan Hongdae menarik perhatian puluhan pemuda pemudi yang sedang menikmati sabtu malam. Teriakan penuh kekaguman dan tepuk tangan saling bersahutan setiap kali tiga dancer itu melakukan gerakan memukau.

DSC03539.JPGSaya pun larut dalam alunan musik dan pemandangan yang menyenangkan tersebut. Perlahan jiwa Kpop yang luntur mulai bangkit lagi. Reflek badan saya ikut bergerak.

Hongdae dan pusatnya Budaya Seni Urban

Hongdae bisa dikatakan distrik penuh energik khas anak muda. Nama Hongdae sendiri merupakan akronim dari Hongik Daehakgyo. Keberadaan yang terletak di sekolah seni terkemuka di Seoul, menjadikan kawasan ini terkenal dengan seni urbannya.

Ada banyak ragam festival seni jalanan, pertunjukan dan konser musik kerap menghiasi sudut area Hongdae. Kawasan ini juga dikaitkan dengan musik indie, dimana para seniman mencari gaya khas uniknya masing-masing dan tidak sekedar mengikut trend budaya populer yang ada. Bisa dikatakan distrik ini adalah kiblatnya budaya urban anak muda Korea.

DSC03599.JPG

Hongdae adalah pusat kebebasan berekspresi khas anak muda nan kreatif. Semakin malam, daerah ini semakin bergeliat ; lalu lalang anak muda, suara musik jalanan, dan pendar lampu pertokoan. Saya pun larut dalam keriuhan kawasan tersebut. Berjalan santai menelusuri jalanan Hongdae. Hingga terpaku pada sebuah taman. Dua orang sedang asyik akuistikan. Sementara beberapa meter dari mereka seorang pemuda sibuk dengan mic nya ; bernyanyi merdu.

Hongdae juga diidentikan dengan musisi underground yang memiliki khas tersendiriBerada di Hongdae mengingatkan saya pada musisi rock sekaligus member salah satu variety show Korea, Jung Joonyoung yang pernah berada dalam musik Indie Hongdae dengan group band Flower Mist kala itu. Apalagi ketika beberapa pemuda melintas dengan menyandang gitar dibahunya. Ah, Jung Joonyoung!

jjjy

Pusatnya Fashion dan Kreatif Dunia Anak Muda

DSC03575

Hongdae tak saja hadir dengan urban art nya, tapi juga keberadaan ragam pertokoan fashion, kafe, restoran dan hiburan malam menambah semarak dunia yang mengairahkan khas anak muda. Saya lupa pada kepenatan badan yang saya rasakan, kaki ini terus berjalan dengan acak menelusuri tiap sudut Hongdae. Bahkan rasa penasaran terhadap daerah ini, membuat saya memutuskan memisahkan diri dengan travelmates saya yang hendak segera pulang ke hostel karena malam semakin larut.

DSC03573Fashion dari mulai busana, tas, sepatu dan aksesoris terkini maupun vintage khas anak muda memanjakan mata di sepanjang pertokoan yang saya lewatkan. Menariknya adalah masing-masing interior dari pertokoan di Hongdae terlihat unik, lucu dan memiliki ciri khas tersendiri.

Berbeda dengan Myeondong, aktivitas lalu lintas orang di Hongdae terlihat santai. Beberapa pasangan tampak saling mengenggam tangan. Berjalan menikmati pendar lampu pertokoan dan romantisme malam. Beberapa penjual kaki lima aksesoris seperti cincin menghiasi jalanan tersebut. Agaknya mereka tahu segmentasi di Hongdae sebagai tempat hang out kawula muda. Kreatifnya adalah cincin tersebut bukan terbuat dari emas, tapi sejenis aluminium atau logam atau perak gituh – saya tidak terlalu paham juga– yang bisa diukir dengan nama pasangan.

DSC03592Selain itu juga ada ada cincin karakter toko kartun yang terbuat dari plastik – mengingatkan saya pada cincin hadiah snack kala sekolah dasar dulu. Dari cerita yang saya dapatkan kawasan ini juga kerap diselenggarakan pasar HeeMang (pasar loak) yang diadakan oleh para seniman muda.

DSC03549.JPGMalam benar-benar makin larut, saya pun memutuskan dengan berat hati beranjak pergi meninggalkan keriuhan Hongdae. Sepanjang jalan saya melihat beberapa barang couple dijajakan yang membuat saya menelan ludah (baper!). Tersadar mengenai romantisme kehidupan yang tiba-tiba saya rindukan : menikmati dramaqueen khas usia early 20-an. Ibukota korea Selatan, terutama di distrik Hongdae masih saja menyisakan hal yang sama dengan cerita drama mereka yang mendunia di luar sana : Romantisme kehidupan pasangan. (Ekahei)