Cerita Jadi Bisa Pulang Ke Rumah

Saya duduk terdiam mengenggam erat Blackberry Gemini Black di anak tangga kosan. Sejenak saya mengigit ujung bibir pelan seiring rasa sesak yang perlahan mulai merasuki tubuh mungil ini. Beberapa kali saya menarik napas dan menghela perlahan-lahan. Berusaha memberi ruang ‘lega’ di hati ini.

Beberapa menit lalu, sebuah kabar menghentakan hati dan melemaskan tungkai kaki. Mengenai salah satu orang yang pernah mengukir cerita indah dan menyenangkan dalam memori masa kanak-kanak saya yang tak lain nenek saya. Amak, begitu saya memanggil nenek saya, telah meninggal dunia. 😦

20170504_060221

“ Pulang?”

Sebuah pesan masuk memaksa saya untuk segera berdiri. Diam dan terpaku bukanlah solusi terbaik saat itu. Saya segera beranjak, berjalan menelusuri jalanan Lenteng Agung dengan hati berkecamuk dan pikiran kacau. Mencari travel agen – lebih tepatnya mencari tiket penerbangan tercepat ke kota Padang. Untuk pertamakalinya saya tak peduli panasnya langit selatan ibukota saat itu.

Saya tak mungkin lupa momen di tahun 2011 tersebut. Saat saya kehilangan orang yang pernah mengasuh saya dengan penuh kasih sayang – sayangnya, di akhir usianya saya justru bersikap kasar padanya– , mengenalkan saya pada kehidupan pasar ; saya tak mungkin lupa pada pengalamannya membawa saya jualan pisang di pasar Pariaman atau jambu biji di sekolahan dekat rumah di Pariaman.

Tak saja kesulitan menghadapi perasaan, saat itu saya juga mengalami kelelahan mencari tiket dengan harga terbaik dengan kondisi keuangan saya saat itu dan waktu yang sesegera mungkin untuk berangkat. Mengandalkan ransel yang masih berisi buku kuliah (saya tak sempat menukarnya dengan baju ganti saat itu), tiket yang pada akhirnya saya dapatkan dan dalam kondisi perut yang lapar, saya pun segera beranjak pergi menuju Pasar Minggu tempat dimana bus Damri mangkal.

Pulang ; Kerinduan yang harus dibayar

            Hal tersulit menjadi anak rantau bagi saya bukan ketika sakit diperantau dan tidak ada yang mengurus kita. Saya cukup ‘biasa’ menghadapi situasi tersebut ; mengandalkan air putih dan menjaga pola makan adalah andalan saya melewati kondisi tubuh yang sakit di perantauan.

Bagi saya hal tersulit adalah ketika menghadapi kondisi tertentu yang mengharuskan segera pulang ke rumah. Ibu saya tak pernah memaksa saya untuk pulang saat nenek saya meninggal, karena baginya do’a adalah yang terbaik saat itu. Tak pernah memohon segera pulang pada saya saat ia mengalami kesulitan di rumah dan membutuhkan kehadirkan saya. Namun kondisi-kondisi seperti itu adalah hal yang membuat hati saya resah. Termasuk polemik memutuskan untuk pulang saat lebaran tiba mengingat pekerjaan yang saya geluti saat itu tak mengijinkan libur.

20170726_175023.jpg

            Bagi perantau paham betul arti pulang ke rumah adalah sesuatu hal yang harus dilakukan disela kesibukan beraktivitas mengukir karir nan indah. Ada rindu diujung sana, dan kerinduan yang harus dibayar dengan baik ; pulang. Ini mungkin yang dirasakan oleh Ferry Unardi, salah satu pendiri Traveloka saat merantau di Amerika.  Kesulitan mem-booking tiket pesawat antara Settle menuju kota Padang, kampung halamannya, menjadi salah satu alasan pria kelahiran Januari 1988 ini mengajak dua temannya menghadirkan online agen travel ; Traveloka.

“Jika tidak ada layanan yang menawarkan apa yang anda butuhkan, maka buatlah sendiri.” – Ferry Unardi.

            Saya sedang tak ingin membicarakan sosok Ferry Unardi yang membuat saya iri akan kesuksesannya sebagai anak bangsa, juga tak berniat untuk memasari produk tersebut ditengah polemik yang menyarankan untuk meng-uninstal produk yang menyediakan pemesanan tiket transportasi dan hotel secara daring tersebut – sebuah polemik yang sampai sekarang membuat saya mengeryit dahi dan tak mengerti serta tak paham kenapa heboh?!

Saya tak bisa menampik bahwa saya satu diantara ratusan anak bangsa di negeri ini yang memanfaatkan keunggulan aplikasi tersebut yang memudahkan perjalanan pulang ke rumah – termasuk berpergian– selama ini.

Jadi masih haruskah saya meng-uninstal produk tersebut?

23730649_10213952132978743_1891879825_o
Menginstal Aplikasi Traveloka adalah salah satu cara untuk memudahkan memesan tiket pesawat dengan harga yang sesuai — bahkan cenderung murah apalagi kalau lagi banjir diskon promo

Bye –bye was-was

Bukan. Saya bukan ingin menghidupkan kenangan kembali akan program infotainment yang dulu ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta tersebut dimana saya menikmati kisah cinta Raffi Ahmad dan Bella *kalem*.

Pernah nggak kamu terjebak pada ketidakpastian apakah kamu bisa pulang apa nggak. Dihantui perasaan tiket yang nantinya akan mahal – Iya kalau mahal tapi kalau nggak ada jadwal penerbangan gimana?

Pekerjaan saya sebagai jurnalis saat itu tak mengenal istilah libur lebaran. Adik saya sempat memamerkan parcel lebaran yang sudah datang ke rumah dan bayangan akan rendang Ama menghantui langkah saya. Teman kantor saya sudah mewanti-wanti bahwa tak mungkin redaktur saya saat itu mengijinkan saya pulang sejenak seminggu selama lebaran Idul Fitri.

20170710_170520.jpg

Keresahan itu pun lenyap seketika saat bos saya memberi senyum dan anggukan di suatu malam dengan meninggalkan saya catatan untuk tetap mengerjakan artikel saat di rumah. Tanpa pikir panjang saya segera mencari tiket penerbangan paling pagi keesok harinya. Saya tak mungkin memesan layanan maskapai yang menyedot pulsa seperti dulu yang pernah saya lakukan saat awal kuliah, juga tak mungkin melompat ke luar kantor dan berjalan menelusuri daerah Tanah Abang sekedar cari travel agen offline yang buka. — Seperti hal yang pernah saya lakukan dulu ketika nenek saya meninggal dunia ; menelusuri jalanan Lenteng Agung 😦

Jawaban terletak pada Traveloka.

Pun ketika suatu malam di tahun 2015 saya menghadapi kebimbangan ; melanjutkan perjalanan atau pulang. Menatap sisa uang yang di amplop putih – saya jarang membawa dompet untuk menyimpan duit ; selembar 20 dollar Singapura, 50 ringgit Malaysia dan beberapa lembar rupiah yang tidak diterima oleh money changer di Krabi 😦

Saat itu, tadinya saya ingin melanjutkan perjalanan ke Singapura usai menjelajahi Thailand selama seminggu, sayangnya… saya menghela napas melihat lembaran uang yang tersisa. Baiklah!

Memesan tiket pulang adalah solusinya. Masalahnya adalah saya tidak menggunakan mobile banking dan tidak sedang membawa atmcard yang berlogo VISA. Di musholla bandara Don Mueang, Bangkok, saya mengirim pesan lewat mesengger facebook ke adik saya yang masih duduk di bangku SMA. Sebenarnya dia sempat bingung bagaimana membeli tiket pulang untuk saya karena di desa tempat adik saya tinggal saat itu tak ada agen travel.

“ Coba buka Traveloka!”

23660038_10213952136058820_19487787_o
Membeli tiket pesawat, mengumpulkan poin untuk voucher hostel … syukur-syukur bisa dapat voucher pesawat 🙂

“ Lalu?”

“Pilih Penerbangan.”

Singkat cerita, dengan tutorial yang singkat, adik saya dengan mudah memesankan tiket untuk saya. Sebuah email pemberitahuan kode booking pun saya terima. Akhirnya jadi bisa pulang dan tak perlu jadi TKI Ilegal di Bangkok!

Dan, masihkan saya harus meng-unistal Traveloka?

Hiburan di saat Jenuh

Apa cuma gue? Yang menyegarkan diri dengan browsing tiket pesawat, tapi gak dibeli. Ya udah gitu aja. ” Nugie, Seorang Travel Blogger.

Saya tersenyum membaca update-an status facebook Nugie beberapa waktu lalu. Sebagai pejalan yang kerap pulang, saya suka melakukan hal yang sama. Menelusuri jadwal dan harga terbaik tiket pesawat — siapa tahu bisa dapat tiket 700 PP ke Koreya kayak tahun lalu dari Kuala Lumpur. *kalem*

Menarik yang saya suka dari kalender di Traveloka adalah tertera hari-hari libur yang memungkinkan saya mudah mempertimbang untuk melakukan perjalanan sesuai jadwal. Asyik, bukan?

23730708_10213952136178823_371595764_o.png
Kebebasan memilih — tentu saya akan memilih urutan harga terendah 🙂

 

Terkadang hal ini menjadi hiburan tersendiri. Menatap poin yang tertera di Traveloka saja sudah suatu hal yang menyenangkan seraya mengkhayal kapan poin meningkat dan bisa dapat penerbangan gratis dari poin *eh.

 

23770266_10213952134058770_293504732_o
Nah, ada info harga termurah 🙂
23732524_10213952136418829_42318710_o
Karena saya suka penerbangan di pagi hari, filter ini cukup membantu saya menemukan jadwal penerbangan yang sesuai keinginan saya

 

Jadi, masih mau meng-uninstal Traveloka? (ekahei)

Iklan

17 respons untuk ‘Cerita Jadi Bisa Pulang Ke Rumah

  1. Hehehe, sama… kadang suka iseng cek tiket meskipun nggak beli — karena emang nggak pergi :D, dan makin seru sejak ada fitur pemesanan tiket kereta.

  2. “Rumah” baru ?! Oh ya di latar foto itu ya om. Hehehe …bukan , itu rumah orang. Jadi ceritanya nggak sengaja ketemu ayah yg lagi pulang dari tempat pesta dan beliau jalan kaki. Akunya iseng minta foto.. soalnya jarang ada foto berdua dgn sang ayah 🙂

  3. Terima kasih Gallant 🙂 — hehehe aku kalau tinggal di pulau jawa dan kerap menggunakan kereta mungkin juga beli tiketnya via traveloka hehehe 🙂

  4. Heheh udah aku subscribe kak… — bingung kemaren nelusuri nggak nemu kata “follow” jadi aku subcribe pake alamat emailku 🙂 hehehe soalnya rada gaptek juga akunya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s