Tentang Mereka yang disebut Sebangsa dan Setanah Air

“Menemui kejadian apa selama di Korea?” tanya Umi, teman saya saat kuliah dulu. Ketika itu kami sedang jumpa kangen setelah setahun lebih saya tidak mengunjungi ibukota ; Jakarta.

Saya terdiam sejenak. Kemudian menyeruput pelan coklat dingin di hadapan saya.

korea blog.jpg

Saya menghela napas. Menerawang pada beberapa peristiwa yang cukup membuat dada saya sesak dan sudut mata berair. Bukan pada peristiwa mengerikan yang menimpa saya saat perjalanan ke negara orang. Bukan juga pada rasa lapar ditengah dinginnya kota Seoul.

Tapi… pada perlakukan saudara setanah air yang tak sengaja saya temui di sana.

Ah… Indonesia !

****

Saya mengunjungi Seoul seorang diri sebagai pelarian dari rasa jenuh pada pertanyaan yang menjemukan ; Kapan nikah. Sialnya sehari sebelum keberangkatan saya ditabrak motor yang membuat tulang pungung saya terasa nyeri. Sebagai pelaku perjalanan yang mengandalkan ransel tentu hal ini yang sungguh menyiksa.

 

Tak ada persiapan matang. Mengandalkan tas ransel bersifat daily backpack saya hanya membawa tiga helai baju dan beberapa bungkus sambal serta abon – lupa membawa mie kemasan dan sereal sebagai amunisi di sana. Sementara itu, saya memiliki waktu seminggu untuk menikmati Korea Selatan.

korea 1

Saya tidak terlalu melakukan riset seperti perjalanan saya ke Thailand. Tak ada Itinerary dan rencana yang pasti selain sekedar menikmati atmosfer kota demi melepaskan rasa lelah akan teror pertanyaan.

Ditengah kebingungan tersebut, saya mengukir senyum saat tak sengaja mendengar percakapan yang akrab di telinga saya ketika beberapa orang mengobrol dengan bahasa yang sangat saya kuasai. Saat itu, saya usai melaksanakan sholat di mesjid besar area Itaewon. Mesjid ini menjadi tempat wisata favorit bagi sebagian wisatawan asing.

Beberapa orang yang saya perkirakan berusia dua puluhan tahun itu pun menyibukan diri mengabadikan moment di depan mesjid lewat kamera mereka. Saya mengambil kesempatan untuk menyapa.

“ Indonesia?”

Mereka mengangguk.

“ Indonesianya dimana?”

“ Jakarta.”

Saya pun mengangguk. Menanyakan destinasi mereka kemana. Salah satu dari mereka pun menjawab pertanyaan saya. “  Oh, bisa bareng dong. Kebetulan saya juga ke sana.”

Ekspresi mereka tampak ragu. Mengangguk dengan berat. Sebagian dari mereka kembali sibuk dengan kamera ponsel dan tongsis. Sementara saya beranjak menanti mereka seraya juga sibuk mengabadikan momen.

Setengah jam kemudian. Tak ada dari mereka yang menghampiri saya dan berlalu begitu saja.

Saya terdiam.

Bukankah kita masih Indonesia?

****

korea 2

Di hari lain …

Saya mendengar grasak-grusuk tak jelas saat sedang menjemur beberapa kain di hostel. Kembali saya mendengar percakapan yang sangat akrab di telinga saya. Rupanya beberapa gadis berusia dua puluhan baru saja melakukan check in. Saya menanyakan darimana mereka berasal ; Indonesia.

Saya pun menawarkan diri untuk bergabung dengan mereka yang hendak ke Namsam Park . Rasanya seru kalau melakukan perjalanan sesama saudara setanah air di negeri orang. Sayangnya mereka mengacuhkan saya. Sibuk pada barang bawaan mereka. Satu diantara mereka masih keberatan di lempar ke kamar di lantai atas oleh petugas hostel – berpisah dari teman-temannya.

Saya pun menawarkan untuk tidur di kamar saya yang punya dua ranjang dan berada di lantai yang sama dengan teman-temannya. Sayangnya mereka menatap curiga pada saya dan mengacuhkan begitu saja.  

Baiklah!

korea 3.JPG

Saya tertawa pelan menceritakan hal itu pada Umi – antara miris dan entah bagaimana menyebut perasaan ini. Saya mengenal Indonesia dengan keramahan dan persaudaraan yang menyenangkan.

“Sejujurnya saat itu gue sempat menangis, Mi,” saya mengukir senyum mengenang puzzle-puzzle kejadian tersebut yang masih tergambar jelas di benak saya.

 Tapi.. pengalaman itu tak membuat saya berkecil hati tentang Indonesia. Saya percaya keramahan dan kesetiaan dalam persaudaraan sebangsa dan setanah air masih melekat erat pada mereka yang menyayangi merah putih.

Sebab sebelum peristiwa tersebut, saat menyasarkan diri di Busan, saya banyak dibantu oleh warga negara Indonesia yang tinggal di sana. Memberi saya makanan khas Indonesia ditengah kegalauan saya pada kehalalan makanan. Membagi cerita menyenangkan mereka sebagai perantau di negeri orang. Dan, mentraktir saya streetfood kota tersebut sebagai bekal dalam perjalanan ke Seoul.

Indonesia tetaplah Indonesia. Di tengah kegelisahan akan karakter sebagian orang-orangnya yang membuat saya menghela napas akhir-akhir ini, saya percaya keramahan dan rasa persaudaraan itu masih ada.

(ekahei)

Catatan ; Tulisan ini pertama kali dimuat di situs Travellous beberapa tahun lalu — hanya sekedar berbagi kisah dibalik ‘kebanggaan’ akan solo traveling ada kisah yang tak selalu menyenangkan 🙂

Menikmati Pagi di Pantai Muaro Penjalinan, Padang

“Bahagia itu bisa beraktivitas pagi di pantai,” begitu Eda ( kembaran saya) berujar kala saya menghempaskan tubuh disisinya. Turut menikmati suara debur ombak. Pagi itu, cuaca cukup bersahabat meskipun gulungan ombak cukup besar.

20190627_063951
Kala Eda Mengabadikan momen pagi di pantai

Saya bukanlah orang yang terbiasa beraktivitas di pagi hari. Sebagai penderita insomnia, pagi kerap saya lalui dengan tertidur kecuali ketika sedang liburan di suatu tempat. ” Gimana mau bangun rumah tangga, bangun pagi aja susah!” begitu kerap saya berkelakar setiap orang-orang terlalu peduli mempertanyakan, kenapa saya belum nikah-nikah juga.

” Udah ada ayunan sama pondok,” begitu Eda mengajak untuk ke pantai Muaro Penjalinan pagi itu. Sebuah pantai yang tak jauh dari rumah. Hanya sekali naik angkot atau dua puluh menit berjalan kaki. Entah karena ingin melakukan suatu perubahan beralih ke penikmat pagi, saya pun menyambut ajakan Eda.

Muaro Penjalinan bukanlah sebuah pantai tujuan destinasi wisata favorit. Beberapa meter dari pantai tersebut, terdapat pantai Pasir Jambak yang akhir-akhir ini dijadikan sebagai tempat wisata. Sayangnya, saya belum pernah ke pantai pasir Jambak tersebut sejak empat belas tahun lalu kala mengunjungi rumah seorang teman.

Tak ada yang istimewa dari Muaro Penjalinan kecuali pemandangan laut lepas dan kapal nelayan yang sesekali berlayar. Tapi, tempat ini salah satu tempat favorit mengawali aktivitas pagi sekedar menelusuri pesisir pantai atau berlari di pinggir kanal dan melepas pandangan dengan bersantai di atas bebatuan besar.

20190627_063534

Eda benar, sudah ada ayunan dan pondok kayu yang bisa dinikmati untuk bersantai ataupun mengabadikan momen lewati bidikan kamera. Lumayan untuk dokumentasi di sosial media dengan caption galau -galauan.

Bagaimana menikmati pagi di pantai?

Eda membuat pilihan ke saya, apa yang lebih menyenangkan berada di pantai. Kala menikmati pagi atau menyaksikan matahari tenggelam. “Jadi Eka tim mana ; pagi atau sore? “

Tak ada jawaban yang saya lontarkan atas pertanyaan tersebut. Laut bagi saya tak ubahnya suatu tempat yang bisa membekukan ingatan tentang kelelahan.  Memberi sensasi yang menyenangkan, meskipun terkadang kekesalan melihat sampah-sampah yang berserakan akibat ulah kita ; manusia.

Muaro Penjalinan, Tabing, Padang

Muaro Penjalinan sebenarnya sebuah tempat perlabuhan aliran sungai penjalinan dengan air laut, dan pesisir pantainya yang dikenal dengan nama pantai Ujung Batu. Namun bagi orang lokal, tempat ini sudah melekat dengan nama ; muaro penjalinan.

Bagi saya, pantai ini cukup ramah di kantong alias tak perlu bayaran untuk bisa menikmati deburan suara ombak, dan aktivitas manusia lainnya seperti ; olahraga dan surfing. Cuma butuh ongkos angkot dari rumah dan kesehatan badan yang baik.

Jika beruntung adalah menemui pemandangan pagi di pesisir pantai kala melihat nelayan berlabuh dan sementara anak istri mereka sudah menunggu di pinggir pantai. Menyambut dengan senyum bahagia.

resize.JPG
Pada suatu ketika, dalam perjalanan menjemput rejeki ( foto : Yulma, adik bungsu saya)

Sungguh bagi saya itu pemandangan yang bikin haru dan berkesan.

Kala menjelang sore, aktivitas di Muaro Penjalinan biasanya dihiasi oleh  olahraga , mancing dan berjalan santai di pesisir pantai. Oh ya tempat ini juga dijadikan area bagi pencinta papan seluncur atau surfing.

Untuk menuju tempat ini, bisa menggunakan aplikasi transportasi online atau menggunakan angkot tujuan Tabing (putih) dan Lubuk Buaya (orange) dari arah pasar raya Padang. Cukup bilang, “Muaro Penjalinan,” ke bapak sopirnya. Kemudian berjalananlah menuju pantai dengan langkah santai

Kembali ke pertanyaan soal pantai ; Kamu Tim Pagi atau Sore?

— Bagi saya tak masalah soal pagi atau pun sore, karena pantai selalu memberi kesan yang berbeda. Asal jangan menikmati kala siang hari ditengah cuaca Padang yang cukup panas.

Muaro Penjalinan / Pantai Ujung Batu

Tabing, Pasia Nan Tigo, Kec, Koto Tangah, Padang 25171

Rank ala eka : 6/10