Penulis: ekahei

selalu ada kisah dalam setiap aktivitas

Itinerary 3 Hari 2 Malam Menjelajahi Bangkok, The City of Smiles di Asia Tenggara

One’s destination is never a place, But a new way of seeing things — Henry Miller

Saya mengunjungi Bangkok di suatu hari yang biasa di September 2015 lalu. Saat itu saya memilih Thailand sebagai perjalanan solo traveling pertama saya di luar Indonesia karena pengaruh film-film Thailand yang kerap memperlihatkan suasana kota nan menyenangkan menjadi alasan saya saat itu.

image

Sawaddeka!

Yah, Bangkok tak ubahnya seperti Jakarta dengan suasana riuhnya, namun ia mampu menghadirkan senyum mengembirakan di wajah. Saya jatuh cinta pada bus kotanya yang kayak patas 45 jurusan Kampung Rambutan-Grogol, bedanya bus tersebut bersih. Perasaan itu membawa saya ingin kembali melakukan perjalanan ke ibukota Thailand tersebut.

bangkok

sumber gambar : @AirAsiaGo Indonesia

Berikut itinerary menjelajahi Bangkok yang akan meninggalkan kesan menyenangkan dan tak terlupakan – saya rasa :

Hari Pertama :

  • Memilih Pesawat airasia dengan jadwal pagi dari KLIA2 – mengingat saya berdomisili di kota Padang yang tak ada penerbangan langsung menuju Bangkok. Berdasarkan pengalaman melakukan penerbangan pagi terdahulu, biasanya akan menemukan sunrise nan menakjubkan.
khaosan

Salah satu kawasan populer di kalangan pelancong Internasional, Khaosan Road

  • Dari Don Mueng, Mengunakan bus A1 menuju Mochit. Melanjutkan perjalanan via BTS menuju Ratchathewi Station dan berjalan menuju Petchburi Soi 7, sekedar wisata kuliner halal dan mengunjungi masjid Darul Aman.
  • Melakukan check in hotel yang sudah dipesan melalui paket penerbangan-hotels yang ditawarkan oleh AirAsiaGo – menurut saya ini pilihan cerdas meminimalisir budget perjalanan. Pilihlah penginapan di daerah Pratunam mengingat lokasi strategis di pusat perkotaan dan tempat belanja.
  • Dari hotel gunakan transportasi taksi online – Saya sarankan untuk membeli simcard Bangkok di 7-11 —menuju Vimanmek Mansion. Sebuah bangungan komplek istana terbesar yang seluruhnya terbuat dari kayu jati emas di dunia. Bisa dibayangkan keindahan bangunan tersebut.
  • Dari istana tersebut, mampirlah ke Dusit Zoo,  kebun binatang di Bangkok. Sekedar ingin melihat bagaimana kota metropolitan terbesar di Thailand ini merawat kebun binatang – sungguh sebenarnya cukup melukai hati saya mengingat kebun binatang di tempat saya sangat memprihatinkan.
  • Kembali mengandalkan transportasi taksi online ada baiknya beranjak ke Asiatique untuk menikmati suasana sore menjelang malam. Tempat ini memiliki suasana yang menakjubkan dan menyenangkan. Bersantai di tepi sungai, berbelanja di kawasan tersebut atau sekedar nongkrong di beberapa restoran. Jika punya keberanian tak ada salahnya mencoba Ferris Wheel atau bianglala Bangkok eyes menikmati pemandangan malam kota Bangkok dari ketinggian.
Asia

Menikmati Sore di Asiatique

Hari kedua :

  • Memulai perjalanan tiga hari dari mulai Jum’at, maka ketika Sabtu tiba ada bagusnya menikmati pagi menjelang siang menelusuri pasar legendaris Chatuchak Market dan istirahat sejenak di Rot Fai Park.
jajan thailand

Yang menyenangkan terjebak di Chatchak Market adalah menemukan pertokoan yang jual aroma terapi

  • Menghabiskan siang dengan menyinggahi Siam Discovery Center lebih tepatnya ke Sea Life Bangkok Seaworld. Tiketnya lebih murah jika beli online, dapat juga di beli di AirAsiaGo — lebih murah jika dibandingkan membeli on the spot berdasarkan pengalaman saya sebelumnya.
  • Hari kedua ini, usahakan badan tidak terlalu lelah. Karena menjelang malam lakukanlah Tour sepeda malam seraya menikmati kuliner jajanan streetfood di malam hari. Untuk tour sepeda malam ini biar aman dan praktis bisa dipesan via AirAsiaGo

Hari terakhir

  • Melakukan penerbangan terakhir di malam hari, masih ada tersisa untuk menjelajahi Bangkok nan menyenangkan. Maka tak ada salah mencoba floating Market –meyinggah Bangkok tanpa mencoba sensasi terjebak di floating Market rasanya kayak minum teh tanpa gula. Saya menyarankan untuk menuju Talling Chan Floating Market yang ada setiap weekend, sebab suasana pasar tradisionalnya masih terjaga dengan baik. Untuk menuju tempat ini kita bisa gunakan BTS jurusan Bang Wa selebihnya memanfaatkan taksi online.
  • Kembali ke hotel dan melakukan Check out serta istirahatlah sejenak di lobby hotel atau melipir ke terminal 21.
  • Siang menjelang sore sebelum bertolak ke bandara Don Mueng tak ada salahnya menyinggahi Terminal 21, sebuah mall menurut saya instagrammable banget.

 

***

Masih banyak tempat yang menyenangkan di Bangkok yang bisa dikunjungi, namun tentu keterbatasan waktu jadi kendala. Ibukota gajah putih ini mampu meninggalkan kesan yang mendalam dan menyenangkan. Ia hadir ibarat teman yang kita selalu kita cari disaat jenuh dan ingin berbagi senyum kegembiraan.

Kamu ingin bisa kembali mengunjungi ‘teman yang menghadirkan senyum menyenangkan ini ; Bangkok, kamu bisa follow AirAsiaGo Indonesia, atau like di facebook AirAsiaGo Indonesia dan Instagram @airasiagoid untuk mendapatkan info penawaran menarik dan paket yang lebih hemat ke Bangkok atau kota dan negara lainnya. Wujudkan impian traveling bersama AirAsiaGo adalah pilihan cerdas buat kamu yang ingin hemat dan santai. #AAGoMakeItReal

airasiogo

sumber foto : AirAsiaGo

 

Iklan

Tentang dia yang Memberitahukan Saya Bagaimana Menikmati Perjalanan

Ini tentang dia, seorang laki-laki, yang saya panggil Pak Aie. Bersama mobil truk ia mengenalkan perjalanan yang menyenangkan saat itu.

foto eka

Saya tersentak seiring laju bus tingkat yang membawa saya dalam perjalanan Bangkok menuju Krabi melambat. Saya pun meraih Iphone 4 dari saku tas kecil yang saya peluk sepanjang perjalanan. Pukul 04.30 A.M dan langit masih menyisakan suasana gelap. Sembari menarik napas, saya melempar pandangan ke luar jendela kaca. Tak ada pemandangan yang menarik selain semak belukar dan beberapa rumah.

Namun entah kenapa suasana subuh itu membuat saya merasa dejavu’ terlempar pada sebuah perjalanan yang kerap saya lakukan semasa kecil dulu melewati lintas Sumatera. Bedanya, saat ini tak ada suara adzan subuh dan … truk, serta pak Aie.

Pak Aie

Pak Aie tak ubahnya keluarga bagi kami. Ia adalah orang yang bekerja dengan ayah saya saat itu. Ia membawa barang dagangan ayah yang dibeli dari kota Padang menuju daerah transmigrasi Provinsi Jambi setiap minggunya. Ayah saya adalah perantau asal minang yang mengadu nasib pada suatu daerah dusun yang membuat kehidupan penuh rutinitas yang membosankan saat itu – bahkan listrik cuma hidup di malam hari.

Ama – ibu saya, kerap menyuruh saya dan saudara kembar saya ke kota Padang sekedar liburan di tempat kedua orangtua beliau serta kakaknya dan beberapa sepupu saya. bersama pak Aie dan mobil truknya kami kerap melakukan perjalanan di mulai dengan melintasi jalan logging, kota Muaro Bungo, lintas Sumatera untuk menuju kota Padang – yang kemudian hari baru saya tahu bahwa itu truk milik ayah saya.

Dalam perjalanan menuju kota Padang, truk Pak Aie terkadang dibebani dengan hasil perkebunan dusun tersebut seperti Nangka dan Jengkol yang nantinya akan dijual di Pasaraya Padang. Biasanya menjelang subuh, kami sudah sampai di Kota Padang. Saya ingat Pak Aie terkadang membangunkan saya ketika truk berada di Sitinjau Laut sekedar menikmati keindahan kota Padang dari ketinggian daerah tersebut.

foto diam

Pemandangan kota Padang dari Gunung Padang, Padang

Pak Aie juga kerap menunjukkan dua tanduk kerbau yang bertuliskan PT Semen Padang yang menandakan sebentar lagi kami akan sampai ke tempat tujuan. Layaknya anak-anak berusia enam tahun saat itu, saya bersenandung senang. Terkadang dalam perjalanan, pak Aie sengaja menghentikan truk dan menyuruh saya membaca billboard atau plang nama toko yang pada akhirnya mengenalkan saya pada nama daerah tersebut.

Puzzle Perjalanan Bersama Pak Aie

Saya menghela napas. Kembali memejamkan mata dan sesaat kemudian perlahan membuka mata. Saat itu langit telah berubah jadi terang yang membuat pemandangan di luar jendela kaca bus tingkat terlihat jelas. Sayangnya tidak ada plang nama yang bisa saya baca yang memberitahu apakah saya sudah memasuki daerah Krabi atau belum.

11163201_10207128533033009_6722218364864285020_n

Salah satu pemandangan dari balik jendela kaca bus yang membawa saya kembali ke Kota Bangkok dari Krabi,Thailand

Lagi-lagi pikiran saya terlempar pada laju truk semasa kecil dulu, pemandangan di luar sana tak ubah seperti memasuki daerah Muaro Bungo saat itu. Saya ingat, saya berdiri memegang dashboard truk bersenandung meluapkan kegembiraan, sebentar lagi saya akan tiba dan tak sabar membagi cerita ke Ama  mengenai liburan selama di Padang.

Cerita masa kecil saya pun terhenti seiring laju bus berhenti di terminal. Saya pun bergegas turun mengabaikan perasaan emosional yang dihasilkan dari puzzle-puzzle masa lalu tersebut. Sayangnya, memori yang sudah lama terlupakan itu selalu ‘hidup’ setiap kali saya melakukan perjalanan.

****

Bumbu – bumbu Perjalanan

Bagaimana rasanya terjebak tidur di Bandara, di terminal, di rumah makan, dan tersesat kebingungan pada suatu daerah yang asing?

Saya berbagi cemilan dengan bapak-bapak asal Yogyakarta yang hendak melakukan perjalanan ke Brunei saat transit di KLIA 2 sebelum melakukan penerbangan ke Bangkok esok harinya. Mengobrol banyak hal. Dan, ini bukan kali pertamanya saya terjebak bermalaman di Bandara, di Soetta terminal 2F kerap saya singgahi paling tidak enam bulan sekali.

terima kasih ibu

Perjalanan dengan Pak Aie membuat saya tidak terlalu peduli tempat persinggahan seperti apa yang akan saya temui sebelum tiba di tempat tujuan. Pak Aie selalu singgah di Rumah Makan yang dipenuhi mobil tronton, truk serta L-300 yang sebagian mereka  baru pulang dari pulau Jawa. Meskipun tak terlalu mengerti, saya menikmati obrolan kaum bapak tersebut. Biasanya Pak Aie akan memesan secangkir kopi susu buat saya, dan secangkir kopi hitam untuknya.

Saya pun belajar bagaimana nikmatnya menyeruput kopi susu di piring tadah agar cepat dingin – hal serupa juga dilakukan bapak-bapak terhadap kopi mereka. Menyuruh saya untuk tidur di mobil percuma, karena tahu karakter saya yang heboh dan penuh rasa ingin tahu. Kadang ketika Pak Aie tidur sejenak di ruang yang disediakan oleh pemilik rumah makan untuk para supir, berlantai papan, ia merelakan kain sarungnya untuk selimut saya ketika tidur di sebelahnya. Memberikan saya lotion nyamuk khusus anak-anak, dan membiarkan saya mengunakan dengan tangan sendiri. Mewanti-wanti untuk segera mencuci telapak tangan yang sudah kena lotion tersebut.

Perjalanan tidak selalu tentang hal-hal yang menyenangkan. Diantara perjalanan yang tidak menyenangkan selama ini yang saya alami bersama Pak Aie adalah ketika bocor ban di daerah yang belum jauh dari rumah. Saat itu pukul sepuluh malam, lima belas menit lepas dari rumah tiba-tiba ban truk berbunyi cukup keras. Suasana sepi, tak ada kendaraan lain yang lalu lalang.

16558753_1374216105963615_635721856_n

Salah satu perjalanan saya adalah mengunjungi museum kereta api di Sawahlunto

Jika ada, tak ada yang mau berhenti sekedar membantu pak Aie. Dari dalam truck, saya kecil mengamati keresahan pak Aie di jalan menunggu kendaraan lain untuk mau mengantar saya dan dia pulang ke rumah agar beristritahat (saat itu belum ada ponsel untuk mengehubungi ayah saya) sejenak. Sayangnya sia-sia, berakhir dengan menunggu pagi yang kemudian keesoknya menumpangi Angkot kota.

Saya tersadar pengalaman perjalanan masa kecil dengan pak Aie membuat saya jadi terbiasa untuk tak banyak mengeluh dalam perjalanan. Ketika ketinggalan Subway terakhir saat backpacking ke Korea tahun lalu, dengan hati tabah saya memilih berjalan kaki seorang diri menembus dinginnya cuaca musim gugur saat itu.

Saya pun pernah terjebak di warung mie aceh di Pasar Minggu saat ketinggalan bus Damri yang akan membawa saya ke bandara untuk melakukan penerbangan paling pagi. Sementara untuk kembali ke kosan di lenteng agung bukan pilihan yang baik mengingat angkutan umum sudah tidak ada – saat itu kondisi keuangan saya sedang memprihatinkan. Saya memohon ke karyawan mie aceh untuk tidak tutup terlebih dahulu dan membiarkan saya menunggu di warungnya hingga  Damri pertama melintas di depan warung tersebut.

Sekolah di Perjalanan

Perjalanan mengasah sisi nurani saya menjadi pribadi yang lebih baik pada kehidupan sosial. Tersadar terhadap hampir tujuh tahun semasa kecil menikmati perjalanan dengan truk bersama Pak Aie melintasi jalanan Sumatera membuat saya tumbuh dengan baik. Pak Aie mengisi ruang kosong yang seharusnya di isi dengan ayah saya yang sangat sibuk saat itu.

13442342_10209200013538727_5173343686293616954_n

“ Eka itu apa bacaannya?” dari balik kemudinya Pak Aie memperlambat laju truk. Menepi sejenak.

“ Dua kali lima berapa?”

“ Coba ucapkan A sampai Z!”

Pak Aie dan Truknya saat itu tak ubahnya ruang kelas dan sekolah bagi saya. Tak sekedar mengajarkan berhitung, membaca selama perjalanan, tapi juga berbaur dan bersosialisasi yang baik selama perjalanan tanpa memandang latar belakang seseorang. Tentang pelajaran moral yang kadang tidak saya dapatkan di bangku sekolah dasar dulu.

****

Aha Moment Skyscanner

Saya memulai perjalanan sejak usia belum genap enam tahun saat bersama Pak Aie hingga pengujung sekolah dasar. Pak Aie kemudian lepas dari ayah dan saya pun melewati masa tumbuh yang biasa tanpa perjalanan yang berarti.

20161114_142442

Perjalanan adalah candu yang tak terbantahkan.  Hingga ketika semasa kuliah kembali saya diingatkan pada moment menyenangkan akan sebuah perjalanan. Tak banyak perjalanan yang saya lakukan saat itu mengingat keuangan dan waktu yang saya dedikasikan untuk menjadi mahasiswa yang baik.

Perkenalan saya pada situs skyscanner membangkit hasrat saya untuk melakukan perjalanan yang lebih jauh, dalam artian melintasi negara, menemui hal-hal yang baru ; bahasa, budaya, suasana dan sistem transportasi. Kemudahan informasi yang diberikan Skyscanner mengenai waktu dan biaya untuk tiket pesawat promo membawa langkah saya akhirnya nekat melakukan solo backpacking untuk pertamakalinya ke negara asing ; Thailand 2015 lalu.

Keberanian juga didukung dengan beberapa informasi di blog tentang Bangkok — meskipun teman saya yang sempat berlibur di sana mengingatkan tentang kriminalitas Bangkok. Saya percaya pada pikiran positif, pada hati yang selalu berdo’a dan langkah nan tenang semua akan baik-baik saja.

22236424_10213600457267070_960960519_n.png

Skyscanner inspirasi cerdas untuk menentukan destinasi liburan

Mengembalikan momen menyenangkan selama perjalanan adalah mengukir cerita perjalanan itu sendiri. Kerinduan saya akan perjalanan diobati dengan solusi yang ditawarkan oleh Skyscanner lewat informasi tiket murah yang akhirnya bisa mewujudkan perjalanan itu sendiri. Saya tak perlu bergadang sekedar mengejar harga yang memuaskan.

22184777_10213600456347047_494749641_n

Skyscanner membandingkan harga dari beberapa situs travel perjalanan yang memudahkan Anda untuk memilih

Hal yang menyenangkan adalah tawaran sewa mobil dan info hotel yang sesuai dengan budget bisa kita dapatkan di situs perjalanan nan cerdas ini. Selain itu,bagi saya situs ini inspirasi kebingungn saya yang terkadang tidak tahu mau kemana. Sebab tawaran informasi destinasi populer menjadi inspirasi tersendiri bagi saya. (****)

Tak Perlu Berhutang Untuk Sekedar Menikmati Serunya Perjalanan

Beberapa waktu lalu saya sempat terdiam ketika linimasa dihebohkan oleh cerita seorang travel blogger di media sosial mengenai sosok yang berhutang dengannya dalam jumlah besar demi melampiaskan hasrat untuk berplesiran. Cerita tersebut membuka cerita yang tak kalah mengejutkan yang ternyata banyak memakan korban dari si pengutang. Tak saja lewat linimasa, ternyata cerita ini jadi pembahasan hangat di ruang keluarga antara abang dan kakak saya waktu itu.

Seoul Forest JPG

Seoul Forest : Alih-alih ke Nami Island untuk melihat keindahan musim gugur, saya justru melipir ke Seoul Forest yang tidak terlalu menghabiskan biaya dan waktu. Tempat ini cukup menyenangkan sekedar mengabadikan moment pemandangan indah.

Saya mengakui perjalanan adalah candu tersendiri – apalagi melakukan perjalanan keluar negeri. Namun, melihat apa yang dilakukan oleh sosok yang berani berhutang dengan jumlah yang terbilang cukup ‘wow’ bagi saya pribadi membuat saya menghela napas sesaat. Menyadari makna perjalanan sendiri bagi pelaku yang gemar traveling.

Esensi perjalanan bagi saya adalah pembentukan karakter yang lebih baik dan berani dalam hal menghargai perbedaan yang ada. Bukan demi menghadirkan pose tersenyum bangga berada di suatu destinasi biar terkesan glamour agar memperoleh decak penuh kekaguman dan klik ‘love’.

foto eka

Agaknya mereka yang berutang demi melampiaskan hobi jalan-jalannya tersebut lupa pada esensi perjalanan itu sendiri. Saya bersyukur pada kemampuan yang diberikan oleh Tuhan kepada saya. Berada dalam kondisi keuangan yang berbeda dari princess Syahrini, saya belum berani bermimpi apalagi berencana untuk bisa menjelajahi benua Eropa.

Traveling adalah candu yang tak terbantahkan. Menjelajahi dari satu tempat ke tempat lain. Menikmat atmosfer berbeda dan senyum masyarakat lokal. Membeku momen berharga lewat lensa kamera. Kegiatan yang sungguh menyenangkan dan tentu saja membutuhkan biaya yang tak sedikit. Terlahir bukan dari keluarga Bakri, berikut beberapa hal yang pernah saya lakukan dalam mewujudkan perjalanan termasuk pergi ke keluar negeri.

  1. Berdagang

Percayalah rejeki Tuhan itu luas. Luas bagi mereka yang senantiasa bersyukur, berdoa dan berusaha. Saya ingat perjalanan pertamakali saya waktu itu ke Karimun Jawa yang menghabiskan dana kurang lebih Rp 700.000,- dari Jakarta. Berprofesi sebagai mahasiswa rantau saat itu tentu jumlah tersebut cukup besar. Saya berjualan Risoless yang saya peroleh dari seorang teman yang memiliki tetangga yang suka masak. Sempat dijutekin oleh ibu kantin kampus karena merasa tersaingi, Alhamdulillah dalam satu hari saya bisa menabung Rp 20.000,-/hari.

Jualan Puding

Salah satu jualan yang saya buat dan di titipkan di warung agak jauh dari rumah

Selain jualan makanan di lingkungan kampus saya juga berjualan Aksesoris yang saat itu barangnya saya beli di pasar Asemka, Mangga Dua, Jakarta. Keuntungan tersebut saya tabung yang akhirnya membawa langkah saya pada perjalanan ke Karimun Jawa, Yogyakarta, Bandung, Kepulauan Seribu dan Lampung.

Oh, ya saat ini saya buka lapak di IG dengan akun : Kibostuff — boleh diintip dagangannya kakak ! — sebagian barang merupakan hasil berbelanja saat plesiran dan lebih banyak produk Korea sih. Yuk mampir !

kibostuff

2. Membuka tabungan berjangka

Perjalanan pertama kali ke luar negeri adalah Thailand, dana yang saya gunakan adalah dari tabungan berjangka yang sudah saya siapkan setahun sebelumnya. Saya harus keluar negeri. Begitu batin saya ketika memutuskan membuka tabungan berjangka yang di debet Rp 300.000,- setiap bulannya.

Sejujurnya, ketika membeli tiket promo saat itu KL-Bangkok saya sempat berutang pada abang saya yang kebetulan memiliki kartu kredit dengan perjanjian akan membayar ketika tabungan berjangka saya sudah bisa dicairkan. Dengan dana terbilang terbatas tersebutlah saya gunakan untuk menjelajahi Thailand sebaik mungkin dan mengabaikan wisata belanja negara tersebut.

Bawa makan

Dalam perjalanan saya kerap membawa nasi bungkus dan lauk yang dibungkus plastik dengan porsi sekali makan. Jadi selesai makan tinggal di buang sampahnya.

3. Mengirim tulisan dan foto perjalanan ke berbagai media

Saya bersyukur dengan kegemaran saya dalam hal membaca yang membuat saya menyukai dunia tulis menulis. Pengalaman selama melakukan perjalanan saya tuangkan dalam tulisan dan mengirimkannya ke beberapa media. Tidak selalu tulisan yang dikirim ke media di muat. Banyak tulisan saya yang diabaikan dan dikritik karena tidak masuk dalam kriteria media mereka. Dari beberapa kali dimuat di media, honor yang saya dapat setidaknya menambah tabungan perjalanan saya ke Korea Selatan saat itu.

natgeo

Salah  satu hadiah yang saya dapat mengirim tulisan singkat di Natgeo Travel

4. Mengikuti berbagai kuis di Media Sosial

Ya, tak ada salahnya menjadi kuis hunter. Kita tidak tahu rejeki seperti apa yang akan menghampiri kita. Saya kerap mengikut kuis baik itu di twitter, instagram dan facebook. Setidaknya produk yang didapat bisa dijual ke teman-teman yang tentunya menambah tabungan untuk plesiran.

susan

Alhamdulillah dapat buku referensi dari pergidulu

5. Perhatikan gaya hidup

Bagi saya inilah yang paling penting meskipun untuk sebagian mereka yang menyukai dunia belanja hal ini tentu saja menyiksa. Saya harus menahan diri untuk tidak membeli sepatu cantik, menutup mata dari sista-sista online shop dan menelan ludah setiap kali melewati tempat makan yang mengiurkan.

makan

Alhamdulillah, waktu di Busan ditawarkan makan oleh orang Indonesia yang sudah cukup lama tinggal di Korea Selatan. Di Bangkok pun saya ditraktir oleh orang Indonesia yang tak sengaja saya temui di salah satu mesjid di sana. 

Alih-alih membeli makanan cepat saji, saya mengasah kemampuan memasak sendiri. Selain hemat, hal ini ternyata juga baik bagi kesehatan karena sebisa mungkin menghindari penyedap rasa instan dalam proses memasak.

jajan thailand

Saya berusaha menahan diri untuk tidak tergiur pada benda-benda lucu yang ditemui sepanjang perjalanan . Dan, untuk memuaskan rasa ini biasanya saya memilih memotret benda-benda tersebut

****

forest

Lima hal itulah yang saya terapkan dalam kehidupan agar terhindar dari utang tak menentu demi mewujudkan keinginan menjelajahi destinasi yang mengiurkan.

Sungguh dibebani utang sama menyiksanya dengan pernyataan : “Oleh-olehnya dong kakak!” –> “boleh mampir di IG Kibostuff kak, masih ada sisa tempelan kulkas yang siap di tukar dengan rupiah.” *eh

20161114_142442

Saya cukup lama berdiri di depan tenant ini. Memperhatikan benda keren tersebut kalau di tempel di dinding kamar. Sayangnya, dana saya tak cukup. Ya sudahlah belum rejeki 🙂

Ingatlah bahwa esensi dari traveling itu sendiri adalah mengumpul pengalaman tak terlupakan dalam hal mengasah karakter diri yang lebih baik bukan menjadi pribadi yang menyebalkan karena suka utang terus tidak membayar segera utang tersebut.