Menemui Kebaikan di Let’s Read

Keep reading. It’s one of the most marvelous adventures anyone can have

Lloyd Alexander

salah satu koleksi buku yang berada di rumah

Saya terpaku cukup lama usai membaca salah satu cerita di aplikasi Let’s Read berjudul ” Ibu Guru Hebat” . Sepertinya halnya Sarah, saya penasaran dengan ibu guru yang diceritakan oleh Reta dan membuat saya tak sabaran mengeser ke kanan untuk segera menyelesaikan cerita tersebut. Misteri ibu guru Reta pun terkuak dengan pengenalan terhadap sosok Bu Een Sukaesih, bu guru nan menakjubkan. Sosok ibu guru digambarkan dalam cerita mengalami Rheumatoid Arthritis ( RA) yang membuatnya lumpuh, namun tidak menghambat aktivitasnya dalam mengajar.

Bu Een adalah guru yang pintar dengan menguasai ragam mata pelajaran seperti Bahasa Inggris, Sejarah, Komputer dan matematika. Siapa pun boleh datang dan belajar ke rumah buk Een. Sebuah cerita yang sederhana namun mengasah sisi humanis saya sebagai makhluk sosial. Keterbatasan yang dimiliki oleh buk Een ternyata tidak membuat beliau berhenti berkarya. Dan, tentu saja kebaikan hati anak murid beliau saling membantu di rumah buk Een seperti membersihkan rumah. Sejatinya begitulah kehidupan saling menolong dan berbuat baik.

Membaca bagi saya bukan saja sekedar hobi tapi sebuah sarana sebagai pembentukan karakter. Saya percaya buku dan tulisan apa yang kita baca akan membentuk kita seperti apa. Dan, sedihnya adalah ketika saya memperhatikan anak-anak di lingkungan saya yang jauh dari kebaikan lebih banyak berteriak serta terpaku pada game di ponsel. Sungguh sangat langka melihat bocah memegang buku bacaan – kecuali mungkin di kota kali ya ?

Sejatinya cerita baik seperti kisah buk Een bisa dijadikan sebagai perenungan bagi anak untuk menjadi pribadi yang baik dan lebih humanis. Adik saya tumbuh dengan minat bacanya yang bikin orangtua saya mengeleng kepala. Ayah saya sempat ngedumel kala lihat buku-buku yang ada di kamar adik.

“ Ini kalau di totalin bisa beli mobil nih! ” begitu ayah berujar jika dihitung -hitung jumlah buku yang sudah dibeli sejak usia dia sekolah dasar. Membacalah yang membuat adik saya tahu bagaimana transaksi membeli buku online.

Ayah mungkin tidak sadar, deretan buku tersebut membentuk karakter adik lebih bijak dan jeli dalam membaca situasi. Adik tahu dimana ia harus berbicara dan menjaga sikap serta lebih mawas diri. Dan, kisah “Ibu Guru Hebat” bukan satu – satunya kisah yang menghadirkan nilai kebaikan. Ada banyak kisah yang membuat kita terperangkap pada perenungan akan kesederhanaan cerita yang disajikan di Let’s Read, sebuah aplikasi perpustakaan digital masa kini.

Let’s Read more !

Saatnya mengunduh lets read yang bisa kamu nikmati di kala offline — tanpa perlu pakai data membaca cerita anak 🙂

Let’s Read adalah perpustakaan digital berisi buku cerita anak yang dapat di unduh di playstore. Aplikasi ini dipersembahkan oleh komunitas literasi dan The asia foundation dalam rangka bertujuan untuk membudayakan kegemaran membaca sejak dini dengan menghadirkan ragam cerita bergambar nan menarik dan sederhana.

Kehadiran Let’s Read di tengah kemajuan era teknologi yang tak lepas dari smartphone adalah oase di tengah gersangnya kebiasaan membaca terutama dalam dunia anak. Solusi bagi ibu – ibu muda yang terkadang berat mengeluarkan lembaran rupiah demi satu buah buku, namun disisi lain ia ingin anaknya bisa membaca dengan baik. Ada banyak bacaan baik hanya bermodal smartphone. Tak ada alasan untuk mengkambinghitamkan anak kecanduan ponsel pintar, kalau yang di buka adalah bacaan di Let’s read !

Saya belum punya menikah dan punya anak. Tapi menelusuri cerita -cerita di Let’s read membuat saya kehilangan kata-kata. Seperti menemukan mutiara nan indah. Tak sekedar menyajikan cerita, tapi juga informasi soal cerita tersebut dari berbagai bahasa yang bisa jadi media belajar bagi kita. Dan, menariknya adalah informasi soal tingkat kesulitan membaca yang justru sebagai tantangan dalam diri ini. Membaca jadi menyenangkan, bukan?

Ada banyak kebaikan dalam perihal membaca, dan ada ratusan cerita bergambar yang menawarkan nilai kebaikan dalam tumbuh kembang anak saat melewati masa emasnya hingga ia akrab dengan bacaan yang baik. Inilah yang tanpa sadar ditawarkan oleh Let’s Read menurut saya pribadi. Bagi orang dewasa membacakan kisah – kisah yang terdapat di Let’s read tanpa sadar kembali belajar tentang kebahagiaan sederhana khas dunia anak-anak — mengasah sisi humanis dan senyum menyenangkan. Bagi bocah ia belajar mengenai rangkaian kalimat dan imajinasi dan pembentukan karakter menjadi pribadi yang mengembirakan.

Beberapa cerita unggulan yang terdapat di Let’s read Indonesia

Tentang membaca kisah …

Saya dan adik tumbuh di sebuah desa yang tidak terdaftar di peta. Bahkan untuk menyebut dimana kami tinggal, kami terpaksa mengatakan nama kota Kabupaten bukan nama daerah dimana kami tinggal. Membaca buku kala saya kecil dulu merupakan kemewahan yang terangkai dalam khayalan saya. Tak ada perpustakaan dan tak ada toko buku di desa saya seperti hal yang digambarkan dalam cerita – cerita yang saya baca.

Saya bersyukur ada salah satu guru yang berinisiatif menjual Majalah Bobo yang ia ambil dari kota kabupaten dan dijual dengan harga sedikit mahal dari tarif mengingat biaya transportasi. Bagi anak yang gemar membaca, majalah Bobo tak bisa memenuhi kepuasan mengisi waktu sepanjang hari Minggu atau kala liburan tiba. Majalah Bobo hanya hitungan jam sudah selesai di baca, sementara ada banyak waktu yang membuat bosan jika tak ada kegiatan. Terkadang saya mesti mengubek -ngubek koran bekas dagangan ayah yang beliau beli lumayan banyak dari kota Padang kemudian membagikan perkilo. Koran tersebut dijual ke pedagang toko baju atau penjual ikan asin.

Di koran bekas saya menemui cerita dongeng salah satunya tentang bawang merah dan bawang putih yang mengajarkan saya tentang nilai kebaikan dari bawang putih. Cerita tersebut dimuat dalam sisipan terbitan hari Minggu pada sebuah koran daerah. Kecintaan saya pada cerita dimanfaatkan oleh saudara kembar saya kala ia minta tolong. ” Ka, temani Eda ke kamar mandi dong. Eda ada cerita , kemaren nemu di Koran minggu di toko,” kalimat itu menjadi kalimat pamungkas membuat saya menuruti apa maunya Eda.

Saya tumbuh menjadi pribadi yang jatuh cinta pada kata-kata dan cerita termasuk dongeng yang mengajarkan nilai kebaikan. Buku bergambar berjudul Heidi yang dibelikan ibu saya sepulang dari kota Padang kala saya sekolah dasar dulu melekat dalam ingatan saya. Betapa menyenangkan memiliki pribadi ramah dan periang seperti halnya Heidi. — dikemudian hari saya baru tahu kalau Heidi berangkat dari kisah novel yang ditulis oleh Johanna Spyri pada 1879.

surganya pengemar bacaan

Tumbuh dengan kegemaran membaca membuat saya sadar buku memberi banyak kebaikan dalam setiap langkah menuju kedewasaan diri. Meniti kata dan menata langkah adalah proses yang di dapat kala bergelut dengan ragam bacaan. Let’s read more dan temukan kebaikan di ragam cerita bergambar yang terdapat di aplikasi Let’s read !

Pantai Morgan Bangau Putih dan Definisi Bahagia Sederhana

... tentang langkah yang tak seharusnya berhenti.

20200927_073759
                                                               

2020 adalah tahun dimana menyadarkan saya pada realitas baru akan pandemi yang mengubah wajah kehidupan dunia dengan ragam emosi yang tak terkatakan. Saya — Kita mungkin sudah memasuki masa kejenuhan dengan kondisi seperti ini. Tapi, setidaknya bersyukur masih bisa menghirup oksigen dengan baik, membau sabun mandi bahkan bau badan sendiri dan menikmati waktu sendiri di rumah. Cuma, yah kita perlu menjaga kewarasan diri dari arus informasi yang bikin melelahkan dan kebencian tak beralasan, semisalnya teori konspirasi.

Berada di rumah berbulan -bulan dengan kehaluan bersama opa-opa Korea alias marathon drakor ternyata tak melulu memberi dampak kebahagiaan bagi saya. Ada kebosanan kala menyadari tubuh saya mulai mengendat, dan pikiran yang tidak fokus. Bukannya takut gemuk, hanya saja … saya ngerasa ada yang hilang dari diri ini ketika pengetahuan saya sepanjang 2020 adalah soal nikmatnya rebahan dan langkah yang terhenti. Saya butuh sejenak beranjak, demi mengembalikan keceriaan hari – hari yang menjemukan ini.

Tak ingin ketinggalan hal -hal yang kekinian, bersepeda sepertinya adalah pilihan tepat. Tubuh sehat, syukur-syukur dapat bonus mengurangi berat badan. Dan … yang penting ada bahan untuk update sosial media demi eksistensi diri dengan caption : ” Olahraga tipis tipis … “*eh

20200927_071035

Belasan tahun tinggal di kawasan ini, menyadarkan saya pada waktu yang saya habiskan selama ini. Kala rumah adalah tempat ternyaman untuk menghabiskan waktu dari kelelahan, dan jalanan adalah area memupuk kegembiraan tanpa menyadari ada hal yang menyenangkan yang harus saya rawat dan jaga. Adalah senyum dan sapaan tetangga yang kerap terabaikan selama ini. Hiks —

Menjumpai Impian Semasa Bocah

Dulu kala awal – awal pindah ke daerah ini, saya diberitahukan kalau di belakang kawasan rumah ada pantai. Tak terlalu jauh sekitar kurang lebih hampir satu kiloan. Layaknya bocah kala itu, saya dan beberapa sepupu yang jarak usianya tak terlalu jauh penasaran dengan cerita tersebut. Kami pun berjalan kaki menelusuri perumahan yang berakhir cuma menemui pasir khas pasir pantai. Tidak terlihat gelombang air dan debur suara pantai. Perjalanan kala itu berakhir dengan keputus-asaan tidak menemui pantai — yang kemudian hari saya sadari tertutup oleh rumah penduduk. Keputusasaan yang berujung pada lupa dan tenggelam dalam rutinitas lainnya hingga dewasa.

 

20200916_181446

Belasan tahun kemudian, fakta bahwa posisi rumah saya berada di pesisir pantai juga menimbulkan kekhawatiran akan bencana alam soal ancaman tsunami. Beberapakali kejutan gempa yang membuat beberapa orang terpaksa melarikan diri sejenak ke daerah yang dianggap aman. Tapi, pada akhirnya akan kembali kepada Allah, meminta agar terhindar dari kegelisahan tersebut.

 

Dan, fakta bahwa laut terkadang membekukan ingatan akan rasa lelah adalah hal yang disyukuri kala pandemi ini. Saya tak perlu khawatir soal transportasi dan menemui kerumunan orang untuk sekedar bersantai sejenak menikmati debur suara ombak yang menenangkan hati. Cukup menelusuri kerandoman kawasan dekat rumah dengan kayuhan sepeda.

 

Pantai Morgan Bangau Putih, Parupuk Tabing, Padang

 

Suara debur ombak membuat perasaan buncah yang tak terbantahkan. Saya disambut dengan pemandangan yang mengemaskan kala seekor kucing yang berada di sisi kapal nelayan sedang duduk melepas pandangan ke laut. Sayangnya saya kehilangan momen mengabadikan pemandangan tersebut disaat memarkirkan sepeda dan si kucing menyadari keberadaan saya. Kucing tersebut menoleh ke belakang, kemudian beranjak pergi begitu saja. Ingatan itu tergambar jelas dalam benak saya.

 

 

Adalah pantai Morgan Bangau Putih, begitu orang-orang menamai pantai yang terletak di kawasan Parupuk Tabing, kecamatan Koto Tangah, Padang tersebut. Pesisir pantai ini belum terlalu familiar sebagai objek wisata sehingga masih menyisakan suasana sepi nan menenangkan. Sepi bukan berarti sunyi. Berada di antara perumahan, pantai ini memberi kesan layaknya teras rumah yang dinikmati pada penghujung sore selepas pulang kerja.

 

Menikmati suara debur ombak tanpa gangguan tukang parkir dan tukang ngamen adalah sesuatu yang menyenangkan bagi saya. Saat duduk melepas pandangan ke laut lepas tanpa paksaan harus membeli makanan atau minuman adalah kegembiraan tersendiri. Saya jadi ingat beberapa tahun lalu, sepulang dari Gramedia dan sejenak menghabiskan sore di pantai belakang Gramedia Padang. Sekedar duduk di atas batu besar di pinggir pantai betapa kesal saat itu dihampiri pengamen yang memaksa untuk diberi rupiah ~~ bukannya nggak mau berbagi, hanya saja tidak terlalu suka caranya hiks

 

Pantai Morgan Bangau Putih memberi kebahagiaan dengan kesederhanaannya yang tenang. Mungkin karena berada di area perumahan penduduk, pantai ini merupakan tempat bersantai warga sekitar. Di penghujung sore pemandangan bocah – bocah berenang dan bapak memancing sementara sang ibuk sekedar duduk di atas bebatuan dengan mata yang awas pada anaknya adalah pemandangan yang biasa ditemui di pesisir pantai. Atau ketika pasangan suami istri menelusuri pesisir pantai beriringan dengan nyaman dan sekelompok remaja yang menghabiskan waktu dalam kebersamaan nan akrab.

20200927_070827

 

Kala pagi tiba, terlihat pemandangan tak kalah bikin haru yaitu ketika para istri menunggu di pesisir pantai menanti sang kepala keluarga yang berlayar dari laut dengan binar mata penuh harap. Dan ketika Ahad pagi, kegiatan “maelo pukek” atau lebih tepatnya menarik pukat ke daratan. Mata ibuk-ibuk langsung terhipnotis dengan geliat ikan segar di dalam pukat.

 

Suatu sore saya pernah melarikan diri sejenak sekedar menghirup udara segar ke pantai Morgan Bangau Putih. Siluet senja dan lintasan pesawat komersil mengisi waktu bersantai saya di pesisir pantai.

20200916_181346

 

Dari potongan cerita yang saya kumpulan di pesisir pantai dekat rumah, saya melupakan sesaat soal keriuhan dan kepenatan yang tak beralasan ini. Pada kesederhanaan pemandangan wajah – wajah santai di pesisir pantai yang saya temui , menyadarkan soal kesederhanaaan hidup yang membahagiakan.

 

Jadi kamu masuk tim mana : Menikmati pagi di pantai atau menjumpai siluet senja?

 

Apapun itu jangan lupa bersyukur 🙂

Jatuh Cinta di Ashaabee Exhibition, Mekkah

What Does Sahaaabee (Companion) Mean?

— A sahaaabee (fem.sahaabiyah) is any person who met the Prophet, sallallahu ‘alayhi wa sallam, followed him and died a Muslim.

Ashaabee merupakan kosa kata bahasa arab yang berarti sahabat — para sahabat. Seorang teman pernah berkata kepada saya, sahabat adalah salah satu cerita terindah yang dititipkan Tuhan yang harus dijaga selamanya, mengalir waktu bersama, yang harus dirawat dengan pupuk kepercayaan dan disiram dengan kasih sayang. Sebuah pernyataan yang manis dan menyenangkan tentunya.

y4mP-H_JiKsTVz0GBHJj6XTS7DNqHuGtP9y-be9VtDD1xUhz3jZOpK9SrPAqEKEEYcJKzmgdJ-Ba-5fDzwBXpf1u68R1MT4TycrSTmnQ6ngaOxOJr5Lr5rrxBn5iGOKMZ9joz0lIkTHfaJH5A8AGl0dlTJ8rhOBeCvegQt3Kekn1VLONI4auSO-wWgivTVIPHjru_QMk3IFspPPD_xveJcurQ
Salah satu yang terdapat di ruangan pertama dalam Ashaabee Exhibition

Pernyataan tersebut tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kasih sayang para sahabat Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam kepada beliau, Masya Allah mereka adalah manusia-manusia yang mulia. Allah pun memuji mereka dalam Alqur’an. Mereka mempercayai kebenaran yang disampaikan oleh Rasulullah sallallahu ‘alayhi wa sallam, mendukung beliau dan melindungi beliau hingga mengorbankan diri sendiri atas kecintaan terhadap Muhammad sallallahu ‘alayhi wa sallam.

Tak ada yang lebih menakjubkan dan penuh haru mengenai perjalanan nabi Muhammad sallallahu ‘alayhi wa sallam bersama para sahabatnya dalam menyebarkan Islam yang dirangkum secara ringkas di Ashaabee Exhibition, atau lebih dikenal dengan museum sahabat nabi. Sebuah pameran yang terletak tak jauh dari Masjidil Haram, tepatnya ke arah kawasan Jabal Omar. Dibuka selepas sholat ashar hingga ditutup sekitar pukul 11 Malam, pameran ini menjadi salah satu destinasi yang harus disinggahi sekedar menambah rasa kecintaan terhadap Rasulullah dan para sahabat beliau disela melaksanakan ibadah umroh. — Mempelajari teladan para sahabat dalam mencintai Rasulullah sallallahu ‘alayhi wa sallam.

Adalah Ali bin Abi Tholib radhiyallahu’ anhu, salah satu empat sahabat nabi Muhammad yang paling utama ( Abu bakar, Umar Bin Khatab, Utsman Bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib — radhiyallahu ‘ anhum ajma’in) pernah ditanya, ” Bagaimana Cinta kalian kepada Rasulullah sallallahu ‘alayhi wa sallam?

Ali menjawab.” Demi Allah, beliau lebih kami cintai daripada harta, anak-anak, ayah dan ibu kami serta kami juga lebih mencintai beliau daripada air dingin pada saat dahaga. ( sumber : Rumaysho)

y4mhmzTWZ918NcusHmwgjJKee9nlqxhxvzCiOwh4lHf9cfS2m-0a-JBZZ8yQRf2BWjhXiIvXq-9B6n9d0Czu-ZM09U2mvz7kWgNgwZ_g1sX9cyaEVnveqLTCEzgx474AI2mYlyr5k1abIqIVwiKjxQh7okUKD-rxMeUV0NzpJMaJ5BM7FnX_qEex5YG4bcoE5nr1tN5WJgF9x7uXfLBQECFog

Kemuliaan Sahabat Nabi

Saya jatuh cinta sebelum beberapa langkah memasuki Ashaabee Exhibition pada suasana kawasan Jabal Omar yang memberi romantisme tersendiri sore itu saat saya mengiringi langkah Ama — ibu saya. Langit Mekkah sore selepas ashar kala itu mampu membuat diri terpaku pada kekuasaan Allah dalam menghadirkan kehidupan yang menakjubkan. Pada lalu lalang orang – orang yang melepas kelelahan dan menikmati waktu dengan bercengkrama satu sama lain atau sekedar menikmat kopi hangat.

simpan
Suatu sore di Jabal Omar, Mekkah Al Mukarromah

Namun, perasaan cinta yang berbeda membuat langkah kaki saya terhenti, pada rangkaian keindahan potongan ayat Alqur’an tatkala memasuki pameran atau lebih dikenal dengan museum sahabat nabi. Mengabaikan sejenak suara Mutawwif, pendamping selama mengikuti ibadah umroh yang memberi ide untuk mengikuti tour ke museum tersebut. Rangkaian beberapa ayat Alqur’an terpajang rapi di dinding dan penjabaran mengenai kedudukan para sahabat nabi yang ditampilkan dalam dua bahasa ; Arab dan English.

Suara tour guide memecahkan keheningan saya terhadap beberapa tulisan mengenai kemuliaan sahabat nabi. Di Ashaabee Exhibition sendiri memang disediakan tour guide berbahasa Indonesia yang dikhususkan untuk memandu jamaah Indonesia dalam memberi informasi mengenai museum tersebut. Untuk itu, disarankan mengunjungi museum tersebut dengan kelompok atau rombongan umroh lainnya agar memudahkan prosedur dalam mengikuti jalannya tour.

IMG-20191230-WA0003
Penjabaran sekilas mengenai napak tilas perjuangan Rasulullah sallallahu ‘alayhi wa sallam dan para sahabat beliau

Disamping itu, tentu ada harga tiket masuk yang lebih murah dan sudah diatur oleh pihak travel umroh. Untuk personal sendiri tiket masuk ke Ashaabee Exbition dikenakan : 15 Riyal atau setara dengan Rp 60.000,- ( 1 Riyal : kurs : 4.000,-), dan digratiskan untuk anak-anak dan orang tua yang berusia 60th ke atas.

Ashabee Exhbition ; Napak Tilas Perjuangan Rasullullah sallallahu ‘alayhi wa sallam dan Para Sahabat Beliau

Jangan bayangkan kalau museum ini terdiri dari artefak kuno yang membosankan. Ashabee Exhbition memanfaatkan modernisasi teknologi yang mengagumkan antara audio visual, ilustrasi gambar dan beberapa market seolah – olah membuat kita melintasi waktu menyelami jejak Rasulullah sallallahu ‘alayhi wa sallam dalam menyebarkan agama Islam. Disamping itu, interiornya ruangan yang membuat seolah-olah menelusuri lorong waktu.

IMG-20191230-WA0008
Suasana di salah satu ruangan di pameran sahabat nabi

Terdiri dari 10 ruangan yang memiliki cerita berbeda namun saling berkaitan terhadap kisah hidup Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dan para sahabatnya dalam memperjuangkan kebenaran dan mengenalkan tauhid yang sebenar-benarnya. — Ingat melalui museum ini pun kita tidak menemui cerita perayaan Maulid nabi yang dilakukan oleh Nabi maupun para sahabatnya 🙂 , itu kenapa saya tak lagi menghadiri atau merayakan perayaan Maulid nabi karena tak ada dicontohkan oleh para sahabat nabi.

Pada ruangan pertama, merupakan ruangan resepsionis dan informasi mengenai keutamaan para sahabat nabi termasuk larangan memperolok-olok sahabat nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam. Dan, cerita dimulai ketika di ruangan dua, di tempat ini diawali dengan menceritakan orang yang pertamakali membenarkan dakwah nabi Muhammad, yaitu Istri beliau, Siti Khadijah yang merupakan perempuan yang pertama kali yang beriman terhadap kalimat tauhid, sementara Laki-laki yang pertamakali beriman adalah sahabat beliau Abu Bakar as siddiq. Pada ruangan kedua ini juga dijelaskan mengenai perjuangan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dalam berdakwah di kota Mekkah. Dan, diangkatnya beliau sebagai nabi dan rasulullah di kota tersebut.

Selain itu, juga terdapat ilustrasi peta dan kota Mekkah di masa jahiliyyah yang ditampilkan dengan menarik dan beberapa kisah orang -orang yang beriman kepada Allah serta menerima kebenaran yang disampaikan oleh Rasulullah namun mendapat siksaan dari kaum Quraisy. Diantaranya kisah Ammaar Ibn Yaasir dan keluarganya. Juga ada video yang menjelaskan keutamaan para sahabat nabi.

gambar
Penjelasan di sampaikan dalam bahasa Arab dan Inggris

Memasuki ruangan ke tiga, masih lanjutan dari orang -orang yang menerima kebenaran dari Rasulullah sehingga ruangan tiga ini diberi nama ” Allah yang mencintai mereka (sahabat nabi)”, yaitu orang – orang yang bertahan dalam keadaan yang sangat sulit demi agama Allah diantaranya adalah Abu Bakar As Siddiq, Aisyah bin Abu Bakar, Umar Bin Khattab, Usman Bin Affan, Ali bin Abi Thalib serta Bilal.

Di ruangan tersebut juga terdapat napak tilas perjalanan hijrah ke Madinah yang saat itu bernama ota Yatsrib atas perintah dari Allah subhanahu wa ta’ala dan memilih jalur berbeda dari pengikuti agar tidak diikuti oleh kaum kafir quraisy. Ilustrasi jalur perjalanan Rasulullah dijabarkan lewat layar grafik yang informatif. Sebab hijrahnya Rasulullah dan para sahabat ke kota Madinah salah satunya karena adanya siksaan dan tekanan yang datang dari kaum kafir quraisy.

Memasuki ruangan ke empat, mengenai tibanya Rasulullah dan para pengikutnya di Kota Yatsrib yang sambut suka cita oleh penduduk setempat. Disinilah lahirnya nama Kota Madinah oleh persaudaraan dua golongan yang disatukan oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam yaitu antara kaum Anshor ( penduduk kota Yatsrib) dan kaum Muhajirin ( pengikut Rasulullah yang datang dari Mekkah).  Masya Allah, persaudaraan tersebut membuat kaum Anshor mewariskan sebagian harta mereka untuk kaum Muhajirin.

y4mQku_zBriiP88zTqRqpYskylhYxWHzL4lBtkYF5FalUR8flmZ9jX9oKqUzMEXWowhJ545rvEs5XcUUQ3zDPytYi-cPk2hhZZT0Cx026mIYKO6dtZw1ZtiT-J54D8MzqU8OQX2CDvgz_-mjWr-zcls9LR1o2d19194rsq7ieU_Yq5Sy8niBSDO4G3s9Gby1dDXG9omg45oXe2nnJMrd6SOtw
Salah satu tampilan visual yang terdapat di pameran

Islam sangat diterima dengan baik di Madinah Al-munawarroh. Mendapat tempat yang menyenangkan di kota tersebut. Di kota ini Rasulullah mendirikan mesjid Quba, mesjid yang pertamakali di dirikan oleh Rasulullah dalam perjalanan hijrah beliau menuju Madinah. Di kota ini juga Rasulullah mendirikan mesjid Nabawi, yang berada di dekat tempat tinggal beliau. di Nabawi terdapat Raudah — taman surga, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam. 

“Di antara rumahku dan mimbarku, terdapat Raudhoh ( taman) diantara taman -taman surga ( HR. Bukhari no. 1196 dan Muslim no.1390)

Islam meraih kejayaan Islam di Madinah. Namun, kejayaan tersebut tentu tidak disukai oleh kaum quraisy sehingga terjadi berbagai perperangan. Diantaranya yang terkenal adalah perang Uhud, yang memakan cukup banyak korban muslim. Ada banyak faktor terjadi perang Uhud, salah satunya karena dendam akan kekalahan di perang Badar.Peristiwa tersebut dijabarkan di ruangan ke lima dengan memutarkan film peristiwa perang Uhud, yang terjadi di Jabal atau gunung Uhud. Kekalahan tersebut tak lepas dari kelalaian terhadap perintah rasulullah untuk tetap berada di bukit rumah.

Usai mengalami kekalahan di Perang Uhud, dan kembali melakukan perang hingga memperoleh kembali kemenangan, kehidupan di madinah pun berjalan dengan normal. Di ruangan enam inilah diceritakan beberapa kisah sahabat nabi termasuk kondisi Madinah sebelum datangnya Islam. Salah satunya kisah yang terdapat di ruangan enam ini mengenai Zainab binti Jahsy, istri Rasulullah yang sangat gemar menginfakan harta beliau.

Yang bikin haru adalah ruangan tujuh, yang mengisahkan peristiwa meninggalnya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam karena sakit yang dirasakan yang disebabkan oleh sisa racun yang diberikan oleh wanita Yahudi melalui hadiah daging kambing. Meninggalnya Rasulullah menyadarkan kita bahwa beliau adalah manusia yang tidak boleh kita sembah, tapi harus kita taati sebagai utusan Allah, sang pencipta kehidupan ini. Wafatnya Rasulullah tentu menyisakan kesedihan yang mendalam bagi kaum muslimin saat itu. Ada banyak kisah menarik di saat detik-detik wafatnya beliau, termasuk kecintaan dan perhatian beliau terhadap kaum muslimin. Masya Allah, Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad Kamaa shollaita ‘ala ibroohim wa ‘ala aali ibrohim, innaka hamidun majiid.

IMG-20191230-WA0024

Ruangan selanjutnya adalah ruangan delapan, yang mengisahkan tentang Khulafa Ar Rasyidin yaitu Abu Bakar As Siddiq, Umar Bin Khattab, Utsman Bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Dimasa tersebut berkembang ilmu pengetahuan mengenai Islam. Dan di era kepemimpinan Abu Bakar as Siddiq, Alqur’an mulai dibukukan. Selain itu juga terdapat kisah sesudah kekhalifahan Khulafa Ar Rasyidin yang disampaikan dengan visual grafik yang menarik dan ringkas. Terakhir dari napak tilas perjalanan Rasulullah dan para sahabat dalam menyiarkan Islam berakhir di ruang sembilan yang menyuguhkan informasi mengenai kejayaan Islam di luar jazirah arab.

y4mV7cgbyN1EMq3Lvbsb723XFS04Skadv87vNUw0ZOD9NHPTR6Ujz8w9wJDceqzenvHnznW1PsG0WIeRkf20UvNTM23_FN-LW217xYGAQOmGevjBFDLk7CQoGUV4nB8YY-o2zGIHCKPZOz7Ktt8Q4eNPRZu9EvqEv9HvdCeeuQmJfI66IelhCGDQPln3U-yisNo2byy5zW1XOEh7Ys_RomlFQ
Bentuk awal Alqur’an tanpa harkat

Pada ruangan ke 10, yang merupakan ruangan terakhir dari pameran tersebut adalah ruangan Souvenir bagi pengunjung yang berminat untuk berbelanja baik itu sajadah maupun alqur’an.

****

Kita tak bisa melampaui batas kemuliaan para sahabat nabi yang begitu mencintai Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam melebihi diri mereka. Saya jatuh cinta pada kisah kasih sayang antara Abu Bakar as Siddiq dan Rasulullah. Pada cinta Umar Bin Khattab kepada Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Saya jatuh cinta pada kecerdasan Utsman Bin Affan dalam menghapal Alqur’an dan mempelajarinya — disamping sifat dermawan beliau, radhiyallahu ‘anhu.  Dan tersenyum pada kisah cinta antara Ali Bin Thalib dengan putri Rasulullah, Fatimah radhiyallahu ‘anha.

y4mFzsIXjhDOjoqOWvyfBalGEIufDN8lqjXfLCe4_EUS6kap2dfUB8Sx0CS9AAi6GKtgyCYRuf0g6Qv9-RBy2a4hbiWCngz4Iw0iugbYCfAHQkCi2rIF9Ug6EfdhrN9bDVv28jpkN4k4FKFyEMrcyu1adqmOjZk9Rtq1tKcnbsvcSwu91wioZUpBb_uZz__xk-C620LylquaGwISufrTevViQ
Visual yang mengagumkan dari sebagian interior di Exhibition Ashaabee

Ashaabee Exhibition, sebuah pameran yang tak saja membuat takjub dengan interior dan ragam ilustrasi, audio visual, grafik, market serta pemandangan langit – langit ruangan yang memanfaatkan teknologi modern dalam menyuguhkan sekilas cerita Rasulullah dan para sahabat tanpa sedikit terselip rasa bosan, namun ada desiran emosi dan sudut mata yang berair. Pada cinta dan rindu yang menghiasi hati ini.

.

gambat
Grafis yang menjelaskan kisah para sahabat radhiyallahu ‘anhum

Sore memang menghadirkan romantisme yang menyenangkan, namun bagi saya waktu yang terbaik untuk mengunjungi tempat ini adalah selepas Isya. Sehingga bisa berlama – lama menyelami setiap kisah yang diberi keterangan lewat dua bahasa ; Arab dan Inggris dan dijabarkan dengan baik oleh seorang tour guide pameran dengan kemampuan story telling yang menyenangkan.