Cerpen : USAI

Semua sudah punya cerita masing-masing

Barangkali kalimat Arina beberapa hari yang lalu benar adanya ketika aku kembali mempertanyakan hubungan lingkaran pertemanan antara kami –Aku, Arina, dan Alan. Aku dengan rentetan deadline sepanjang hari yang lupa bahwa harusnya ada rentetan tawa yang diraih. Sementara, Arina terlalu sibuk menciptakan dramaqueen. Alan?

Hari ini tiba-tiba aku menyesal mengajak Alan bertemu setelah hampir setahun tidak lagi melihat wajah ceria dengan senyum lebar yang selalu terukir setiap kali kami bersama. Aku tidak mengikuti perkembangannya meskipun sesekali Arina mengabarkanku tentang Alan yang semakin bersinar.

Arina : Ka, liat Alan di TV X. Gila, koplak…!

Aku masih menyimpan kalimat Arina yang masuk dalam blackberry messenger. Tiga bulan yang lalu. Kalimat yang terabaikan begitu saja, disela-sela kesibukan mengejar narasumber. Selebihnya, tiga bulan terakhir ini gadis melankolis itu tak lagi memberi kabar tentang Alan. Tak ada obrolan yang tercipta baik melalui blackberry messenger atau pun pertemuan yang diagendakan. Dari akun jejaring sosial yang dimiliki Arina di dunia maya, aku ketahui ia masih disibukan dengan kisah dramaqueen­-nya.

Akhirnya, beberapa hari yang lalu aku memutuskan untuk menjadi yang pertama menghubunginya sekaligus berniat mengagendakan ‘pertemuan’ diantara kami bertiga. Sayangnya, Arina memiliki ribuan alibi untuk tak bisa memenuhi perjumpaan ini. Aku menarik napas. Perdebatan singkat pun terjadi.

Arina: Ka, aku ada tugas keluar kota. Kamu ganti hari lain dong

Membaca kalimatnya terasa mendengar rengekan khas Arina.

Azka: Rin, aku sengaja mengambil cuti. Ini udah hampir setahun kita tidak bertemu. Berada di kota yang sama, tapi tidak pernah bertemu

Arina: Ka, hari lain please…

Bayanganku berhalusinasi, wajah memelas Arina menatapku seperti yang sering ia lakukan saat kami masih menghabiskan waktu dibangku kuliah dulu.

Azka: Aku tidak yakin untuk hari lain. Selalu wacana doang

Arina: Ka

Arina memasang emoticon ‘sedih’. Aku melanjutkan mengetik keypad ponsel smartphone-ku.

Azka : Alan apakabarnya ya Rin? Gue kangen bisa berkumpul bertiga lagi

Arina: Kan udah punya cerita masing-masing Ka’… tidak selamanya berjalan beriringan. Move on dong!

Aku terdiam membaca kalimat Arina dan tidak punya gambaran ekspresi seperti apa yang ditunjukkan cewek berkulit kuning langsat itu ketika mengungkapkan kalimat tersebut. Kan kita udah punya cerita masing-masing Ka’…

Lanjutkan membaca “Cerpen : USAI”

Lepas

terima kasih ibu

Akhirnya tiba saatnya melepaskan kisah ini.
Bukan untuk melupakan.
Bukan pula untuk mengenang.

Tapi merangkai menjadi cerita yang tetap hidup dihati ini.

Selamat jalan, Kawan.

 

Muara Perjalinan, 29 Juli 2015

****