Indonesiaku

Pengalaman Tidur di Bandara Soekarno Hatta Terminal 3 Ultimate

 “Omong-omong kursinya lumayan asyik untuk bobok nih!”

Tulis saya pada salah satu foto yang saya upload di akun instagram sesaat usai melakukan penerbangan Padang menuju Jakarta — sejujurnya saat itu tidak terpikiran untuk menginap di bandara. Hanya saja menyayangkan bandara ini kenapa tidak hadir ketika lima tahun lalu, saat saya menjadi perantau ibukota dan kerap menginap bandara demi mengejar penerbangan subuh.

18362274_10212263793051300_19592249_o

Area ketibaan bandara soekarno-hatta terminal 3 ultimate

Saya mengunjungi Jakarta diawal bulan April setelah lama meninggalkan kota yang banyak mengukir cerita mengesankan dalam langkah dewasa saya ( eaaa… bahasanya ka!) . Sungguh saya sempat terpana dengan arsitektur terminal baru tersebut. Sekilas mengingatkan saya pada HKIA (Hongkong International Airport) dalam bentuk sederhana tentunya.

Tadinya saya ingin mengambil penerbangan maskapai lain saat kembali ke Padang– sayangnya karena telat membayar, saya kehilangan ‘harga’ yang sesuai dengan harapan. Mempertimbangkan banyak hal akhirnya kembali mengunakan maskapai yang terkenal dengn servicenya itu — salah satu pertimbangannya adalah jadwal penerbangan subuh.

18405480_10212263322959548_1522489407_o

Salah satu yang menyenangkan dari tempat ini adalah kehadiran musholla nan nyaman — alternatif buat tempat bobok *eh

Seperti biasa, penerbangan subuh memaksa saya untuk datang ke bandara lebih awal — dini hari. Saya datang ketika bandara benar-benar sepi diantara pendar cahaya lampu yang terang.

Saat memasuki area bandara, ketika petugas mengarahkan saya pada area check in yang belum buka dan masih sepi, sejenak mengingatkan saya saat terjebak di Incheon — lagi-lagi saya membandingkan kalau bandara ini bentuk sederhana dari Incheon.

18378861_10212263320159478_1556935451_o

hati-hati dengan barang bawaan Anda selama tidur.

Jarum jam digital menunjukan angka 00.24 wib. Saya merebahkan badan di kursi panjang yang tersedia. Menjadikan tas ransel sebagai bantal, dan jacket sebagai selimut. Menyenangkan dari tempat ini adalah charger ponsel yang berada di bawah bangku. Tersisa waktu empat jam untuk terlelap sejenak sebelum check in di buka.

****

Lebih baik di sini, rumah kita sendiri. 

Segala nikmat dan anugerah yang kuasa.

Semua ada di sini.

3 terminal

Mimpi indah ya pak!

Ini bukan kali pertama saya bermalaman di bandara Soekarno Hatta. Saat jadi perantau dan kerapkali melakukan mudik ke Sumatera, terminal 2F menjadi saksi kesendirian saya menunggu penerbangan subuh. Ragam cerita tentang kejahatan hipnotis sempat saya jumpai.

Sebagai pejalan receh bermalaman di bandara bukanlah hal yang luar biasa — sesuatu yang harus dilalui dengan perasaan biasa. Saya pun meringkuk dibangku panjang seraya menahan dingin AC Bandara. Entah karena lelah setelah seharian melakukan temu kangen di beberapa tempat di ibukota saya terlelap dalam hitungan detik.

3 bandara

Bule aja santai ngemper — moga nggak ada peraturan baru dilarang bobok disini. macam KLIA 2 yang udah mulai ketat peraturan area boboknya. 😦

Lebih baik di sini, rumah kita sendiri. 

Ya, bandara terminal 2 ultimate ini cukup nyaman untuk tidur — bagi saya. Saya seperti menemui rumah di tempat ini. Di Incheon saya beberapakali tersentak karena tidak nyaman, pun dengan KLIA 2.

****

18362252_10212263320839495_1065256807_o

keberadaan taman menambah kenyamanan area ini

Tips bermalaman di Bandara :

  1. Gunakan pakaian yang nyaman dan hangat — jangan pakai piyama atau dress yah !
  2. Sediakan kain atau pasmina sangat membantu sebagai selimut dan nutupi wajah.
  3. Waspada dengan barang bawaan.
  4. Jagalah kebersihan area bandara.
  5. Jangan ngorok atau mendengkur cukup keras.
  6. Jangan lupa berdo’a
bandara

Bersama pejuang devisa negara yang sudah dua hari melakukan penerbangan saya melewati subuh yang menyenangkan 🙂

Oh, ya tak harus mengunakan penerbangan dengan maskapai Garuda atau melakukan penerbangan internasional untuk bisa tidur di area terminal 3. Tidurlah meskipun dengan maskapai dan terminal berbeda, dan satu jam sebelum kamu check in bolehlah beranjak pindah ke terminal seharusnya kamu berada dengan menggunakan shuttle bis percuma ( nggak tau ada apa nggak? -_- ).

Enjoy your journey !

Review Film Surau dan Silek : Tentang Ambisi dan Filosofi Silek Bagi Sang Petarung

” Silek lahirnya mencari  kawan, batinnya mencari Tuhan.”

SURAU

Film dibuka dengan cerita kekalahan tokoh bernama Adil dalam melawan Hardi yang disinyalir melakukan kecurangan. Adil tak sendiri, dua sahabatnya , Kurip dan Akbar yang berada dalam guru yang sama, Rustam ( Gilang Dirga), pun mengalami hal yang serupa.

Kekalahan cukup membuat Adil tak terima. Apalagi di sekolah, Hardi kerap memperolok-olok dirinya yang membuat emosi Adil tersulut untuk berkelahi. Hardi terkadang juga menyindir keadaan ekonomi Adil yang tidak berkecukupan. Sikap teman sekolah sekaligus rivalnya di gelangang itulah yang membuat Adil terobsesi memenangkan laga selanjut yang diadakan 6 bulan sekali.

IMG_9893

Di satu sisi, kegalauan Rustam yang tak saja sebagai guru silek tapi juga Mamak (paman) Adil membuat ia mengambil keputusan untuk merantau. Meninggalkan tanggung jawabnya terhadap tiga bocah yang berambisi untuk menang dalam laga .

Kepergian Mak Rustam tentu membawa tiga sahabat ini cukup terpukul ditengah pertandingan yang semakin dekat. Beruntung, mereka memiliki teman cantik nan cerdas bernama Rani yang mengenalkan mereka pada Gaek Johar seorang pensiun dosen yang memilih kembali ke kampung Halaman.

Bagi Adil, silek membawa kebanggaan tersendiri atas kemenangan mengalahkan Hardi, Sedangkan bagi Kurip Silek adalah ‘Paga diri’ , sedangkan Dayat sekedar menguruskan badan gemuknya.

IMG_9894

Dibawah bimbingan Gaek Johar perlahan pandangan mereka tentang ambisi sebuah kemenangan pun berubah. Tentang silek yang mendatangkan pertemanan dan mengenal Tuhan.

“Silek tuh untuak mancari kawan jo mancari Tuhan. Indak kalah manang nan jadi ukuran.”

****

Film surau dan silek adalah salah satu film yang sempat mampu ‘menghantui’ pikiran saya usai menontonnya. Film ini bukanlah film yang bertema Laga. Tapi sebuah film drama anak-anak yang ringan, sederhana dan penuh makna. Ibarat makanan khas Minang, ia seperti kerupuk balado.

IMG_9781

Kehadiran Praz Teguh, sebagai teman Rustam cukup mengelitik dengan bahasa minangnya yang kental. Ya, hampir 90 persen film ini mengunakan bahasa minang — tenang bagi tak paham ada subtittlenya lho!

‘Jualan’ dari sponsor pada film ini pun terlihat sangat soft — Kehadiran hotel Ananda yang sekilas dilihatkan dan snack merk Ananda pada saat Gaek masuk rumah sakit hanya beberapa detik tak banyak. Tetap fokus pada cerita.

Berikut ada beberapa poin kesimpulan berdasarkan pandangan pribadi saya dari film yang disutradarai oleh Sineas Muda asal Minangkabau, Arief Malinmudo.

Film anak-anak yang sarat akan moral agama 

Bagi saya film Surau dan Silek tak hanya berkisah tentang persahabatan tapi juga hubungan nan renyah antara mereka bertiga, Adil, Kurip dan Akbar ; penuh tawa. Mengajarkan ketulusan khas anak-anak dan bagaimana saling mengatasi perasaan dendam — mengabaikan emosi masing-masing.

IMG_9896

Kondisi Adil sebagai anak yatim, juga kembali mengingat pada ajaran nilai agama mengenai tiga perkara ; Sedekah Jariah, ilmu yang bermanfaat dan do’a anak yang sholeh. Pesan ibunya yang selalu mengingatkan Adil tentang sang Abak (ayah) yang menyadarkan pentingnya menjadi pribadi yang sholeh agar Abaknya tenang di alam kubur.

Pun pada nilai-nilai kecurangan yang dilakukan Hardi pada akhirnya akan terkalahkan dengan sendirinya.

Menjaga kearifan lokal

Sebagai pemuda yang lahir dan besar di ranah Minangkabau tentu Arif paham mengenai tentang peran Surau bagi orang minangkabau. Bagi saya film ini mengingatkan saya kembali pada arti Minangkabau dalam diri saya yang mulai perlahan mengikis.

SURAU DAN SILEK

Bagi pemuda Minangkabau dulunya surau tak ubahnya basecamp dimana bisa mempelajari banyak hal termasuk silek. Maka itulah sebab dulunya di rumah gadang tak ada kamar untuk kaum pemuda.

Arif memberi kejutan yang menarik dari film Surau dan Silek, bukan memperlihatkan bagaimana budaya Minang tempo dulu. Tapi, lebih pada menyadari keberadaan surau dalam kehidupan budaya Minangkabau; tentang filosofi silek yang tak lepas dari nilai-nilai agama.

Ya, sebagai orang minang yang memegang falsafah hidup : ” Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” terlihat jelas dalam film ini — meskipun dalam alur cerita tidak menyingung hal ini.  Dan, perlu digarisbawahi walaupun mengandung unsur agama, film ini general bukan tentang agama. Sangat pas ditonton bersama keluarga dan sahabat.

Media promosi bagi pariwisata Minangkabau

Film surau dan silek adalah film kedua yang saya nonton setelah Denias :Senandung di atas awam yang mampu memanjakan mata saya dengan keindahan alam ibu pertiwi. Mengambil lokasi di daerah Bukittinggi, salah satu kota wisata di Sumatera Barat film ini menyuguhi alam yang membuat saya terpukau.

18159885_10212159979176018_1613034098_o

salah satu scene yang terdapat di film Surau dan Silek.

Bagi saya film merupakan media efektif dalam mempengaruhi setiap individu. Meskipun tidak bertujuan untuk “jualan” mengenai pariwisata Minangkabau, drama anak-anak ini membuat kita penasaran ingin mengunjungi daerah tersebut. Ya, setidaknya mengagumi keindahan alam Minangkabau yang tak terbantahkan. (eka hei)

Surau _ Silek promo

Satu Hari Yang Bermakna di Sawahlunto, Sumatra Barat

Bawolah buku iko atau fotokopi (bawalah buku ini atau fotokopi). Banyak cerita sejarah yang menarik yang bisa kamu dapat,” ujar bapak pemilik toko kelontong yang saya singgahi sekedar membeli minuman dingin. Wajah asing saya membawa si bapak cerita banyak tentang daerah yang sedang saya kunjungi. Di seberang tokonya terdapat bangunan tua khas Arsitektur Tionghoa yang dikenal dengan rumah Fak Sin Kek.

            Rumah tersebut dibangun tahun 1906 oleh Fak Sin Kek, seorang berkebangsaan Tiongkok yang menetap di kota ini. Bangunan tersebut menjadi cagar budaya dan salah satu tujuan wisata sejarah. Bangunan ini juga menjadi bukti tentang keglamouran sebuah kota ketika emas hitam masih berjaya yang membuat banyak pendatang mengadu nasib di daerah tempat dimana pencetus sumpah pemuda lahir, Mohammad Yamin.

            Adalah Sawahlunto. Dimana pagi itu saya menjejaki untuk pertamakalinya setelah hampir belasan tahun mendengar namanya. Sebuah kota yang terletak 95 km sebelah timur laut kota Padang, ibukota provinsi Sumatra Barat. Daerah ini dikenal dengan kota tambang, namun belakangan mulai bergiat menuju kota wisata sejarah dengan cerita yang mengagumkan.

16559106_1374213589297200_1249758657_n

Sawahlunto ; Kota Tambang yang berevolusi menuju kota wisata sejarah

Berbekal buku saku yang berisi informasi tentang tempat wisata milik sang bapak, pagi itu saya melakukan napak tilas kejayaan kota ini dimasa lalu.

            The Little Old Netherland   

            Bagi saya yang berdarah Minangkabau memasuki kota yang dikelilingi oleh perbukitan ini terasa asing. Saya merasa seperti sedang tidak berada di Sumatra Barat, namun terlempar di dimensi waktu yang berbeda. Bangunan tua dan arsitektur khas Belanda masih terjaga dengan baik.

            Saya pun memasuki sebuah bangunan yang di depannya terdapat plang bertuliskan Museum Tambang Batu Bara. Menemui cerita dari kota yang dikenal sebagai situs pertambangan batu bara tertua se Asia Tenggara. Yup, kota ini sempat berjaya di masa lalu berkat emas hitam yang membuat banyak orang berdatangan ke daerah tersebut sehingga terasa kental suasana multietnisnya.

16559029_1374261329292426_129359942_n

Salah satu artefak yang ada di museum tambang batu bara Ombilin, Sawahlunto

              Berawal dari penemuan oleh De Groet yang menyusuri Singkarak pada pertengahan abad ke-19, kemudian ditindaklanjuti oleh Ir W.H. de Grave yang menemukan ada ratusan juta ton emas hitam bersemayam di bumi Sawahlunto. Inilah awal dimana penambangan di mulai oleh pemerintah Kolonial sekitar tahun 1892.

             Pemandu museum memberitahu saya tentang gedung museum yang merupakan bangunan bekas pemerintahan Belanda disela-sela keasyikan saya mengamati ragam artefak emas hitam dan peralatan tambang yang digunakan dari waktu ke waktu. Di buka secara resmi pada 2014 lalu, museum batu bara ini sudah banyak dikunjungi dari berbagai kalangan termasuk para akademis.

          Uni, begitu saya memanggil sang pemandu museum pun bercerita pernah kedatangan tamu dari Belanda. “Ada seorang ibu-ibu, dia udah lama tinggal Belanda dan main ke sini. Dia bercerita beberapa bangunan benar-benar mirip yang ada di Belanda.”

            Saya mengangguk. Menatap langit-langit gedung dan memperhatikan setiap detail sudut ruangan. Pikiran saya menerka tentang gambaran kehidupan di Sawahlunto saat tambang emas hitam berjaya di Sawahlunto. Entah kenapa saya merasakan kemewahan hidup ala Eropa dan aura pekerja lori sangat kental di kota ini.

Mbah Suro dan kisah orang rantai

16559331_1374224045962821_1387354585_n

Lubang Mbah Suro ; Ditempat inilah pernah ada kisah orang rantai

Pemandu museum tambang batu bara mengarahkan langkah saya selanjutnya untuk mengunjungi Lubang Mbah Suro. Berbicara mengenai mbah Suro, ia adalah seorang mandor yang didatangkan dari pulau Jawa untuk memantau pekerja tambang.

Sebuah terowongan bekas galian tambang dengan kedalaman beberapa ratus meter ke bawah dari permukaan tanah menyambut langkah kedatangan saya. Penambangan di lubang ini berdasarkan informasi yang saya peroleh terjadi sekitar tahun 1898 hingga 1932. Eksploitasi penambangan yang dilakukan oleh pemerintahan kolonial Belanda di saat itu membutuhkan tenaga kerja yang cukup banyak.

Selain mendatangkan pekerja tambang yang merupakan narapidana Penjara Muara Padang, juga didatangkan dari pulau Jawa. Tahanan yang dianggap berbahaya dikalungkan rantai dan besi yang melingkar di pergelangan tangan dan kaki mereka. Dan, disinilah lahir sebutan orang rantai. Ditempat ini kita dapat menemui monumen orang rantai sebagai gambaran terhadap apa yang pernah terjadi di kota tambang ini.

monumen-orang-rantai

Monumen orang rantai sebagai gambaran kisah di masa lalu tentang pekerja tambang.

Diresmikan pada April 2008, Lubang mbah Suro mengalami pemugaran pada lubang pertama sekitar pertengahan 2007 lalu sebagai komitmen mewujudkan Sawahlunto sebagai kota wisata tambang dengan membangun beberapa anak tangga. Renovasi ini tetap mempertahankan keaslian seperti terlihat pada langit-langit terowongan dan dinding yang terbuat dari batu bara.

16558966_1374256399292919_1457972769_n

Museum Gudang Ransum adalah kompek dapur umum para pekerja tambang dan pasien rumah sakit. Sekilas warna cat merahnya mengingatkan saya pada Malaka, Malaysia. Oh, ya di sini kita juga bisa menemui satu ruangan ‘malaka’ yang merupakan kerjasama pemerintah setempat dengan Malaka.

 Oh, ya mengenai kisah tentang orang rantai pun dapat juga kita temukan di Gudang Ransum, sebuah kompleks bangunan yang dulunya digunakan bekas dapur umum para pekerja tambang batu bara dan pasien rumah sakit yang tak jauh dari lubang penambangan tersebut keberadaannya.

 Menyapa Mak Itam, Sang Legenda Lokomotif Uap

Perjalanan saya berakhir di stasiun yang masih kental dengan suasana tempo dulunya. Menanti kereta lokomotif tua yang akan membawa saya kembali ke ibukota Provinsi, Padang. Suara lonceng dan pluit petugas kereta saling bersahut disela deru mesin kereta memasuki stasiun.

16558753_1374216105963615_635721856_n

Kereta-kereta di masa itu yang terdapat si stasiun Sawahlunto yang kini beralih menjadi museum kereta api.

Tentu peristiwa itu hanya terjadi dalam khayalan saya. Pikiran saya benar-benar terlempar ke masa kolonial Belanda. Mendongak kepala dan menemukan jam dinding yang bertuliskan huruf Romawi. Sebuah tulisan selamat datang di museum kereta api memberi informasi bagi saya. Museum kereta api Sawahlunto merupakan satu-satunya di pulau Sumatra dan yang kedua di Indonesia setelah Ambarawa, Jawa Tengah.

Pembangunan jalur kereta api dari Sawahlunto ke Padang pada saat itu bertujuan untuk memudahkan mengangkut hasil tambang batu bara ke pelabuhan Teluk Bayur sebelum berlayar ke benua Eropa. Museum kereta api ini menyimpan literatur tentang lokomotif uap dan sejarah kereta api di kota tambang ini.

16652036_1374221139296445_1965556998_n

miniatur kereta api yang mengagumkan. Di museum kereta api kita juga bisa menemui sejarah perkembangan kereta yang dijelaskan dengan baik.

Di museum ini Mak Itam, salah satu lokomotif uap yang digunakan sejak 1894 lalu diistirahatkan. Beberapa kali Mak Itam pernah digunakan sebagai kereta wisata dalam perjalanan menuju Muara Kalaban. Sayangnya, tergerus usia yang tak bisa dikatakan muda, Mak Itam kerap tak bisa berfungsi dengan baik.

Dulu Mak Itam berada di Museum Ambarawa, namun sejak stasiun ini dijadikan museum pada 2005 lalu, ia dibawa kembali ke tempat asalnya, Sawahlunto. Perjalanan saya berakhir di sini, menyapa Mak Itam dengan harapan ia tetap kuat dan ‘muda’. Saya ingin melempar pandang dari jendela kereta menikmati alam Sawahlunto. Merasakan kembali kemewahan kehidupan kolonial Belanda di masa emas hitam masih berjaya saat itu.

Saya pun memejamkan mata sejenak. Pilihan melarikan diri dari kepenatan aktivitas ke kota ini adalah langkah tempat. Ada sesuatu baru yang membuat pikiran saya terlahir kembali. Satu hari yang penuh makna dalam perjalanan kali ini.